Minggu, 02 Desember 2018 10:52

Dosen Sastra Jepang FIB Unand Himbau Masyarakat Nagari Sungai Suluah Ubah Budaya Malauikan Sarok dan Perkenalkan Budaya Gomi Bunbetsu

Foto 1: Dr. Rima Devi, M.Si., disaksikan oleh dosen-dosen  Jurusan Sastra Jepang lainnya sedang menyampaikan sosialisasi kebersihan sungai kepada peserta pengabdian

FIB - Dosen Jurusan Sastra Jepang FIB Unand melaksanakan Program Pengabdian Nagari Binaan di Sungai Suluah, Kabupaten  Padang Pariaman, pada Senin, 26 November 2018.

Nagari Sungai Suluah merupakan Nagari binaan Jurusan Sastra Jepang Universitas Andalas selama tiga tahun, yang mana pada saat itu merupakan kunjungan kedua setelah di tahun sebelumnya juga mensosialisasikan penjagaan kelestarian sungai di daerah tersebut yang terkenal mempunyai sungai-sungai jernih dan asri yang mempunyai potensi pariwisata yang baik.

Kegiatanitudi samping dihadiri oleh masyarakat/sipil setempat, juga dihadiri oleh para dosen Jurusan Sastra Jepang dan Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Budaya, Imelda Indah Lestari, S.S, M.Hum., yang juga merupakan dosen Jurusan Sastra Jepang.

Permasalahan sampah adalah salah satu fenomena yang umum ditemui di Indonesia. Kebiasaan masyarakat yang membuang sampah sembarangan itu menimbulkan pencemaran dan  tumpukan sampah. Hal itu bisa dijumpai dan dilihat dimana-mana, bukan saja di kota, bahkan juga sampai di desa. Hal ini kemudian menjadi masalah yang kian serius seiring dengan pencemaran sampah yang dilakukan setiap hari, karena setiap rumah, setiap tempat, dan setiap orang selalu memproduksi sampah.

Permasalahan itulah yang kemudian diangkat oleh civitas akademika dari Jurusan Sastra Jepang FIB Unand untuk memberikan penyuluhan dan solusi di tengah masyarakat untuk perubahan yang lebih baik tentang kebersihan.

Sebagai pemateri utama pengabdian, Dr. Rima Devi, M.Si. sewaktu presentasinya menyatakan, “Kita harus mengubah budaya Malauikan Sarok yang tidak sesuai lagi dengan keadaan zaman sekarang.”

Maksudbudaya Malauikan Sarok seperti yang dimaksudkan oleh Dr. Rima Devi, M.Si.adalah budaya membuang sampah ke laut atau ke sungai untuk menjaga kebersihan sekitar.

“Budaya ini hanya tepat dipakai pada masa lalu dimana orang orang masih menggunakan daun pisang untuk membungkus makanan dan orang tidak menghasilkan sampah plastik atau yang sulit terurai lainnya,” ungkap dia.

Pola pikir Malauikan Sarok masyarakat yang secara tidak sadar masih tertanam hingga sekarang menurut Dr. Rima Devi, M.Si.merupakan salah satu faktor permasalahan sampah yang dihadapi.

“Jangankan untuk memilah, membuang sampah sesuai  tempatnya saja masih belum menjadi kebiasaa sebagian besar dari kita,“ tuturnya.

Lebih jauh lagi, Dr. Rima Devi, M.Si. mengingatkan permasalahan itu dikhawatirkan nantinya akan membawa dampak yang lebih buruk seperti media penyebaran penyakit, pemborosan sumber daya alam, lahan tempat pembuangan akhir (TPA) yang sulit dicari, volume sampah yang makin meningkat, serta biaya untuk penanggulangan masalah akibat sampah yang makin besar.

Foto 2: Lady Diana Yusri, M.Hum., selaku Ketua Jurusan dan pengabdi dari Sastra Jepang, menyerahkan peralatan tong sampah sebagai realisasi wujud nyata dari kegiatan pengabdian kepada Nagari Sungai Suluah, Kabupaten  Padang Pariaman

Dr. Rima Devi, M.Si. mengakui bahwasanya permasalahan sampah yang terjadi di Ibu Pertiwi ini merupakan apa yang juga dirasakan oleh negara Jepang puluhan tahun yang lalu.

“Dengan mengubah kebiasaan dan pola pikir masyarakat, bukan tidak mungkin pula kita bisa mencapai tatanan kebersihan kota atau desa seperti negara Jepang yang kita tahu memiliki budaya pengolahan sampah yang baik sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan rapi tersebut,” ujarnya.

Pada pemaparan selanjutnya, Dr. Rima Devi, M.Si. memperkenalkan kepada masyarakat tentang budaya Gomi Bunbetsu di Jepang, yaitu budaya memilah sampah yang secara teratur dilakukan oleh masyarakat Jepang setiap harinya.

Dia menyebutkan, “Dalam setiap rumah saja, umumnya terdapat beberapa tong sampah yang menampung sampah yang berbeda pula. Jenis sampah yang tidak bisa dibakar seperti kaca, logam dan beberapa jenis plastik. Sampah yang bisa dibakar seperti sampah organik dan beberapa jenis plastik serta sampah daur ulang seperti kertas dan beberapa jenis plastik pula. Sedangkan sampah yang besar seperti kasur, lemari atau lainya dikenakan biaya untuk membuangnya. Hal ini dilakukan setiap harinya dan bahkan sebelum dibuang,” katanya.

Sampah seperti plastik kemasan makanan, minuman atau jenis sampah tertentu juga dicuci terlebih dahulu dengan air untuk menghilangkan sisa makanan yang menempel. Kemudian jadwal pembuangan sampah tertentu pun dibuat dalam rangka pengelolaan sampah yang baik.

Foto 3: Foto bersama Tim Pengabdian Masyarakat Jurusan Sastra Jepang yang juga melibatkan mahasiswa

Dari hal tersebut, diakui Dr. Rima, M.Si memang merupakan capaian yang sulit diraih dan memerlukan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah dalam  mengelola sampah dengan baik. Akan tetapi terangnya, bukan tidak mungkin dengan penanaman kesadaran yang terus dilakukan dan andil pemerintah Nagari yang bisa memanfaatkan dana desa di Indonesia yang cukup besar saat sekarang ini, sedikit demi sedikit bisa menghilangkan “Malauikan sarok” yang mana tidak sesuai lagi dijadikan budaya kita.

Reporter: Ahmad Beni Albary, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 54 times