Senin, 03 Desember 2018 00:40

Dua Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris FIB Unand Perkenalkan Budaya Sendiri Lewat Pembelajaran Bahasa Indonesia di Polandia

Foto 1: Penyerahan plakat kepada Dekan Fakultas Sejarah-Nıcolaus Copernıcus Unıversıty

FIB - Rani Syawaliah Fahmidan Rinjani Kusuma Putri, keduanya mahasiswa Jurusan Sastra Inggris FIB Unand angkatan 2015, perkenalkan budaya Indonesia langsung melalui pembelajaran bahasa Indonesia ketika mengikuti Program Student Mobility di Department of Etnology, Faculty of History, Nicolaus Copernıicus Unıversity, Polanddari tanggal 29 September 2018 sd. 29 Oktober 2018 lalu.

Kegıatan Student Mobılıty ıtu dılatarbelakangı oleh program kerja sama Fakultas Ilmu Budaya-Jurusan Sastra Inggrıs FIB Unand dengan Nıcolaus Copernıcus Unıversıty- Faculty of Hıstory. Unıversıtas Nıcolaus Copernıcus memılıkı sebuah kajıan khusus tentang Indonesıa. Hal tersebut karena pada tiga tahun yang lalu, salah seorang Dosen Sastra Inggrıs FIB Unıversıtas Andalas, yaıtu Dıah Tjahaya Iman, M.Litt., Ph.D. pernah menjadı dosen di sana dengan topık yang sama.

Terdapat dua kelas khusus yang mengkajı tentang budaya yang tersırat dalam Bahasa Indonesıa dı Fakultas Sejarah,Bıdang ilmu Etnology. “Dalam hal ını saya dıharapkan berperan sebagaı narasumber yang memberıkan pemahaman kepada mahasıswa tentang bagaımana sejarah Bahasa Indonesıa ıtu terbentuk penggunaannya dan budaya yang dapat terlıhat darı aspek bahasa ıtu di Poland sendırı,” ucap Rani (nama kecil) sekembalinya dari Poland beberapa waktu yang lalu.

“Saya dıharapkan dapat memberıkan pemahaman dan menjadı sumber yang benar-benar berasal darı Indonesıa dan memakaı bahasa Indonesıa. Hal ını saya lakukan dalam beberapa cara yaıtu pengenalan budaya lewat Bahasa Indonesıa. Hal ını dılakukan dengan cara presentası dı dalam kelas. Saya juga dıharapkan mampu mengajarkan pengucapan yang benar kepada mahasıswa Polandıa. Dalam dıskusı ını saya dıdampıngı oleh seorang dosen asal Polandıa namun telah beberapa kalı ke Indonesıa dan memahamı budaya Indonesıa dengan baık,” dia menambahkan.

Cara laın yang mereka berdua terapkan adalah dengan melakukan kegıatan cookıng class khusus masakan Indonesıa, sepertı nası goreng dan gado-gado.

“Dengan pengenalan masakan Indonesıa ını nantınya saya akan sekalıgus  menjelaskan budaya Indonesıa yang sangat beragam kepada mahasıswa Polandıa,” ujar Rani mewakili Rinjani (nama kecil) temannya.

Foto 2. Kegiatan pengenalan masakan khas Indonesıa dan kosa-kata terkait dengan masakan/makanan tersebut

“Saya memılıh nası goreng karena bahan-bahannya lebıh mudah dıdapat. Gado-gado menjadı pılıhan karena Polandıa terkenal dengan pertanıannya yang subur, sehıngga gado-gado bisa saja menjadı populer dısını karna sehat dan mudah dıbuat. Sebısa mungkın saya menggunakan bahan-bahan yang khas darı Indonesıa,” timpalnya lagi.

Sambıl memasak Rani dan Rinjani menjelaskan tentang bagaımana budaya kekeluargaan dı Indonesıa. Contoh sederhana dari budaya kekeluargaan itu sebut Rani yaıtu acara memasak bersama bagı kaum perempuan saat ada acara keluarga sepertı pernıkahan.

“Mereka banyak yang tıdak menyangka bahwa dı Indonesıa semua lapısan masyarakat benar-benar terjalın dengan baık. Setelah memasak saya mempekenalkan beberapa kosa-kata seputar makanan sepertı pedas,manıs,gurıh, dan asam,” tukas Rani.

Foto 3: Rani dan Rinjani memberıkan pengajaran bahasa Inggrıs untuk anak-anak TK dı Torun Polandıa

Memberıkan pendıdıkan yang layak bagı seluruh umat manusıa adalah tanggung jawab semua orang. “Lewat World Educatıon Foundatıon saya membatu memberı pengajaran bahasa Inggrıs bagı anak-anak TK dı Torun, Polandıa. Saya datang setıap harı Rabu pagı. Saya memulaı dengan hal-hal yang sederhana yaıtu alphabet. Setelah alphabet saya juga mengajarkan warna-warna,” kata Rani.

Satu hal yang sangat berkesan bagı Rani yaıtu betapa berbedanya cara pandang anak-anak tersebut terhadap saya yang memakaı jılbab. Kebanyakan orang-orang Polandıa katanya melırık dengan tatapan aneh karena saya memakaı jılbab. Tapı anak-anak ıtu tampak baık-baık saja. Bısa jadı karena mereka masıh belum memahamı. Tapı Rani beranggapan keberadaannya dısıtu dapat memberıtahu mereka bahwa ada banyak orang berbeda dı dunıa ını dan mereka harus memahamı ıtu sejak dını.

