Jurusan Sejarah FIB Unand Selenggarakan Bedah Buku “Warisan Kebudayaan Minangkabau: Rumah Gadang di Nagari Kinari” Karya Dr. Zhang Jingling

21 Januari 2020

Foto Dr. Zhang Jingling bersama perangkat Nagari Kinari

FIB - Jumat, 17 Januari 2020, Jurusan Sejarah FIB Unand menyelenggarakan bedah buku “Warisan Kebudayaan Minangkabau: Rumah Gadang di Nagari Kinari”, yang diselenggarakan di Ruang Serba Guna Nagari Kinari pukul 09.30 WIB. Buku ini merupakan hasil penelitian Dr. Zhang Jingling atau akrab disapa Melati. Dr. Zhang Jingling merupakan seorang dosen pengajar Bahasa Melayu di Communication University of China, Beijing.

“Gagasan bedah buku ini awalnya dari Unand, kemudian dilakukan koordinasi dengan Bapak Yandrifa selaku Wali Nagari Kinari untuk mengadakan acara bedah buku di sana dan nantinya akan dihadiri langsung oleh Ibu Melati. Hal ini langsung disambut baik oleh Wali Nagari. Karena itulah, acara bedah buku ini diadakan di Nagari Kinari,” ujar Dr. Anatona, M.Hum.

Beberapa dosen Jurusan Sejarah juga turut hadir dalam acara bedah buku ini, di antaranya Dr. Anatona, M.Hum., selaku Ketua Jurusan Sejarah FIB Unand, Drs. Armansyah Zubir, M.Hum., Drs. Syafrizal, M.Hum., dan Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. sebagai pembedah buku tersebut. Hal ini karena buku tersebut sesuai dengan kajian dan pendalaman ilmu Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., yakni mengenai revitalisasi Rumah Gadang.

Selain itu, juga dihadiri oleh Wali Nagari, serta Kepala Camat Bukit Sundi, Bupati Kabupaten Solok yang diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata Bukit Sundi, Kabupaten Solok, Kepala Kepolisian setempat, Ninik Mamak, dan masyarakat Nagari Kinari.

“Acara peluncuran buku ini merupakan salah satu penghormatan bagi Kenagarian Kinari. Buku yang dipersiapkan sebanyak 140 buku, yang akan dititipkan kepada wali nagari dan Dinas Pariwisata Kabupaten Solok”, ujar Wali Nagari Kinari. Beliau berharap kerja sama antara Nagari Kinari dengan Jurusan Sejarah FIB Unand akan terus berlanjut ke depannya.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Camat Bukit Sundi. Dalam sambutannya, beliau mengajak para tamu undangan untuk memahami isi buku dan nantinya dapat ikut aktif dalam memberi masukan terhadap buku ini. “Buku ini sangat berguna bagi nagari karena menambah penulisan sejarah rumah gadang yang ada di daerah ini,” ujar Kepala Camat Bukit Sundi.

Kemudian, acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Dr. Zhang Jingling atau Melati selaku penulis buku. Dalam sambutannya, beliau banyak mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Kinari, khususnya kepada perangkat nagari dan Ibu Era, yang telah memberikan tumpangan tempat tinggal selama beliau penelitian di Kinari.

Foto: Sesi penyerahan buku kepada perangkat Nagari Kinari oleh Dr. Zhang Jingling (Melati)

Acara pun dilanjutkan dengan sesi penyerahan buku oleh Melati kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Wali Nagari. Buku yang diberikan berjumlah 140 buah buku, dengan rincian 100 buah untuk Nagari Kinari, 20 buah untuk Kecamatan Bukit Sundi, dan 20 buah untuk Kabupaten Solok.

Buku ini ditulis dan diberikan Melati sebagai bentuk rasa terima kasih kepada masyarakat Kinari, khususnya atas bantuan selama beliau melakukan penelitian di nagari ini pada tahun 2017 lalu.

Menurut Dr. Anatona, M.Hum., keuntungan dari penulisan buku ini adalah peninggalan budaya yang terdapat di Nagari Kinari ini terdokumentasikan dalam bentuk penulisan sebuah buku yang dapat menjadi sumber informasi bagi generasi berikutnya mengenai sejarah rumah gadang yang terdapat di Nagari Kinari. Dr. Anatona, M.Hum. juga menyampaikan bahwa rumah gadang yang dimiliki ini dapat menambah peningkatan pendapatan Nagari Kinari dalam sektor pariwisata.

