Rabu, 10 Oktober 2018 08:52

“Silek Sebagai Sumber Sastra Lisan” Diungkap oleh Akademisi dan Praktisi di FIB Unand

Foto 1: Foto bersama kurator dengan para pemateri Seminar Nasional Sastra Lisan

FIB - Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unandbersama Silek Arts Festival Indonesia mengadakan Seminar Nasional dengan tema “Silek Sebagai Sumber Sastra Lisan”. Kegiatantersebut terlaksana pada Kamis, 4 Oktober 2018,di Ruang Seminar FIB Unand.

Sudarmoko, M.A., salah seorang kurator di Sumatera Barat, menjelaskan latar belakang diadakannya seminar itu karena kurangnya perhatian orang akan sastra lisan. Dengan adanya seminar tersebut,ia mengharapkan itu dapat meningkatkan minat masyarakat dalam mengapresiasi sastra lisan Minangkabau terutama yang bersumber dari silek. Silek itu sendiri ungkapnya sudah menjadi bagian dan basis kesenian di Sumatera Barat karena banyak seni-seni tradisi berangkat dari silek.

“Sastra lisan ini kajian yang sangat menarik dan belum banyak orang yang menaruh perhatian besar pada jenis sastra ini serta pakar kita tidak banyak. Padahal, masyarakat sebagian besar merupakan pelaku dan pencipta sastra ini dibandingkan dengan sastra lain. Kemudian, sastra ini tetap tumbuh, hidup, dan ditampilkan dalam berbagai acara adat dan budaya dikalangan masyarakat,” ujar Sudarmoko, selaku kurator acara.

Lalu, Ketua Panitia seminar sastra lisan Minangkabau, Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum., menjelaskan, hubungan antara sastra lisan dengan silek, yaitu silek merupakan bagian dari sastra lisan. “Sastra lisan tidak melulu dalam bentuk tuturan kata.Jadi dalam beberapa bentuk sastra lisan juga diikuti dengan seni gerak yang sering dikategorikan dengan silek. Selain itu, silek juga diwariskan melalui lisan dengan ada tambahan gerakannya,”jelasnya.

Selanjutnya, ia menyampaikan seminar itu merupakan bagian dari Program Festival Indonesiana yang ada di Sumatera Barat, dengan nama Silek Arts Festival. Program Indonesiana itu merupakan sebuah platform kebudayaan dari Direktorat Jenderal Kebudayaan yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan beberapa perguruan tinggi, seperti Universitas Andalas (Unand), Universitas Negeri Padang (UNP), Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, dan lainnya. Selain seminar ucapnya, terdapat pula khazanah Minangkabau yang diselenggarakan di Minangkabau Corner, di Perpustakaan Lantai Tiga Universitas Andalas.

Lebih lanjut paparnya, terdapat dua sesi dalam seminar tersebut, yang masing-masing sesi terdiri dari empat pembicara. Sesi pertama dengan topik “Sastra Lisan dan Ruang Lingkup Kajiannya”dihantarkan oleh Dr. Seno Gumira Ajidarma, Ediwar, Ph. D.,Dr. Khairil Anwar, dan Pramono, Ph. D. Adapun yang bertugas sebagai moderator adalah M. Yusuf, M.Hum.

Sedangkan sesi kedua sebutnya dengan topik “Silat Sebagai Sumber Kajian Sastra Lisan” disampaikan oleh Prof. Dr. Bani Sudarsi, Dr. Hasanuddin, M.Si.,  Dr. Gres Grasia Azmin, dan Musra Dahrizal Katik Rajo. Sementara itu, moderator untuk sesi ini adalah Nasrul Azwar.

Foto 2: Kegiatan para akademisi sedang memaparkan materinya

Sebagai pembicara utama pertama, Dr. Seno Gumira Ajidarma menjelaskan tentang“Silek dalam Komik”. Tentang komik itu sendiri saat sekarang ini ungkapnya komik dianggap sebagai kebudayaan yang tidak penting. “Biasanya orang tua melarang.Malah saat Orde Baru di razia.Padahal agama sering menggunakannya untuk menggambarkan surga dan neraka,” jelas Rektor Institut Kesenian Jakarta ini.

