Senin, 26 November 2018 11:31

Menjadi Wisudawan TerbaikFIB Unand pada Wisuda IV Tahun 2018, Lina Surpayanti Memberi Pengalaman yang Menginspirasi

Foto 1: Lina Surpayanti, lulusan terbaik Wisuda IV FIB tahun 2018, sedang memberi kata sambutan mewakili wisudawan

FIB – Lina Surpayanti, mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah angkatan 2014 menjadi lulusan terbaik Wisuda IV FIB Unand pada Sabtu, 24 November 2018 bertempat di Ruang Seminar FIB Unand,

Lina Surpayanti lahir di Bantul, 30 Maret 1995. Dia merantau ke Padang sejak mulai kuliah. Awalnya sebelum diterima di universitas negeri Universitas Andalas, Ia mencari informasi universitas negeri yang bagus di luar pulau jawa, dan ditemukanlah universitas negeri di Sumatera dan Sulawesi.

Walaupun ia memiliki saudara di kedua daerah tersebut, namun, ia memilih untuk kuliah di Sumatera karena lebih dekat. Selain itu, karena Jurusan Ilmu Sejarah di Unand terakreditasi A. Di Sumatera ia memiliki saudara yang bertempat tinggal di Dharmasraya. Awalnya ia kaget karena dalam bayangannya, Padang tidak jauh dari Dharmasraya yang bisa ditempuh hanya dalam waktu 1 jam.Namun ternyata membutuhkan waktu hingga 6 jam,sehingga ia harus mulai hidup sendiri di Padang.

Setelah Lina (nama kecilnya) menamatkan sekolah menengah pada tahun 2013, ia ingin langsung melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Namun, Suparlin (Ayahanda Lina) tidak memberi izin karena tidak sanggup membiayai kuliah Lina dan menyarankan Lina agar bekerja dulu selama satu tahun untuk biaya kuliah Lina. Sehingga ia mendaftar kuliah pada tahun 2014, tanpa sepengetahuan keluarga bahwa ia mendaftar di Universitas Andalas. Setelah dinyatakan lulus, barulah ia memberi tahu kedua orang tunya.

Lina menjadi mahasiswa Unand melalui jalur SBMPTN. Walaupun Lina adalah lulusan SMK Jurusan Multimedia, tetapidia sudah dua kali membuat film dan mendapatkan penghargaan. Dia mengidolakan guru sejarah yang mengajarnya sewaktu di SMK.Karena ia sangat suka mendengar orang bercerita,sehingga ia berkeinginan suatu saat dapat membuat film yang berkaitan dengan sejarah.

Karena merasa sudah punya dasar, Lina ingin melanjutkan pendidikannya di Jurusan Ilmu Sejarah karena menurutnya tidak cukup mempelajari sejarah hanya di sekolah yang hanya satu jam pertemuan saja. Saat kuliah, ia bersama teman-temannya telah membuat film pendek yang bertema sejarah untuk pemenuhan tugas salah satu mata kuliah.

Selama di Sumatera, Lina mengakui cocok berteman dengan orang Sumatera. Bahkan saat pulang ke Jawa, banyak yang berpendapat bahwa logat Lina sudah seperti orang Minang dan mengatakan bahwa Lina pasti sangat cocok berteman dengan orang Minang, Lina pun menjawab, ”Iya aku emang merasa cocok aja.” Walaupun ia dan teman-temannya di Sumatera merasa bahwa logat Lina masih sangat seperti orang Jawa.  Namun Lina kurang cocok dengan makanan di Sumatera karena meskipun ia suka makanan pedas, namun menurutnya pedas makanan Sumatera berbeda dengan pedas makanan Jawa.

Ada beberapa kendala yang Lina alami semasa perkuliahannya. Salah satunya yaitu terdapat satu mata kuliah yang membuatnya pusing yaitu mata kuliah yang berkaitan dengan hitungan-hitungan. “Karena aku emang enggak suka hitung-hitungan, jadi pas ketemu angka lagi, kok angka lagi sih ketemunya, berjuang banget sih untuk lulus mata kuliah itu,” ungkapnya.

Lina juga sempat melewati masa-masa yang mengharuskannya untuk hidup sehemat mungkin. Karena saat awal perkuliahan, uang dari beasiswa bidikmisi belum keluar selama 6 bulan, sedangkan uang tabungannya sudah menipis. Apalagi pada saat itu, ibunya belum berdagang, jadi belum ada pemasukan setiap hari. Untuk menghemat pengeluaran, ia makan nasi dengan tambahan pilus atau kerupuk dan kecap. Walaupun teman satu kamar asramanya sering menawarkan lauk, tapi Lina menolak karena merasa tidak enak hati jika selalu merepotkan teman-temannya.

Menjadi lulusan terbaik justru menjadi sebuah beban bagi Lina.Dia mengatakan, “Enggak nyangka karena emang enggak menargetkan itu, cuma jalani aja, dari awal enggak ada ambisi harus ini harus itu, tapi ternyata kaya gini, oh ya berarti rejekiku.” Tapi bagi lina ada kepuasan tersendiri yaitu saat memberi tahu kepada orang tuanya bahwa ia menjadi lulusan terbaik fakultas. Ia merasa bisa memberi sesuatu untuk orang tuanya, bisa membuktikan bahwa ia tidak main-main selama kuliah. Ada sesuatu yang dapat ia raih.

