Senin, 04 Februari 2019 07:22

Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unand Kelas Sastra Lisan Saksikan Tradisi di Toboh Olo, Padang Pariaman

Foto 1: Pembawaan jamba yang berada di tengah-tengah tamu dan mahasiwa kuliah lapangan

FIB - Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia angkatan 2018 FIB Unand yang mengambil Mata Kuliah Sastra Lisan mengadakan kuliah lapangan untuk memenuhi capaian pembelajaran dengan menghadiri dan menyaksikan tradisi badikia, makan bajamba, dan shalawaik dulang di Masjid Nurul Yaqin, Nagari Toboh Olo, Kabupaten Padang Pariaman pada minggu 3 Februari 2019 lalu. Kegiatan itu dihadiri lebih kurang 80 orang mahasiswa dan dosen pengampu, yang terdiri dari Dra. Zurmailis, M.Hum., Dra. Armini Arbein, M.Hum., Dr. Aslinda, M.Hum., Dra. Efriyades, M.Hum ., M.Yunis, S.S, M.Hum., dan Ronidin, S.S, .M.A.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand tiba di Nagari Toboh Olo, Padang Pariaman. Pada waktu itu di sana sedang berlangsung tradisi badikia yang biasa diselenggarakan setiap tahunnya oleh masyarakat Padang Pariaman khususnya oleh masyarakat Toboh Olo.

Setibanya di sana, mahasiswa Kuliah Lapangan langsung disambut oleh panitia penyelenggara yang pada saat itu Tukang Dikia (orang yang melakukan tradisi badikia) sedang badikia (berzikir) karena jam sudah menunjukan pukul 11.00 WIB pagi. Mahasiswa disuguhkan lemang yang dibuat oleh masyarakat sekitar. Uniknya, setiap rumah menyumbangkan setidaknya satu buah lemang untuk tradisi badikia ini.

Tepat pada pukul 12.00 WIB, Tukang Dikia istirahat, dan pada kesempatan itu mahasiswa mewawancarai Tukang Dikia untuk mendapatkan informasi lebih dalam lagi.

“Tradisi badikia diselenggarakan dengan tujuan memperingati hari lahirnya nabi Muhammad dan juga untuk menghormati jasa-jasanya. Selain menyelenggarakan tradisi badikia, juga diselenggarakan shalawaik dulang, dan dilanjutkan dengan makan bajamba. Acara tersebut sebenarnya telah berlangsung sejak malam Sabtu, namun memang puncak acaranya pada hari Minggu,” kata Firdaus, salah seorang Tukang dikia.

“Karena acara berlangsung selama dua hari satu malam, maka, tradisi badikia itu dilakukan oleh 12 orang yang akan badikia. Badikia itu sendiri tidak menggunakan alat musik. Tukang Dikia akan badikia di atas kasur yang telah disediakan. Biasanya tradisi badikia dilaksanakan dari pukul 10 malam hingga pukul 5 pagi yang kemudian diiringi dengan melaksanakan sholat Subuh berjamaah. Setelah itu istirahat hingga pukul 9.00 WIB, dan dilanjutkan dengan minum kopi dan makan bersama. Tidak lama kemudian, dilanjutkan dengan badikia lagi dan istirahat sholat dzuhur, dan pukul 2.00 WIB, acara puncak dimulai dengan shalawaik dulang dan dilanjutkan dengan makan bajamba,”  sambung Firdaus melengkapi.

Foto 2: Beberapa orang mahasiswa kuliah lapangan bersama para Tukang Dikia

Setelah masuk waktu sholat dzuhur, kemudian Ibu-Ibu mulai berdatangan dengan menjunjung tudung di kepala yang berisi samba untuk makan bajamba. Kemudian samba disusun memanjang dan uniknya terdapat salah satu yang mencuri perhatian yaitu samba untuk petinggi adat yang disusun sedemikian rupa hingga 6 tingkat dan kelihatan lebih menarik dibandingkan samba yang lain.

Sebelum makan bajamba, dilaksanakan shalawaik dulang yang dimainkan oleh dua orang selama kurang lebih 1 jam. Kemudian diikuti dengan acara membaca doa, dan setelah itu tudung dibuka. Keunikan lainnya yaitu disetiap tudung terdapat induk samba yang tidak boleh dimakan, tetapi hanya untuk sekedar hiasan saja. Samba yang dihidangkan bervariasi, seperti rendang, gulai ayam, pergedel kentang, simpadeh dan lainnya.

Setelah itu makan bajamba dimulai dengan mengambil nasi yang telah dibungkus dengan daun pisang, lalu kemudian makan dengan samba yang telah disediakan tadi. Setelah selesai, Ibu-Ibu yang mempunyai tudung tadi akan kembali mengambil piring-piring samba dan kemudian disusun kembali dan dijunjung untuk dibawa pulang.

Selain untuk memenuhi tugas kuliah Sastra Lisan, dengan dilaksanakanya kuliah lapangan di Nagari Toboh Olo, Pariaman, mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana tradisi badikia itu dilakukan, dan juga sekaligus melestarikan tradisi budaya Minang, sehingga tradisi tersebut tidak punah dimakan oleh zaman.

Reporter: Ummul Hafizhah, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

Read 346 times