Lanjutnya, komik silat yang pertama kali diterbitkan di Indonesia yaitu mengenai silat Minang dengan judul Pendekar Sorik Marapi yang terbit pada tahun 1960-an. Komik itusebutnya menjadi bukti bahwa sastra lisan Minang saat itu sudah menggunakan perantara komik dalam penyampaiannya. Tapi, terangnya lagi banyak silat-silat yang terdapat di dalam komik tersebut tidak sesuai dengan silat yang sebenarnya.

“Biasanya orang silat gelisah karena dalam komik silat terkadang tidak menuju pada jurus silat apapun. Jadi, itu terserah penulis dalam membuat alur ceritanya,Karena dengan komik, kita melihat konteks silat dari dongeng bukan gerakan,” papar Dr. Seno Gumira Ajidarma.

Kemudian ia menjelaskan pada Orde Baru, silat selalu berhubungan dengan rasa percaya diri, mempertahankan nagari, dan dipelajari dengan olah batin. Belajar silat ucapnya bukan hanya belajar main pukul saja, tetapi harus menguasai gerak secara fasih dengan kemampuan batin.

Merujuk kepada A.A Navisdalam silat Minang dan juga komiknya, seperti yang disampaikannya, disana disebutkan bahwa dalam silat musuh tidak dicari, dan hindari bertarung dengan pendekar tersebut. Tambahan pula, Muridnya malah disuruh untuk berguru kepada pendekar lain, serta hindari bertarung langsung dengan sesama pendekar. Kemudian, jika memang harus berduel, para petarung harus melakukannya ditempat yang sepi dan hanya disaksikan sejumlah temannya yang terjaga kejujurannya. Akan tetapi, ucapnya nilai ini tidak dipertahankan.

“Komik Si Buta dari Goa Hantu, merupakan ikon komik silat Indonesia. dengan munculnya komik silat ini, komik Indonesia kembali membludak di pasaran hingga menjadi komoditas penjualan,” ia memberi contoh.

Pemateri kedua, Ediwar, Ph.D., menjelaskan mengenai “Silek dalam Kesenian Minangkabau”.Ia mengambil Indang sebagai contohnya. Indang, seperti yag dipahaminya, merupakan salah satu kesenian yang sifatnya bertanding dalam artian saling sahut-menyahut kata, tetapi dalam nuansa Islam. Indang awalnya dilakukan di surau-surau, dan kemudian berkembang menjadi kesenian rakyat secara luas. Dalam kesenian ini silek yang digunakan yaitu “Silek Kato” atau dalam bahasa Indonesianya “Silat Kata”.

Menurutnya, basilek adalah suatu kemampuan yang memerlukan keahlian.Dalam Kesenian Indang, sileknya yaitu kemampuan dalam bermain kato (kata), serta kepandaian, keterampilan, kepiawaianmengungkapkan pikirannya dalam bentuk bahasa lisan.

“Nilai dari basilek kato itu ialah kemampuan untuk secara spontan menciptakan pantun dengan menguasai kondisi masyarakatnya. Awalnya silek ini dilakukan di surau, sehingga yang dibahas adalah kondisi atau masalah-masalah agama,” ujar Ediwar, Ph. D.

Foto 3: Musra Dahrizal Katik Rajo, dosen luar biasa FIB Unand dan pelaku silek, sedang memperagakan gerakan silek di depan pemateri dan peserta seminar

Berlanjut, kato atau kata sarannya adalah kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh generasi muda Minangkabau. Selain itu, kato juga merupakan sumber terbentuknya sastra lisan yang bernilai tinggi dan indah.

“Terdapat banyak nilai yang dapat kita ambil dari silek kato ini, diantaranya nilai kultural yang biasanya berhubungan dengan nilai budaya. Lalu, nilai religius yang berhubungan dengan permasalahan agama. Kemudian nilai etika, estetika, dan logika yang berhubungan dengan permasalahan sosial,” tambahnya.

