07 Agustus 2020

FIB - Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas menyelenggarakan Kuliah Umum bersama Wali Kota Padang, Buya Mahyeldi Ansharullah. Kuliah Umum yang bertajuk "Sastra dan Identitas Kota dan Membagun Pariwisata Berbasis Sastra" tersebut dilaksanakan pada Kamis, 6 Agustus 2020 pukul 09.30 s.d. 12.00 WIB. Acara tersebut disiarkan langsung dari Ruang Seminar FIB Unand melalui aplikasi Zoom dan live di  kanal YouTube Humas FIB Unand. Kuliah Umum ini dimoderatori oleh Dr. Syafril, M.Si., Kaprodi S-2 Kajian Budaya FIB Unand.

Ketua Jurusan Sastra Indonesia, Dr. Aslinda, M.Hum. memberikan sambutan sekaligus laporan terkait kegiatan kuliah umum. Dalam sambutan yang diberikan, Dr. Aslinda, M.Hum. menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta, terutama kepada Wali Kota Padang, pimpinan fakultas, dosen, civitas akademika, serta mahasiswa yang telah hadir pada kuliah umum dengan topik "Sastra sebagai Identitas Kota" tersebut.

"Kami sangat beruntung bisa menyelenggarakan kuliah umum dengan topik "Sastra sebagai Identitas Kota" bersama Bapak Wali Kota Padang. Terima kasih kepada seluruh panitia yang telah menyelenggarakan kuliah umum ini. Semoga acara kita ini dilancarkan dan diberi rahmat oleh Allah Swt.," ujar Dr. Aslinda, M.Hum.

Selanjutnya, kuliah umum ini dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Dr. Hasanuddin, M.Si. Dalam sambutan yang diberikan, Dekan FIB Unand menceritakan kembali pendirian Fakultas Ilmu Budaya (awalnya Fakultas Sastra dan Sosial Budaya) yang dilakukan pada 1956 oleh Wakil Presiden Dr. Muhammad Hatta.

“Ide tersebut dihangatkan terus oleh tokoh-tokoh nasional asal Minangkabau, seperti oleh Hamka dan Prof. Bahder Djohan (Presiden Universitas Indonesia). Hal tersebut menjelaskan fakta Kota Padang, Sumatera Barat atau Minangkabau dalam konstelasi keindonesiaan. Tidak dapat dibantah bahwa Minangkabau (atau Sumatera Barat secara administratif) merupakan ranah yang melahirkan banyak tokoh pelopor dalam tatanan keindonesiaan,” ungkap Dr. Hasanuddin, M.Si.

Dr. Hasanuddin, M.Si. juga menjelaskan bahwa dalam ranah politik dan tata negara misalnya, tiga dari empat the Founding Fathers NKRI adalah orang Minangkabau. Dalam ranah kesusasteraan, sejak awal Abad ke-20, melalui Balai Pustaka dan lainnya, banyak sastrawan Minangkabau yang menjadi pelopor kelahiran kesusastraan Indonesia. Demikian pula dalam ranah jurnalistik, tokoh-tokoh Minangkabau, tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan, seperti Rohana Kudus, tidak dapat diabaikan perannya yang signifikan, yang sesungguhnya melebihi peran Kartini dalam kepeloporan memajukan perempuan Indonesia secara nyata.

Pada kesempatan itu, Dr. Hasanuddin, M.Si. juga menyatakan bahwa selama 38 tahun Fakultas Ilmu Budaya di Univesitas Andalas, keberadaannya nyaris sepi-sepi saja. Hal ini dikarenakan di antara dunia pendidikan tinggi dan dunia pemerintahan umum sepertinya ada tembok pembatas sehingga keduanya ada dalam dua dunia terpisah. Oleh karena itu, pertemuan dalam kuliah umum tersebut merupakan forum yang sangat penting yang mempertemukan Wali Kota Padang dengan akademisi Fakultas Ilmu Budaya dalam suasana yang nyaman dan konstruktif. Tujuan dan harapannya adalah agar kecemerlangan dan kepeloporan masyarakat Minangkabau Sumatera Barat masa lalu mampu dibangkitkan kembali dan Kota Padang sebagai ibukota provinsi menjadi tumpuan harapan utama.

