Dosen FIB Unand Menjadi Pembicara dalam Webinar Sumbang Duo Baleh: Warisan Budaya, Pendidikan Karakter, dan Pembelajaran Usia Dini

25 September 2020

FIB - Sabtu, 12 September 2020, Dosen Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand, Dr. Gusdi Sastra, M.Hum., menjadi pembicara webinar bersama dengan narasumber lainnya Musra Dahrizal Rajo Mangkuto (Mak Katik) dan Dra. Elmizar, M.Pd. Webinar yang diadakan oleh Balai Pengembangan PAUD dan Pendidikan Masyarakat Sumatera Barat tersebut membicarakan Sumbang Duo Baleh: Warisan Budaya, Pendidikan Karakter, dan Pembelajaran Usia Dini.

Acara melalui via Zoom ini diawali dengan sambutan Kepala BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat, Dr. Wisma Endrimon, M.Pd. Ia mengawali dengan kegelisahannya melihat fenomena akhir-akhir ini dengan semakin tergerusnya pemahaman anak-anak dalam nilai-nilai budaya masyarakat Minangkabau. “Kuatnya arus informasi yang masuk itu sangat mempengaruhi anak-anak. Keasingan dan ketidaktepatan dalam berperilaku saat duduk, berbicara, melihat, berpakaian, bersikap, berperilaku, berdiri, berjalan, bergaul, bekerja, bertanya, dan menjawab. Dalam bahasa Minang biasa disebut sumbang duo baleh. Kita wajar mencemaskan dan prihatin. Bila tidak segera bersikap. Ke depannya anak-anak kita akan tercerabut dalam akar budayanya sendiri,” tutur Dr. Wisma Endrimon, M.Pd.

Hal itu kata Dr. Wisma Endrimon, M.Pd. menjadi tantangan bagi BP Paud untuk mendalami dan mendiskusikannya serta memperkenalkan sumbang duo baleh atau perilaku yang sumbang dan tercela kepada anak-anak usia dini. “Adaik basandi syara’, syara’ basandi kitabullah mungkin bisa jadi mimpi saja di masa depan. Hanya sebuah bacaan yang sering disebut tetapi tidak pernah bisa muncul dalam perilaku keseharian,” tambah Dr. Wisma Endrimon, M.Pd.

Dra. Elmizar, M.Pd. sebagai pamong belajar pada BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat, kemudian memaparkan model pembelajaran sumbang duo baleh bagi PAUD. Model itu katanya telah dikembangkan pada tahun 2017. Model itu juga telah diseminarkan secara nasional dan internasional dalam hal memberikan pembelajaran pada validasi model sumbang dua baleh pada tahun 2018. Untuk lokasi uji coba konseptual tersebut sebutnya di Kabupaten Agam dan uji coba operasional di Kabupaten Pasaman, Bukittinggi, dan Kabupaten Solok.

“Kita wariskan pendidikan ini sejak anak usia dini dikarenakan pada masa ini 50% perkembangan otak anak berkembang. Kemudian 50% lagi pada anak usia 8 tahun. Itu sebabnya kita menitikberatkan perilaku anak semenjak usia dini. Filosofi Minangkabau adaik basandi syara’, syara’ basandi kitabullah yang kita pedomani sudah mulai memudar dan menghilang dalam pegangan hidup. Setiap pergaulan sosial, etika pergaulan, bahkan pendidikan anak-anak sudah mulai tidak jujur. Ini yang kita perbaiki dan perlu diluruskan,” jelas Dra. Elmizar, M.Pd.

Kemudian katanya model itu telah masuk dalam model pembelajaran dalam kurikulum PAUD lokal.. Penerapan model ini melalui bermain dan pembiasaan pada anak. Lingkup pengembangan meliputi 1) nilai-nilai agama dan moral, 2) fisik, 3) kognitif, 4) bahasa, 5) sosial dan emosional, dan 6) seni. Sumbang yang diajarkan ada dua belas, yaitu sumbang duduak, sumbang tagak, sumbang bajalan, sumbang kato, sumbang caliak, sumbang makan, sumbang pakai, sumbang karajo, sumbang batanyo, sumbang jawek, sumbang bagaul, dan sumbang kurenah. “Menanamkan etika cara bergaul atau bersosialisasi pada anak didik kita, yakni sasakik, sasanang, saiyo sakato adalah filosofi orang Minangkabau dalam berkawan. Mereka harus saciok bak ayam, sadanciang bak basi,” tutur Dra. Elmizar, M.Pd.

