03 April 2020

FIB - Pimpinan FIB Unand memberikan bantuan makanan dan sembako kepada mahasiswa FIB Unand yang masih berada di daerah Padang terutama di sekitaran Limau Manis, Kapalo Koto, dan sekitarnya pada tanggal 30 Maret 2019 bertempat di Ruang Dekanat FIB Unand. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka meringankan beban mahasiswa yang mengalami kesulitan keuangan akibat dampak pandemik Virus Corona (Covid-19). Kegiatan ini diinisiasi oleh pihak pimpinan FIB Unand yang bekerja sama dengan para dosen, tenaga kependidikan, dharma wanita, persatuan orangtua, dan alumni FIB Unand.

Imelda Indah Lestari, S.S., M.Hum., selaku Wakil Dekan III FIB Unand  manyampaikan bahwa FIB Unand telah melakukan survei dalam bentuk data digital (google form) untuk mengetahui keberadaan, keadaan, dan kebutuhan mahasiswa FIB Unand selama bencana Covid-19 melanda. Menurutnya, dari 1073 mahasiswa yang berpartisipasi dalam survei, diperoleh hasil 75,95 %  sudah bersama orangtua dan 24,05 % masih berada di kos-kosan dan asrama.

“Mahasiswa yang sudah bersama orangtua diharapkan lebih nyaman karena sudah ada dalam pengawasan orangtua mereka. Akan tetapi, mahasiswa yang berada di kos-kosan  dan asrama menghadapi masalah ketersediaan bahan makanan dan keterbatasan akses komunikasi. Ada juga yang sakit ringan seperti demam dan batuk. Mahasiswa adalah anak-anak kami, para dosen dan tendik. Apa yang menjadi masalah yang dihadapi oleh mahasiswa mesti menjadi perhatian kami. Apalagi pada masa-masa pandemik Covid-19 yang makin meluas secara masif seperti saat ini. Oleh sebab itu, kami berinisiatif untuk melakukan kegiatan bantuan ini,” ujarnya saat dihubungi via WhatsApp. 

“Sasaran dari bantuan ini adalah seluruh mahasiswa FIB Unand yang masih berada di Padang. Alhamdulillah, hari ini kita berikan bantuan berupa makan siang sebanyak 65 paket ditambah dengan Indomie dan telur. Kami berharap semua mahasiswa yang berada di Padang dapat kami berikan bantuan. Jika masih banyak mahasiswa yang belum pulang kampung dan mengalami kesulitan keuangan, bantuan akan tetap terus diluncurkan. Namun, kami mengalami kesulitan karena Unand saat ini menerapkan sistem work from home (bekerja dari rumah). Tenaga pendidik (Tendik) kita memang masih bekerja, masih ada juga yang piket seperti biasa namun tidak banyak,” ujarnya kemudian.

Proses pendistribusian bantuan dijelaskan Imelda Indah Lestari, S.S., M.Hum. dilakukan dengan cara membuat sebuah Whatsapp  Grup (WAG) yang terdiri dari mahasiswa yang masih berada di Padang dan mengalami kesulitan keuangan. Kemudian, mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan lokasi tempat tinggal (kos-kosan) yakni Limau Manis, Kapalo Koto, Pasar Baru, Pasar Ambacang, Binuang Kampung Dalam, Asrama, dan beberapa daerah lainnya. Lanjutnya, perwakilan dari masing-masing kelompok diminta untuk datang ke kampus untuk menjemput dan mendsistribusikan bantuan kepada kelompok masing-masing.

Imelda Indah Lestari, S.S., M.Hum berharap agar bantuan ini bisa meringankan beban mahasiswa. Ia juga berharap agar mahasiswa bisa merasakan keberadaan fakultas sebagai institusi. Menurutnya, dekan dan jajaran hanyalah perpanjangan tangan dari Unit Sosial FIB.

Senada dengan apa yang diharapkan oleh Imelda Indah Lestari, S.S., M.Hum., Dr.  Hasanuddin., M.Si., yang merupakan Dekan FIB Unand juga berharap agar mahasiswa dapat merasakan kehadirian fakultas sebagai representasi dosen, tendik, dharma wanita serta persatuan orangtua dan alumni di tengah kekhawatiran mereka terhadap ancaman Covid-19 pada saat mereka jauh dari orang tua.

“Mudah-mudahan bantuan yang tidak seberapa ini bisa bermanfaat bagi mereka, tidak dari segi besar materialnya tetapi juga dari segi kebersamaan dalam kedekatan emosional. Mudah-mudahan pandemic Covid-19 ini juga segera berakhir,” ungkapnya juga melalui media via WhatsApp.

Reporter: Mita Handayani, Editor: Ayendi, Admin: Tri Eka Wira

13 Maret 2020

FIB - Rizki Junando Sandi, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand terpilih sebagai Duta Bahasa Provinsi Jambi Tahun 2019. Pada 8 Februari 2019 di Kafe Clayton, Rizki Junando Sandi atau biasa dipanggil Nando berbagi pengetahuan dan pengalamannya terkait Duta Bahasa kepada Tim Humas FIB Unand.

