Sabtu, 27 Oktober 2018 05:24

Sebagai Sastrawan dan Praktisi Penerjemah Terkenal di Indonesia, Anton Kurnia Beri Kuliah Umum yang Diselenggarakan oleh Jurusan Sastra Inggris FIB Unand

Foto: Dosen Jurusan Sastra Inggris FIB Unand berfoto bersama Anton Kurnia

FIB - Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas mengadakan kuliah umum di Ruangan Seminar Fakultas Ilmu Budaya pada pukul 08.30 s.d. 11.30 WIB pada Selasa, 23 Oktober 2018.

Kuliah umum ini bertema “Peranan Jurusan Sastra Inggris dalam Industri Penerjemah di Indonesia” dengan pemateri Anton Kurnia. Dia adalah seorang sastrawan dan praktisi penerjemah di Indonesia. Penerjemahan yang dilakukan Anton Kurnia ini bukan melakukan penerjemahan yang biasa–biasa saja.Dia menerjemahkan cerita pendek berbahasa Indonesia kedalam Bahasa Inggris.

“Menerjemahkan cerita pendek ini bertujuan untuk mengenalkan sastra anak Indonesia keluar negeri, dan sudah ada sekitar 99 sastra anak yang berbentuk cerpen yang sudah diterjemahkan,” sebutnya..

Kuliah umum yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam itudimoderatori oleh Gindho Rizano, M.Hum., sedangkan Ketua Pelaksana kegiatannya adalah Dr. Rina Marnita AS, M.A. Kegiatan ini dikuti tidak hanya oleh mahasiswa dan dosen dari Jurusan Sastra Inggris saja namun diikuti juga oleh mahasiswa dan dosen dari jurusan lain di lingkungan FIB Unand.

Acara dimulai dengan kata pembukaan oleh Ketua Jurusan Sastra Inggris FIB Unand, Hanafi, M.App. Ling., Ph.D., dan dilanjutkan dengan Wakil Dekan I, Dr. Ferdinal, M.A. yang dalam hal ini mewakil Dekan FIB Unand.

Mengawali acara utama yaitu penyampaian materi kuliah umum oleh nara sumber, terlebih dahulu ada suguhan penampilan story telling oleh salah seorang mahasiswa Jurusan Sastra Inggris berjudul The Ugly Duckling.

“Penerjemahan bukan hanya memindahkan suatu kata yang sepertinya gampang tapi tidak seperti itu,” begitu kata pembuka Anton Kurnia mengomentari persepsi yang mengatakan penerjemahan itu gampang.

Dalam melakukan penerjemahan, menurut dia banyak yang harus dikuasai, yaitu: menguasai bahasa target (Target Language) dan bahasa sumber (Source Language) dengan baik, memiliki kemampuan menulis yang baik, mau membuka referensi seperti buku atau jurnal, menguasai peralatan dalam penerjemah, dan memiliki hubungan yang baik dengan pemberi jasa.

Pada penjelasannya mengenai penerjemahan, Anton Kurnia mengutip kata-kata dari seorang penerjemah asal Rusia yang mengibaratkan penerjemah itu seperti “Seseorang yang harus melukiskan sebuah rumah indah di negara lain, sementara dinegaranya sendiri rumah dengan arsitektur seperti itu tidak ada, bahkan seluruh keadaan alamnya berbeda.”

Hal itu pendapatnya menjadi masalah bagi penerjemah yakni dengan memindahkan gambaran dengan kata-kata kedalam bahasa sasaran dengan sejumlah acuan yang terkadang kurang diketahui termasuk pengetahuan tentang ungkapan khas tentang bahasa yang berkaitan dengan aspek sosiologi, sejarah, dan budaya.

Di tengah kuliah umum itu, selaku Pemateri, Anton Kurnia, juga menjabarkan bahwa seorang penerjemah terutama dalam menerjemahkan noveltidak hanya bertugas mengartikan kata dari satu bahasa ke bahasa lainnya tetapi juga menuliskan kembali cerita itu ke budaya bahasa cerita yang diterjemahkan. Kemudiantambahnya dalam menerjemahkan suatu teks terutama novel, penerjemah harus juga menggunakan rasa dalam penulisannya agar sipembaca dapat masuk kedalam cerita.

