30 Jun 2020

FIB - Jurusan Sejarah FIB Unand adakan webinar pertamanya yang dilakukan secara daring pada Rabu, 24 Juni 2020. Webinar yang diselenggarakan via Zoom dan live YouTube ini mengangkat topik tentang “Etnisitas di Pesisir dan Pulau-Pulau Sebelah Barat Sumatera”. Webinar ini dimoderatori oleh Yenny Narny, S.S., M.A., Ph.D., dosen Jurusan Sejarah FIB Unand yang sekaligus ketua pelaksana webinar Sejarah.

“Webinar series ini merupakan webinar yang pertama bagi Jurusan Sejarah dan direncanakan akan dilaksanakan sebanyak empat kali sampai bulan Juli 2020. Seminar yang perdana ini kami mengangkat tentang etnisitas, yang kedua tentang sejarah pers dan pandemi, yang ketiga tentang sejarah film dan fotografi, dan yang terakhir, khusus tentang sejarah pandemi. Selain itu, Webinar series ini akan ditutup kira-kira pada bulan Oktober degan sebuah Internatinal Conference mengenai History of Health in ASEAN, sebuah topik mengenai sejarah kesehatan dengan skop internasional,” ujar Dr. Anatona, M.Hum., selaku Ketua Jurusan Sejarah FIB Unand.

Acara seminar daring ini dibuka secara resmi oleh Dekan FIB Unand, Dr. Hasanuddin, M.Si. Dalam sambutannya, Dr. Hasanuddin, M.Si. mengatakan bahwa Indonesia diibaratkan sebuah mosaik taman bunga yang beraneka warna. Jika warna tersebut dijadikan satu warna maka tidak ada nilainya. Indonesia baru indah jika dia beraneka warna. Oleh karena itu, untuk ke depannya, yang harus kita pertahankan adalah aneka warna tersebut serta harmoni antara warna.

“Mudah-mudahan seminar ini bisa berjalan dengan baik dan lancar, serta menambah silaturahmi antarkita sesama akademisi serta masyarakat Indonesia yang berbeda etnik, suku, dan agama. Sehingga, harmoni Indonesia ke depan dapat terjaga dengan baik,” harap Dr. Hasanuddin, M.Si.

Dalam Webinar Sejarah FIB Unand ini, terdapat enam orang pemateri yang berasal dari instansi yang berbeda, yaitu Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. (staf pengajar Jurusan Sejarah FIB Unand), Dr. Hisarma Saragih, M.Hum. (staf pengajar Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Simalungun, Sumatera Utara), Nata’alui Duha, S.Pd. (Direktur Museum Pusaka Nias), Drs. Armansyah, M.Hum. (staf pengajar Jurusan Sejarah FIB Unand), Kaksim, S.Pd.I., M.Pd.. (Ketua Prodi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat), Mhd. Ilham Fadhli, S.Ag., S.Sos., M.A., M.Hum. (Ketua Jurusan Sejarah Peradaban Islam FAH UIN Imam Bonjol, Padang).

Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. selaku pemateri pertama menyampaikan materinya yang berjudul “Aneuk Jamee: Anak Minang di Rantau Aceh”. Dalam penjelasannya, Dr. Herwandi mengatakan bahwa perantau Minang telah lama ada di Aceh. Aneuk Jamee berarti anak tamu. Sehingga, perantau Minang dianggap sebagai “tamu” yang akhirnya berasimilasi dengan anggota masyarakat setempat. Hasil dari percampuran perantau Minang dengan masyarakat Aceh inilah yang menyebut dirinya “Aneuk Jamee”.

“Tata cara kehidupan mereka pun memiliki beberapa kemiripan dengan masyarakat Minang. Seperti kampuang yang identik dengan manasah dan surau. Manasah berasal dari bahasa Aceh yang dipakai untuk kegiatan ibadah dan sosial orang laki-laki, sedangkan surau berasal dari istilah Minangkabau yang digunakan untuk kegiatan ibadah perempuan. Di sinilah uniknya, orang-orang aneuk jamee memisahkan laki-laki dan perempuan dalam tempat ibadah. Selain itu, bahasa mereka pun yang disebut bahasa Jamee atau Jamu lebih dominan dengan kosakata Minangkabau dibandingkan Aceh,” jelasnya.

