25 September 2020

FIB - Sabtu, 12 September 2020, Dosen Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand, Dr. Gusdi Sastra, M.Hum., menjadi pembicara webinar bersama dengan narasumber lainnya Musra Dahrizal Rajo Mangkuto (Mak Katik) dan Dra. Elmizar, M.Pd. Webinar yang diadakan oleh Balai Pengembangan PAUD dan Pendidikan Masyarakat Sumatera Barat tersebut membicarakan Sumbang Duo Baleh: Warisan Budaya, Pendidikan Karakter, dan Pembelajaran Usia Dini.

Acara melalui via Zoom ini diawali dengan sambutan Kepala BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat, Dr. Wisma Endrimon, M.Pd. Ia mengawali dengan kegelisahannya melihat fenomena akhir-akhir ini dengan semakin tergerusnya pemahaman anak-anak dalam nilai-nilai budaya masyarakat Minangkabau. “Kuatnya arus informasi yang masuk itu sangat mempengaruhi anak-anak. Keasingan dan ketidaktepatan dalam berperilaku saat duduk, berbicara, melihat, berpakaian, bersikap, berperilaku, berdiri, berjalan, bergaul, bekerja, bertanya, dan menjawab. Dalam bahasa Minang biasa disebut sumbang duo baleh. Kita wajar mencemaskan dan prihatin. Bila tidak segera bersikap. Ke depannya anak-anak kita akan tercerabut dalam akar budayanya sendiri,” tutur Dr. Wisma Endrimon, M.Pd.

Hal itu kata Dr. Wisma Endrimon, M.Pd. menjadi tantangan bagi BP Paud untuk mendalami dan mendiskusikannya serta memperkenalkan sumbang duo baleh atau perilaku yang sumbang dan tercela kepada anak-anak usia dini. “Adaik basandi syara’, syara’ basandi kitabullah mungkin bisa jadi mimpi saja di masa depan. Hanya sebuah bacaan yang sering disebut tetapi tidak pernah bisa muncul dalam perilaku keseharian,” tambah Dr. Wisma Endrimon, M.Pd.

Dra. Elmizar, M.Pd. sebagai pamong belajar pada BP PAUD dan Dikmas Sumatera Barat, kemudian memaparkan model pembelajaran sumbang duo baleh bagi PAUD. Model itu katanya telah dikembangkan pada tahun 2017. Model itu juga telah diseminarkan secara nasional dan internasional dalam hal memberikan pembelajaran pada validasi model sumbang dua baleh pada tahun 2018. Untuk lokasi uji coba konseptual tersebut sebutnya di Kabupaten Agam dan uji coba operasional di Kabupaten Pasaman, Bukittinggi, dan Kabupaten Solok.

“Kita wariskan pendidikan ini sejak anak usia dini dikarenakan pada masa ini 50% perkembangan otak anak berkembang. Kemudian 50% lagi pada anak usia 8 tahun. Itu sebabnya kita menitikberatkan perilaku anak semenjak usia dini. Filosofi Minangkabau adaik basandi syara’, syara’ basandi kitabullah yang kita pedomani sudah mulai memudar dan menghilang dalam pegangan hidup. Setiap pergaulan sosial, etika pergaulan, bahkan pendidikan anak-anak sudah mulai tidak jujur. Ini yang kita perbaiki dan perlu diluruskan,” jelas Dra. Elmizar, M.Pd.

Kemudian katanya model itu telah masuk dalam model pembelajaran dalam kurikulum PAUD lokal.. Penerapan model ini melalui bermain dan pembiasaan pada anak. Lingkup pengembangan meliputi 1) nilai-nilai agama dan moral, 2) fisik, 3) kognitif, 4) bahasa, 5) sosial dan emosional, dan 6) seni. Sumbang yang diajarkan ada dua belas, yaitu sumbang duduak, sumbang tagak, sumbang bajalan, sumbang kato, sumbang caliak, sumbang makan, sumbang pakai, sumbang karajo, sumbang batanyo, sumbang jawek, sumbang bagaul, dan sumbang kurenah. “Menanamkan etika cara bergaul atau bersosialisasi pada anak didik kita, yakni sasakik, sasanang, saiyo sakato adalah filosofi orang Minangkabau dalam berkawan. Mereka harus saciok bak ayam, sadanciang bak basi,” tutur Dra. Elmizar, M.Pd.

