Kamis, 04 Oktober 2018 17:03

Dosen Sastra Inggris FIB Unand Tingkatkan Pengetahuan Pariwisata Budaya dan Kemampuan Bahasa Inggris Pokdarwis di Kampung Budaya Jawi-Jawi, Kabupaten Solok

Foto 1: Dosen pengabdi dari Jurusan Sastra Inggris FIB Unand beserta Wali Nagari dan anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Nagari Jawi-Jawi berfoto bersama sebelum acara utama pelatihan

FIB - Beberapa orang dosen Jurusan Sastra Inggris FIB Unand melaksanakan pengabdian masyarakat melalui pelatihan peningkatan layanan berbahasa Inggris bagi anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di kampung budaya, Jawi-Jawi, Guguk, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, pada Sabtu, 29 September 2018. Kegiatan ini direncanakan dilaksanakan selama dua hari, dan dilanjutkan pada hari Sabtu berikutnya, yaitu 4 Oktober 2018 dengan anggota dosen pengabdi yang berbeda.

Di samping acara pengabdian masyarakat pada tanggal 29 September 2018 tersebut, padawaktu dan tempat yang sama, mahasiswa Jurusan Sastra Inggris, yang berjumlah lebih kurang 100 orang yang mengambil mata kuliah Audio Visual, juga mengikuti kuliah lapangan yang didampingi oleh dosen pengampu mata kuliah tersebut dan beberapa orang dosen lainnya.

Sebelum acara pelatihan, sesaat rombongan dosen pengabdi dari Jurusan Sastra Inggris sampai dan beristirahat di Homestay Rumah Gadang Melayu, Laswir Malin Putiah (Wali Nagari Jawi-Jawi, Guguk, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok) berkunjung dan beramah-tamah dengan para dosen yang datang. 

Pada kesempatan wawancara dengannya ia mengatakan bahwasnya kehidupan di nagari atau desanya tersebut masih asri dan masyarakatnya terkenal dengan ramah-tamahnya dan suka gotong-royong.

Kemudian ia menyampaikan di nagari tersebut terdapat banyak rumah adat dan masyarakatnya masih mempertahankan tradisi leluhur dari nenek moyang, seperti menanam padi di sawah, manongkang atau memanen padi ala setempat, membajak sawah menggunakan tenaga kerbau, mandi di sungai, duduk di kedai, alek bajamba, arak jamba, silek, dan tradisi masyarakat lainya.

Di samping itu sebutnya ada permainan kampung yang lain, seperti congklak, sepak tekong, domino, koa, dan puput batang padi.

Berlanjut pada pembukaan acara pelatihan yang berlangsung di Kantor Kerapatan Adat Nagari Jawi Jawi, Laswir Malin Putiah menyampaikan apresiasinya kepada para dosen yang melaksanakan pengabdian di daerahnya tersebut.

“Pertama kami atas nama pemerintahan Nagari Jawi-Jawi mengucapkan selamat datang pada Ibu dan Bapak serta rombongan yang sudah sudi datang ke nagari kami dalam rangka pengabdian mengajarkan adik-adik kami, kelompok Darwis tentang sadar wisata dan bahasa Inggris,” ucapnya.

Kemudian, Laswir Malin Putiah menyampaikan permohonannya tentang tindak lanjut dari kegiatan ini ke depannya. “Kami juga mewakili pemerintahan Nagari Jawi-Jawi di samping bentuk kagiatan ini nanti juga memohon kepada Bapak dan Ibu dari Sastra Inggris Unand, akan ada semacam bentuk kegiatan dari mahasiswanya untuk mengajarkan adik-adik kami berbahasa Inggris karena Nagari Jawi-Jawi sudah menjadi kampung wisata budaya dan sudah tercatat pada bulan Oktober 2017 sebagai 10 desa binaan Kemenpar,” ujarnya.

Lebih lanjut komitmennya, ia juga akan selalu berusaha mendatangkan nara sumber lain untuk melatih anggota Pokdarwis khususnya dalam pelayanan atau penyambutan tamu-tamu yang mungkin datang dari luar negeri seperti yang dilaksanakan oleh Jurusan Sastra Inggris FIB Unand saat itu.

“Harapan kami ke depan, kami akan selalu berusaha menjadikan nagari ini betul-betul menjadi nagari kampung wisata budaya. Mudah-mudahan dengan dijadikan nagari ini menjadi nagari atau kampung wisata budaya, itu akan menjadi salah satu yang akan menguatkan generasi muda untuk tidak terlalu terpengaruh dengan kemajuan zaman terutama pada hal-hal yang negatif seperti yang terlihat di sosial media saat sekarang ini,“ harapnya.

Pada kesempatan memberikan sepatah dan dua patah kata selanjutnya, Hanafi, M.App. Ling. Ph.D., selaku Ketua Jurusan Sastra Inggris, pertama kali mengucapkan terima kasih atas penerimaan mereka di sana.