Kemudian Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. menyatakan bahwa buku ini sangat menarik dan memiliki informasi cukup komplet tentang rumah gadang yang ada di Nagari Kinari. Meskipun bukan berasal dari Indonesia, tetapi Melati bisa menuliskan dan mengidentifikasi rumah gadang yang terdapat di Nagari Kinari dengan baik.

Foto saat Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. memberi masukan terhadap buku “Warisan Kebudayaan Minangkabau: Rumah Gadang di Kinari

“Dalam buku ini, penulisannya terdeskripsi dengan baik, serta informasi yang disampaikan juga sangat terstruktur, hanya dalam waktu yang singkat beliau bisa menuliskannya dengan baik. Hal ini yang saya bangga dari beliau. Saya sangat mengapresiasi buku ini karena dalam buku ini, saya bisa melihat kondisi yang sesungguhnya. Meskipun topik utamanya adalah rumah gadang di Kinari, tetapi sebetulnya rumah gadang itu adalah sebuah alat untuk melihat Kinari secara luas, karena di dalamnya ada adat istiadat, stuktur pemerintah, dan makna-makna yang tersimpan dalam kehidupan masyarakat Kinari,” ujar Prof. Dr. Herwandi, M.Hum.

Rumah Gadang yang terdapat di Kinari ini adalah milik kaum yang berasal dari delapan suku yang mendiami nagari ini. Bentuk rumah gadang pun berbeda- beda, seperti bentuk Rumah Gadang Gajah Maharam, Lipek Pandan, dan lainnya. Kemudian jenis kayu yang digunakan dalam pembuatan rumah gadang yang ada di Kinari berbeda dengan rumah gadang yang ada di Luhak Nan Tuo. Hal ini merupakan salah satu adaptasi lingkungan daerah ini. Dr. Melati menangkap dengan baik maksud itu dan kemudian menuliskannya dalam buku ini.

Informasi mengenai rumah gadang yang tahan gempa dan memiliki sirkulasi udara yang baik juga dituliskan dalam buku ini. Kemudian satu hal yang menarik yang didapatkan oleh Melati, yaitu semua rumah yang bergonjong di Kinari adalah rumah adat, rumah kaum. Ini merupakan adat salingka nagari. Akan tetapi, di daerah lain tidak semua rumah yang bergonjong itu termasuk rumah adat, walaupun memiliki konstruksi yang sama.

Penamaan rumah gadang yang ada di Kinari berdasarkan datuak atau gelar adat yang ada. Kemudian masukan yang diberikan, yaitu rumah gadang ini dimiliki bukan oleh perorangan, tetapi milik kaum. Beradat dan berbudayanya seseorang tidak lepas dari aktivitas rumah gadang. Artinya, rumah gadang pada awalnya adalah tempat membentuk insan Minangkabau yang memiliki budi baik.

“Hal yang belum terlihat dalam buku ini adalah surau yang memiliki kaitan erat dengan rumah gadang. Dulunya di sekitar masjid terdapat surau-surau suku. Maka, dapat dipetakan bahwa suku yang paling awal, suraunya terletak dekat dengan masjid sehingga nantinya mewakili suku induknya. Ini dapat menjadi pelengkap dalam  buku ini,” ujar Prof. Dr. Herwandi, M.Hum.

Prof. Dr. Herwandi, M.Hum sangat setuju dengan Dr. Melati yang mengatakan bahwa rumah adat ini dalam kondisi berkurang terus-menerus. Karena itu, harus dibangkitkan kembali bahwa rumah gadang adalah pemantik atau alat yang menunjukkan kekhasan Minangkabau. Karena itu, sangat dibutuhkan revitalisasi rumah gadang yang ada di Minangkabau, baik di Nagari Kinari maupun di daerah lainnya. Ditambah lagi, saat sekarang rumah gadang sudah banyak yang ditinggalkan. Untuk itu, sangat perlu merevitalisasi rumah gadang. Ini tanggung jawabnya ada pada masyarakat hari ini karena dananya ada dari Kemendikbud.

Setelah acara bedah buku selesai, dilanjutkan dengan salat Jumat berjamaah bagi laki- laki, sementara kaum perempuan langsung menuju rumah gadang Suku Caniago yang dimiliki oleh Ibu Er selaku orang tua Melati selama di Kinari untuk makan bersama.

 

Reporter: Muthia Delima Putri, Editor: Lusi Andriani, Admin: Tri Eka Wira

Read 36 times