FIB Unand Adakan Sesi Beragih Penulisan Puisi Bersama Dua Alumni

13 Januari 2020

1: Heru Joni Putra (narasumber) bersama Dra. Diah TjahayaIman, M.Litt., Ph.D. selaku Ketua HISKI

FIB – Fakultas Ilmu Budaya mengadakan acara lomba menulis puisi dan sesi beragih penulisan puisi pada 14 Desember 2019 lalu di Ruang Seminar FIB Unand. Acara lomba menulis puisi dan sesi beragih penulisan puisi yang digagas oleh HISKI ini dikemas dalam dua bentuk kegiatan. Yakni berupa lomba dan diskusi. Acara ini bertujuan untuk memperkaya pengetahuan, memperluas wawasan, dan meningkatkan motivasi untuk terus menjadi pegiat literasi.

Acara dibuka oleh Ketua Panitia pada pukul 09.36 WIB. Dalam hal ini Ketua Panitia menyampaikan permintaan maaf dari Dekan, Wakil Dekan I, II, dan III Fakultas Ilmu Budaya yang berhalangan hadir.

Ketua Panitia juga menyampaikan perpanjangan waktu yang diberikan dalam pengiriman karya lomba puisi. Perpanjangan waktu ini karena mengingat pembuatan puisi butuh proses yang tidak singkat.

Kemudian untuk sesi diskusi, panitia menghadirkan dua alumni sebagai narasumber. Kedua narasumber ialah Andre Septiawan dan Heru Joni Putra.

Sebagai narasumber yang diberi kesempatan bicara pertama, Andre Septiawan menyampaikan bahwa hal yang terpenting dalam menulis ialah menentukan genre. “Memang harus menggelandang dari tong sampah satu ke tong sampah yang lain dulu sampai nantinya menemukan jati diri dari karya itu sendiri,” ujarnya.

Selain urgensi genre, menurut Andre Septiawan, menulis juga butuh latar belakang, seperti banyaknya referensi bacaan untuk memperkaya kosakata, lalu pemilihan waktu dan tempat yang tepat, serta apik dalam mengemasnya ke dalam bentuk fiksi.

Sementara Heru Joni Putra membahas tentang “Mengapa Puisi Mati Konyol di Jurusan Sastra?” Menurut Heru Joni Putra, sejatinya, puisi mati konyol di Jurusan Sastra karena mengalami dunia paradoks. Puisi sudah sekarat semenjak di pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia saat bangku sekolah. Di perguruan tinggi, puisi yang sekarat itu akhirnya mati. Ketika ia mati di Jurusan Sastra, saat itulah puisi mengalami kematian yang konyol, seperti ayam yang mati di lumbung padi.

“Puisi adalah pikiran, bukan perasaan. Puisi bukan perihal benar salah karena puisi adalah dunia argumen. Di samping itu, bacaan teori dan bacaan karya sama pentingnya. Keduanya tidak untuk dipilih, tapi untuk dituntaskan,” Heru menambahkan.

Ironinya, menurut Heru, puisi lebih tampak sebagai produk perasaan daripada sebagai produk intelektual. Konsekuensi puisi sebagai produk perasaan ini membuat munculnya perendahan atas puisi itu sendiri. Lain halnya dengan puisi sebagai produk intelektual. Proses pembuatannya butuh penelitian terlebih dahulu yang nantinya menjadi output berupa karya.