Kamis, 01 November 2018 10:44

Mahasiswa Kelas A Jurusan Ilmu Sejarah Angkatan 2018 FIB Unand Berdiskusi Bersama Sutradara Film Liam & Laila, Arief Malinmudo

Foto 1: Arief Malinmudo sedang berdiskusi di hadapan mahasiswa

FIB - Diskusi perfilman pada Rabu, 31 Oktober 2018 ini terbilang mendadak karena sebelumnya mahasiswa Kelas A angkatan baru 2018 Jurusan Ilmu Sejarah ini sedang mengikuti perkuliahan bersama Prof. Dr. phil Gusti Asnan (Dosen Jurusan Ilmu Sejarah yang sekaligus Pembina Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Metasinema FIB Unand).

Di sela perkuliah tersebut, Prof. Dr. phil Gusti Asnan tiba-tiba memberitahu mahasiswa akan kedatangan Sutradara Arief Malinmudo untuk berbincang-bicang santai tentang film barunya yaitu Liam dan Laila.

Sebenarnya Diskusi Perfileman ini direncanakan diadakan di Gedung Seminar I Universitas Andalas. Akan tetapi ternyata gedung terlebih dahulu sudah di-booking oleh kegiatan lain, maka diputuskan saja untuk tetap di lokal D 1.5 Universitas Andalas.

Perbincangan pun cukup sederhana. Kegiatan diawali dengan Arief Malinmudo memperkenalkan dirinya secara singkat, dan lanjut ke sesi tanya jawab dengan mahasiswa baru di kelas tersebut.

Beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh mahasiswa diantaranya, "Bagaimana Abang Arief menggali atau meng-explore ide dalam menggarap film Liam dan Laila?"

Arief Malinmudo, seorang Sutradara yang lahir di Bukittinggi ini pun memberi jawabannya, bahwasannya ide penggarapan film ini terangnya diambil dari nilai-nilai atau "values" kebudayaan Minangkabau juga. Selain itu lanjutnya, di film ini Laila ialah seorang perempuan berdarah Minang yang berpendidikan tinggi hendak dipersunting oleh Liam dari Perancis. Latar belakang perbedaan budaya yang sangat mencolok ini jelasnya mengharuskan keinginan Liam berbuah kerikil batu yang tajam untuk mendapatkan Laila.

"Dalam Film ini saya hendak memberikan gambaran bahwasannya adat Minang itu sangat kuat dan terkhususnya tegas terhadap para perempuan," tuturnya.

Selain itu, mahasiswa juga mempertanyakan kenapa Arief Malinmudo ini memilih tema ke-Minangkabauan ini (tema kebudayaan), padahal banyak dari sutradara lain yang lebih mengambil tema-tema yang lagi trend saat sekarang.

Arief Malinmudo menjawab, "Saya sedang proses dalam belajar kearifan lokal sebenarnya. Saya hanya terbiasa menulis yang sesuai dengan basic saya aja," paparnya.

Kemudian selanjutnya pertanyaan yang tidak kalah menariknya pun diberikan kepada Sutradara ini. "Bagaimana jika ada sesuatu yang tidak diharapkan Abang misal ada aktor yang tidak sesuai dengan skenario yang telah abang susun gitu?" tanya salah seorang peserta yang lain.

"Sebetulnya untuk bikin film itu sendiri, aktornya itu sudah melalui tahapan casting. Jadi sutradara sudah mempertimbangkan apa tokoh ini cocok unutk memerankan ini, apa cocok kesini perannya dan lain-lain. Selain itu, nanti ketika ada proses pembuatan film itu, aktor-aktor tersebut diberikan teks sesuai peranannya masing-masing dan membacanya bersama. Kemungkinan sih tipis untuk kesalahannya," jawab Arief Malinmudo dengan ringkas kepada para mahasiswa yang sangat antusias sekali dalam mendengarkannya.

Pada akhir diskusi, Arief Malinmudo ini juga mengabarkan kepada mahasiswa bahwa sekarang di beberapa universitas-univeristas di Indonesia telah ada tugas skripsi akhir dalam bentuk film dokumenter.

“Yang ini sangat relevan sekali bagi mahasiswa baru FIB ini yang pasti lebih tahu kantong-kantong budaya yang berpotensi untuk diangkat menjadi film. Kepada teman-teman sekalian, lebih menarik dan menggelora lagi, kalian nanti yang akan menjadi sutradara dan bisa jadi saya yang jadi pemainnya," harapnya..

Sesi diskusi ini, ditutup dengan foto bersama dengan mahasiswa baru yang masih haus akan dunia perfilman.

Foto 2: Foto bersama mahasiswa Kelas A angkatan baru 2018 Jurusan Ilmu Sejarah FIB Unand dengan Arief Malinmudo selepas acara

 

Reporter: Rian Rahman, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 153 times