Dr. Gusdi Sastra, M.Hum. menyampaikan sumbang duo baleh sebagai pendidikan karakter dan etika bagi anak usia dini. “PAUD menjadi amat penting karena merupakan landasan pembangunan karakter anak. Sampai usia 6 tahun dikenal dengan usia dini atau golden age. Kepribadian dan kecerdasan anak, 50% terbentuk di usia emas ini. Apalagi kecerdasan emosional atau otak kanannya. Perkembangan otaknya sangat pesat dan sangat perlu mendapat perhatian dari ibu dan gurunya di sekolah. Adanya PAUD diharapkan agar anak dapat diasuh dan dibimbing. Landasan bagi perkembangan potensi anak. Pengembangan berbagai potensi kecerdasan anak akan memberikan pengalaman yang menyenangkan dan sebagai kontrol berbagai penyimpangan yang dianggap sumbang,” tutur Dr. Gusdi Sastra, M.Hum.

Lalu Dr. Gusdi Sastra, M.Hum. menegaskan perlunya memberi perhatian dalam membangun otak anak sampai usia pubertas, yakni usia 12 tahun. Menurutnya membangun otak anak sama halnya dengan membangun berbagai kecerdasan yang harus dikembangkan, yaitu kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan intelektual. “Jadi pembentukan karakter anak tidak di SMA atau di perguruan tinggi, tetapi di PAUD dan di pendidikan dasar. Sudah sepatutnya character building terkait kecerdasan emosi itu harus dimulai dari rumah tangga, PAUD, dan pendidikan dasar karena 80% terbentuk sampai usia 12 tahun. Nilai-nilai karakter atau nonsumbang diharapkan terbentuk sejak dini melalui PAUD dan pendidikan dasar,” tambah Dr. Gusdi Sastra, M.Hum.

Pembicara terakhir yaitu Musra Dahrizal Rajo Mangkuto atau biasa disapa Mak Katik merupakan seorang budayawan, seniman, dan pengajar budaya di alam Minangkabau. Mak Katik menjelaskan, “Sumbang itu bagi semua orang. Dasar katanya sama dengan tidak lazim. Salah satu contoh adalah sumbang tagak atau sumbang berdiri, ketika seorang lelaki berdiri berdampingan dengan perempuan yang bukan muhrim adalah sumbang. Baik lelaki maupun perempuan mendapat bagian dari sumbang ini, yakni sumbang kecek, sumbang kawin, dan lainnya.”

Di Minangkabau pendapatnya untuk mendidik anak berkarakter mestinya harus memerhatikan anak tersebut dengan baik, bukan ditipu. “Misalnya, anak bayi menangis karena lapar, ditipu oleh ibunya dengan memberikan dot. Orang tua memberikan apa yang tidak diminta anak. Kemudian saat di umur 3 tahun memberi sesuatu terhadap anak di dalam rumah tangga itu tidak selalu sampai ke tangan anak. Itu ajaran Minangkabau. Kalau anak di dekat televisi dan meminta uang, maka taruh di atas meja. Jangan diantar ke si anak. Dari kecil anak harus diajar mandiri,” tegasnya.

Berdasarkan pengalamannya, sejak kecil dia tidak belajar kata sumbang. Namun, ia diajarkan berperilaku baik oleh orangtua. “Misalnya, ‘Kok anak perempuan duduknya mengangkang’. Setelah SMP baru dikasih tahu kepada anak bahwa hal yang dibicarakan itu adalah sumbang duo baleh. Jadi dari kecil, pengajaran sumbang itu sudah diajarkan di dalam rumah tangga, tetapi belum diajarkan kata sumbangnya,” jelas Mak Katik.

Acara pun dilanjutkan ke diskusi dan diakhiri dengan kata penutup dari ketiga pemateri. Salah satunya dari Dr. Gusdi Sastra, M.Hum. “Belajar dan membentuk karakter anak di usia golden age sampai sekolah itu ibarat mengukir di atas batu. Sedangkan, belajar setelah usia pubertas bagaikan mengukir di atas air. Walaupun akan kelihatan riaknya, itu barangkali hanya bisa di foto. Jadi, tidak bisa memberikan kesan menjadi sebuah karakter,” pungkasnya

Editor: Ayendi, Reporter: Nabilla Hanifah, Admin: Tri Eka Wira

25 September 2020

FIB – Wakil Dekan I FIB Unand, Dr. Gusdi Sastra, M.Hum., menjadi narasumber pada acara yang dihelat oleh Universiti Putra Malaysia pada Selasa, 15 September 2020. Acara yang bertajuk “Fikir, Tutur dan Sikap” ini diadakan melalui aplikasi Cisco Webex secara daring dengan melibatkan alumni PKP (Prihatin. Kolaboratif. Proaktif).

