10 Juli 2020

FIB - Senin, 06-07-2020, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., Dosen Jurusan Sejarah FIB Unand menjadi narasumber dalam diskusi daring via Zoom. Diskusi tersebut bertajuk “Cagar Budaya dan Industri Kreatif” yang diadakan oleh Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komda Sumatra Bagian Tengah bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat.

Narasumber lainnya ialah Irwan Malin Basa, M.Pd., dosen IAIN Batusangkar/Pelopor dan Pemilik HKI Batik Pariangan dan Drs. Roby Ardiwidjaja, M.B.I.T., peneliti senior bidang Kepariwisataan Kemenpar.

“Pola-pola hias yang ada pada cagar budaya memiliki kapasitas untuk mendukung industri kreatif. Revitalisasi hiasan kuno perlu dilakukan karena di samping dapat menggali potensi kesejarahan, dapat menggali akar budaya nilai-nilai seni yang sudah tua. Seperti mengembangkan hiasan kuno tersebut menjadi motif batik,” tutur Prof. Dr. Herwandi, M.Hum.

“Sampai hari ini, industri batik mulai diminati oleh masyarakat, tetapi belum mampu menjadi bagian produsen bagi masyarakatnya sendiri, gairahnya hanya untuk kalangan-kalangan tertentu. Banyak produk batik yang dipesan atau pengerjaannya di Jawa sementara motifnya berasal dari Minangkabau.

“Sumatra Barat memiliki tenaga dan sumber daya manusia pengrajin batik sekitar tidak lebih dari 120-an orang. Ini termasuk jumlah yang minim. Lalu, pengrajin ini tidak pula memahami filosofi seni adat Minangkabau sehingga yang dihasilkan sesuai dengan tuntutan pasar. Batik yang dilahirkan tidak mencerminkan filosofi adat Minangkabau sehingga motif batik yang dihasilkan tidak bersifat abstrak dan lebih menggambarkan makhluk hidup. Padahal, itu bertentangan dengan filosofi orang Minangkabau.”

Oleh karena itu, kami menciptakan sejumlah motif-motif yang bersumber dari artefak, yakni warisan-warisan budaya Minangkabau dari masa prasejarah sampai bangunan adat yang muncul di Minangkabau. Ada sekitar 50 motif yang kami lahirkan dari artefak. Kemudian, kami pindahkan medianya menjadi bagian dari batik. Cara lainnya ialah merevitalisasi hiasan-hiasan tersebut. Lalu, kami pertahankan filosofi adat Minangkabaunya. Motif-motif ini sudah terdaftar dalam HKI,” tambah Prof. Dr. Herwandi, M.Hum.

Pemateri selanjutnya, Irwan Malin Basa, M.Pd. masih berbicara terkait industri batik. Namun, lebih memfokuskan pada industri batik di Pariangan.

“Industri kreatif dapat dikembangkan menjadi motif batik dari naskah dan dengan teknologi tradisional di Pariangan. Motif batik ini berasal dari iluminasi naskah yang ada di Pariangan. Naskah ini berasal dari koleksi Surau Tarekat Syatariah Parak Laweh, Pariangan. Ada sekitar 127 manuskrip. Pemilik naskah bersedia mengembangkan naskahnya dalam berbagai bentuk kajian, industri, dan berbagai ragam pengembangan. Alat yang digunakan dalam membatik masih bersifat tradisonal, yakni kain, lidi, enau, periuk, tungku, air putih, cuka, dan tawas,” ujar Irwan Malin Basa, M.Pd.  

“Lalu, ada 15 jenis tumbuhan yang dijadikan menjadi bahan pewarna kain. Selain menjadi kain batik, motif batik ini dibuat menjadi kaus. Pada akhirnya, industri batik ini menjadi ciri khas dari Pariangan. ASN dan pelajar di Pariangan memakai batik ini sehingga menjadi batik lokal. Juga, sebagai oleh-oleh khas Pariangan. Saat ini, sudah ada 25 motif yang sudah memiliki legalitas HKI sebagai merek industri,” lanjut Irwan Malin Basa, M.Pd.

Selanjutnya, Drs. Roby Ardiwidjaja, M.B.I.T. selaku peneliti senior bidang Kepariwisataan Kemenpar menyampaikan bahwa pariwisata berkelanjutan yang ditawarkan berupa pariwisata petualangan.

“Pariwisata berkelanjutan, kami mencoba menawarkan wisata petualangan. Di awal kami menyampaikan di Amerika, Institut Arkeologi di Amerika bekerja sama dengan operator petualangan. Kenapa pertualangan? Petualangan adalah suatu konsep yang minim infrastruktur. Situs tersebut adalah infrastruktur. Kita bisa masukkan ke dalam konsep wisata petualangan karena salah satunya adalah wisatawannya sudah siap merasakan pengalaman dan pengetahuan,” tutur Drs. Roby Ardiwidjaja, M.B.I.T.

