04 Juli 2020

(Foto 1: Diego Alpadani dan teman-teman saat melaksanakan kelas menulis di PKBM Air Mata Ibu)

FIB - Sebagai salah satu bentuk dari program kerja KKN Tematik FIB Unand 2020, Diego Alpadani bersama beberapa mahasiswa Sastra Indonesia lainnya mengadakan kelas menulis untuk anak-anak putus sekolah di sekolah masyarakat PKBM Air Mata Ibu Padang Lua, Kec. Banuhampu, Agam.

Bekerja sama dengan pemilik yayasan PKBM Air Mata Ibu, Diego Alpadani mengadakan kelas menulis fiksi (puisi/cerpen) untuk siswa paket b/setara dengan sekolah menengah pertama.

Dengan kelas menulis ini, Diego ingin menanamkan pada diri anak-anak tersebut bahwa menulis dan membaca itu penting, tidak melihat latar belakang, ekonomi, keluarga, dan hal lainnya. Ia juga berharap semoga anak-anak tersebut mendapat kesetaraan dengan pendidikan formal.

Jumlah peserta dari kelas menulis ini pada awalnya sebanyak lima belas orang. Namun seiring berjalannya waktu, peserta mulai berkurang menjadi sepuluh dan pada akhirnya delapan peserta.

Diego menjelaskan bahwa ada beberapa siswa yang benar-benar tekun untuk mengikuti kelas. Mereka mencatat materi tanpa harus disuruh dan mereka juga mengerjakan pekerjaan rumah berupa menulis puisi setelah diberi penjelasan mengenai puisi, ide, dan imajinasi.

“Beberapa siswa memang benar-benar berminat dan tekun mengikuti kelas. Sedangkan untuk beberapa siswa lainnya, mereka menganggap tidak pentingnya budaya literasi, untuk apa membaca untuk apa menulis. Mereka lebih sibuk dengan kesibukannya. Hingga pada akhirnya, mereka tidak ingin hadir,” ucap Diego.

(Foto 2: Salah satu puisi karya peserta kelas menulis)

Diego menjelaskan bahwa setelah beberapa hari mengajar kelas menulis untuk siswa putus sekolah, ia merasakan beberapa perbedaan antara siswa sekolah formal dengan siswa sekolah masyarakat yang merupakan sekolah kesetaraan untuk yang putus sekolah.

“Jika siswa-siswa sekolah formal berani bermimpi untuk masa depannya maka mereka yang putus sekolah dan menyambung ke sekolah kesetaraan seolah-olah takut untuk bermimpi tentang masa depannya. Mereka memandang dirinya tidak sama dengan siswa sekolah formal dari segi kesempatan untuk bermimpi. Bahwa impian mereka padam karena latar belakang sekolah masyarakat/kesetaraan/paket,” ungkap Diego.

“Sangat lucu, di usia setara siswa SMP untuk bermimpi dan bercita-cita saja mereka takut, hanya karena latar belakang sekolah mereka yang tidak formal,” imbuh Diego.

Diego juga mengatakan dengan masih takutnya anak-anak yang bersekolah di sekolah kesetaraan untuk bermimpi menimbulkan sebuah pertanyaan mendasar, ada apa dengan pendidikan di Indonesia?

 

Reporter: Defika Irma Suryani, Editor: Lusi Andriani, Admin: Tri Eka Wira

04 Juli 2020

Foto 1: Poster Film “Seloh”

FIB – Terinspirasi oleh keadaan sekitar, Rendra Al Muthardo, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Unand membuat sebuah film pendek berjudul “Seloh”. Film ini telah dipublikasikan pada 11-6-2020 di akun YouTube Studio Alinea produksi.

Seloh merupakan sebuah kosakata dalam bahasa Kerinci yang bermakna kangen atau rindu. Namun, bagi orang Kerinci sendiri, kata seloh memiliki makna yang lebih dalam. Rendra yang merupakan warga Kerinci menuturkan bahwa kata seloh mengandung makna-makna lain yang tidak dapat diungkapkan dalam kata kangen atau pun rindu yang mungkin hanya diketahui oleh orang Kerinci saja.

