""
25 Jun 2022

FIB-Debby Noviana Rifani Mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2018 meraih gelar Cik Uniang Duta Wisata Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2022 yang diselenggarakan pada 20 Juni 2022 di Hall IKK Kantor Bupati Padang Pariaman. Sebelumnya, Debby pernah terpilih sebagai salah satu mahasiswa berprestasi ketiga Fakultas Ilmu Budaya Tahun 2021. Ia merupakan salah satu anggota Humas Mahasiswa FIB yang aktif dalam kegiatan fakultas, baik kegiatan protokoler maupun MC pada berbagai acara. Tahun ini, ia kembali mengukir prestasi dengan predikat Cik Uniang Duta Wisata Kabupaten Padang Pariaman 2022 sebagai juara 1.

Saat diwawancarai melalui WhatsAppp Debby mengatakan bahwasannya Pemilihan Cik Uniang Cik Ajo Duta Wisata Kabupaten Padang Pariaman membuat ia belajar mengenai banyak hal tentang budaya dan pariwisata. Dalam prosesnnya, berhasil menjadi Cik Uniang Duta Wisata Padang Pariaman 2022, ia mengikuti berbagai tahapan seleksi dari pengumpulan berkas, wawancara, technical meeting mengenai duta wisata selama dua hari, belajar pengetahuan pariwisata dan ekonomi kreatif hingga ia bisa maju di Grand Final 20 Juni lalu dan meraih juara satu.

Debby menjelaskan perihal pengetahuan yang semestinya dimiliki oleh Cik Uniang Cik Ajo Duta Wisata Kabupaten Pariaman. Cik Uniang ini memiliki tugas melakukan penggerakan dan promosi dalam bidang pariwisata, baik itu pengembangan pariwisata dan hubungannya dengan ekonomi kreatif. “Pariwisata itu berhubungan dengan banyak hal, misalnya dengan perekonomian, sosial budaya, adat, dan budaya serta pendidikan. Jadi, wawasan yang luas terkait pariwisata, ekonomi kreatif, industri kreatif, dan memiliki kemampuan lainnya seperti etika dan kepribadian, public speaking dan kemampuan berbahasa inggris sangat diperlukan dalam ajang perlombaan ini” ungkapnya.

Motivasi Debby dalam mengikuti pemilihan Cik Uniang Cik Ajo Duta Wisata Kabupaten Pariaman. Ia berkeinginan mengasah kemampuan public speaking yang telah ia miliki sebelumnya. Debby juga termotivasi dengan latar belakangnya berkuliah di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya yang mempelajari budaya Inggris. Ia berkeinginan untuk mengembangkan Pariwisata dan Kebudayaan lokal dalam bahasa inggris. “Aku juga belajar pariwisata, aku juga belajar bagaimana mempromosikan pariwisata dalam bahasa inggris. Aku juga pengen mengembangkan dan belajar lebih banyak bagaimana mengembangkan promosi wisata apalagi yang ada di daerah kita, bagaimana mengembangkan pariwisata menjadi lebih baik dan lebih dikenal bukan hanya kalangan domestik tapi juga kalangan mancanegara” ucap Debby. Selain itu, Debby termotivasi dari dirinya secara internal bahwa ia bagian dari masyarakat dan ingin berkontribusi, membantu mensejahterakan dan mendedikasikan diri kepada masyarakat dalam hal ini dibidang pariwisata dan budaya terutama di kampungnya Kabupaten Padang Pariaman.

Setelah dinyatakan sebagai juara satu Debby tidak menyangka dan senang dengan hal itu. Ia dapat menggapai cita-citanya dan dapat membuat bangga kedua orang tua nya. Sebelumnya, ia pernah mengikuti dunia perdutaan pertama kali tahun 2017 yaitu Duta GenRe Padang Pariaman. Namun, ia tidak memenangkan pemilihan itu dan terpilih menjadi Duta GenRe Photogenic. Selama tahun 2018 hingga saat ini ia vakum mengkuti ajang perdutaan dan akhirnya mengikuti kembali di tahun 2022 dan berhasil meraih gelar juara.