“Lalu, wisata petualangan ini memiliki kelebihan, yakni bisa memadukan ragam produk wisata alam dan budaya. Juga pengeluaran yang dikeluarkan oleh wisatawan langsung diterima oleh masyarakat lokal karena yang mengakomodasi adalah masyarakat setempat,” lanjut Drs. Roby Ardiwidjaja, M.B.I.T.

 

Reporter: Nabilla Hanifah, Editor: Lusi Andriani, Admin: Tri Eka Wira

08 Juli 2020

(Foto 1: Lapak Baca Komunitas Sudut Lintau di Sanggar Silek Ustano Buo, Lintau Buo)

FIB - Sebagai salah satu betuk perwujudan dari proker KKN Tematik FIB Unand 2020, Defika Irma Suryani (Sastra Inggris), Nur Azizah Fristi Efendi (Sastra Indonesia), dan Frans Tri Nanda (Sastra Indonesia) pelopori berdirinya sebuah Komunitas Sudut Baca yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat Lintau Buo IX Koto.

Komunitas Sudut Baca ini merupakan wadah untuk pemuda dan mahasiswa Lintau dalam pengembangan minat baca dan juga menulis. Selain itu, melalui Komunitas Sudut Baca ini, para pemuda Lintau bisa mengadakan diskusi-diskusi santai seraya bertukar pikiran mengenai beragam bacaan. Nantinya, juga akan ada pelaksanaan bedah buku yang akan dilakukan secara reguler.

“Selama tiga bulan terakhir, mahasiswa-mahasiswa yang biasanya kuliah di berbagai kampus di seluruh Indonesia hanya diam di rumah tanpa kegiatan karena berlakunya peraturan PSBB. Dengan adanya sistem new normal, membuka kesempatan untuk kita menjalani tatanan hidup baru, tak terkecuali dengan mendirikan sebuah komunitas,” ucap Defika.

Salah satu program yang diadakan oleh Komunitas Sudut Baca ialah mengadakan lapak baca di seluruh sanggar silek yang berada di Lintau. Sanggar silek dipilih untuk membuka lapak baca supaya anak-anak yang sedang berlatih silek tertarik terhadap berbagai bacaan yang disediakan dan supaya mahasiswa dan pemuda Lintau yang tergabung dalam Komunutas sudut Baca dapat melihat bagaimana seorang anak belajar silek untuk bela diri sekaligus mempertahankan budaya Minangkabau, khususnya Silek Lintau.

Selain itu, komunitas ini tidak hanya sekadar mengadakan lapak baca, tetapi juga mengadakan pembacaan puisi karya penyair-penyair Indonesia, seperti pusi “Calon Jenazah” karya Joko Pinurbo dan  puisi “Sepotong Senja untuk Pacarku” karya Seno Gumira Ajidarma.

 

“Di Lintau Buo, terdapat beberapa sanggar silek. Di antaranya ada Sanggar Silek di Buo, Batu Bulek, dan Tanjuang Bonai. Kemarin sudah diadakan lapak baca di Sanggar Silek Buo. Untuk selanjutnya, akan diadakan bergantian dua kali seminggu di malam Rabu dan malam Minggu,” jelas Defika.

Hadirnya Komunitas Sudut Baca ini disambut antusias oleh warga. Terbukti ketika diadakan lapak baca di Sanggar Silek Ustano, Buo, masyarakat dan anak-anak yang datang meminjam beberapa buku, bahkan mengadakan diskusi kecil dengan anggota komunitas tentang buku yang membuat mereka tertarik tersebut.

(Foto 2: Foto anak-anak sanggar sedang membaca buku yang disediakan oleh Komunitas Sudut Baca Lintau)

“Kami juga berencana membuka lapak baca di tengah pasar. Namun, belum sempat terlaksana karena kondisi belum memungkinkan. Harapan saya, semoga Komunitas Sudut Baca dapat memberikan manfaat yang nyata terhadap masyarakat Lintau Buo dan semoga suatu saat anggota komunitas dapat menyumbangkan tulisan mereka di berbagai media cetak dan online di Indonesia,” ucap Defika.

Saat ini, Komunitas Sudut Baca sudah beranggotakan 15 orang. Komunitas Sudut Baca juga memiliki akun Instagram dengan nama akun @sudutbaca.lintau.

 

Reporter: Lusi Andriani, Admin: Tri Eka Wira

08 Juli 2020

FIB – Selasa, 7 Juli 2020, Elly Delfia, S.S., M.Hum., dosen Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand kembali diundang sebagai pemateri dalam Kelas Menulis Daring bertaraf internasional. Bertajuk “Kiat Memilih Diksi untuk Fiksi” kelas berlangsung di Grup WhatsApp Kelas Menulis Daring yang dikelola oleh Muhammad Subhan. Kelas Menulis Daring ini beranggotakan 255 orang yang berdomisi di Indonesia, Malaysia, dan Jerman.

