Kamis, 29 November 2018 12:50

FIB Unand Gagas dan Ikuti Seminar Antara Bangsa “Khazanah Melayu Serumpun dalam Era Baharu” di Universiti Malaya, Malaysia

Foto 1: Foto bersama Pemakalah dan Peserta Seminar Antar Bangsa “Khazanah Melayu Serumpun dalam Era Baharu” di Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya

FIB - Atas gagasan bersama Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang, Indonesia dan Akademi pengajian Melayu, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia,  maka pada  tanggal 14 November 2018 bertempat di Dewan Semarak, Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya terselenggara Seminar Antar Bangsa “Khazanah Melayu Serumpun dalam Era Baharu”.

Acara seminar tersebut juga terselenggara berkat kerja sama dengan Pusat Kajian Kecemerlangan Melayu, Universiti Malaya & Dewan Bahasa  dan Pustaka, Kuala Lumpur.

Peresmian Seminar disampaikan oleh Prof. Dr. Puteri Roslina Abdul Wahid, selaku Pengarah Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya.

Prof. Dr. Puteri Roslina Abdul Wahid menyampaikan bahwa Seminar Antar Bangsa Khazanah Melayu ini bertujuan menjadi wacana pertemuan dan perbincangan ilmiah dalam pengembangan keilmuan di bidang bahasa, sastra, dan budaya.

“Sebanyak 28 kertas kerja dan 30 makalah yang membentangkan kajian kesusastraan, bahasa, seni, sosial, dan budaya. Pada tahun-tahun mendatang akan terjadi perubahan yang pesat dalam pengembangan bidang ilmu tersebut. Penyelidikan ini semoga dapat memberikan  faedah sosial kepada masyarakat,” katanya.

Foto 2: Suasana ruang seminar utama saat acara sedang berlangsung

Sesi Pembicara Utama 1 pada pukul 9.30 pagi oleh Dr. Hasanuddin, M.Si., Dekan FIB Unand, Padang, Indonesia. Dia mengangkat tema “Wacana Etnodiplomatika Minangkabau”. Dalam pembahasannya, Dr. Hasanuddin, M.Si. Mengungkap tentang Kegemilangan Minangkabau pada masa lalu.

“Proses pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia dan pada masa awal pemerintahannya menempatkan peran Putra Minangkabau relatif dominan dan strategis, terutama dalam bidang diplomasi,” tuturnya.

Kemudian dia mencontohkan dengan mengutip beberapa pendapat dari tokoh yang menyatakan kegemilagan Minangkabau tersebut.

Pertama Dr (HC) Drs. H. M. Jusuf Kalla menyatakan, ”...Tahun 70-an di Jakarta, apabila tampil sepuluh orang mubaligh dikegiatan keagamaan, maka umumnya sembilan orang  (90%) berasal dari Minangkabau (Abidin, 2016).”

Kedua, Hasril Chaniago, seperti dikutipnya menyatakan, “Empat dari tujuh (57%) tokoh paling terkemuka di Indonesia versi majalah Tempo adalah orang Minang (Pensusuk Minangabau/Sumatera Barat hanya berkisar 2-4 persen dari total penduduk Indonesia.”

Ketiga, sebut Dr. Hasanuddin, M.Si., yaitu Yusof bin Ishak, Presiden Republik Singapura yang pertama, adalah seorang keturunan Minangkabau pula.

Lalu katanya lagi, yaitu Zubir Said, pencipta lagu kebangsaan Singapura ‘Majulah Singapura’ dan penggubah lebih 1.000 buah lagu, adalah putra Minangkabau yang dilahirkan di Bukittinggi.”

Selajutnya sederet nama yang dia sebutkan sesuai dengan kiprahnya seperti berikut:

Balai Pustaka: Muhammad Yamin, Abdoel Muis.,Idrus. Marah Roesli, Nur Sutan Iskandar; Pujangga: Hatta, STA , Aman Dt. Madjoindo, Damhoeri, dll; Angkatan 45: Chairil Anwar, Idrus, Asrul sasi, Rival Apin, dll; dan Bidang per-film: Usmar Ismang yang dimuat dalam Ensiklopedi Indonesia edisi 1954, 71% adalah orang Minang.