Debby berharap setiap bidang yang ia ikuti dapat bermanfaat. “Sedikit dan banyaknya pasti bermanfaat bagi aku dan orang lain. Jadi, aku memberanikan diri untuk mencoba hal apapun dan memberanikan diri untuk mengambil risiko. Karena aku percaya setiap hal yang kita lakukan risikonya ada dan itu yang akan menjadi pengalaman dan menjadi pelajaran untuk kita. Sehingga kita tahu hikmah apa yang ada dalam kegiatan yang kita lakukan. Jadi why not? untuk mencoba. We never know if we never try. Jadi coba aja” ujarnya.

Sebagai Cik Uniang Kabupaten Padang Pariaman, Debby memiliki amanah untuk mempromosikan pariwisata, budaya, dan membantu pemerintah melestarikan budaya serta membantu pengembangan ekonomi kreatif. Ia mengungkapkan kedepannya akan menjadi perwakilan Kabupaten Padang Pariaman mengikuti pemilihan Uda Uni Sumatera Barat Tahun 2022.

 

Reporter: Yeny Dwi Lestari

22 Jun 2022

FIB – Kamis, 16 Juni 2022, FIB Unand baru saja melaksanakan acara workshop sebagai sarana pembekalan  bagi mahasiswa yang nantinya akan mengikuti KKN Tematik di Lobang Jepang Kelurahan Tabiang Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo Kota Padang. Acara ini berlangsung dari pukul 08.30 WIB sampai dengan pukul 13.00 WIB di Ruang Sidang FIB Lantai 2 dan dihadiri baik oleh para dosen maupun mahasiswa. Acara ini dimoderatori oleh Aulia Rahman, S.S., M.A.. Adapun Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum. selaku dosen Sastra Minangkabau dan Ana Fitri Ramadani, S.S., M.A. selaku dosen Sejarah berkesempatan untuk menjadi narasumber acara workshop ini.

Rika Handayani, S.S., M.Appd., M.Hum. selaku ketua pelaksana acara workshop ini juga turut berkesempatan untuk memberikan kata sambutan.

“KKN yang biasanya dilakukan oleh mahasiswa adalah KKN reguler yang mana jangka waktunya pada umumnya 40 hari. Akan tetapi, untuk KKN yang terintegrasi dengan program MBKM ini nanti Ananda akan berpartisipasi selama liburan akhir tahun. Insha Allah, tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) sudah melakukan visitasi, yaitu berkomunikasi dengan Kelurahan Tabiang Banda Gadang Kecamatan Nanggalo sebagai tempat dimana Ananda akan melakukan KKN nanti. Perlu juga Kami sampaikan disini bahwa Kelurahan Tabiang Banda Gadang merespon dengan baik niat Kami tersebut dan Insha Allah nanti Kita sudah memetakan ada beberapa kegiatan yang menyangkut dengan sektor pendidikan, ekonomi, pariwisata, dan lain-lain yang nantinya akan melibatkan mahasiswa Kita dari berbagai jurusan seperti jurusan Sejarah, Sastra Jepang, Sastra Inggris, Sastra Indonesia, dan juga Sastra Minangkabau. Untuk terjun ke lapangan tentu Ananda Kita semua perlu pembekalan. Mudah-mudahan dengan adanya workshop ini bisa memberikan pengetahuan kepada Kita semua,” jelas Rika Handayani dalam kata sambutannya.

Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum. dalam presentasinya menyinggung hal terkait warisan budaya tak benda karena salah satu hal yang akan dilakukan para mahasiswa peserta KKN Tematik adalah mengumpulkan dan mengarsipkan warisan budaya tak benda yang ada di Kelurahan Tabiang Banda, Kecamatan Nanggalo. Adapun aspek yang dapat ditinjau oleh para mahasiswa peserta KKN Tematik berupa tradisi lisan seperti cerita yang dinarasikan dari generasi ke generasi dan kepercayaan masyarakat terhadap Lobang Jepang.

 “Mengumpulkan data warisan budaya tak benda ini kalau dibilang gampang, tidak gampang. Dibilang susah tidak pula. Jadi sebenarnya lebih kepada kemauan dan kemampuan Ananda untuk beradaptasi dengan masyarakat karena Ananda nanti akan bertemu dengan seseorang yang akan dijadikan narasumber,” tutur Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum. dalam presentasinya.