"Walaupun Pak Wali Kota sesungguhnya telah mengenal FIB karena beliau adalah alumni Unand juga, kepada beliau disampaikan posisi dan potensi FIB saat ini. Secara kelambagan, FIB Unand memiliki lima jurusan sarjana dan empat prodi pascasarjana. FIB Unand mengundang Pak Wali Kota mengirimkan dengan penugaskan agar Staf OPD Kota Padang turut menimba ilmu di Pascasarjana FIB. Di samping ada Prodi Linguistik, Sejarah, dan Sastra, juga ada Prodi Magister (S2) Kajian Budaya yang memang memiliki visi dan misi memperkaya keilmuan aparat sipil yang berkarakter, arif, dan bijaksana dalam menjalankan tugas dan kepemimpinan berbasis budaya lokal tanpa mengabaikan aspek-aspek kebudayaan nasional dan global," ucap  Dr. Hasanuddin, M.Si.

Bukan hanya itu, Dr. Hasanuddin, M.Si juga menyebutkan FIB Unand saat ini telah mengembangkan kurikulum muatan lokal bahasa dan sastra Minangkabau untuk jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP). Kurikulum tersebut telah dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Pariaman sebagai kurikulum wajib muatan lokal pada tahun ajaran 2020—2021. Kota Padang sepatutnya juga segera mengakomodasi hasil rekayasa pendidikan tersebut. Sebab, bukankah Pak Wali Kota sangat concern terhadap pendidikan karakter. Oleh karena itu, FIB Unand siap mendampingi pendidikan muatan lokal Kota Padang, mulai dari kurikulum, silabus/RPP/LKPB, bahan ajar sampai ketersediaan SDM guru yang mumpuni. Pemerintahan kota tinggal menerbitkan regulasi kurikulum dan rekruitmen guru yang bisa dalam bentuk Peraturan Walikota (Perwako).

"FIB Unand juga punya unit kegiatan sastra, teater, kesenian, film, dan lainnya. Untuk mendukung kehidupan kota yang beridentitas sastra dan budaya yang khas, FIB Unand siap berkolaborasi. FIB Unand siap bersinergi menghidupkan Kota Padang dengan atraksi berkualitas (otentik dan eksotik). Lengkapnya, Kota Padang mesti dikembangkan sebagai Kota Sastra Berbudaya. Budaya produksi sastra hidup subur, Pendidikan Karakter berbasis ABS-SBK berjalan, aktifitas Literasi Anak maju, Pendidikan Muatan Lokal terkawal dengan baik, dan Pariwisata Budaya-Wisata Sastra menjadi icon kepariwisataan Kota Padang," tambahnya.

Berkaitan dengan kuliah umum dan kegiatan akademik lainnya, menurut Dr. Hasanuddin, M.Si., pertemuan antara Kepala Pemerintahan Umum (Walikota/Bupati/Gubernur) dengan akademisi dalam suasana seperti ini, baik malalui kuliah umum maupun seminar atau kegiatan akademik lainnya, perlu terus digiatkan. Di sinilah terjadi interaksi yang positif dan cair sehingga berbagai kolaborasi dapat diwujudkan. Kegiatan serupa diharapkan akan terus digelar dengan output yang diharapkan jelas dan terukur.

Sambutan Dekan FIB Universitas Andalas tersebut meresmikan kuliah umum Jurusan Sastra Indonesia. Setelah diberikan sambutan, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi kuliah umum oleh Wali Kota Padang, Buya Mahyeldi Ansharullah. Menurut Buya Mahyeldi Ansharullah, tema "Sastra sebagai Identitas Kota" tepat sekali untuk diselenggarakan karena Kota Padang sebagai ibu kota Provinsi Sumatra Barat yang merupakan provinsi yang memiliki falsafah "adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah". Sebagai falsafah kehidupan masyarakat Minangkabau, nilai-nilai sastra tentu harus ada di setiap daerah dan setiap kota di Sumatra Barat.

"Dengan adanya falsafah tersebut, harus ada tampak di kotanya baik dalam bentuk kegiatan-kegiatan maupun berbagai bentuk lainnya seperti penghargaan bagi tokoh-tokoh sastrawan Minangkabau sebagai nama-nama jalan yang ada di Kota Padang," ungkapnya.

Buya Mahyeldi Ansharullah mengatakan bahwa sastra telah menjadi bagian dari pengalaman hidup manusia sejak dahulu, baik dari aspek manusia sebagai penciptanya maupun aspek manusia sebagai penikmatnya.

