Kamis, 11 Oktober 2018 09:03

Dosen FIB Unand Hadiri Kongres Bahasa Minangkabau Tahun 2018

Foto: Prof. Nadra, M.S. sedang memaparkan makalahnya dalam Kongres Bahasa Minangkabau tahun 2018

FIB - Sejumlah enam orang dosen FIB Unand diundang pada Kongres Bahasa Minangkabau di Hotel Daima, Padang pada 4—5 Oktober 2018. Dua diantaranya sebagai pemakalah, yakni Prof. Nadra, M.S. dan Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum., sedangkan empat orang lagi, yakni Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., Dr. Hasanuddin, M.Si., Pramono, Ph.D., dan Dr. Khairil Anwar, M.Si. sebagai pemberi masukan.

Dilansir dari KOMPAS.com ada 11 bahasa daerah di Indonesia yang dinyatakan telah punah. Bahasa daerah yang telah punah tersebut terdiri atas sembilan bahasa daerah yang berasal dari Maluku dan dua bahasa daerah dari Papua. Bahasa daerahdari Maluku tersebut ialah: Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua, dan Nila. Adapun bahasa daerah dari Papua ialah: Tandia dan Mawes.

Selain itu, ada empat bahasa daerah yang dinyatakan kritis dan dua bahasa daerah mengalami kemunduran. Dikutip dari Liputan6.com, empat bahasa daerah yang dinyatakan kritis ialah bahasa Reta (NTT), Bahasa Saponi (Papua), bahasa Ibo (Maluku), bahasa Meher (Maluku Tenggara Barat). Dua bahasa daerah yang mengalami kemunduran ialah bahasa Hitu (Maluku) dan bahasa Tobati (Papua).

Kenyataan ini tentu mengkhawatirkan, termasuk bagi masyarakat Minangkabau meski bahasa Minangkabau termasuk bahasa daerah yang masih aman. Karena itulah, pada 4—5 Oktober 2018 lalu diadakan Kongres Bahasa Minangkabau untuk pertama kalinya. Sebelumnya, telah diadakan Prakongres Bahasa Minangkabau, yakni pada tahun 2017.

Kongres Bahasa Minangkabau ini membicarakan mengenai kebertahanan bahasa Minangkabau, bagaimana cara mempertahankan bahasa Minangkabau, tulisan Minangkabau, dan tata bahasa Minangkabau, serta cara mengaplikasikan bahasa Minangkabau, dan hal lain berkaitan dengan bahasa Minangkabau.

Dr. Khairil Anwar, M.Si. sebagai salah seorang dosen FIB Unand yang diundang berharap Kongres Bahasa Minangkabau ini terus diadakan setiap tahunnya karena menurutnya bahasa Minangkabau itu penting.

“Bahasa Minangkabau itu penting karena merupakan pintu masuk untuk memahami budaya Minangkabau,” tutur Dr. Khairil Anwar, M.Si.

Lebih lanjut, Dr. Khairil Anwar, M.Si. mencontohkan kata bako. Menurut kamus, kata bako berarti keluarga pihak ayah. Namun, pengertian kata bako sebenarnya lebih dari itu. Kata bako, salah satu pengertiannya ialah kekalyang berasal dari kata baqa. Artinya, hubungan seorang anak dengan keluarga pihak ayah merupakan hubungan yang kekal. Seandainya sang ayah telah tiada, hubungan anak dengan keluarga pihak ayah akan tetap ada.

Selain dari FIB Unand, Kongres Bahasa Minangkabau ini juga dihadiri oleh salah seorang dosen FISIP Unand, Ketua Komisi V DPRD Sumbar, Kepala Balai Bahasa, Kepala Balai Pelestarian dan Nilai-Nilai Budaya (BPNB), Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Balai Konsultansi Adat Alam Budaya Minangkabau, LKAAM Provinsi Sumbar, Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar, Dinas Pendidikan Provinsi Sumbar, Humas Kantor Gubernur, Bundokanduang, IPBKI Bekasi, Koordinator Wikipedia Bahasa Minangkabau, KNPI Sumatra Barat, Universitas Negeri Padang, Universitas Bung Hatta, Universitas Muhammad Yamin, UIN, ISI, STKIP, IAIN Bukittinggi, Seniman, Sastrawan, Jurnalis, dan sejumlah Mahasiswa.

Reporter: Lusi Andriani, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 166 times