Lebih lanjut, Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum. tidak lupa menyampaikan bahwasanya terdapat tiga tahapan dalam pengumpulan data di lapangan.  Pertama adalah tahapan pra-penelitian dimana para peneliti perlu membuat rancangan penelitian berupa data seperti apa yang ingin dikumpulkan dan cara memperoleh datanya seperti apa (wawancara terarah/tak terarah atau pengamatan untuk aktivitas budaya seperti upacara, tari, teknik memasak), studi pustaka, dan menyiapkan peralatan dan perlengkapan untuk penelitian. Tahapan kedua adalah menetapkan kriteria narasumber yang mana dilihat dari segi usia, berapa lama menetap di daerah yang akan diteliti, sudah berapa generasi yang hidup di daerah penelitian, dan apakah narasumber tersebut juga merupakan pelaku utama dalam suatu peristiwa. Tahapan terakhir adalah menyusun daftar pertanyaan.

Dalam sesi tanya jawab, Dhiant Asri, S.S., M.Hum. yang juga tergabung dalam  tim PKM menambahkan informasi bahwasanya terdapat salah seorang di lokasi Kelurahan Tabiang Banda Gadang yang dapat dijadikan sebagai narasumber atau informan untuk keperluan penelitian di Lobang Jepang ini. Ia menyampaikan bahwasanya informan tersebut dapat menceritakan  apa yang terjadi pada masa kependudukan Jepang dan mengapa ada begitu banyaknya lobang Jepang di daerah tersebut. Selain itu, ia juga menambahkan bahwasanya Lobang Jepang yang akan dijadikan sebagai tempat penelitian ini juga tembus ke pemukiman penduduk.

Pembekalan selanjutnya disampaikan oleh Ana Fitri Ramadani, S.S., M.A. yang memaparkan materi dengan judul “Masa Kini dan Sejarah: Cara Pengumpulan Sumber di Lapangan”. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan metode heuristik sebagai salah satu metode penelitian dalam ilmu sejarah. Metode heuristik sendiri merupakan suatu cara bagaimana peneliti mencari atau menemukan sumber-sumber dan data sejarah yang diperlukan. Sumber dalam metode heuristik terbagi menjadi dua yaitu sumber lisan dan sumber tulisan.

“Bentuk dari sumber lisan itu dapat berupa cerita rakyat, tambo, dan kaba. Kita bisa berangkat dari sini. Ketika Ananda akan pergi untuk mengambil data di lapangan, Ananda bisa mencari sumber lisannya. Sumber lisannya bisa berupa cerita rakyat yang terkait dengan Lobang Jepang tersebut misalnya cerita-cerita mistisnya,” ujar Ana Fitri Ramadani, S.S., M.A. dalam pemaparannya.

Ana Fitri Ramadani, S.S., M.A., juga menyinggung istilah snowball dalam penelitian lapangan sejarah. Sistem snowball ini dapat dilakukan ketika peneliti tidak mendapati pelaku utama yang dapat diwawancarai sehingga perlu mewawancarai orang lain yang dinilai dapat membantu dalam proses pengumpulan data.

“Jika Kita tidak bisa mendapati pelaku utama, Kita dapat mencoba mewawancarai ketua adat terlebih dahulu. Kemudian dari ketua adat ini Kita bisa mendapati rekomendasi orang-orang yang dapat diwawancarai untuk keperluan penelitian lapangan. Dari orang-orang yang direkomendasikan ini, Kita bisa tanyakan lagi kepada mereka perihal narasumber-narasumber lainnya yang dapat membantu penelitian lapangan Kita,” tambah Ana Fitri Ramadani, S.S., M.A..

 

Reporter: Fithryah Amirah Karini

21 Jun 2022

(Pembukaan acara oleh mc non formal 12/6/22 dok.pubdok gesima)

 

FIB-Gesima XVI  kembali diadakan pada hari minggu 12/6/22 yang berlokasi di gedung kebudayaan Padang,Sumatera barat.

Gesima yang bertemakan “Goresan seni bertaut nadi” menampilkan berbagai pertunjukan seni seperti membaca puisi,teater,monolog,band dan berbagai pertunjukan seni lainnya.Gesima tahun ini melibatkan dua angkatan sebagai panitia yaitu angkatan 20 dan 21 hal ini yang sedikit membuat Izzaturraihan sebagai ketua pelaksana kebingungan untuk mengatur jadwal rapat dalam mempersiapkan gesima ini.