Nando mengatakan bahwa Duta Bahasa merupakan suatu bentuk perpanjangan tangan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dalam menyosialisasikan trigatra bangun bahasa kepada masyarakat. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa trigatra bangun bahasa ini meliputi mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.

Untuk menjadi Duta Bahasa Provinsi Jambi, ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Tahapan-tahapan tersebut ialah seleksi administrasi, tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), tes essay, tes wawancara, tes minat dan bakat, serta tahap grand final.

“Ada beberapa hal yang diminta ketika seleksi berkas, misalnya curriculum vitae (CV), sertifikat prestasi, sertifikat kepanitian, sertifikat organisasi, dan beberapa berkas pendukung lainnya. Kemudian, ketika kita mendapatkan nilai yang cukup tinggi dalam tes UKBI, hal tersebut sudah menjadi salah satu peluang besar bagi kita untuk masuk ke tahapan selanjutnya. Sementara itu, untuk tes essay sendiri, tes ini dilaksanakan di hari H, begitu juga dengan tema dan judulnya juga diberikan ketika hari H,” ujar Nando.

“Pada saat tes wawancara, rasa gugup tentu ada. Beberapa persiapan yang saya lakukan sebelum tes wawancara, yaitu saya banyak membaca untuk memperkaya wawasan. Hal ini terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan bahasa, seperti sejarah tentang bahasa yang ada di daerah kita masing-masing, berapa banyak jumlah bahasa daerah kita, fungsi dan kegunaan bahasa, dan lainnya,” Nando menambahkan.

“Setelah proses wawancara selesai dan dinyatakan maju ke babak selanjutnya, saya mempersiapkan diri untuk menyiapkan satu bakat terbaik yang saya miliki untuk maju ke tahap tes minat dan bakat. Kebetulan waktu itu saya menampilkan bakat sendratasik dengan judul “Cahaya Tanah Pilih”,” lanjut Nando.

“Setelah deretan seleksi tersebut saya lewati, saya melaju ke babak grand final. Pada babak ini, saya diminta untuk memilh dan menjawab satu pertanyaan dalam kotak yang sudah disediakan,” lanjutnya.

Persoalan tinggi dan berat badan, tidak menjadi hal utama dalam penilaian seleksi Duta Bahasa Provinsi Jambi Tahun 2019. Penilaian peserta lebih ditekankan yang memiliki kredibilitas yang baik, berprestasi di bidang akademik, memiliki banyak pengalaman dalam berorganisasi serta berwawasan luas.

“Menurut saya pribadi, duta bahasa bukanlah duta yang menuntut seseorang hanya menjadi model dan role model bagi orang lain, melainkan juga duta yang memiliki kepedulian kepada sesama. Mampu menjadi inspirasi bagi banyak orang dan juga harus memiliki wawasan yang luas,” ujar Nando mengemukakan pendapatanya tentang duta bahasa.

Setelah penobatan gelar Duta Bahasa Provinsi Jambi Tahun 2019, Rizki Junando Sandi melakukan dinas selama 1 tahun di bawah naungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kegiatan dinas ini merupakan bentuk pelaksanaan program kerja yang telah ia rancang bersama teman-teman Duta Bahasa Provinsi Jambi Tahun 2019 lainnya.

“Program kerja yang kami bentuk waktu itu, yaitu mengajar teman-teman yang bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Kemudian, program lain, yaitu Darma Dubas. Darma Dubas merupakan suatu bentuk kegiatan menghadiri pemilihan duta-duta lainnya dengan tetap menyosialisasikan trigatra bangun bahasa. Selanjutnya, saya dan rekan-rekan Duta Bahasa Provinsi Jambi Tahun 2019 juga aktif menyosialisasikan tentang bahasa di panti asuhan, sekolah, dan beberapa tempat lainnya,” ungkapnya.

Terkait generasi muda milenial yang acap kali menggabungkan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah atau bahasa asing, Rizki Junando Sandi melihat hal ini sebagai sesuatu yang dapat merusak kaidah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa setiap generasi muda Indonesia harus mampu menempatkan diri dalam berbahasa. Ia juga menyayangkan kelakuan generasi muda Indonesia yang mencampuradukkan bahasa di saat begitu banyak orang asing yang ingin mempelajari bahasa Indonesia.

Terakhir, Rizki Junando Sandi berpesan kepada generasi muda Indonesia agar jangan malu untuk terus menggunakan bahasa Indonesia, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan bermedia sosial. Ia juga berpesan agar terus melestarikan bahasa daerah di provinsi masing-masing sebagai salah satu bentuk penjagaan kearifan local, serta tidak menutup mata dengan kehadiran bahasa-bahasa asing dengan cara menguasainya.

 

Reporter: Mita Handayani, Editor: Lusi Andriani, Admin: Tri Eka Wira