"Kita mengetahui bahwa banyak karya sastra yang merupakan curahan pengalaman ataupun juga batin dari manusia itu sendiri tentang fenomena kehidupan sosial dan budaya masyarakat pada masanya. Maka dari itu, tentu seluruh masyarakat di mana pun mereka berada, mampu mencurahkan ide ataupun gagasannya dalam bentuk tulisan. Semua manusia pada dasarnya memiliki nilai-nilai sastra sesuai dengan keadaan yang ada di kehidupannya masing-masing," tambahnya.

Sebagai penikmat karya sastra, sejak masa lampau masyarakat Indonesia telah disuguhi dengan bentuk-bentuk karya sastra. "Pada umumnya, pahlawan-pahlawan Indonesia memiliki pedang, seperti Pattimura dan Sisingamangaraja yang memiliki pedang atau senjata, tetapi lain halnya dengan pahlawan Sumatra Barat yang tidak memiliki pedang, tetapi ada pena dalam sakunya. Kenapa bisa demikian? Inilah bentuk kelebihan masyarakat Minangkabau dalam berpikir. Ditambah lagi dengan pepatah "bakilek ikan dalam tabek, lah jaleh jantan jo batino". Jadi intinya, masyarakat Minangkabau itu memiliki ide-ide yang begitu banyak karena mampu melihat atau menerawang apa yang ada di balik sesuatu," ujar Buya Mahyeldi Ansharullah.

Wali Kota Padang, Buya Mahyeldi Ansharullah juga menjelaskan  bahwa untuk menumbuhkan sastra guna kemajuan kota dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya memberikan ruang sekaligus mendorong untuk lahir dan tumbuhnya karya sastra bermutu, memberikan apresiasi untuk karya sastra, menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi dalam masyarakat, dan tentunya menjadikan karya sastra sebagai bagian dari kemajuan kota.

"Dengan hadirnya sastra dan budaya Minangkabau di Kota Padang, hal tersebut akan menjadikan Kota Padang menjadi kota yang lebih maju dalam bidang pariwisata dan dapat menjadikan sastra sebagai identitas kota," pungkasnya.

Dr. Syafril, M.Si. selaku moderator menanggapi dengan baik apa yang disampaikan oleh Wali Kota Padang tersebut. Ia berpendapat bahwa apa yang disampaikan oleh Buya Mahyeldi Ansharullah sesuai dengan tujuan diselenggarakannya acara tersebut. Apalagi, Wali Kota Padang menyampaikan banyak hal tentang perkembangan sastra di Kota Padang, terutama ketika Buya Mahyeldi Ansharullah menyampaikan usulan untuk menciptakan perkampungan sastra di Kota Padang.

Salah seorang peserta dalam kuliah umum tersebut, Elly Delfia, S.S., M.Hum., juga memberikan tanggapan terhadap terselenggaranya kuliah umum tersebut. Ia mengungkapkan bahwa kuliah umum kali ini mengangkat topik yang menarik dan beda. Ia berharap semoga dengan adanya kuliah umum ini dapat menjadikan Kota Padang dan Sumatera Barat sebagai kota sastra dan kota film di Indonesia karena Sumatra Barat telah banyak melahirkan sastrawan yang diakui di tingkat nasional, seperti Hamka, Marah Rusli, Taufik Ismail, dan Khairil Anwar.

"Sudah selayaknya predikat sastra dan film menjadi identitas Kota Padang dan Sumatra Barat," tegasnya.

Dr. Zumailis, M.Hum., Ketua Panitia Kuliah Umum tersebut mengungkapkan bahwa acara berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang diharapkan, seperti akan adanya kerja sama berkelanjutan membangun kota menekankan pada berfungsinya sastra dan adanya kontribusi para akademisi maupun sastrawan di dalamnya.

"Apalagi, adanya rencana pembangunan kampung sastra; penamaan jalan menggunakan nama sastrawan Minangkabau; serta menjadikan seni, termasuk sastra sebagai ekstra kurikuler dalam program pendidikan lima hari di sekolah dan dua hari di luar sekolah," lanjutnya.

Dr. Zumailis, M.Hum juga menyampaikan harapan semoga kuliah umum ini menjadi kerja sama yang baik antara Jurusan Sastra Indonesia dan Fakultas Ilmu Budaya secara umum dengan pemangku kebijakan di tingkat kota.