“Sebenarnya untuk acara gesima tahun ini diadakan oleh angkatan 21 tapi dengan berbagai pertimbangan setelah diadakan diskusi antara dua angkatan yang akhirnya menemui titik tengah mendapatkan hasil bahwa yang akan mengadakan gesima tahun ini adalah angkatan 20 dan 21 dan ini baru dalam sejarah pengadaan gesima ini pertama kali diadakan oleh dua angkatan,sehingga lumayan sulit dan bingung ketika menjadwalkan rapat untuk persiapan gesima ini namun itu tidak menghalangi kami untuk tetap memberikan yang terbaik dalam gesima tahun ini “ ungkap Raihan.

Izzaturraihan juga mengatakan bahwa tujuan gesima ini yaitu sebagai ajang silaturahmi sesama FIB.

“Tujuan diadakan nya gesima ini yaitu sebagai proses adaptasi teman-teman di Fib jadi bisa dibilang sebagai pendekatan dan beruntungnya sekarang pendekatan ini tidak hanya dilakukan seangkatan saja namun kita juga bisa saling mengenal dengan angkatan 21 “ Tutur Raihan.

Pembukaan Gesima dihadiri langsung oleh WD III Dr.Reniwati,M.Hum dalam kata sambutannya WD III mengucapkan apresiasi kepada seluruh panitia dan seluruh pengisi acara gesima.

“Pertama Saya ingin menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia gesima XVI 2022 Yang sudah menyiapkan acara ini juga kepada seluruh pengisi acara yang hadir dan selamat menampilkan kreasi dan karya dan selamat bergembira,mudah-mudahan acara ini berjalan lancar,aman dan terkendali “ Ujar WD III dalam kata sambutannya.

Gesima XVI berjalan dengan lancar serta diikuti oleh banyak peserta tidak hanya dari FIB saja namun juga dari berbagai fakultas di Unand.

“Acara ini kita buka untuk umum tidak hanya FIB saja dan yang penting acara ini FREE jadi teman-teman dari fakultas lain juga bisa datang,harapannya berbalik dari tujuan diadakannya gesima ini tentu harapan kita semoga silaturahmi dan kedekatan sesama Mahasiswa FIB ini terjalin dengan baik “ Ujar Izzaturraihan sebagai ketua pelaksana.

 

Reporter : Anes Yosefania

16 Jun 2022

FIB – Pekan Seni Mahasiswa (Peksima) Universitas Andalas tahun ini telah kembali diadakan. Salah satu acara besar tahunan Universitas Andalas ini menyuguhkan berbagai macam perlombaan yang bisa diikuti seluruh mahasiswa aktif dengan mengisi formulir pendaftaran secara online. Acara berlangsung dari tanggal 18 Juni hingga 9 Mei, technical meeting pada 17 Mei, seleksi dan penjurian pada 21-28 Mei, serta pengumuman pemenang 2 Juni 2022. Peksima merupakan agenda pekan kesenian Universitas Andalas yang diadakan setiap dua tahun sekali oleh bagian kemahasiswaan kampus dengan mempersiapkan para pemenangnya untuk kembali dilombakan pada tingkat daerah (Peksimida) hingga nasional (Peksiminas).

Serangkaian lomba yang diadakan adalah lomba melukis, komik strip, desain poster, fotografi, monolog, solo daerah/dangdut/keroncong, dan masih banyak cabang yang lainnya. Di antara tangkai lomba, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya termasuk ke dalam peserta yang mendominasi memenangkan perlombaan. Mahasiswa tersebut meliputi dari berbagai angkatan dari angkatan tahun 2018 hingga angkatan 2021. Peserta yang mendapatkan juara 1, 2, dan 3 Peksima dikabarkan oleh panitia akan di training kembali kemudian dipilih satu orang untuk lanjut mewakili Unand di Peksimida. Serta jika ada yang mendapt juara 1 nantinya akan ada kemungkinan untuk lanjut ke tingkat nasional (Peksiminas).

