29 Desember 2018

Foto 1:  Kunjungan ke Benteng Van Der Capellen

FIB - Sebanyak 40 orang mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas yang mengambil mata kuliah Sejarah Indonesia Abad ke -16 s.d. 18 kelas A mengikuti kuliah lapangan dengan mengunjungi situs Benteng Van Der Capellen di Batusangkar pada tanggal 1 hingga 2 Desember 2018.

28 Desember 2018

Foto: Robi Satria

FIB - Robi Satria, mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unand, berhasil meraih peringkat ketiga dalam kompetisi Penulisan Puisi pada Peksiminas 2018 yang diadakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang acara pembukaannya berlangsung pada tanggal 16 November 2018 lalu.

27 Desember 2018

Foto 1 : Pemotongan pita saat peluncuran novel Litch in Holland  oleh  Elfis Candra, S.H. (Kepala Dinas Pariwisata Kota Pariaman)

FIB - Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, HUT klub Sahara, dan Hari Sumpah Pemuda, novel ke-5  karya Arif Rahman Hakim S. Hum., alumni Sastra Minangkabau FIB Unand, Litch in Holland  diluncurkan di Aula Balai Kota Pariaman pada tanggal 28 Oktober 2018.

Peluncuran buku novel Litch in Holland yang diselenggarakan oleh Gelora Sastra Klub Sahara dengan menghadirkan pejabat dari Dinas Pariwisata Kota Pariaman, Dinas pendidikan, dan dinas terkait, serta guru-guru se-Kota dan Kabupaten Padang Pariaman dan juga mahasiswa serta pelajar secara umum.

Novel kelima karya Arif Rahman Hakim ini terinspirasi dari beberapa cerita yang pernah dia baca. Selain itu, novel itu juga terinspirasi dari Kuliah Bahasa Belanda yang mengemukakan nilai-nilai Islam di negeri itu.

Sebelum meluncurkan novel Litch in Holland, Arif (nama sapaannya) telah menerbitkan empat novel inspiratif lainnya, seperti: novel pertama (Boyan Kaliang tahun 2015); novel kedua (Sahabat dalam Kaca tahun 2016); novel ketiga (Dosa Sepele Masak Sih? tahun2017); novel keempat (Dua Perempuan bertanya padaku tentang luka dan air mata tahun 2017).

Arif merupakan alumni Sastra Minangkabau FIB Unand yang berprestasi. Dia merupakan salah seorang lulusan cumlaude pada wisuda III tahun 2018 dan juga termasuk Bintang Aktivis kampus FIB Unand.

Dalam wawancaranya, Arif mengungkapkan bahwa tidak pernah terpikirkan olehnya akan menjadi seorang penulis novel.

"Tidak pernah kebayang kalau akan jadi penulis, soalnya dulu lulusan SMK akuntansi, mentoknya kerja di akuntan atau di perpajakan. Namun, takdir berpihak pada dunia kepenulisan. Itu mungkin dikarenakan kuliah di FIB," ungkapnya.

Arif memulai karir sebagai penulis dengan mencoba mengikuti lomba-lomba cerpen dan puisi. Dia juga pernah meraih juara I Lomba Karya Puisi oleh Indoleaders.com tahun 2016 dan juara I Lomba Cerpen Nasional Agenda Driver FSI Fisip.

"Saya sering mengikuti lomba-lomba seperti puisi, cerpen. Ada yang menang, ada juga yang tidak. Alhamdulillah sampai saat ini udah 25 buku antologi se-Indonesia. 1 buku antologi puisi se-Asia Tenggara pada TPAT tahun 2018 dan 1 buku antologi puisi se-Dunia “Wangian kembang” bersama Persatuan Penyair Malaysia dan ratusan penyair 12 negara di dunia," dia menyebutkan.

Arif  yang memiliki segudang prestasi juga aktif dalam berbagai organisasi semasa masih kuliah. Selain menjadi ketua Klub SAHARA tahun 2015-2016, dia juga pernah menjadi pengurus FSI FIB Unand tahun 2014-2017.

Arif  berharap agar ke depannya dia selalu bisa berkarya dan terus menginspirasi.  Dalam wawancaranya, Arif juga menyebutkan akan meluncurkan novel terbaru dipenghujung akhir tahun 2018 yang bisa didapatkan diseluruh Gramedia se-Indonesia.

Diakhir wawancaranya, Arif menyampaikan, "Tetaplah membumi hati dan jiwa, namun melangitlah doa-doa dan impian-impian."