Dr. Gusdi Sastra, M.Hum. menyampaikan sumbang duo baleh sebagai pendidikan karakter dan etika bagi anak usia dini. “PAUD menjadi amat penting karena merupakan landasan pembangunan karakter anak. Sampai usia 6 tahun dikenal dengan usia dini atau golden age. Kepribadian dan kecerdasan anak, 50% terbentuk di usia emas ini. Apalagi kecerdasan emosional atau otak kanannya. Perkembangan otaknya sangat pesat dan sangat perlu mendapat perhatian dari ibu dan gurunya di sekolah. Adanya PAUD diharapkan agar anak dapat diasuh dan dibimbing. Landasan bagi perkembangan potensi anak. Pengembangan berbagai potensi kecerdasan anak akan memberikan pengalaman yang menyenangkan dan sebagai kontrol berbagai penyimpangan yang dianggap sumbang,” tutur Dr. Gusdi Sastra, M.Hum.

Lalu Dr. Gusdi Sastra, M.Hum. menegaskan perlunya memberi perhatian dalam membangun otak anak sampai usia pubertas, yakni usia 12 tahun. Menurutnya membangun otak anak sama halnya dengan membangun berbagai kecerdasan yang harus dikembangkan, yaitu kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan intelektual. “Jadi pembentukan karakter anak tidak di SMA atau di perguruan tinggi, tetapi di PAUD dan di pendidikan dasar. Sudah sepatutnya character building terkait kecerdasan emosi itu harus dimulai dari rumah tangga, PAUD, dan pendidikan dasar karena 80% terbentuk sampai usia 12 tahun. Nilai-nilai karakter atau nonsumbang diharapkan terbentuk sejak dini melalui PAUD dan pendidikan dasar,” tambah Dr. Gusdi Sastra, M.Hum.

Pembicara terakhir yaitu Musra Dahrizal Rajo Mangkuto atau biasa disapa Mak Katik merupakan seorang budayawan, seniman, dan pengajar budaya di alam Minangkabau. Mak Katik menjelaskan, “Sumbang itu bagi semua orang. Dasar katanya sama dengan tidak lazim. Salah satu contoh adalah sumbang tagak atau sumbang berdiri, ketika seorang lelaki berdiri berdampingan dengan perempuan yang bukan muhrim adalah sumbang. Baik lelaki maupun perempuan mendapat bagian dari sumbang ini, yakni sumbang kecek, sumbang kawin, dan lainnya.”

Di Minangkabau pendapatnya untuk mendidik anak berkarakter mestinya harus memerhatikan anak tersebut dengan baik, bukan ditipu. “Misalnya, anak bayi menangis karena lapar, ditipu oleh ibunya dengan memberikan dot. Orang tua memberikan apa yang tidak diminta anak. Kemudian saat di umur 3 tahun memberi sesuatu terhadap anak di dalam rumah tangga itu tidak selalu sampai ke tangan anak. Itu ajaran Minangkabau. Kalau anak di dekat televisi dan meminta uang, maka taruh di atas meja. Jangan diantar ke si anak. Dari kecil anak harus diajar mandiri,” tegasnya.

Berdasarkan pengalamannya, sejak kecil dia tidak belajar kata sumbang. Namun, ia diajarkan berperilaku baik oleh orangtua. “Misalnya, ‘Kok anak perempuan duduknya mengangkang’. Setelah SMP baru dikasih tahu kepada anak bahwa hal yang dibicarakan itu adalah sumbang duo baleh. Jadi dari kecil, pengajaran sumbang itu sudah diajarkan di dalam rumah tangga, tetapi belum diajarkan kata sumbangnya,” jelas Mak Katik.

Acara pun dilanjutkan ke diskusi dan diakhiri dengan kata penutup dari ketiga pemateri. Salah satunya dari Dr. Gusdi Sastra, M.Hum. “Belajar dan membentuk karakter anak di usia golden age sampai sekolah itu ibarat mengukir di atas batu. Sedangkan, belajar setelah usia pubertas bagaikan mengukir di atas air. Walaupun akan kelihatan riaknya, itu barangkali hanya bisa di foto. Jadi, tidak bisa memberikan kesan menjadi sebuah karakter,” pungkasnya

Editor: Ayendi, Reporter: Nabilla Hanifah, Admin: Tri Eka Wira

Read 25 times
pornstar xxx tube
Huge Tittyfucking Creampie
moviesporno.biz double anal sex
porn video categories
adult porn videos
asian porn movies
briggi adventure in morocco Fucked In My Maid Outfit
xxx porn tube
hot porn tube
xxxteenhub.info
sextresss.xyz free porn video xvideosporn.club xssn.net hdxxxporn.club asianpornxxx.info
hotporntub.info freeporntix.info hubpornindian.info hotmomsteen.xyz nesaporns.xyz
xhaloporn.com xpornfly.com sexporndays.com
realpornfilms.com
sexmaxfree.xyz duvporno.org
toutpornxxx.org adultpornmovie.ws
hpornvideo.com xpornrelax.com
mobilpornfilm
xxxmobilporn
xxxsextres
pornvidwatch
fullteenporno
fullxxxpornvid
xxxsexwatch
freexxxvideostube
http://nesaporns.xyz
freepornvideosite
tweensex