“Kami sangat berbahagia, Jurusan Sastra Inggris dimintai oleh Wali Nagari untuk melaksanakan kegiatan ini, dan kami akan membantu. Menjawab permohonan Bapak tadi, kami sedang merancang program magang mahasiswa. Salah satunya adalah mengirimkan mereka ke wilayah-wilayah yang membutuhkan pengajaran bahasa Inggris, jadi mereka punya pengalaman mengajar. Sekarang ini kegiatan yang dilaksanakan sifatnya penjajakan. Kami memberikan kepada kelompok Darwis strategi-strategi dan simulasi mengenai pembelajran bahasa Inggris dan bagaimana menghadapi orang asing,” paparnya.

Berdasarkan pemahaman dan pengalamannya, Hanafi, M.App. Ling. Ph.D. menyatakan ada perbedaan budaya antara orang Indonesia, terkhusus orang Sumatera Barat atau Minang dengan turis asing. “Oleh karena itu, kita harus mengetahui perbedaan itu sehingga akan ada pemahaman dan saling pengertian,” Ia mengakhirinya dengan singkat.

Pada acara utama pelatihan, sebagai pembicara pertama adalah Diah Tjahaya Iman, M.Litt., Ph.D. Topik yang dipaparkannya adalah “Food Tourism and Guest House: Culinary Experience and Hospitality”.

Berdasarkan pengalamannya sudah mengunjungi banyak negara dan tempat-tempat  wisata di dunia, wisata kuliner terangnya memanjakan wisatawan dengan masakan dan minuman yang mencerminkan masakan lokal, warisan atau budaya dari tempat tersebut.

“Pariwisata makanan menjadi ciri khas dan identitas suatu daerah. Wisatawan kuliner tidak hanya tertarik pada makanan lokal yang mereka nikmati, tetapi juga ingin tahu lebih banyak tentang sejarahnya, berpartisipasi dalam produksi hingga perjalanannya ke piring, serta membelinya, “ jelasnya.

Lalu, perihal wisata makanan papar Diah Tjahaya iman, M.Litt., Ph.D. lebih dari sekedar menikmati makanan enak. Wisata ini adalah cara untuk membenamkan diri ke dalam budaya dan warisan suatu wilayah dengan memberikan pengalaman yang mengesankan dengan cara yang benar-benar unik dan khas sehingga membut tamu sangat kagum dan mereka ingin kembali lagi dan lagi.

Hal-hal lain yang dibahasnya pada kesempatan tersebut, seperti elemen kebersihan, keluhan wisatawan, toilet, bungkusan makanan, dan catatan penting lainnya.

Giliran pemateri kedua, Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum. menyinggung “Bahasa Inggris dan Narasi Wisata”. Ia memulai dengan memperlihatkan foto-foto tentang hal-hal negatif dan positif dari persoalan-persoalan yang terdapat di tempat-tempat wisata yang pernah dikunjunginya seperti di Sumatera Barat, Bali, Lombok, Malaysia,  Singapura, dan daerah lannya.

Menarik isi dari makalah yang diberikannya kepada peserta Pokdarwis yang berjudul “Pariwisata yang Berorientasi Nilai Budaya”, Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum. menyatakan aktivitas dan pengelolaan pariwisata seharusnya bersandar kepada nilai-nilai budaya baik nilai-nilai yang bersifat universal maupun lokal, sehingga aktifitas kepariwisataan pada suatu wilayah begerak dengan cara berbeda sesuai dengan budayanya.

“Di sinilah peran penggerak aktivitas kepariwisataan sangat menentukan untuk menjadikan nilai-nilai budaya dan tradisi sebagai nilai positif sebagai bagian dari cara berpikir dan bertindak yang ingin dipelajari dan dialami langsung oleh turis atau wisatawan,” jelasnya menyudahi.

Pada kesempatan menunggu hidangan bajamba komplit, terbersit keinginan Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum. untuk mengetahui asal kata “Jawi-Jawi”, sehingga dipanggillah salah seorang sesepuh yang tidak jauh dari lokasi tersebut, yaitu Samsuardi Rajo Bilang. 

Asal kata jawi-jawi berdasarkan penelitin, bukti-buti sejarah seperti yang disampaikannya adalah “jauhi jauhi!”. Katanya “Lah dahulu nenek moyang malato (melata) di ateh (atas) dulu kan, nenek yang akan ka mari (ke mari) ka (akan) malato (melata) ka situ kan. Agak jauh-jauhilah siko (sini) agak jauhilah ka bawah,” ungkapnya karena daerah tersebut sudah ditempati dan menyuruh pendatang mencari tempat bermukim di daerah lain.  

Setelah rehat siang, acara pelatihan dilanjutkan dengan pelatihan bahasa Inggris hingga sore harinya. Topik-topik pelatihan bahasa Inggris yang diajarkan dan dipraktekkan oleh peserta berkaitan dengan komunikasi kepariwisataan, seperti bagaimana memberi dan merespon salam secara formal dan informal, bagaimana menutup percakapan, mendeskripsikan sesuatu, mendeskripsikan tempat, menyambut tamu, menawarkan sesuatu, meminta izin memberi instruksi yang sopan, dan bagaimana merespon pesanan makanan

 

Humas: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 258 times