Mengakhiri penyampaiannya, Ediwar, Ph.D. menyimpulkanbermain kato-kato dapat disimak dalam berbagai jenis pertunjukan, terutama dalam karya sastra yang diiringi dengan alat musik dan tanpa iringan alat musik.

Berbeda dengan dua pemateri sebelumnya, Dr. Khairil Anwar, M.Si. menjelaskan mengenai “Situs Alam Menjadi Sumber Cerita Lisan”. Sebelum masuk ke inti materi, ia menjelaskan mengenai ciri-ciri sastra lisan, yaitu diwariskan melalui mulut ke mulut. Hal itu katanya menyebabkan setiap cerita yang diceritakan berbeda oleh penutur yang berbeda dan menghasilkan varian-varian dalam sastra lisan.

Dalam pandangannya, dalam sastra atau cerita lisan, tidak dipermasalahkan mengenai keaslian cerita. “Entah itu cerita asli atau cerita yang sama dengan yang diceritakan zaman dahulu, itu tidak jadi masalah dalam sastra lisan,” jelas dosen dan peneliti sastra lisan asal FIB Unand ini.

Dulunya, paparnya, cerita lisan muncul ketika ada keramaian dan hari pasar. Para pedagang datang ke pasar dengan menempuh waktu yang lama dan modal transportasi yang terbatas, Sampai di pasar, para pedagang inilah yang menjadi penutur bahasa lisan atau penutur cerita lisan.

“Sastra lisan atau cerita lisan itu dapat kita katakan sudah sastra lisan revolusi empat.Kalau dulu langsung didengar dari penuturnya, kalau sekarang kita bisa membaca cerita lisan atau mendengarkan cerita lisan melalui gadget atau lainnya,” ia membandingkan.

“Silek Minangkabau muncul dalam cerita lisan ketika ada tuntutan-tuntutan heroik, misalnya ketika saudara kita diganggu oleh orang lain serta ketika harga diri kaum diganggu oleh faktor dari luar. Kemudian, silek juga muncul ketika orang-orang Minangkabau hendak merantau. Mereka akan diberi bekal silek di surau-surau, agar mereka menjadi kuat dalam menghadapi dunia orang. Dengan hal tersebut dapat disimpulkan cerita lisan merupakan catatan peradaban manusia tentang alam dan silek yang ada di tengah-tengah masyarakat,” tambahnya.

Berlanjut ke pembicara yang lain, Pramono, Ph.D. mengungkap surau sebagai scriptoriummenyimpan berbagai macam koleksi naskah-naskah yang menggambarkan kehidupan di surau dulunya. Surau paparnya menjadi inspirasi yang didalamnya langsung melekat silek yang diekspresikan untuk menggambarkan perubahan masyarakat Minangkabau.

Sayangnya, katanya, walaupun ribuan manuskrip ada di surau-surau, tetapi sangat jarang yang membahas mengenai silek. Naskah silek, selama penelitian Pramono, Ph.D.,filologSastra Minangkabau ini, hanya menemukan satu naskah yang membahas tentang silek dan itupun hanya fotocopy-an, dandata yang aslinya sudah hilang.

“Naskah yang ditemukan, berangkat pada tahun 1950-an. Naskah ini yaitu mengenai SilekKumango, yang ditulis oleh salah seorang guru silek. Beberapa halaman dari naskah ini tidak terbaca,” ujarnya.

Lebih lanjut ungkapnya, silek dan surau hampir sama dalam hal pelabelannya. Surau di Minangkabau berfungsi sebagai tempat belajar silek dan tempat belajar keagamaan.

“Dulu, orang-orang yang belajar silek dimaknai oleh para ulama sebagai preman, dan mereka memisahkan silek dengan agama. Tetapi, dalam perkembangannya ada beberapa ulama yang justru menjadi pencetus aliran silat yang ada di Minangkabau,” paparnya.

Jadi ia menyimpulkan ada perubahan ketika silek berada di luar orang-orang surau dan ketika silek sudah bersenyawa dengan Islam. “Intinya, ketika silek sudah bersenyawa dengan Islam, maka ulama dan silek itu pun juga menyatu,” pungkasnya.

Reporter : Febriani Rahayu Putri, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 132 times