Peserta telah mempersiapkan diri jauh hari, seperti kebutuhan untuk lomba di atas panggung, alat, bahan, latihan yang serius, dan sebagainya sesuai dengan tangkai lomba yang diikuti. “Banyak sekali yang saya persiapkan mulai dari make up, kostum, properti di atas panggung, dan sound dari musik,” ujar Rindu (Sasindo 20). Beberapa peserta mengaku ada yang hanya mempersiapkan diri satu minggu sebelum acara. Bahkan salah satu di antaranya mengikuti pelatihan yang diadakan fakultas dengan tujuan memang mempersiapkan mahasiswa FIB untuk tampil diperlombaan Peksima nantinya.

Hal ini terbayarkan dengan diumumkannya sebanyak 19 orang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya dinyatakan menjadi juara di berbagai tangkai lomba. Mereka adalah Muhammad Fazil Maulana (Sasing 19) Juara 1 Fotografi, Rilen Dicki Agustin (Sasindo 18) Juara 1 Penulisan Puisi, Diahayu Risqia Atmaja (Sasindo 19) Juara 1 Baca Puisi Putri, Akhmad Suwistyo (Sasing 19) Juara 1 Penulisan Cerpen, Muhammad Fadli (Sasindo 20) Juara 1 Penulisan Naskah Lakon, Farhany Mayora (Sasing 20) Juara 2 Lukis, Gusni Herifa (Sasindo 20) Juara 2 Komik Strip, Dara Permata Hati (Sasing 19) Juara 2 Solo Song Pop Putri, Fadhillah Hayati (Sasindo 19) Juara 2 Penulisan Puisi, Shinta Amelia Putri (Sasindo 19) Juara 2 Baca Puisi Putri dan Juara 2 Monolog, Rido Ilham (Sasda 19) Juara 2 Penulisan Naskah Lakon, Rizki Junando Sandi (Sasindo 19) Juara 2 Solo Dangdut Putra dan Juara 3 Solo Daerah Putra, Jona Kaysa Putri (Sasing 21) Juara 3 Lukis, Sigit Pamungkas (Sasda 21) Juara 3 Solo Dangdut Putra, Wice Afdinita (Sasindo 21) Juara 3 Solo Daerah Putri, Silvha Darmayani (Sasindo 19) Juara 3 Baca Puisi Putri, dan Rindu Putri Salsabilah (Sasindo 20) Juara 3 Monolog.

Dari beberapa mahasiswa yang menang tersebut ada yang sudah pernah ikut Peksima dua tahun sebelumnya dan ada yang belum. Untuk angkatan 2020 dan 2021 ini merupakan pengalaman Peksima pertamanya. Adapun di antara mereka mengaku bahwa Peksima tahun ini terasa lebih meriah dibanding dua tahun lalu, karena pada tahun 2020 acara Peksima dilaksanakan secara daring dengan peserta yang sangat minim. Berbeda dengan tahun ini, peserta sangat banyak dan antusias mengikuti tiap tangkai lomba, terkhusus mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya. “Kesannya Peksima tahun ini bagus, semangatnya tinggi terbukti dengan banyaknya peserta di mata tangkai lomba walaupun ada satu atau dua tangkai lomba yang masih pesertanya sedikit. Tapi untuk lomba yang lain sudah sangat banyak,” ujar Shinta (Sasindo 19) ketika diwawancarai (14/6/22).

Berbagai macam kritikan dan saran terhadap pelaksanaan Peksima pun juga disampaikan para peserta, agar ditingkatkan lagi kinerja panitia seperti pengumuman pemenang dari selesai lomba yang terlalu lama, pembagian hadiah pemenang yang juga terhitung hampir satu bulan bahkan lebih, dan sebagainya. Di samping itu, peserta yang menduduki peringkat atas sangat bersyukur atas penghargaan yang diterimanya.

Terakhir banyak harapan dan pesan yang disampaikan peserta kepada mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya untuk lebih menggencarkan lagi potensi dirinya di berbagai kegiatan lomba yang diadakan kampus maupun fakultas. “Ada 16 tangkai lomba, mari berbondong-bondong untuk mengikutinya. Khusus mahasiswa FIB semoga terus menjadi yang terbaik di Peksima Unand. Ta hanya menjadi yang terbaik di Peksima Unand, tetapi terbaik di Peksimida dan bahkan kalau bisa di Peksiminas.” Tutup Rilen (Sasindo 18) yang mendapat Juara 1 Penulisan Puisi.