Reporter: Annisa Tri Mulyani, Editor: Lusi Andriani dan Ria Febrina, Admin: Tri Eka Wira

07 Agustus 2020

FIB - Selasa, 4 Agustus 2020, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat Wilayah Kerja Provinsi Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sumsel menyelenggarakan diskusi daring yang ke-12. Bertajuk “Dialog Pelestarian Nilai Budaya Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera”, salah seorang narasumber dalam diskusi daring ini ialah Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan, Guru Besar Sejarah FIB Universitas Andalas. Narasumber lainnya, yaitu Dr. Siti Fatimah, M.Pd., M.Hum., Dosen Universitas Negeri Padang dan Drs. Ajisman, Peneliti Ahli Madya BPNB Sumatera Barat. Webinar ini diselenggarakan melalui aplikasi Zoom dan live YouTube BPNB Sumbar.

Dalam webinar kali ini, Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan memaparkan materi tentang “Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera”. Di awal pemaparanya, beliau menyampaikan harapan agar materinya ini dapat memberikan gambaran yang lebih luas tentang dunia maritim Pantai Barat Sumatera.

Dalam materinya, beliau mengatakan bahwa Pantai Barat Sumatera merupakan suatu kawasan yang memiliki potensi untuk memberikan kontribusi atau sumbangan terhadap budaya maritim dan warisan budaya tak benda, benda, ataupun warisan budaya lainnya.

“Semakin banyak yang dibicarakan, semakin banyak aspek yang menarik untuk dikaji. Akhir-akhir ini semakin banyak topik yang hadir mengenai Pantai Timur Sumatera. Ibu Fatimah pun tadi juga sudah membicarakan mengenai surau atau masjid. Lalu, ada kajian arkeologis, cerita rakyat, sastra, seni tradisi-tradisi maritim, dan lainnya,” jelas Prof. Gusti.

Membahas mengenai Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera, sama halnya membicarakan tentang daerah kawasan pantai atau pesisir di bagian Barat Sumatera, bicara tentang perairan di Pantai Barat Sumatera dan bicara tentang unsur-unsur atau aspek-aspek maritim.

“Kalau kita membicarakan mengenai Pantai Barat Sumatera berarti kita membicarakan wilayah dari ujung selatan hingga utara di bagian barat Pulau Sumatera ini,” lanjutnya.

Di samping konteks geografis, Pantai Barat Sumatera juga bermakna sebagai sebuah konsep administratif (politis). Nama ‘Pantai Barat Sumatera’ digunakan sebagai nama wilayah pada masa Pemerintahan Belanda dan Inggris, seperti Hoofdcomptoir van Sumatra’s Westkust (Belanda) dan Residency of Sumatra’s West Coast (Inggris). Terdapat berbagai aspek-aspek maritim dalam Dunia Pantai Barat Sumatera. Namun dalam pemaparan materi kali ini, Prof. Gusti berfokus pada pelayaran dan perdagangannya saja.

“Dunia pelayaran di Pantai Barat Sumatera telah menjadi bagian dalam sejarah Perairan Pantai Barat Sumatera sejak masa prasejarah, terutama bagi orang-orang Nusantara. Jadi, orang Nusantara, khususnya di Pantai Barat Sumatera telah menjadi pengarung laut dulunya tidak diragukan lagi. Banyak sekali bukti-bukti sejarah yang telah diungkapkan oleh ilmuwan-ilmuwan terkenal yang membicarakan hal tersebut. Salah satunya yaitu ekspedisi Kapal Borobudur,” papar Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan.

Lebih lanjut, Prof. Gusti menyampaikan bahwa perdagangan dan pelayaran di Pantai Barat Sumatera menimbulkan adanya percampuran budaya akibat interaksi dengan dunia luar. Banyak sekali peninggalan-peninggalan yang masih ada hingga sekarang, seperti tinggalan kuliner, seni, pakaian, bahasa, tradisi/budaya, dan lainnya.

“Peninggalan budaya-budaya ini saling berhubungan antara satu daerah dengan daerah lain, atau dengan bangsa-bangsa luar. Peninggalan ini juga sampai sekarang masih kita hargai. Selain itu, tinggalan budaya di Pantai Barat Sumatera masih banyak yang belum terungkap dan terkaji secara detail. Inilah sebuah peluang bagi kita untuk mengungkapkannya di masa sekarang dan masa yang akan dating,” pungkasnya.

 

 Reporter: Febriani Rahayu Putri, Editor: Lusi Andriani, Admin: Tri Eka Wira