Namun ungkap Dr. Hasanuddin, M.Si., angka kecemerlangan itu menurun 30 tahun kemudian. (Ensiklopedi Indonesia edisi 1986) mencantumkan, seperti yang disebutnya, yaitu 110 dari 1.153 jumlah orang terkemuka Indonesia, menjadi 9,7%.

Menurutnya potensi kultural etnik tersebut semakin  surut seturut perkembangan zaman. Berbagai peristiwa politik dan sosiocultural dalam sejarah kebangsaan tuturnya dapat dilihat sebagai faktor penyebab, seperti pecahnya komposisi dwi tunggal (Soekarno-Hatta), peristiwa PRRI. Peristiwa tersebut ungkapnya lagi sangat berpengaruh terhadap surutnya pemberian peran oleh negara kepada individu dari kelompok etnik ini

Foto 3: Suasana ruang seminar paralel ketika acara presentasi berlangsung

“Peristiwa PRRI dan penumpasan secara draconian atasnya telah menimbulkan efek psikologis bagi masyarakat Minangkabau. Era setelah PRRI adalah masa-masa terhina, masa menanggung malu sebagai pemberontak yang kalah, masa melaksanakan eksodus besar-besaran ke rantau, dan masa menyembunyikan identitas diri,” dia mengungkapkan. 

Pada pukul 10.15 pagi, pembentangan sesi 1 makalah pendamping dengan dua ruang paralel, yaitu Ruang Kiambang dan Ruang Teratai. Lalu diikuti pukul 11.30 hingga menjelang makan siang, pembentangan sesi 2 makalah pendamping.

Pukul 2.15 tengah hari, sesi Pembicara Utama II oleh Prof. Dr. Puteri Roslina Abdul Wahid. Tema yang dibentangkannya yaitu “Pemikiran Masyarakat Melayu dalam Pantun Terkini: Analisis Pantun-Pantun dalam Media Sosial (Twitter). Sebagai Moderator adalah Prof. Madya Dr. Norhayati Ab Rahman

Seperti yang disampaikan oleh Prof. Dr. Puteri Roslina Abdul Wahid, pantun secara tersurat dan tersurat telah memerihalkan pemikiran kreatif Melayu bagi mengungkapkan perasaan, idea, pandangan, nasihat, pengajaran, dan sebagainya.

“Dalam konteks ini, pantun ialah entiti mental yang wujud dalam pemikiran setiap individu. Penggunaan bahasanya yang ringkas mempunyai nilainya tersendiri. Pantun melahirkan pemikiran bangsa Melayu yang merujuk kepada kritikan sosial yang dilahirkan dalam medium twitter. Bahasa yang digunakan dalam kalangan pengguna twitter memperlihatkan kecenderungan memperlihatkan gaya sindiran atau satira, tetapi masih lagi berlapik,” jelasnya.

Dia menyimpulkan hubungan antara bahasa dan budaya memperlihatkan generasi kini masih tetatp menghargai bentuk bahasa berirama yang menjadi warisan zaman. Berikut beberapa data pantun dari twitter yang dibacakannya:

Yang kurik itu kundi

Yang merah itu Dato Seri

Kalau nak kami undi

PRU nanti Jangan menipu lagi

Twitter @dinahran 6 Des 2017    

 

Pada sangka pohon beringin

Kiranya tersandar di pungur lapuk

Dari keluh keluhan pemimpin

Kiranya terpenting sehati rakyat majmuk

Twitter @cibai_lokter


Sesi Pembicara Utama III pukul 3.30 petang oleh Prof. Dr. Mohamed Hatta Shaharom, Pengurus Lembaga Pengelola Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur. Temanya adalah “Psikiatri Budaya di Malaysia dan Indonesia”.

Prof. Dr. Mohamed Hatta Shaharom mengungkapkan dua negara berjiran ini mempunyai lebih banyak persamaan daripada kelainan. Dari satu rumpun bahasa serta satu kaum yang sangat besar, daerah Nusantara atau Kepulauan Melayu  dibagi dua untuk menjadi dua negara bangsa yang tidak jemu-jemu berinterksi dan saling bekerjasama.

“Adapun mereka yang membesar-besarkan perbezaan antara kedua-dua negara ini adalah mereka yang bukan saja dari kelompok yang tidak dominan tapi adalah golongan  yang tidak memahami sejarah perkembangan berbagai  buya dari pulau Madagaskar ke seluruh Nusantara,” jelasnya.

Read 57 times