“Dalam menerjemahkan suatu novel kita tidak hanya menerjemahkan arti katanya saja, namun kita juga harus menerjemahkan budayanya dan bahkan kadang novel terjemahan lebih bagus ketimbang novel aslinya sendiri,” ujarnya.

“Bisa dikatakan bahwa menerjemahkan adalah pekerjaan serius yang menuntut kerja keras dan mengandung tanggung jawab berat yakni kewajiban mengetahui makna teks sumber dan teks target agar teks terjemahan terbaca dengan jelas dalam bahasa sasaran, sekaligus terjaga karakter suara penulisnya terutama dalam penerjemahan teks fiksi atau sastra,” imbuhnya.

Selain itu terangnya, dalam penerjemahan teks sastra, keindahan bahasa dan irama kata-kata dan gaya penulis dapat diterjemahkan.“Dalam hal ini proses penerjemahan tidak hanya proses pengalihan pesan tapi juga proses penciptaan.Maka sesungguhnya kegiatan seorang penerjemah adalah sebuah upaya untuk mencapai kesempurnaan nyaris mustahil,” katanya.   

Dalam kuliah umum kali itu juga Anton Kurnia menyinggung tentang besarnya peluang dari seorang mahasiswa Sastra Inggris atau dari jurusan sastra lainnya dalam industri penerjemahan ini.

“Mahasiswa sastra memiliki peluang yang sangat besar dalam industri penerjemahan ini. Di Indonesia banyak penulis dengan karya-karya hebat yang bisa bersaing dengan novel-novel laris kelas dunia.Kita hanya kekurangan penerjemah yang handal untuk melakukan itu, dan sangat disayangkan masih minimnya minat mahasiswa dalam industri penerjemahan.Hal ini dapat dilihat dari kurangnya penerjemah profesional yang dimiliki Indonesia saat ini,” ungkapnya.

Meskipun demikiandia juga mengungkapkan bahwa pekerjaan sebagai seorang penerjemah cukup menjanjikan. Pemerintah katanya juga menerapkan standar biaya yang cukup tinggi dalam menerjemah.

Namun sayang prakteknya di penyedia jasa paparnya atau yang sering disebut penerbit tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah.Hal ini di karenakan ujarnya, jika upah penerjemah sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah maka ongkos produksi bukupun menjadi naik dan harga jualnya pun ikut naik.

“Namun walaupun penyedia jasa tidak mengikuti standar yang ditetapkan oleh pemerintah, penghasilan dari seorang penerjemah pun cukup memadai.Kira-kira satu halaman terdiri dari 1500 karakter dan satu karakternya dihargai Rp.15/karakter.Jika dikalikan satu halaman itu seharga empat puluh ribu rupiah, dan ya bisa dikalikan dengan berapa kira-kira ketebalan suatu novel dan itu cukup menjanjikan,” ucapnya.

Pada Oktober 2015 ingatnya, Indonesia diundang sebagai tamu kehormatan di Frankfurt, yaitu pameran buku tertua di dunia yang berada di Jerman.Ini merupakan momen yang baik untuk memperkenalkan sastra dari Indonesia karena harus diakui bahwa karya kita kurang diakui di dunia internasional.

“Yang baru ada yaitu Eka Kurniawan dengan karya terjemahannya Men Tiger (Lelaki Harimau) yang sudah diterjemahkan kedalam 30 bahasa. Dia tidak menang, tetapi masuk dalam list waktu itu,” paparnya.

Terakhir, untuk memasuki dunia penerjemahan, Anton Kurnia berpesan agar kita memiliki kualitas yang baik agar kita tidak menyesatkan dan merugikan pembaca.

 

Reporter: Ahmad Beni Albary, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 115 times