Jurusan Sastra Minangkabau FIB Unand Selenggarakan Seminar Nasional Bertajuk "Minangkabau dan Dunia Melayu"

10 Februari 2020

Foto saat pemateri mempresentasikan makalahnya

FIB - Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Unand, menyelenggarakan Seminar Nasional dengan mengusung tema "Minangkabau dan Dunia Melayu". Dalam acara ini dihadirkan lima orang narasumber, yakni Mohd. Affendi Mohd. Shafri (Sains Bioperubatan dan Ketua Projek Manuskrip Perubatan Melayu KAHS, IIUM), Agusli Taher (Pencipta Lagu Minang), Dirwan Ahmad Darwis (Ketua YPM dan Periset ISTAC-IIUM), M. Yusuf (Dosen FIB Universitas Andalas), dan Pramono (Dosen FIB Universitas Andalas). Acara ini diselenggarakan pada Rabu, 20 Januari 2020 di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Unand.

Acara ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama diisi oleh tiga narasumber yang dimoderatori oleh Chairullah dari Universitas Islam Negeri Imam Bonjol.

Mohd. Affendi Mohd. Shafri sebagai pembicara pertama, mengulas makalah dengan judul “Kajian Manuskrip Perubatan Melayu sehingga 2020”. Dalam makalahnya, ia menjelaskan pentingnya mengkaji “Manuskrip Perubatan Melayu”. Hal ini dikarenakan dapat menjaga nyawa, agama, akal, keturunan, serta harta. Perubatan Melayu terbagi menjadi dua cara, yaitu secara fisikal (urut, bekam, bidan, farmakologi) dan spiritual (doa dan mantra).

Pembicara kedua, yaitu M. Yusuf, menjelaskan makalah yang berjudul “Ulama dan Tib: Teks dan Konteks Naskah Pengobatan Tradisional Minangkabau”. Dalam penjabarannya, M. Yusuf mengatakan bahwa Minangkabau merupakan tempat asal atau sumber naskah yang penting. Sebagian naskah merupakan karya ulama Minangkabau dengan surau sebagai skriptorium. Selain itu, karya-karya ulama Minangkabau tidak selalu tentang keagamaan, tetapi juga terdapat pengobatan tradisional. Selain ditemukan di dalam naskah, pengobatan tradisional juga terdapat dalam folklor Minangkabau.

Lebih lanjut, M. Yusuf menjelaskan, karena makalah ini terkait Ulama dan Tib, naskah pengobatan yang paling banyak ditemukan ialah di surau-surau. Percaya atau tidaknya, bahkan rambut seorang syeikh atau ulama juga bisa dijadikan sebagai obat oleh masyarakat.

Kemudian Pramono sebagai pembicara terakhir di sesi pertama, membahas tentang “Khazanah Naskah di Ranah Lansek Manih”. Pada presentasinya, Pramono menjelaskan tentang mengapa memilih naskah di Ranah Lansek Manih. Alasanya ialah semenjak terjun ke lapangan beberapa tahun yang lalu, satu wilayah tersebut (Lansek Manih) merupakan wilayah yang paling penting menurutnya. Di sana, terdapat keragaman dan jumlah naskahnya. Bahkan, ia menemukan suatu surau yang memiliki naskah 99 koleksi manuskrip.

“Pemerintah daerah melalui UU No. 05 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan itu, mewajibkan 10 objek pengkajian budaya, nomor 2-nya adalah manuskrip. Hal ini mengharuskan kita untuk melakukan perlindungan, perawatan, dan pengembangan naskah kuno yang ada di Sijunjung. Oleh karena itu, Sijunjung ini mempunyai potensi besar berkenaan dengan khazanah naskah yang ada di Minangkabau,” ujar Pramono saat mempresentasikan makalahnya.

Selanjutnya, sesi kedua dari seminar ini dimoderatori oleh Herry Nur Hidayat dari  FIB Universitas Andalas. Pembicara pertama pada sesi kedua ini ialah Agusli Taher dengan tema “Budaya Matrilinial Minangkabau di Tengah Gelombang Peradaban”.

Budaya matrilinial Minangkabau banyak mengalami perubahan seiiring berkembangnya zaman. Sekarang ini di Minangkabau, pusaka tinggi yang biasa dijadikan sebagai faktor utama untuk melindungi perempuan tidak lagi menjadi tumpangan hidup. Sehingga, pusaka tinggi yang dijadikan poros matrilini berkurang. Budaya lama semakin terkubur akibat mencintai budaya asing, serta budayawan atau penyiar budaya minim. Seharusnya, Minangkabau sebagai penganut matrilinial terbesar di dunia harus mampu mempertahankan budaya mereka agar tidak terkubur seiiring berkembangnya perdaban manusia yang mengikuti gaya kebarat-baratan.

Pemakalah terakhir dengan judul “Jati Diri: Makna dan Pentingnya untuk dipertahankan”. Makalah ini dijelaskan langsung oleh Dirwan Ahmad Darwis. Ia menyebutkan, semua yang telah dijabarkan oleh pemateri sebelumnya merupakan jati diri Minangkabau. Seperti, manuskrip, naskah kuno, matrilineal, bahasa, dan hal-hal terkait lainnya merupakan bentuk jati diri budaya kita. Kita sebagai masyarakat harus mampu mempertahankan hal tersebut agar bisa bertahan di tengah keberagaman. Selain itu, dengan menguasai bahasa daerah merupakan suatu upaya membangun jati diri bangsa.

“Jika orang Minang melupakan bahasa daerah (Minang), ia bukan lagi orang Minang, melainkan orang yang hanya berdarah Minang,” pungkasnya.

Seminar Nasional yang berlangsung lima jam ini berlangsung dengan lancar. Banyak peserta yang antusias dan tertarik dengan seminar ini. Hal ini dibuktikan dengan peserta yang hadir tidak hanya dari mahasiswa dan dosen FIB Unand, tetapi juga dosen dari Faperta, FISIP, Fakultas Keperawatan, dan beberapa falultas lainnya.

Tidak hanya itu, peserta lain juga hadir dari dosen STKIP PGRI Sumbar, UIN Imam Bonjol,  AKBP Padang, Balai Bahasa Sumatra Barat, dan BPNB Sumbar. Untuk itu, selanjutnya panitia berharap agar terus bisa membuat acara seminar bertaraf nasional hingga internasional agar bisa menyampaikan ide dan pengetahuan bagi mahasiswa, terutama Jurusan Sastra Minangkabau.

Reporter: Irma Suryani, Editor: Lusi Andriani, Admin: Tri Eka Wira

Read 24 times
pornstar xxx tube
Huge Tittyfucking Creampie
moviesporno.biz double anal sex
porn video categories
adult porn videos
asian porn movies
briggi adventure in morocco Fucked In My Maid Outfit
xxx porn tube
hot porn tube
xxxteenhub.info
sextresss.xyz free porn video xvideosporn.club xssn.net hdxxxporn.club asianpornxxx.info
hotporntub.info freeporntix.info hubpornindian.info hotmomsteen.xyz xnxxporntube.site
realpornfilms.com
freesexclips.site duvporno.org