Fikir, tutur, dan sikap merupakan tiga komponen yang senantiasa bersisian dengan kehidupan kita. Ketiga komponen ini saling mempengaruhi satu sama lain. “Ketika berkomunikasi, ada yang namanya proses transmisi, yaitu proses pemindahan dan pengiriman kode-kode dari si pembicara kepada si pendengar. Selain itu, proses transmisi juga terjadi dari penulis kepada pembaca. Hal ini termasuk dalam kategori bahasa tulis. Transmisi mempertimbangkan lima kode meliputi: kognitif, emotional, social, culture , dan integrity,” terang narasumber.

Menurut Dr. Gusdi Sastra, M.Hum., apabila kita mendengar dengan baik, maka kita akan bisa berbicara dengan baik karena kemampuan dalam mendengarkan sebagai input akan menuju pada proses output, yaitu berbicara. Sama halnya dengan seorang pembaca yang baik, maka akan bisa menjadi penulis yang baik pula.

Proses melatih keterampilan selain dengan mendengar, juga dapat melalui menulis yang berkorelasi dengan membaca. “Oleh karena itu, dalam dunia pendidikan, siswa atau anak-anak itu sudah diajarkan untuk terbiasa menulis. Hendaknya, dari pendidikan dasar anak-anak sudah dilatih untuk menulis menjelang mereka tamat dari sekolah dasar. Hal ini berdampak pada kecerdasan anak, terutama pada kecerdasan otak kanan anak,” ungkap pemateri.

Laki-laki maupun perempuan mempunyai sistem limbik untuk dikembangkan yang berperan dalam merespon perilaku dan emosional seseorang. “Dengan begitu, kesantunan berbahasa erat hubungannya dengan otak kanan. Kesantunan berbahasa sangat bisa dilihat dari lisan karena sebelum lisan bekerja, informasi yang akan dilisankan tersebut diproses terlebih dahulu lewat sistem kinerja otak. Dari sini dapat kita lihat hubungan antara fikir, tutur dan sikap saling berkoordinasi dan bersinergi,” tambah narasumber.

Dr. Gusdi Sastra, M.Hum. turut menyampaikan pentingnya santun berbahasa karena bahasa menunjukkan bangsa. Perilaku santun itu tidak bisa dibuat-buat ketika seseorang sudah dewasa. Sikap kepribadian atau sikap perilaku yang biasa dikenal dengan istilah “attitude” merupakan perilaku yang tercermin dari masa anak-anak. Bagaimana perilaku seseorang dalam kehidupannya itu terlihat dari sikap mereka, dan bersikap yang baik dapat membuat seseorang berkepribadian anggun dan berwibawa.

“Sikap akan diikuti oleh perilaku. Sikap atau perilaku itu bisa berubah, tapi watak itu tidak bisa diubah. Biasanya umur 12 tahun ke atas, watak seseorang sudah terbentuk. Dari data yang didapat, 50% pembentukan karakter anak terjadi pada saat ia lahir sampai usia 6 tahun, kemudian 30% pada usia 6-12 tahun, dan sisanya 20% lagi saat berusia 12-25 tahun,” jelas Dr. Gusdi Sastra, M.Hum.

Sikap, etika, dan perilaku dimana pun, baik di dunia nyata maupun maya membutuhkan metode untuk mencerdasakan emosional dari skill maupun life skill itu sendiri. Disampaikan juga oleh Dr. Gusdi Sastra, M.Hum., “Sikap itu cerminan dari otak, seperti kecerdasan emosional. Kecerdasan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain disekitarnya terbentuk dari hasil lateralisasi otak.”

Fikir, tutur, dan sikap adalah modal utama untuk membuat seseorang itu sukses. “Mari kita bercermin pada diri sendiri sejauh mana kita berfikir dengan hati, bertutur hati-hati, dan bersikap peduli. Walaupun kita tidak melihat hati secara fisik, tapi hati harus kita jaga. Nah, cara membersihkan hati adalah dengan iman dan agama. Sedangkan cara menjernihkan otak yaitu dengan menjernihkan pikiran dan informasi yang diterima oleh otak kita,” terang Dr. Gusdi Sastra, M.Hum.

