Diah Tyahaya Iman, M.Litt., Ph.D. Sampaikan Orasi Ilmiah bertajuk Budaya dan Identitas Perempuan Perantau Minang pada Dies FIB Unand ke-39

12 Maret 2021

Foto 1: Diah Tyahaya Iman, M.Litt., Ph.D. saat berorasi

FIB – Fakultas Ilmu Budaya mengadakan acara puncak Dies Natalis ke-39 pada Rabu, 10 Maret 2021 yang bertempat di Convention Hall Universitas Andalas. Acara ini dihelat dengan 3 cara: secara offline, daring melalui aplikasi Zoom dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube FIB Unand. Tamu undangan yang menjadi perwakilan dari universitas-universitas se-Sumatera Barat turut membersamai acara ini, serta peserta yang terdiri dari civitas akademika, dosen, tenaga pendidik, dan mahasiswa. Orasi Ilmiah pada Dies Natalis tahun 2021 ini memberikan kesempatan kepada Diah Tyahaya Iman, M.Litt., Ph.D., Dosen Sastra Inggris, untuk menyampaikan orasi dengan tema “Narasi Perempuan Perantau Minang: Motivasi, Pendidikan, dan Pekerjaan Perantau.”

Mengawali isi orasinya, Diah Tyahaya Iman, M.Litt., Ph.D. menyatakan budaya masyarakat Minangkabau memiliki keunikan mengingat bahwa Islam normatif mengamanatkan kekerabatan patrilineal, pola suksesi dan tempat tinggal serta keluarga patriarkal. “Budaya ‘merantau yang lebih dikenal terdahulu adalah untuk laki-laki muda atau anak bujang. Namun beberapa dekade terakhir populasi perempuan Minang telah mengalami peningkatan migrasi yang sangat cepat dari batas matrilinial mereka ke wilayah Jakarta dan Tangerang,” ujar Diah Tyahaya Iman, M.Litt., Ph.D..

Diah Tyahaya Iman, M.Litt., Ph.D. menambahkan,Di era globalisasi, diaspora orang-orang telah membawa perubahan sosial ekonomi, adaptasi sosial budaya, dan masalah integrasi. Para migran mengalami tantangan asimilasi di daerah tujuan migrasi mereka. Migrasi dari daerah pedesaan ke perkotaan telah meningkat secara substansial dan berkontribusi terhadap transformasi sosial, status, dan perubahan peran, dan identitas perempuan. Semakin banyak perempuan bermigrasi sendiri atau bahkan berperan sebagai kepala rumah tangga. Mereka bisa membuka peluang untuk menjadi mandiri karena pemberdayaan ekonomi mereka tetapi pada saat bersamaan perempuan migran juga rentan terhadap pelecehan, eksploitasi seksual, perdagangan manusia dan kekerasan.”