Reporter: Irma Suryani, Editor: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

26 Desember 2018

Foto 1: Acara pembukaan Focus Group Discussion (FGD) “Penulisan Buku Inventarisasi Sejarah dan Benda Purbakala Perkampngan Adat Sijunjung” sedang berlangsung

FIB - Dr. Nopriyasman, M.Hum. diundang sebagai Penelaah kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka kegiatan Penulisan Buku Inventarisasi Sejarah dan Benda Purbakala Perkampungan Adat Padang Ranah Tanah Bato Kenagarian Sijunjung dalam Program Pengelolaan Kekayaan Sejarah dan Purbakala pada DPA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 17 Desember 2018 di Wisma Keluarga Muaro Sijunjung.

Kegiatan FGD tersebut dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sijunjung, Ramler, SH., M.M.

Di awal pemaparan acara FGD, Dr. Nopriyasman, M.Hum. mengungkapkan setiap suku bangsa selalu memiliki gambaran sejarah yang mengidentifikasi dan menjelaskan soal pengetahuan sejarah milik individu atau kelompok masyarakat tertentu.

“Tidak terkecuali apa yang dimiliki oleh masyarakat Nagari Sijunjung. Gambaran sejarah semacam ini, misalnya terlihat dalam mitos-mitos tentang nenek moyang, cerita-cerita rakyat (folklore), balada dan nyanyian rakyat tradisional (folksong),” ucapnya.

Kemudian Dr. Nopriyasman, M.Hum. menjelaskan ada empat ciri pengetahuan sejarah. Pertama adalah pengetahuan masyarakat (sejarah commonsense) yang pada galibnya diterima selaku benar oleh anggota masyarakat dan sudah menjadi milik kolektif dari masyarakat tertentu.

Model pengetahuan sejarah masyarakat (yang menjadi ciri kedua) lanjutnya cenderung bersifat dogmatif dan bertujuan edukatif (mendidik). “Ciri seperti ini tidak ada pemisahan antara mitos dan fakta, namun tetap hidup dalam masyarakat, karena penghadiran mitos terkait pada upaya menjalankan fungsi sosial untuk keberlanjutan hidup,” urainya.

Sambungnya lagi, berturut-turut ciri ketiga dan keempat dari sejarah pengetahuan masyarakat terlihat dalam karya sastra berupa penceritaan tentang kejadian bercampur mitos dalam bentuk prosa literer (seni), dan dalam story teller (tukang cerita).

“Begitulah, masyarakat dan kebudayaan di Nagari Sijunjung memiliki mitos-mitosnya sendiri, seperti asal usul penamaan nagari, asal usul nenek moyang, mitos-mitos berkenaan dengan tempat pemukiman, dan sebagainya,” paparnya.

Menurut Dr. Nopriyasman, M.Hum., kegiatan “Penulisan Buku Inventarisasi Sejarah dan Benda Purbakala Perkampungan Adat Padang Ranah Tanah Bato Kenagarian Sijunjung” tidak saja dapat dilihat dalam rangka aplikasi program pengelolaan kekayaan sejarah dan budaya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, namun bisa juga menjadi ajang mempopulerkan sejarah publik Nagari Sijunjung di tengah masyarakat luas. 

“Sejarah publik suatu masyarakat penuh varian, justru menghadirkan varian sejarah milik masyarakat itu dapat mengintegrasikan masyarakat pada sejarah yang dekat dengan kehidupannya. Oleh sebab itu, sedapatnya gaya penyajian sejarah ditampilkan dengan cara-cara yang menyenangkan, dan pandai membaca pasar. Lebih jauh tersembul ajakan agar masyarakat ikut berpartisipasi, untuk pendidikan, pemeliharaan memori masyarakat, dan juga untuk konstruksi identitas,” paparnya.

Tulisan sejarah untuk publik sebut Dr. Nopriyasman, M.Hum. biasanya hadir berupa buku-buku populer, artikel-artikel, pertunjukan, dan pendirian museum serta lembaga kearsipan, yang dalam konteks tertentu berbeda dengan produk sejarah akademis berupa buku-buku kesarjanaan, artikel yang diseminarkan, dan hasil tinjauan akademik lainnya.

Terkait dengan hal itu, oleh sebab itu dia menyatakan, “Bagian sejarah dalam penulisan buku perkampungan adat Nagari Sijunjung, sebaiknya melibatkan proses interaktif antara sejarawan, publik, dan objek sejarah.”

Dalam konteks sejarah yang dimiliki oleh publik Nagari Sijunjung, pemunculan cerita masyarakat katanya dapat dipahami sebagai kebenaran yang berkategori “fakta mental”.