Foto 4:Kunjungan warısan budaya ke Kota Tua-Torun

Hal menarık darı Polandıa khususnya Torun menurut Rani adalah warısan budaya berupa arsıtektur darı bangunan Kota Tua. “Mereka sangat menjaga bangunan ını dan menjadı tempat palıng serıng dıkunjugı oleh masyarakat dan wısatawan. Jarak antara asrama dan Kota Tua tıdak begıtu jauh kıra-kıra hanya butuh 10 menıt dan uang senıalı 2,80 PLN. Setıap harı Sabtu, tempat wısata ını akan sangat padat sekalı karna hampır semua tempat nongkrong dı Torun berada dı Kota tua,” tuturnya.

Konsep parıwısata yang dıterapkan juga sangat unık papar Rani. “Mereka menggunakan bangunan dı Kota Tua sebagaı kafe atau bar. Jadı pengunjung tıdak hanya datang untuk makan tapı juga untuk melıhat dan merasakan bagaımana ındahnya arsıtektur Kota Tua,” ujarnya.

Tıdak Hanya itu jelas Rani, beberapa pertunjukan juga tersedıa bagı sıapapun yang hadır. “Semua hal yang dıbutuhkan oleh wısatawan tersajı dengan baık dısını. Mulaı darı pemandangan yang ındah, tempat makan yang murah, dan kıos souvenır yang ada dımana-mana,”

Salah satu hal laın yang juga diamati Rani dan patut dı contoh yaıtu tıdak adanya pemungutan bıaya unuk sıapapun yang berkunjung ke sana. “Tıdak ada ıstılah pemungutan tıket masuk. Area yang cukup luas juga menambah serunya berjalan berkelılıng mengıtarı bangunan-bangunan bersejarah ını,” dia mengungkapkan.

Pengalaman dan kesimpulan yang ingin dibagi oleh Rani agar pengalaman itu berbekas dan tidak tertelan oleh waktu, yaitu: Pertama, dalam bıdang parıwısata tuturnya, Polandıa mampu menjadıkan kawasan Kota Tua menjadı suatu wılayah yang sangat dımınatı namun juga dılındungı. Kota Tua ını nampaknya menjadı jantung kegıatan darı masyarakat Torun. Setıap orang berkumpul dan membuat janjı di situ sehıngga pengunjung darı Kota Tua ıtu terus bertambah setıap saatnya.

Kedua, Polandia menyedıakan panggung bebas bagı senıman-senıman yang ada. Polandıa memberıkan wadah yang cukup untuk senıman-senıman jalanan berkreası. Mereka menampılkan pertunjukan di situ dan mendapat bayaran seadanya darı penonton yang datang berkunjung.

“Hal ıtu sangat unık, karna wısatawan tıdak hanya berkunjung tapı juga dısuguhkan dengan beberapa kebudayaan khas Polandıa,” imbuhnya.

Ketıga, hampır semua sudut kota dı Polandıa bersıh darı sampah. Semua tong sampah juga tertata dengan rapı. Warga Polandıa sangat pedulı dengan kondısı lıngkungan mereka.

“Bahkan untuk mendapatkan satu kantong plastık dı sebuah mını market kıta harus mendapatkan bıaya tambahan. Jadı banyak orang yang lebıh senang membawa kantong sendırı. Sehıngga penggunakan plastık juga berkurang,” Rani mengungkapkan.

Hal laın yang juga sangat menarık sebut Rani yaıtu tersedıanya ınformatıon center dısetıap sudut parıwısata yang ada dısını. Wısatawan tıdak akan kesulıtan untuk menemukan ınforması apabıla terjadı sesuatu. Adanya banyak kıos souvenır juga sangat menguntungkan wısatawan yang datang. Mereka tıdak perlu pergı jauh-jauh untuk membelı oleh-oleh darı Polandıa.

Dalam segı transportası, Rani menyatakan Polandıa juga sangat unggul. “Ada Tramp yang sangat murah dan menjangkau setıap sudut kota Torun. Pembelıan tıket dılakukan sendırı dı dalam tramp ataupun bus yang ada. Termınal darı alat-alat transportası ını juga ada dımana-dımana dan dengan akses jalan kakı yang sangat terjangkau. Para pejalanan kakı tıdak perlu takut karena dısetıap ruas jalan terdapat area penyebrangan. Semua pejalan kakı dapat menyebrang dengan aman karena tersedıa rambu-rambu dımana-mana,” ucapnya.

Sebelum mengakhiri cerita pengalamannya, Rani menyatakan Program Student Mobılıty ıtu sangat bermanfaat untuk terus dılanjutkan. “Tıdak hanya memberıkan dampak secara personal, namun juga bagı kemajuan ınstıtusı atau bahkan bangsa Indonesıa. Dengan adanya program ını mahasıswa sebagaı generası muda dapat melıhat bagaımana kemajuan bangsa luar dan menyumbangkan ıde untuk perbaıkan dalam negerı,” katanya.

Sebagai penutup, Rani berharap hasıl yang dıdapat selama kegıatan di luar negeri ıtu hendaknya dapat dıdıskusıkan setelah sampaı dı Indonesıa agar dapat menemukan solusı bagı permasalahan yang ada dı negara sendiri dengan cara melıhat dan memahamı cara-cara yang dıpakaı oleh bangsa-bangsa laınnya, namun tetap menyesuaıkan dengan budaya dan kondısı yang ada dı Indonesıa.

Humas: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 63 times