“Berbahasa tidak hanya menyampaikan apa yang ada di kita, tapi juga memahami orang lain dan latar belakang budaya lawan tutur kita. Hal ini dapat dilihat, misalnya masyarakat yang tinggal di daerah pantai, intonasi suara mereka akan berbeda dengan orang yang tinggal di daerah dataran tinggi atau perbukitan. Memahami lawan bicara atau lawan tutur juga termasuk kecerdasan,” pungkas narasumber.

Editor: Ayendi, Reporter: Tzya Asradha, Admin: Tri Eka Wira

25 September 2020

Foto 1: Poster acara kuliah umum

 

FIB - Rabu, 26 Agustus 2020, Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand kembali mengadakan kuliah umum linguistik via aplikasi Zoom dengan tema “Mengungkap Tabir di Balik Nama: Kajian Toponimi dengan menghadirkan Prof. Cece Sobarna, M.Hum. Pakar Toponimi Universitas Padjajaran sebagai narasumber. Hasil penelitiannya menemukan bahwa masyarakat Sunda menggunakan beragam unsur alam dalam penamaan daerah. Salah satunya berkenaan dengan air.

Prof. Cece Sobarna, M.Hum. mengungkapkan ilmu toponimi ini bagian dari bidang linguistik yang mengkaji asal-usul penamaan suatu tempat atau wilayah. “Toponimi berasal dari bahasa Yunani topos ‘tempat’ dan onyma ‘nama’. Manusia dan lingkungan seyogyanya berjalan secara selaras. Sikap dan pandangan masyarakat terhadap lingkungan terungkap melalui bahasa. Penamaan tempat yang menggunakan bahasa lokal memiliki asal-usulnya yang berasal dari sikap dan pandangan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut,” paparnya.

Dia memberi contoh seperti nama daerah Dago di Bandung, yang dalam bahasa Sunda artinya menunggu. “Jadi, dahulu daerah Bandung itu masih banyak hutannya dan hewan buas banyak berkeliaran sehingga masyarakat menjadikan tempat itu sebagai tempat tunggu,” jelasnya.

“Lalu tempat wisata Tangkuban Perahu yang seperti kita tahu mempunyai cerita tentang seorang anak yang jatuh cinta pada ibu kandungnya. Artinya, setiap tempat memiliki asal-usul tersendiri, mengapa masyarakat menamainya dengan sebutan tersebut. Namun, bahan perekam kebudayaan dari penamaan tempat ini sudah banyak yang kehilangan acuannya. Maka dari itu harus ada perekaman untuk mengetahui ciri khas dari suatu daerah dengan cara menanyai sesepuh yang tinggal di daerah tersebut. Karena sesepuh ini umurnya sudah tua, maka perlu adanya perekaman. Jika tidak ada lagi sesepuh, kita bisa mengacu pada kamus,” tambah Prof. Cece Sobarna, M.Hum.

Kemudian paparnya dalam toponim terkandung pandangan dan pemahaman terhadap lingkungan. Selain itu terangnya toponim mencerminkan identitas masyarakatnya dan dapat memberikan gambaran budaya masa silam dan bagaimana pergerakan manusia terjadi,

“Pada saat ini banyak kasus yang meng-indonesiakan nama tempat bahkan menyebut dengan bahasa Inggris. Di Bandung sekarang sudah banyak nama wisata yang menggunakan sebutan park. Padahal kita bisa menyebut dengan sebutan taman. Biasanya penamaan dengan bahasa Inggris ini untuk menarik minat para wisatawan. Misalnya, tempat wisata Green Canyon di daerah Pangandaran, padahal nama asli dari tempat itu Cukang Taneuh. Ini dinamakan oleh wisatawan sendiri yang merasa tempat ini mirip dengan Green Canyon di Amerika Serikat,” katanya.

Foto 2: Prof. Cece Sobarna, M.Hum. saat tampil di link Zoom

Menurutnya kita bisa memakai nama tempat yang sudah ada sebelumnya. “Dengan Toponim, nama tempat dipertahankan demi perekaman riwayat pergerakan manusia pada saat itu. Sejarah yang melatarbelakanginya bermanfaat untuk kebijakan tata ruang dalam mengembangkan pariwisata alam dan budaya,” jelas Prof. Cece Sobarna, M.Hum.