Pemateri kedua, yaitu Dr. Hisarma Saragih, M.Hum. menyampaikan materi tentang “Orang Batak: Penyebarannya ke Pesisir Barat Sumatera”. Dr. Hisama menjelaskan bahwa penyebaran orang Batak ke luar dari wilayahnya disebabkan oleh berbagai faktor, seperti daerahnya yang berbentuk lembah membuat lahan pertanian terbatas sehingga membuat mereka memutuskan untuk mencari wilayah baru. Lalu, masuknya pendidikan Barat yang membuat orang Batak menginginkan pekerjaan yang lebih modern. Kemudian, adanya dorongan untuk meninggalkan kampung halaman karena alasan ekonomi. Faktor lainnya, yaitu dibukanya jalan yang menghubungkan Batak dengan daerah lain pada masa penjajahan Belanda.

Selanjutnya, Direktur Museum Pusaka Nias, Nata’alui Duha, S.Pd. menyampaikan materi mengenai “Eksistensi Museum Pusaka Nias dalam Menjaga Pusaka Pulau Nias”. Beliau memaparkan mengenai berbagai kegiatan utama Museum Pusaka Nias yang berlokasi di Kota Gunung Sitoli ini, dimulai dari pengumpulan berbagai pusaka, pameran, penelitian hingga penyelenggaraan pendidikan budaya untuk membentuk karakter generasi muda.

“Setiap tahun kita melakukan pelatihan dan pendidikan budaya setempat bagi siswa-siswa baik tingkat SD, SMP, maupun SMA. Tujuannya adalah pengenalan pusaka agar anak-anak tersebut dapat melestarikan budaya mereka, terutama seni musik dan tari Nias,” ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian oleh pemateri keempat, Drs. Armansyah, M.Hum., dengan topik “Muara Siberut: Kota Transit dan Kota Migran di Kepulauan Mentawai 1990—2019”. Topik ini merupakan bagian dari penelitian besar beliau yang berjudul “Kota di Pinggiran Kepulauan Mentawai: Muara Siberut dalam Kajian Sejarah 1990—2019.”

Dalam penjelasannya, beliau berkata bahwa Muara Siberut disebut Kota Transit karena dahulunya daerah ini memang dijadikan tujuan awal para pedagang, pengusaha, pejabat, atau turis yang ingin mencapai Kepulauan Mentawai. Lalu, disebut Kota Migran karena lebih dari setengah penduduk Siberut ialah orang-orang luar yang bermigrasi ke daerah itu.

Pembicara kelima, Kaksim, M.Pd., menyampaikan materinya yang berjudul “Atnis Atjeh-Simeulue”. Sejak tahun 1999, Simeulue telah menjadi kabupaten tersendiri di Aceh, perpecahan dari Aceh Barat. Uniknya, daerah Simeulue memiliki kemiripan dengan Minangkabau.

“Simeulue tidak dapat dipisahkan dari Minangkabau. Bahasa yang digunakan di daerah Simeulue ialah bahasa Aneuk Jamee, bahasa yang mirip dengan bahasa Minang. Selain itu, adat di daerah tersebut juga banyak yang mengadopsi adat-adat Minangkabau, seperti adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah,” jelas Kaksim, M.Pd.

Pembicara terakhir, yaitu Mhd. Ilham Fadhli, S.Ag., S.Sos., M.A., M.Hum., membicarakan mengenai “Etnik Mandahiling di Pantai Barat Kabupaten Pasaman Barat”. Secara historis, identitas etnik Mandahiling telah lama berada di Pasaman Barat.

“Secara politis, dalil historis kelompok etnis ini di Pasaman Barat adalah klaim historis bahwa keresidenan Mandahiling pernah berpusat di Pasaman Barat, tepatnya di Air Bangis. Meskipun secara kultural, Air Bangis merupakan tapak kulturan paling ujung wilayah Sumatra Barat, khususnya budaya Minangkabau,” jelasnya.

