Selasa, 12 Maret 2019 14:32

Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. Angkat Makalah tentang Melawan Peminggiran Humaniora pada Acara Seminar Hilirisasi Hasil Penelitian Dosen-dosen dalam Rangka Peringatan Dies Natalis FIB Unand ke-37

Foto 1: Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. sedang memaparkan makalahnya yang dimoderatori oleh Idrus, M.Hum., Dosen Jurusan Sastra Jepang FIB Unand

FIB - Dalam acara peringatan Dies Natalis FIB Unand ke-37, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. menyampaikan makalahnya dengan judul Perjuangan Belum Selesai: Melawan Peminggiran Humaniora dan Meningkatkan Peran Ilmu Budaya Dalam Era Revolusi Industri 4.0. Makalah ini disampaikannya sebagai salah seorang narasumber utama pada acara Seminar Hilirisasi Hasil Penelitian Dosen-Dosen FIB Unand yang diselenggarakan pada hari Senin, 11 Maret 2019 yang bertempat di Ruang Seminar FIB Unand.

Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. sebelumnya merupakan Dekan Fakultas Ilmu Budaya yang saat itu namanya masih sebagai Fakultas Sastra.  Pada pemaparan makalahnya, dia menjelaskan dari latar belakang revolusi industri hingga peminggiran kemanusiaan. Revolusi industri paling akhir seperti disebutkannya ialah revolusi 4.0 yang berawal dari abad ke-17 an, dimana sebelumnya telah terjadi era revolusi industri 1.0, 2.0, dan 3.0.

Revolusi industri 1.0 paparnya ditandai dengan adanya penemuan mesin di Eropa, tepatnya di Perancis. Dalam era ini munculnya ‘peminggiran’ tenaga manusia dalam banyak aspek kehidupan. Era kedua terangnya adalah 2.0 ditandai dengan munculnya pembangkit listrik dan ‘motor pembakaran dalam’. lagi-lagi paparnya periode ini juga mengeliminasi peran tenaga dan sentuhan manusia. Kemudian lanjutnya revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan munculnya teknologi digital dan internet, dan terakhir revolusi industri generasi keempat, telah menemukan pola baru teknologi yang hadir. Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. lalu menyimpulkan secara keseluruhan, mulai dari era 1.0 sampai 4.0 semuanya menyingkirkan tenaga manusia bahkan menyingkirkan peran kemanusiaan itu sendiri.

“Pembangunan lebih cenderung diarahkan pada pengembangan infrastruktur, teknologi dan industrialisasi dari pada aspek sosial dan kebudayaan. Akibatnya pembangunan dirasakan hampa, kurang muatan kemanusiaan,” tegasnya.