Ria Febrina, S.S., M.Hum. sebagai Ketua Panitia Kuliah Umum, menjelaskan kajian tentang nama-nama daerah saat ini mulai diminati. Salah satu alasannya adalah banyak kekeliruan dalam menamai daerah di Minangkabau saat ini. Banyak nama daerah yang menggunakan bahasa Minangkabau yang di-indonesiakan sehingga bentuk penamaan menjadi janggal. Padahal, nama-nama daerah merupakan warisan kebudayaan dalam bentuk data kebahasaan yang memuat pengetahuan lokal yang perlu diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, perlu perhatian khusus mengenai kajian tentang nama-nama daerah.

“Di Minangkabau penamaan suatu daerah sangat beragam, juga ada diambil dari alam, seperti Gunuang Sariak (bambu), Parak Karambia (kelapa). Kajian ini menarik karena berkenaan dengan historis daerah tersebut. Kita meminta Prof. Cece memberi kuliah umum untuk membuka pandangan mahasiswa Unand, khususnya mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia bahwa kajian mengenai nama-nama daerah ini menarik. Mahasiswa bisa mengkaji nama-nama daerah di tempat mereka untuk penelitian skripsi nantinya. Dengan demikian, riset mahasiswa ke depan dapat beragam karena riset tentang penanaman di Unand belum terlalu banyak,” papar Ria Febrina, S.S., M.Hum. saat diwawancarai melalui pesan via WhatsApp.

Harapnya, kajian tentang nama daerah dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah itu. Nama daerah yang memiliki nilai historis akan menarik minat orang untuk datang, apalagi jika didukung oleh kondisi alam atau wilayah yang berpotensi memberikan nilai lebih kepada wisatawan. Selain itu, sebutnya kajian tentang nama juga menarik untuk diusulkan kepada pihak tertentu, seperti pemerintah daerah agar mempertimbangkan nilai tertentu dalam pemberian nama pada daerah baru, khususnya untuk menarik minat wisatawan. “Misalnya, di pantai Air Manis, saat ini ada daerah yang belum memiliki nama,” Ria Febrina, S.S., M.Hum. mencontohkan.

Pemko Padang ungkapnya sedang menyiapkan nama yang bagus untuk menarik minat wisatawan dan berkenaan dengan sejarah yang ada di sana. “Salah satu nama jalan yang diusulkan ialah nama Marah Roesli agar masyarakat paham bahwa Siti Nurbaya itu merupakan roman karya Marah Roesli. Selama ini masyarakat meyakini bahwa Siti Nurbaya itu ada, padahal Siti Nurbaya merupakan tokoh rekaan Marah Roesli dalam roman Siti Nurbaya. Dengan pemberian nama yang mempertimbangkan aspek historis, kita dapat mengedukasi masyarakat tentang kebenaran yang ada,” tambahnya.

Editor: Ayendi, Reporter: Nabilla Hanifah, Admin: Tri Eka Wira

25 September 2020

Foto 1: Peserta OPBM 2020

FIB – Dalam rangka penyambutan mahasiswa baru FIB Unand 2020, Fakultas Ilmu Budaya melaksanakan kegiatan OPBM 2020 sebagai bentuk peresmian dan pengenalan mahasiswa baru terhadap fakultas. Kegiatan OPBM 2020 ini dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada tanggal 4-5 September 2020.

Pada tahun ini, kegiatan OPBM yang biasanya dilaksanakan langung dilingkungan Fakultas dialihkan secara daring untuk mematuhi protokol kesehatan serta menjaga keselamatan peserta agar terhindar dari pandemi Covid 19 yang masih menyebar. Kegiatan OPBM 2020 ini dipandu langsung oleh pembawa acara yang berasal dari Humas protokoler FIB Unand yaitu Amelia Fortuna dan Debby Noviana Rifani.

Acara dibuka secara langsung oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Dr. Hasanuddin, M.Si. Dalam penyambutannya dekan menyampaikan ucapan selamat kepada mahasiswa baru yang diterima di Fakultas Ilmu  Budaya dan juga berpesan kepada orang tua/wali mahasiswa baru.

“ Selamat datang di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Orang tua/wali putra-putri terbaik yang akan mengikuti masa studi sarjana 4-6 tahun. Pandemi Covid-19 memaksa kuliah daring semester ini. Kesulitan kuota dan biaya internet tentu akan menjadi kendala. Maka dari itu kita tidak boleh menyerah dan kalah. Mohon bapak/ibu bantu dampingi dan kawal anak-anak kita. Tantangan ke depan makin berat untuk menghadapi RI 4.0 dan bonus demografi sekali lagi kita tidaK boleh menyerah,” pesannya.