 

Reporter: Febriani Rahayu Putri, Editor: Lusi Andriani, Admin: Tri Eka Wira

 

30 Jun 2020

Hadirkan Alumni sebagai Pemateri, Reporter Humas FIB Unand Sukses Adakan Ngulik 2

FIB – Hadirkan alumni sebagai pemateri, Reporter Humas FIB Unand sukses adakan Ngobrol Asyik Seputar Jurnalistik yang kedua kalinya (Ngulik 2). Acara yang diadakan pada 27 Juni 2020 pukul 19.00—21.00 WIB ini berlangsung Grup WhatsApp.

Dalam Ngulik 2 ini, Trisno Edward, S.S., alumni FIB Unand diundang sebagai pemateri. Trisno Edward, S.S. merupakan redaktur/reporter Harian Rakyat Sumbar dan aktif menjadi penggiat kegiatan literasi di Kota Bukittinggi. Ngulik 2 dipandu oleh Febriani Rahayu Putri, mahasiswa Jurusan Sejarah angkatan 2017 yang juga reporter Humas FIB Unand.

Tema Ngulik 2 ini ialah  “Dari Mata Jadi Karya”. Dengan tema ini, diharapkan nantinya peserta dapat membuat tulisan dari peristiwa atau hal-hal yang disaksikan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengamati lingkungan sekitar dan mengambil sebuah persoalan yang kemudian ditambah dengan analisis.

“Analisa sebuah persoalan menjadi sangat penting dalam hal menulis di tengah pandemi covid-19. Berbagai istilah dan tindakan baru dalam menghadapi covid-19 bisa menjadi salah satu topik dan pendukung materi dalam menulis bagi para peserta. Di samping itu, dampak sosial yang ditimbulkan dari covid-19 juga menjadi kajian menarik untuk ditulis. Hal ini bisa dikupas melalui kebiasaan masyarakat sekitar. Selain itu, konsep new normal juga menjadi salah satu hal menarik yang dapat ditulis,” ujar Trisno Edward, S.S. selaku narasumber.

Setelah penyampaian materi, acara pun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan yang muncul ialah mengenai jenis tulisan, terutama dalam bidang jurnalistik sebagai upaya mengemas ide.

Berdasarkan pemaparan Trisno Edward, S.S., dalam dunia jurnalistik, ada beberapa jenis berita, antara lain berita peristiwa atau kriminal, berita investigasi, berita straight news, berita seremonial, dan lainnya.

“Dalam berita peristiwa atau kriminal, dibutuhkan konsep 5W+1H. Kemudian, juga bisa membuat lead berita atau teras berita. Lalu, untuk berita investigasi, lebih kepada analisa sebuah kondisi. Bisa juga digunakan wawancara dengan beberapa pihak terkait. Kalau untuk straight news, biasanya dibuat untuk meliput acara atau seremonial, seperti wisuda atau peresmian lainnya. Untuk berita feature, kita bisa mengulas sebuah cerita yang berhubungan dengan kehidupan manusia,” jelas Trisno Edward, S.S.

Selain itu, Trisno Edward, S.S. juga memotivasi peserta untuk menulis. “Hal yang paling penting untuk menjadi penulis ialah berani mencoba. Jika tidak berani mencoba maka bakat yang terpendam tidak akan bisa muncul ke permukaan dan menghasilkan sebuah karya. Karena bagi seorang penulis, karya merupakan sebuah penghargaan tersendiri, apalagi kalau sebuah karya itu dimuat dan dihargai oleh orang banyak. Jangan pernah takut membuat sebuah karya. Percaya diri saja karena percaya diri dibutuhkan oleh seorang penulis,” ujar Trisno Edward, S.S.

 “Walaupun materi yang saya sampaikan belum  sesuai dengan  harapan adik-adik semua, yang jelas modal dasar dan trik penulisan sudah saya sampaikan sebagai modal bagi adik-adik menulis nantinya. Kembangkan terus daya nalar dan juga investigasinya sehingga dapat menghasilkan karya yang sangat bagus. Harapan saya, semoga diskusi online ini dapat dilanjutkan dengan tatap muka nantinya,” tutup Trisno Edward, S.S.