Orang tua Lina juga tidak menyangka anak sulungnya bisa menjadi lulusan terbaik karena sebelumya Lina sempat mengeluh terkait perjalanan perkuliahannya, bahkan berfikir akan menambah semester lagi.

Foto 2: Lina Surpayanti didampingi oleh Ayahanda berfoto bersama Dekan, Dr. Hasanuddin, M.Si. dan Wakil Dekan I, Dr. Ferdinal, M.A.

Menurut pendapat salah satu teman dekat Lina, yakni Ayu Anggraini dari Jurusan Ilmu Sejarah angkatan 2014 yang sudah berteman dengan Lina sejak semester 1, katanyadalam kesehariannya, Lina adalah orang yang baik, pintar dan banyak pengetahuan. Lina bukan tipe orang yang belajar setiap hari.Justru ia lebih suka menonton, tetapi ia belajar setiap akan menghadapi ujian. Ayu merasa wajar jika Lina menjadi lulusan terbaik karena memang Lina lebih unggul dari teman-temannya.

Lina menamatkan perkuliahannya selama 4 tahun dengan IPK 3.78 predikat ‘Dengan Pujian’. Walaupun bukan IPK tertinggi tetapi ia lebih cepat menamatkan perkuliahannya dibanding wisudawan pemilik IPK tertinggi di wisuda IV tahun 2018. Judul skripsi Lina yakni “Kehidupan Sosial Ekonomi Orang Jawa di Nagari Taratak Tinggi Kecamatan Timpeh Dharmasraya Tahun 1985 - 2015” dengan bimbingan dari dua dosen pembimbing yaitu, Dr. Zaiyardam, M.Hum. dan Dr. Nopriyasman, M.Hum.

Selama pembuatan skripsi, Lina mengaku sering menghilang karena terkadang ia malas menyelesaikan skripsinya. Namun, karena sering didesak oleh pembimbingnya agar segera lulus dan menjadi Cum Laude dengan diberi target satu minggu harus selesai satu bab maka ia dapat menyelesaikan skripsinya dari bulan Mei sampai bulan Agustus secara intensif.

Motivasi terbesar Lina adalah ingat orang tua di rumah.Jika ia tidak cepat wisuda maka semakin banyak biaya yang dikeluarkan orang tuanya walaupun ia mendapatkan Beasiswa Bidikmisi, tapi  tidak mungkin cukup hanya dari beasiswa Bidikmisi saja. Lina tahu bahwa yang dipikirkan orang tuanya tidak hanya ia, tetapi juga kedua adiknya, adiknya yang pertama juga kuliah dan seangkatannya dengannya.Yang kedua sedang menjalani pendidikan di sekolah menengah.

Jadi tidak hanya Lina yang butuh biaya, apalagi pekerjaan ayahnya adalah petani yang tidak setiap hari menghasilkan uang. Lina juga selalu ingat dengan pesan ibunya (Suyanti), yaitu intinya Lina harus melakukan dan memberikan yang terbaik semampunya. Selain itu, Lina adalah tipe orang yang tidak mau kalah.Jika temannya mendapatkan pencapaian yang bagus, maka ia harus lebih dari temannya.

Menurut Lina seharusnya kuliah dan organisasi berjalan seimbang. Tetapi karena Lina memang lebih memilih untuk fokus terhadap kuliah, maka ia tidak mengikuti organisasi di kampus walaupun ia pernah mendaftar di beberapa organisasi universitas. Namun, ia pernah menjadi anggota aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah dan menjabat sebagai bendahara.

Setelah tamat pendidikan S1, Lina ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dengan mencari beasiswa. Namun, jika bukan rejekinya maka ia akan kerja saja. Lina berharap ia dapat meraih kesuksesan dalam kehidupannya.

Saat diwawancara di Ruangan Pusat Studi Humaniora, Kamis, 16 November 2018, Lina berpesan kepada teman-teman dan juniornya, “Ingat orang tuamu sudah berjuang, berusaha, mati-matian cari duit, masak enggak ada timbal baliknya, enggak mungkin kan malah kita main-main kuliah, ya seharusnya kita memberikan yang terbaik untuk orang tua kita, terus tetap semangat.” Ia juga menyampaikan bahwa doa ibu adalah yang paling manjur, sebanyak apapun usaha kita, kalau tidak ada doa ibu maka percuma saja.

Adapun Lulusan terbaik setiap Program Studi pada Wisuda IV tahun 2018 FIB Unand adalah sebagai berikut :

  1. Alda Yazmin Hutami, Jurusan Sastra Inggris, IPK 3.52, predikat ‘Dengan Pujian’
  2. Ica Aneka, Jurusan Sastra Indonesia, IPK 3.64, predikat ‘Sangat memuaskan’
  3. Lina Surpayanti, Jurusan Ilmu Sejarah, IPK 3.78, predikat ‘Dengan pujian’ (lulusan terbaik FIB Unand)
  4. Anisa, Jurusan Sastra Minangkabau, IPK 3.63, predikat ‘Sangat Memuaskan’
  5. Ravika Sawitri, Jurusan Sastra Jepang, IPK 3.81, predikat ‘Sangat Memuaskan’

 

Reporter : Mayang Dwipuspa Isabela Armanda, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 115 times