Selanjutnya Dr. Hasanuddin, M.Si. memperkenalkan pimpinan-pimpinan yang berada di Fakultas Ilmu Budaya dimulai dari wakil dekan, tata usaha, staf keuangan dan dekanat, bagian umun, kepegawaian & kemahasiswaan, ketua prodi magister, serta ketua dan sekretaris masing-masing jurusan.

Penyambutan dilanjutkan oleh Wakil Dekan I, Dr. Gusdi Sastra, M.Hum. yang menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan akademik perkuliahan.  Dalam pemaparannya Dr. Gusdi Sastra, M.Hum. menjelaskan tentang aturan-aturan SKS perkuliahan dari masing-masing jurusan  serta program Fast Track S2 perkuliahan bagi mahasiswa S1.

“Bagi orangtua diharapkan dapat membantu dan memperhatikan anaknya di saat berkuliah nanti karena sekarang pengaruh lingkungan sangat kuat sekali sehingga anak-anak kita di rantau dapat dikontrol karena tidak cukup oleh pimpinan fakultas saja juga perlu peran orangtua agar nanti anak-anak kita dapat sukses,” pesan Dr. Gusdi kepada orangtua yang turut menyaksikan acara. 

Sebagai pemateri ketiga adalah Wadek II, Drs. Rumbardi, M.S.c yang menginformasikan kepada mahasiswa baru mengenai sarana prasarana, keuangan dan kepegawaian. Materi yang disampaikan  berisikan tentang hak dan kewajiban mahasiswa serta peran dari orangtua/wali. Mahasiswa diharapkan dapat memaksimalkan semua fasilitas yang telah disediakan agar dapat mengembangkan kecerdasan dan kreatifitas mahasiswa. Selain itu mahasiswa juga dapat mengambil haknya dan dapat mengerjakan kewajibannya

“Mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kompetensi diri untuk meningkatkan kesejahteraan serta mengikuti perkuliahan untuk mengejar prestasi dan mendapatkan haknya  serta memenuhi kewajibannya sebagai mahasiswa,” tutupnya.

Selanjutnya materi OPBM dilanjutkan oleh Wadek III, Imelda Indah Lestari, S.S., M.Hum. yang mengurus bagian kemahasiswaan dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan serta pelayanan kesejahteraan mahasiswa, serta peran organisasi terhadap perkembangan mahasiswa

“Organisasi merupakan wadah dari pengembangan diri mahsiswa kearah perluasan wawasan dan peningkatan kecendikiawanan serta integritas kepribadian untuk menuju tujuan pendidikan tinggi. Kita berharap selesai dari universitas mahasiswa bisa exist tidak hanya sebagi pegawai negeri tapi juga dapat membuka lapangan kerja,” ucapnya.

Sesi terakhir adalah tanya-jawab dari orangtua mahasiswa kepada pimpinan fakultas yang umumnya bertanya tentang persiapan yang harus dilakukan sebagai mahaasiswa baru yang akan berkuliah dan informasi mengenai belajar online. Menanggapi hal demikian pimpinan fakultas menyampaikan bahwa jika mahasiswa atau orangtua mengalami kendala dapat menghubungi fakultas karena pihak fakultas akan membantu jika ada yang mengalami masalah.

 

Foto 2: Pembawa Acara OPBM 2020

Editor: Ayendi, Reporter: Muhammad Vernando, Admin: Tri Eka Wira

pornstar xxx tube
Huge Tittyfucking Creampie
moviesporno.biz double anal sex
porn video categories
adult porn videos
asian porn movies
briggi adventure in morocco Fucked In My Maid Outfit
xxx porn tube
hot porn tube
xxxteenhub.info
sextresss.xyz free porn video xvideosporn.club xssn.net hdxxxporn.club asianpornxxx.info
hotporntub.info freeporntix.info hubpornindian.info hotmomsteen.xyz nesaporns.xyz
xhaloporn.com xpornfly.com sexporndays.com
realpornfilms.com
sexmaxfree.xyz duvporno.org
toutpornxxx.org adultpornmovie.ws
hpornvideo.com xpornrelax.com
mobilpornfilm