Selasa, 16 Oktober 2018 05:18

Dua Reporter Humas FIB Unand Kuak Perjalanan Karir Dr. Anhar Gonggong

Foto  : Muthia Delima Putri (Kanan) dan Febriani Rahayu Putri (Tengah) bersama salah seorang teman pria berfoto dengan Dr. Anhar Gonggong

FIB - Dua orang sahabat asal Jurusan Ilmu Sejarah yang keduanya juga adalah Reporter Humas FIB Unand,  Muthia Delima Putri dan Febriani Rahayu Putri berhasil menguak perjalanan karir sejarawan Indonesia yang ternama, yakni Dr. Anhar Gonggong,  ketika  usai memberi Kuliah Umum dengan tema “NKRI dan Nasionalisme Generasi Milenial pada Selasa, 18 September 2018 di Ruang Seminar FIB Unand. Berikut hasil dari liputan keduanya:

Dr. Anhar Gonggong, salah seorang sejarawan ternama Indonesia, lahir di Pinrang, Sulawesi Selatan pada 14 Agustus 1943. Dia mulai tertarik dengan sejarah  sejak masuk SMP karena menurutnya guru yang mengajarkannya sejarah saat itu pandai menyampaikan materi kepada para muridnya.

“Guru saya waktu itu namanya Pak Khalim.Dia tamatan SGA (Sekolah Guru Atas), sebenarnya waktu itu dia belum berhak mengajar tapi karena tidak ada guru lagi maka dia disuruh ngajar disana,” ujar Anhar.

Saat menempuh jenjang Sekolah Dasar, dia langsung melompat ke jenjang SMP. “Saya tidak memperoleh Surat Tamat Sekolah Dasar karena saya hanya tiga sampai empat bulan belajar di kelas enam.Setelah itu saya langsung masuk SMP. Hal itu karena suatu ketika ada salah seorang keluarga saya, yang saya panggil Kak Dullah,  mengajak saya jalan-jalan  ke SMP Saweri Gading, Makassar, Sulawesi Selatan. Saat itu kebetulan Direktur SMP Saweri Gading yang bernama Atchok Lopa adalah temannya,” jelas Dr. Anhar Gonggong.

Setelah menamatkan pendidikan di bangku SMP, kemudian Anhar melanjutkan pendidikannya ke SMA.Saat itu terdapat tiga pembagian jurusan yaitu A, B, dan C. Bagian A bidang budaya, B bidang eksakta, dan C bidang ilmu–ilmu sosial ekonomI.  “Saya masuk ke Jurusan Ilmu Budaya, jadi saya belajar antropologi,ilmu sosial dan segala macamnya,” tuturnya.

Setelah tamat SMA,dia melanjutkan pendidikan ke Yogyakarta pada tahun 1963.Waktu itu dia mendaftar di univeristas Gadjah Mada (UGM) dengan pilihan pertama adalah Ilmu Sejarah.Kemudian, dia juga mendaftar di Jurusan Sosial Politik, dan akhirnya dia diterima di Jurusan Ilmu Sejarah.

Saat menjadi Mahasiswa di UGM,  Dr. Anhar Gonggong dikenal sebagai aktivis kampus. Saat itu dia memiliki sebuah kelompok yang terdiri dari orang-orang yang suka membaca dan hobi menulis. Anggotanya tidak hanya dari Jurusan Sejarah saja, tetapi juga ada yang dari Sospol, dan lainnya. Kelompok ini bukan sebuah organisasi resmi, tetapi hanya kelompok untuk berdiskusi.

Dahulu di zamannya, yang saat itu dipimpin oleh Soeharto, aktivis dianggap sebagai mahasiswa bodoh dan dianggap sebagai mahasiswa “abadi”. “Saat itu kelompok saya menentang anggapan tersebut. Kami saat itu ingin membantah anggapan buruk terhadap mahasiswa yang menjadi aktivis. Salah satu hal yang kami laksanakan adalah dengan berdialog dan berdiskusi.Kemudian, kami akan bergantian menulis setiap bulannya di koran.Dengan hal seperti itulah kami membuktikan bahwa kami tidak bodoh, dan pemerintah tidak bisa menganggap kami bodoh,” kata Anhar.

Dr. Anhar Gonggongpernah bolak-balik masuk penjara karena saat itu dia dan teman-temannya berusaha menentang sistem pemerintahan Soeharto yang banyak korupsi di dalamnya dan kebijakan yang otoriter dimasa itu. Dia dan teman-temanya melakukan demonstrasi, Walaupun begitu, mereka tetap memegang prinsip untuk tidak merusak fasilitas umum, membakar ban, dan lainnya.

 “Karena menurut saya, tidak ada hubungannya bakar membakar dengan penyampaian pendapat yang dilakukan,” kata Anhar.

Pernah suatu saat, Universitas Gadjah Mada tempat dia mengemban ilmunya dikepung oleh banyak tentara menggunakan tank. Hal ini karena mahasiswa di sana sering melakukan demonstrasi terhadap pemerintahan masa itu.

 “Saya ditangkap pertama kali saat melakukan demo menentang pembangunan Taman Mini yang didirikan oleh Bu Tin Soeharto di Jakarta. Pembangunan taman ini dianggap mengambil tanah rakyat. Saat itu enam orang yang dianggap sebagai pemimpin demonstrasi ditangkap dan saya salah satunya. Waktu penahanan berkisar seminggu sampai dua bulan. Saat itu kami demo tidak langsung ke Jakarta tetapi kami menentang lewat berita dan melakukannya juga di Yogyakarta,” kenang Anhar.  

Selain sebagai sejarawan, Dr. Anhar Gonggong juga menjabat sebagai Tenaga Profesional Bidang Sosial Budaya di Lembaga Ketahan Nasional (Lemhanas).  Dia sudah mulai bekerjasama dengan Lemhanas sejak tahun 1985. Dia sudah sering diminta untuk menjadi pemateri dalam seminar, kuliah umum, atau sejenisnya.

Dia diminta ke Sesko TNI, kelingkungan pemerintah waktu itu.Pembicaraannya menyangkut pada ideologi – ideologi besar, seperti marxisme, kolonialisme, kapitalisme, liberalisme, dan lainnya. Saat itu Lemhanas melakukan kegiatan untuk memberikan wawasan  supaya komunisme jangan menyebar, kapitalisme juga, serta aliran ekstrem lainnya.

“Pada waktu itu saya cuman memberikan gambaran tentang ideologi besar yang berkembang saja,” pungkas Dr. Anhar Gonggong.

Humas: Ayendi (Atas laporan Muthia Delima Putri dan Febriani Rahayu Putri), Admin: Gading Rahmadi

Read 129 times