Selasa, 09 Oktober 2018 16:01

Dr. Hasanuddin, M.Si., Dekan FIB Unand, Bicara Pemilu Badunsanak di Padang TV

Foto: Pembawa acara Padang TV memandu Dr. Hasanuddin, M.Si., Dekan FIB Unand,  menyampaikan pandangannya perihal pemilu badunsanak(bersaudara)

FIB—Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si. menyampaikan pandangannya tentang pemilu badunsanak di Padang TV, pada Kamis, 20 September 2018 (pukul 19.30-20.30 WIB). Acara tersebut disiarkan langsung oleh Padang TVdengan nama program Dialog Detak Sumbar.

Tahun pemilu kembali menjelang. Pada 2019 nanti, pesta demokrasi yang digelar sekali lima tahun akan digelar. Para capres dan caleg telah mendapatkan nomor urut untuk pemilu 2019 nanti. Berbagai slogan bermunculan, di antaranya “Indonesia Hebat” atau “Pemilih Berdaulat Negara Kuat”.

Di Minangkabau, slogan terkait pemilu juga muncul, seperti “Pemilu Badunsanak”. Menanggapi hal inilah barangkali Padang TV mengadakan dialog dengan tema “Pemilu Badunsanak dan Berintegritas Jangan Sekadar Slogan” dengan menghadirkan Dr. Hasanuddin, M.Si., Dekan FIB Unand, sebagai narasumber.

Menjawab pertanyaan presenter Padang TV, Dr. Hasanuddin, M.Si., mengatakan bahwa agar “Pemilu Badunsanak” tidak hanya sekadar slogan, maka pertama-tama justru perlu diajukan pertanyaan kepada pihak-pihak yang mendeklarasikan slogan itu (capres, caleg, partai politik pendukung, atau lainnya). “Apakah sudah menghayati makna kata badunsanak itu atau belum? Bila belum, mari saya jelaskan,” tuturnya.

Makna kata badunsanak menurut Dr. Hasanuddin, M.Si. adalah bersaudara. Bersaudara dalam konsep sosio kultural Minangkabau memiliki level dan ruang yang bertingkat tapi esensinya hanya satu, yaitu saudara.

Lalu jelasnya, tingkatan-tingkatan dunsanak itu adalah kerabat dalam garis matrilineal: seayah-seibu (dunsanak kanduang), senenek (saparuik, dunsanak ibu), sekaum (dunsanak anduang), sesuku (dunsanak sadatuak). Di samping itu, ada dunsanak dalam relasi induak bako-anak pisang, ando-mando, andan-pasumandan, ipa-bisan.

Bahkan ungkapnya lagi seorang parewa, memiliki konsep yang luar biasa, dunsanak bukan hanya terbangun oleh hubungan genalogis atau kekerabatan, tetapi juga bisa oleh “seteguk air” bahwa ketika sekali saja pernah minum seteguk air di rumah seseorang, maka hakikatnya si pemilik rumah itu sudah menjadi dunsanaknya.

Lebih jauh lagi sebutnya ada, dunsanak sakampuang, sanagari, sa-Minangkabau, sa-Indonesia, dan seterusnya seanak-secucu Nabi Adam. Jadi simpul Dr. Hasanuddin, M.Si., konsep dunsanak itu elastis, secara proporsional dan kontekstual, sesuai petatah tagak basuku mamaga suku, tagak bakampuang mamaga kampuang, tagak banagari mamaga nagari, tagak babangso mamaga bangso. Esensinya, badunsanak adalah saraso, sahino, samalu (serasa, sehina, semalu).

Menurutnya, dalam konteks berpolitik, konsep badunsanak itu sesungguhnya terepresentasi dalam sistem musyawarah-mufakat. Konsep itulah yang diakomodasi ke dalam sila keempat Pancasila, yakni “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan”.

Akan tetapi, keluh Dr. Hasanuddin, M.Si., sistem demokrasi badunsanak yang esensial itu telah digeser oleh konsep demokrasi asing, yang memberi ruang otoritasi ekspresif kepada individu sehingga penentuan dukungan terhadap seseorang calon wakil rakyat atau presiden adalah melalui pemberian suara langsung, melalui voting, one men one vote.  Perubahan itu agaknya yang disadari sebagai sebuah kerancuan sehingga muncul ide “pemilu badunsanak”.

“Pemilihan pemimpin atau wakil rakyat secara langsung telah menggeser konsep‘hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan’. Namun, hal itu bisa diperbaiki dengan menumbuhkan kembali kesadaran bahwa kita badunsanak. Sistem pemilihan boleh saja berubah, tetapi esensi (badunsanak)-nya jangan,” tutur Dr. Hasanuddin, M.Si.

Lebih lanjut, Dr. Hasanuddin. M.Si. menyatakan bahwa realisasi pemilu badunsanak adalah bahwa siapa pun yang menang adalah dunsanak kita. Oleh sebab itu, jauhkan diri dari ucapan dan tindakan yang akan merusak hubungan badunsanak di antara kita. “Masak kita tega berkata kasar, mengolok-olok, atau menghina dunsanak sendiri?” Oleh sebab itu, lanjutnya, “Silahkan berbeda pilihan atau dukungan, tetapi tetaplah jaga silaturrahim atau hubungan badunsanak itu.”

“Lalu, apakah dengan konsep “pemilu badunsanak” lantas para capres, caleg, dan partai pendukungnya tidak perlu kampanye? Tentu saja tidak juga begitu. Dalam adat Minangkabau, ada dua konsep, yakni “harga diri” dan “budi”. Dalam konteks “harga diri” seseorang dituntut untuk memiliki semangat dan etos tinggi untuk bersaing satu dengan yang lain. Persaingan adalah sebuah keniscayaan, namun harmoni juga sama pentingnya. Oleh sebab itu, ada konsep “budi” yang berisi nilai-nilai tenggang rasa dan saling menghargai. Dalam konteks itu, petatah Minangkabau menegaskan patarang sajo dama awak, ijan dipadamkan dama urang ‘perterang saja lampu kita, jangan dipadamkan lampu orang’. Artinya, kampanye tetap perlu dilaksanakan.Upaya memenangkan pilihan tentu mesti dilakukan, namun gunakan bahasa yang santun dan cara yang elegan,” ulas dosen Sastra dan Kajian Budaya Minangkabau FIB Universitas Andalas ini.

Terakhir, ia menyatakan setelah pemilu usai, siapa pun yang menang atau kalah, mereka adalah dunsanak. Oleh karena itu, Dr. Hasanuddin, M.Si. mengajak pemirsa PadangTV untuk melupakan persaingan dalam pemilu dan melanjutkan persaingan dalam ranah yang lain dengan orientasi bergerak dinamik-dialektik untuk kemajuan.

“Bagi yang menang, jadilah pemimpin rakyat. Kalau jadi presiden, ya presiden yang mengayomi seluruh rakyat, bukan presiden untuk satu golongan/partai politik/kelompok tertentu. Juga demikian halnya bila terpilih jadi wakil rakyat, ya jangan hanya berpikir untuk konstituen pemilih saja. Cara berpikir demikian adalah keliru. Kalau itu yang terjadi, ya tidak badunsanak namanya,” tutup Dr. Hasanuddin, M.Si.

Reporter : Lusi Andriani, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 208 times