 

Reporter: Muthia Delima Putri, Editor: Lusi Andriani, Admin: Tri Eka Wira

30 Jun 2020

FIB – Jurusan Sastra Inggris FIB Unand sukses mengadakan program kerjasama Pragmatic Discussion Forum dengan tema “Register dan Kesantunan dalam Industri Pariwisata” pada Sabtu, 27 Juni 2020. Webinar ini dipandu oleh Hanafi, Ph.D. selaku Ketua Jurusan Sastra Inggris FIB Unand yang diselenggarakan secara online melalui aplikasi Zoom dan live di channel Youtube Humas FIB Unand dengan menghadirkan dua orang narasumber, yaitu: Dr. Budi Purnomo, M.Hum. dari Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta dan Dr. Anak Agung Ayu Dian Andriayani, M.Hum. dari Universitas Mahasaraswati Denpasar.

Dr. Budi Purnomo, selaku narasumber pertama memaparkan bahwa pariwisata adalah industri yang terbesar dan kemajuannya paling cepat di dunia. “Dalam industri pariwisata, wisatawan bertindak selaku tamu, dan penyedia layanan wisata (PLW) bertindak selaku tuan rumah. Umumnya, PLW bertindak santun menggunakan register dan secara umum mengikuti penanda kesantunan, prinsip-prinsip kesantunan, strategi dan norma ketika melayani wisatawan,” dia mengawali

Wisatawan dan PLW menurutnya saling bekerja sama untuk memastikan bahwa pembicaraannya berlangsung dengan baik. Percakapan terjadi mulai dari pemesanan (hotel, tiket pesawat, dan lainnya) sampai wisatawan tersebut kembali ke daerah masing-masing. Sedangkan register itu sendiri paparnya meliputi tiga aspek yang berkaitan dengan tempat, bahasa apa yang dipakai, dan siapa yang mengambil peran. Ketiga variabel ini menentukan satu susunan makna.

“Dalam satu pemesanan, petugas pemesan kamar (misalnya) akan menggunakan berbagai register, seperti available, booking, single room, double room, dan lainnya yang merupakan sebuah jargon khusus dalam pemesanan. Dalam penjemputan wisatawan, pemandu wisata atau petugas hotel menggunakan register tertentu dalam menyambut tamunya. Begitu juga dengan resepsionis yang juga menggunakan register tertentu,” ujar Dr. Budi Purnomo.

Dalam penjelasannya, penanda kesantunan dari Spencer-Oatey terbagi menjadi: Request (permintaan), Refusals of Invitation (penolakan terhadap ajakan), Apologies (permintaan maaf), Gratitude (berterima kasih), serta Disagreement (ketidaksetujuan). “Penting adanya penanda kesantunan dengan ujaran-ujaran. Salah satunya mengenai penggunaan pemarkah, seperti: pak, bu, mas, mba, selamat pagi, serta silahkan. Meskipun begitu, luputnya penggunaan markah ini bisa juga disebabkan oleh situasi yang tidak mendukung,” katanya.

Lalu lanjutnya, selain penanda kesantunan, prinsip kesopanan dan strategi kesantunan hendaknya diperhatikan agar tercipta kondisi interaksi yang memuaskan dan menyenangkan. “Dalam hal level kesantunan sendiri dibagi menjadi Polite, Normal, dan Impolite. Sedangkan menilik level kesantunan pada sudut pandang lintas budaya juga berbeda, hal ini disebabkan oleh budaya bawaan dari si penutur. Contohnya, ketika tamu akan check out, ada pertanyaan berupa ‘what is your name?’ yang apabila ditujukan kepada wisatawan asing, maka bagi mereka itu tetaplah santun. Lain halnya bila pertanyaan tersebut ditujukan kepada wisatawan lokal dengan bunyi, ‘Siapa nama anda?’ Ujaran ini mencerminkan hal yang tidak santun dari sudut pandang wisatawan lokal. Dengan begitu, hendaknya penutur memahami lawan bicara sehingga dapat melakukan proses interaksi yang menciptakan kenyamanan,” jelasnya.