Sebelumnya, perempuan yang lahir di Lubuk Napa, Pariaman dan pernah menjadi dosen tamu di Busan University of Foreign Studies (BUFS) di Busan, Korea Selatan pada 2015 ini juga pernah diundang sebagai pembicara dalam kelas yang sama, tetapi dengan bahasan fiksi.

Elly Delfia, S.S., M.Hum. yang akrab disapa Defi ini dalam menyampaikan “Kiat Memilih Diksi untuk Fiksi” terlebih dahulu menjelaskan pengertian diksi dan syarat memilih diksi. Menurut Defi, ada delapan syarat dalam memilih diksi. Syarat-syarat tersebut ialah sebagai berikut.

1) Bisa membedakan makna konotasi dan denotasi atau kata dengan gaya bahasa dan yang tidak, 2) bisa membedakan kata abstrak dan konkret, 3) bisa membedakan makna kata khusus dan umum, 4) bisa membedakan makna kata yang bunyinya mirip, 5) bisa membedakan makna kata berantonim dan bersinonim, 6) bisa membedakan kata baku dan tidak baku dengan berpedoman pada KBBI, 7) bisa menggunakan kata asing dan kata dari bahasa daerah, 8) bisa membedakan kata ilmiah dan kata populer.

Memilih diksi yang tepat untuk fiksi itu penting agar karya yang dihasilkan menarik. Sebab menurut Defi, kunci dari daya tarik fiksi adalah diksi yang tidak biasa. Berikut kiat-kiat yang mesti diperhatikan dalam memilih diksi untuk fiksi menurut Defi.

  1. Pilih diksi yang teratur agar karya yang dihasilkan tampak seperti lukisan

Contoh: menggunakan kata ganti orang yang teratur dari awal sampai akhir, misalnya ‘saya’ atau ‘aku’. Pilih salah satu.

  1. Pilih diksi yang menyentuh hati dan jiwa

Contoh: Puisi

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu”

(Aku Ingin, Sapardi Joko Damono)

  1. Pilih diksi yang menyentuh akal budi dan kesadaran

Contoh: “Bukan karena karyamu tidak bermutu, tapi dalam bekerja apa pun kita harus memiliki disiplin (Laskar Pelangi, Andrea Hirata)

  1. Pilih diksi yang jujur dan membebaskan

Contoh:

Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang

(Aku, Chairil Anwar)

  1. Pilih diksi yang mengandung gaya bahasa atau majas.

Kiat-kiat memilih diksi untuk fiksi yang disampaikan Defi ini membuat peserta kelas ingin menggali ilmu lebih dalam tentang diksi sehingga banyak pertanyaan yang muncul dari peserta. Salah satu pertanyaan yang muncul dari peserta ialah bagaimana kiat memilih diksi menyentuh agar tidak terkesan lebay?

Menanggapi pertanyaan tersebut, Defi mengatakan bahwa banyak membaca (baik membaca karya orang lain maupun membaca hidup dan kehidupan), banyak berdiskusi, dan tidak tergesa-gesa menyelesaikan karya ketika diksi masih biasa bisa dijadikan kiat memilih diksi menyentuh agar tidak terkesan lebay.

Terakhir, Defi menyatakan bahwa untuk dapat memilih diksi yang luar biasa, butuh proses dan butuh waktu yang lama. Karena itu, perlu terus belajar, banyak membaca, dan berdiskusi untuk menghasilkan karya-karya fiksi terbaik.

 

Reporter: Lusi Andriani, Admin: Tri Eka Wira

07 Juli 2020

FIB – Berawal dari mengikuti mata kuliah Menulis Kreatif, cerpen Suci Novita, mahasiswi Jurusan Sejarah FIB Unand angkatan 2017 ini terbit di Harian Singgalang. Cerpen yang berjudul “Perihal Bayang” ini terbit di Harian Singgalang pada Minggu, 28 Juni 2020.

Cerpen “Perihal Bayang” ini berkisah tentang seorang gadis bernama Hanggini yang datang ke sebuah kampung terpencil. Hanggini bersama teman-temannya pergi ke sebuah kampung terpencil untuk menghadiri pesta pernikahan salah satu teman sekelasnya, Yuyi.

Namun, kedatangan Hanggini ke kampung tersebut malah membuat ingatan masa lalunya muncul. Kisah pilu yang pernah dialaminya di masa lalu muncul kembali di pikirannya. Hal ini membuat keceriaan Hanggini berubah.

Suci  menuturkan bahwa cerpen “Perihal Bayang” ini ditulis lebih dari setahun yang lalu dan terinspirasi saat ia belajar di kelas Menulis Kreatif.