“Cerita itu ada karena terus menerus diwariskan secara tradisi. Meskipun demikian, sebaiknya penyebutan keterangan waktu diikuti pula oleh bukti sumber, misalnya tambo (historiografi tradisional) dan analisis dari nama tokoh yang tampil. Untuk sekedar contoh, proses lahirnya nama “sijunjung” hadir terkait kepada nama Syekh Abdul Muchsin, yang punya andil dalam menyelamatkan “cemplungnya” anak gadis mereka di sungai ketika masyarakat sedang rapat membentuk nagari. Anak gadis itu konon berasal dari keturunan bangsawan yang bergelar Puti, sehingga ia juga merupakan junjungan (dihormati) masyarakat. Peristiwa ini disepakati menjadi nama nagari, yaitu “Si Puti Junjuang”, yang lama kelamaan populer dengan nama Sijunjung,” Dr. Nopriyasman, M.Hum.  menjelaskan

Foto 2: Peserta FGD yang berasal dari tokoh adat, aparat sipil, dan masyarakat Sijunjung

Kalau patokannya nama Syekh yang menolong Sang Puti, maka ungkapnya dapat diperkirakan bahwa Nagari Sijunjung itu dibentuk pada masa Islam. “Kapan tepatnya, maka itu soal lain. Dalam sejarah budaya, tidak bisa dipaksakan penyebutan waktu, apabila tidak ada bukti yang otentik, yang jelas cerita itu terus menerus ada dan hadir dalam proses kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu,” ujarnya.

Sebagai penutup kata, Dr. Nopriyasman, M.Hum. menyebutkan bahwa buku merupakan salah satu media yang efektif dalam menyebarkan informasi. Oleh sebab itu terangnya Program Pengelolaan Kekayaan Sejarah dan Budaya DPA Dinas Pendidikan Kebudayan Pemerintah Kabupaten Sijunjung, yang menjadikan kegiatan penulisan buku tentang sejarah dan benda purbakala perkampungan Adat Padang Ranah Tanah Bato Kenagarian Sijunjung itu pantas dihargai.

Pengungkapan peninggalan sejarah dan budaya di masyarakat Kenagarian Sijunjung, tambahnya tidak saja dimaksudkan untuk menyebarluaskan informasi, lebih dari itu telah memberikan sumbangan konkrit terhadap apa yang seharusnya dilakukan dan dipikirkan oleh para ahli, terutama di bidang sejarah dan purbakala.

‘Salah satu sumbangan itu berbentuk presentasi dari kehidupan masyarakat, presentasi kehidupan di rumah gadang, presentasi lingkungan dan presentasi tradisi adat yang tetap terjaga dan dipraktikkan oleh masyarakat,” ujarnya.

Kehadiran buku itu paparnya dapat pula mendukung misi menjadikan warisan dunia, yang sejak 30 Januari 2015 Kampung Adat Nagari Sijunjung sudah masuk dalam Tentative List World Heritage Cultural Unesco.

Terlepas dari kekuatan dan kelemahan, terakhir Dr. Nopriyasman, M.Hum. berharap buku itu tidak hanya berguna untuk memperkenalkan dan memberikan apresiasi sejarah publik tentang sejarah kampung (kampung adat), lebih dari itu, terangnya tentunya dapat merangsang penelitian dan penelusuran lebih mendalam tentang sejarah masyarakat di masa datang.

“Apalagi, seiring dengan upaya menjadikan perkampungan ini menjadi warisan budaya dunia, tentu saja pengungkapan makna atau simpul-simpul yang diperankan nagari Sijunjung sebagai kampung adat dan keterlibatan bersama dari warganya dapat menjadi “azam” berbuat sesuatu yang terbaik bagi wujudnya Kampung Adat Koto Padang Ranah dan Tanah Bato menjadi lokasi warisan dunia,” harapnya

 

Humas: Ayendi, Admin: Gading Rahmadi

pornstar xxx tube
Huge Tittyfucking Creampie
moviesporno.biz double anal sex
porn video categories
adult porn videos
asian porn movies
briggi adventure in morocco Fucked In My Maid Outfit
xxx porn tube
hot porn tube
xxxteenhub.info
sextresss.xyz free porn video xvideosporn.club xssn.net hdxxxporn.club asianpornxxx.info
hotporntub.info freeporntix.info hubpornindian.info hotmomsteen.xyz nesaporns.xyz
xhaloporn.com xpornfly.com sexporndays.com
realpornfilms.com
sexmaxfree.xyz duvporno.org
toutpornxxx.org adultpornmovie.ws
hpornvideo.com xpornrelax.com
mobilpornfilm
xxxmobilporn
xxxsextres
pornvidwatch
fullteenporno
fullxxxpornvid
xxxsexwatch
freexxxvideostube
http://nesaporns.xyz
freepornvideosite
tweensex