Selanjutnya, pembicara kedua, yang akrab disapa Agung Dian, menjelaskan terkait adanya jenis Pelaku Pariwisata (Terdidik dan Tidak Terdidik).  Pelaku pariwisata terdidik merupakan seorang pramuwisata yang telah memenuhi kode etik pramuwisata terdidik menurut Perda Bali pada Pasal 12 Ayat (1) Tahun 2016. Di sisi lain, pelaku pariwisata tidak terdidik disebut dengan pekerja pariwisata.

“Pelaku Pariwisata Terdidik umumnya memiliki lisensi yang diakui pemerintah melalui HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia). Guide di bawah naungan biro perjalanan resmi memiliki peran sebagai ujung tombak jalannya pariwisata di Bali, sehingga guide bekerja secara profesional dan mendapatkan binaan untuk meningkatkan kualitas mereka. Sedangkan pelaku pariwisata tidak terdidik berperan sebagai pekerja pariwisata dengan sistem belajar bahasa secara otodidak ataupun melalui kursus,” ungkapnya.

Foto 1. Dr. Anak Agung Ayu Dian Andriayani, M.Hum., Narasumber dalam Webinar “Register dan Kesantunan dalam Industri Pariwisata”

Agung Dian menyampaikan bahwa salahsatu bentuk kearifan lokal dalam mengembangkan pariwisata budaya berpijak dan berkonsepkan pada ajaran agama Hindu dalam Tri Hita Karana. “Dalam Tri Hita Karana, konsep utama omotenashi lahir dari ichigo ichie yang  berarti menghargai tiap momen dengan penekanan kepada hubungan orang-orang yang berkumpul dianggap sebagai sebuah kejadian yang terjadi sekali seumur hidup,” jelasnya.

Agung Dian dalam penelitiannya menemukan kesenjangan budaya yang terjadi. “Sebutan shachou (pimpinan/bos) dalam domain bisnis hanya boleh digunakan untuk memanggil pimpinan, tapi hal ini juga terjadi ketika wisatawan datang ke Bali. Pekerja pariwisata menggunakan panggilan ini bertujuan untuk meninggikan posisi wisatawan dan mendekatkan jarak kepada pengunjung,” Agung Dian memberi contoh.

Juga lanjutnya ada konsep yang namanya Uchi Soto yang merupakan konsep asli Jepang dengan membedakan status sosial masyarakat Jepang berdasarkan posisi seseorang. “Dalam konsep ini, penutur maupun mitra tutur wajib memperhatikan apa posisi mitra tutur, siapa mitra tutur dan siapa yang sedang dibicarakan dalam suatu tuturan. Kesantunan bahasa sendiri tidak dapat terlepas dari penanda tingkat tutur bahasa Jepang karena dalam bahasa Jepang, seorang penutur dikatakan santun apabila menggunakan penanda tutur yang tepat sesuai konteks situasinya,” katanya.

Kemudian dia meneruskan kesantunan dalam pragmatik adalah suatu konsep berkomunikasi terfokus terhadap orang lain untuk dapat menjalin hubungan antar manusia terhadap penggunaan bahasa agar menciptakan hubungan komunikasi dengan lancar.

Konsep dalam kesantunan Jepang pendapatnya dibagi menjadi dua yaitu ishi (volition) dan wakimae (discernment). Kehidupan masyarakat Jepang harus mematuhi norma sosial yang berlaku di Jepang atau disebut dengan wakimau, peran (tachiba), dan posisi sosial sebagai faktor utama kesantunan di Jepang mengakibatkan seorang Pn wajib memenuhi muka MT atau yang dituturkannya termasuk dalam memenuhi muka positif maupun negatif.

“Kesantunan dalam domain pariwisata erat kaitannya dengan hospitality sehingga santun dalam ranah tourism sangat terkait dengan konteks sebagai bahasa layanan. Ranah tourism tidak melulu pramuwisata  terdidik maupun tidak terdidik menggunakan ragam hormat,” pungkas Dian.

Editor: Ayendi, Reporter: Tzya Asradha, Admin: Tri Eka Wira