Rabu, 31 Oktober 2018 06:06

Annisa Istiqa Suwondo, Mahasiwa Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand: Busan dengan Segala Pelajarannya

Foto 1: Annisa Istiga Suwondo dengan latar Kampus Busan University of Foreign Studies, Korea

FIB - Annisa Istiqa Suwondo, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia FIB Unandmemperoleh kesempatan memetik pengalaman di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan selama satu bulan, yaitu dari 30 Agustus 2018 hingga 30 September 2018, dalam rangka Program Student Mobility. Dia berangkat berdua dengan temannya, Nurul Alisa Puteri, yang juga berasal dari jurusan yang sama.

Annisa Istiqa Suwondo mengatakan ada yang bilang, “Jauhlah dari rumah agar kau tahu rasanya melihat rumahmu dalam keadaan rindu. Berpetualanglah sebanyak-banyaknya selagi kau masih muda.”

Perkataan seperti itu membuatnya menjadi lebih bersemangat untuk mengenal banyak hal di luar dari rutinitas yang selama ini dia lakukan. Untuk bisa mendapatkan kesempatan, tuturnya dia memang harus mencari peluang yang banyak. Namun katanya sebelum mencari peluang, bekali diri sendiri dulu dengan banyak persiapan.

Saat ini Korea adalah salah satu negara yang melambung tinggi namanya, apalagi dikalangan remaja. Semua tentang korea secara tidak langsung membuat euforia yang berbeda dimata para pecinta K-Pop.

“Saya bukan salah satu penggemar K-Pop, tapi alhmadulillah saya bisa ke negara ini dan mulai jatuh cinta dengan negara ini selama saya benar-benar berada di sana,” ungkap Annisa (nama kecilnya).

Sejak kecil Annisa menuturkan dia selalu ingin pergi belajar di negara orang. Bukan karena tidak cinta Indonesia, tapi dia sadar bagaimana beberapa negara maju melahirkan banyak para ahli. “Saya ingin menjadi salah satunya. Mungkin itu mimpi yang sangat besar, tapi tidak ada salahnya jika kita berani mimpi sejauh itu. Karena bagi saya, kesempatan itu akan datang kepada siapa saja yang berniat untuk menemukannya,” harapnya.

Foto 2: Annisa Istiqa Suwondo dan Nurul Alisa Puteri bersama dengan Ketua Jurusan bahasa Indonesia Busan University of Foreign Studies, Korea

Annisa menyatakan dia adalah seorang mahasiswi yang tidak begitu populer dalam banyak hal dalam pendidikan. “Saya tidak begitu pintar hingga IPK saya bisa mencapai sempurna. Tidak, saya bukan salah satu mahasiswi seperti itu. Saya hanya seorang mahasiswi yang gemar mempelajari bahasa-bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Sejauh ini saya hanya bisa bahasa Inggris dan Jerman,” ucapnya.

Ibu Annisa selalu bilang, seperti yang disampaikannya, “Jika kita bisa menguasai bahasa asing, kita bisa kemana saja untuk memberikan ilmu yang sedang dan telah kita pelajari.”

Annisa adalah tipikal mahasiswa yang suka membaca mading. Lalu suatu hari sebutnya dia mendapatkan pengumuman tentang beasiswa ke luar negeri, tepatnya program Student Mobility di mading jurusannya. Semua mahasiswa yang ingin mengikuti program itu terangnya haruslah mempunyai skor toefl minimum sesuai persaratan. Syarat lainnya katanya adalah IPK dan Letter of Acceptance (LoA) dari Universitas yang ada di Luar negeri

Cara mendapatkan LOA ini pun jelasnya bermacam-macam. Ada yang langsung mengirimkan email kepada universitas di luar negeri atau kepada dosen luar negeri yang bersangkutan mengenai alasan mengapa ingin belajar di sana dan apa yang akan dilakukan disana.

Namun dalam proses yang dia jalani, Annisa harus membuat surat rekomendasi yang dibantu oleh Dekan atau Wakil Dekan untuk menyatakan bahwa dia memang mahasiswa yang ingin ikut belajar di universitas tersebut. “Dosen dari jurusan saya yang sedang mengajar di sana ikut merekomendasikan saya,” dia mengungkapkan.

Lalu Annisa memapaparkan kepana dia memilih Korea Selatan. “Karena kebetulan saya mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia, dan Universitas yang saya datangi juga memiliki jurusan yang sama. Hal ini yang menjadikannya menarik, dimana orang asing sangat tertarik dalam pelajaran bahasa Indonesia,” katanya.

Kemudian setelah syarat-syarat utama telah terpenuhi, Annisa melanjutkan syarat lain, seperti surat keterangan aktif kuliah dalam bahasa Inggris, curiculum vitae, agenda kegiatan dalam bentuk tabel, dan juga surat izin, dan jaminan dari Ketua Jurusan.

“Setelah semua berkas diserahkan pada waktunya, kita hanya menunggu proses seleksi. Biasanya, Internasional Office hanya memilih dua orang dari tiap jurusan. Setelah dinyatakan lulus, akan dilakukan beberapa wawancara singkat seputar kegiatan yang akan kita lakukan,” ujarnya.

Menurut Annisa, Busan adalah salah satu kota besar yang ada di Korea Selatan. “Saya memilih Busan karena kota ini tidak begitu ramai dan berada di tepi pantai.Kemudian juga kampus ini memiliki Jurusan Bahasa Indonesia, hal yang membuat saya semakin tertarik,” katanya.

Foto3: Annisa Istiqa Suwondo bersama Nurul Alisa Puteri dan salah seorang dosen Jurusan Sastra Indonesia yang mengajar di Korea

Selama di sana, Annisa mengobservasi kegiatan belajar mengajar serta ikut berdiskusi di kelas. “Kami tidak hanya belajar tata bahasa, tapi juga belajar tentang sejarah Indonesia. Saya senang bisa ikut serta dan aktif dalam kelas diskusi karena saya bisa mempresentasikan Indonesia menurut cara pandang saya. Salah satu point yang membuat saya nyaman berada di BUFS adalah lingkungan kampus yang asri dan bersih. Ada banyak tempat untuk belajar baik di dalam kampus maupun di luar kampus,” terangnya.

Banyak sekali hal-hal yang membuat Annisa tertarik pada Korea, selain pendidikan mereka yang begitu sulit, begitu juga dengan kerja keras mereka.

“Bagi saya banyak hal-hal yang patut untuk ditiru. Hampir seluruh masyarakat Korea adalah tipikal masyarakat yang sangat disiplin dan tepat waktu, menjaga lingkungan dan rapi. Mulai dari tidak membuang sampah sembarangan, tidak menerobos lampu merah, mempersilahkan pejalan kaki berjalan terlebih dahulu, tidak menggunakan plastik berlebihan. Hal-hal kecil seperti ini menurut saya adalah hal-hal yang akan berdampak besar, dan Indonesia perlu belajar hal-hal seperti itu terlebih dahulu untuk melakukan hal-hal besar lainnya,” pungkasnya.

Humas: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 111 times