Film pendek “Seloh” menceritakan tentang sepasang kekasih yang berusaha menuntaskan ke-seloh-an yang mencekam dan harapan mereka yang ingin ke-seloh-an tersebut segera terbayar dengan tuntas.

“Kalau inspirasi bisa dari mana saja. Namun, akhir-akhir ini saya sering terinspirasi dari membaca keadaan sosial sekitar saya. Seperti memantau persoalan apa yang sedang hangat-hangatnya di kampung, atau mendengar diam-diam obrolan teman mengenai ke-seloh-an dan harapan pada kekasihnya. Juga, tak lepas dari pandemi covid-19 sih,” ucap Rendra.

Rendra memilih membuat film karena masyarakat di kampungnya lebih menerima dan menyambut penyampaian sesuatu melalui film daripada melalui tulisan.

Rendra yang juga aktif di UKMF Metasinema FIB Unand ini menuturkan dalam proses pembuatan film ini, ia berperan sebagai penulis naskah, sutradara, editor, bahkan DoP atau sinematografer. Hal ini dikarenakan tidak adanya teman di kampungnya yang bergiat di perfilman sehingga ia mengalami sedikit kesulitan dalam pembuatan film pendek ini.

Namun, ada beberapa sahabat yang turut membantu proses pembuatan film walaupun mereka tidak bergiat di dunia perfilman.

“Seluruh proses pembuatan film pendek ini dilakukan di Kerinci. Di rumah saya dan kuburan dekat rumah saya. Aktor yang terlibat adalah teman saya, Wewen dan Indah,” ucap Rendra.

(Foto 2: proses pembuatan film “Seloh”)

“Harapan saya, semoga tetap konsisten dan terus mengasah. Saya juga berharap masyarakat Kerinci, khususnya yang meminati perfilman menjadi bergairah dan hidup. Setidaknya lahir komunitas-komunitas film di Kerinci,” harap Rendra.

 

Reporter: Defika Irma Suryani, Editor: Lusi Andriani, Admin: Tri Eka Wira

02 Juli 2020

Foto: Suciati Agustin

FIB – Angkat tema politik dan romansa, puisi Suciati Agustin, mahasiswa Sastra Inggris FIB Unand terbit di Harian Singgalang. Puisi-puisi Suciati tersebut terbit pada Minggu, 14 Juni 2020.

Suci mengaku puisi ini terinspirasi dari sosok Soe Hok Gie yang merupakan seorang demonstran dari orde lama hingga orde baru. Ia terkenal dengan idealisme dan kemandiriannya dalam menyuarakan aksi. Melalui puisi ini, Suciati ingin pemuda-pemuda anak bangsa sekarang  mencontoh sosok Soe Hok Gie.

“Puisi ini merupakan puisi pertama aku. Alhamdulillah langsung terbit di Harian Singgalang. Puisi ini mengangkat tema politik dan romansa. Puisi ini lebih menceritakan tentang isi suara hati seorang kekasih yang diabaikan karena pasangannya yang selalu sibuk demo dan aksi terhadap pemerintah,” ujar Suciati.

“Aku ingin menyampaikan bahwa di Indonesia sekarang ini sedang tidak baik-baik aja. Masih banyak kita temukan ketidakadilan, ketimpangan. Nah, isu-isu inilah aku selip-selipkan ke dalam puisi ini dan berharap pesan yang aku bagi tersampaikan,” lanjut Suciati.

Suciati mengaku mengalami sedikit kesulitan saat awal-awal merangkai kata-kata. Hal ini dikarenakan Suciati merupakan anggota debat sehingga ia lebih banyak membaca jurnal dibandingkan membaca buku-buku puisi.

Ke depan, Suciati berharap agar mahasiswa lainnya, khususnya mahasiswa FIB Unand untuk banyak membaca, terus berkarya, selalu semangat, dan tidak menjadikan pandemi ini sebagai penghalang untuk tetap berkreativitas.

 

(Puisi-puisi Suci yang terbit di Harian Singgalang)

 

Reporter: Irma Suryani, Editor: Lusi Andriani, Admin: Tri Eka Wira