28 Januari 2020

Foto Febi Safila pasca terpilih sebagai duta favorit di duta GenRe 2019

FIB – Febi Safila, mahasiswa Jururan Sastra Inggris FIB Unand angkatan 2018 terpilih sebagai Duta Favorit dalam ajang Duta GenRe 2019. Febi terpilih dan dinobatkan sebagai Duta Favorit pada Sabtu malam, 7 Desember 2019 di Aula Fakultas Ekonomi Unand di Jati.

Duta GenRe (generasi berencana) adalah suatu wadah untuk pembentukan dan pengembangan karakter bangsa yang berkaitan dengan generasi berencana di kalangan generasi muda secara menyeluruh. Di Unand, pemilihan duta GenRe ini digelar oleh UKM PIGMAG bekerja sama dengan BKKBN Sumatra Barat.

Pemilihan duta GenRe ini berlangsung selama tujuh hari, berlokasi di Universitas Andalas dan Fakultas Ekonomi Unand di Jati pada 1—7 Desember 2019. Proses pemilihan duta GenRe ini sama dengan pemilihan-pemilihan duta-duta pada umumnya, seperti tes sikap, wawancara, karantina, beauty class, dan penampilan bakat.

“Latar belakang saya mengikuti duta genre ini adalah saya ingin tahu sebenarnya apa itu GenRe dan permasalahan-permasalahan yang berkembang di kalangan muda, baik di Indonesia maupun di Unand itu sendiri. Saya ingin tahu apa-apa saja hal melenceng yang dilakukan oleh kalangan muda, salah satunya mengenai pelencengan di budaya dan di agama. Saya ingin turut serta mengatasi hal-hal melenceng tersebut,” ungkap Febi.

“Tujuan saya mengikuti ajang pemilihan duta GenRe ini yang pertama adalah ingin memberikan edukasi, terutama di kota asal saya sendiri, yaitunya Kota Sabang. Saya ingin berbagi ilmu mengenai apa pentingnya generasi berencana bagi para remaja dan juga orang tua yang memiliki remaja,” imbuh Febi.

 

Febi juga mengatakan bahwa ia sangat senang bisa turut menjadi bagian dari duta GenRe dikarenakan ia mendapat banyak hal-hal dan pengalaman-pengalaman baru dan bisa membantu orang banyak dengan sosialisasi nantinya. Febi sebelumnya juga merupakan duta terpilih Wakil Ketua I Cut di kota asalnya, Sabang, Aceh.

Setelah dinobatkan menjadi duta GenRe, Febi dan beberapa duta genre terpilih lainnya akan melakukan beberapa kegiatan yang memang merupakan bagian dari tanggung jawab duta GenRe itu sendiri, seperti GenRe goes to school, sosialiasisi ke kampus-kampus dan juga ke kampung-kampung yang belum tahu apa itu GenRe.

Pada akhir wawancara, Febi memberikan sebuah kalimat motivasi. "Berikan tepukan prestasi bagi orang-orang yang menjatuhkanmu atau menghinamu. Karena melalui prestasimu, mereka tidak akan bisa menghinamu di titik apa pun."

 

Reporter: Defika Irma Suryani, Editor: Lusi Andriani, Admin: Tri Eka Wira

28 Januari 2020

Foto 1: Dr. Sawirman (kiri) bersama Prof. I Ketut Artawa, M.A., Ph.D (Ketua Prodi S3 Linguistik Univ. Udayana, kanan) kala membuka Kuliah Tamu

FIB -  Dr. Sawirman (dosen Sastra Inggris Universitas Andalas) dalam memberi Kuliah Tamu berjudul “Teori BREAK dan Aspek-Aspek Strategis Pengembangan Linguistik Forensik” pada Program Studi S3 Linguistik Universitas Udayana Denpasar (20/01/2020).

“Bahasa itu seperti nuklir, selain bisa diaplikasikan untuk tujuan kebaikan, juga bisa digunakan untuk tujuan kejahatan,” ujar Sawirman ketika memberi kuliah umum. BREAK (Basis, Relasi, Ekuilibrium, Aktualisasi, dan Keberlanjutan Wacana) tegasnya adalah sebuah teori pergerakan wacana yang diciptakan dan dikembangkan oleh Dr. Sawirman, dosen Sastra Inggris FIB Universitas Andalas, berbasis Hibah Kompetensi DRPM Dikti tahun 2014-2018. Teori tersebut dimuat antara lain dalam buku Sawirman berjudul e135 Reader: Media Meliput Teror terbitan Pusat Studi Ketahanan Nasional Universitas Andalas tahun 2014.

Menurut Sawirman, ketiadaan teori komparasi antarwacana seperti teori perang wacana dan lain-lain adalah hal yang mendasari pembuatan teori ini. Sawirman juga mengemukakan beberapa novelties teori BREAK yang tidak ada dalam teori wacana dunia lainnya. Selain memperkenalkan tipe-tipe pergerakan wacana berbasis kajian esensi dan spirit, Sawirman juga mengupas perlunya analisis interkonteks, ekuilibrium wacana, titik temu, relasi yang terlibat, gradasi efek wacana, orientasi pergerakan wacana, adaptabilitas wacana dan lain-lain.

Sawirman juga menganalogikan bahasa seperti arus listrik. Bila dikontrol oleh adaptor yang baik, arus listrik dapat difungsikan untuk hal-hal yang positif. Bahasa atau linguistik juga demikian. Adaptor adalah umpama otak manusia. Bila dikontrol dengan baik, bahasa bisa digunakan untuk beragam tujuan kemaslahatan umat. Sebaliknya, bahasa atau linguistik juga diberdayakan oleh “adaptor” yang rusak, seperti koruptor, teroris, kamuflator, dan lain-lain. Bahasa juga digunakan sebagai alat atau instrumen kejahatan untuk melakukan koordinasi aksi atau pengendalian informasi antar-jaringan pelaku kejahatan. Selain itu, bahasa menurut Sawirman juga digunakan sebagai alat pembentuk ideologi, kesadaran, dan perilaku kekerasan ekstrim. “Ranah-ranah inilah yang diakomodasi oleh objek material linguistik forensik,” jelas Sawirman.

Selain aspek-aspek bahasa kriminalitas, linguistik forensik juga menjamah objek-objek material lainnya seperti bahasa-bahasa yang berpotensi memasuki ranah hukum, bahasa sebagai alat bukti hukum, bahasa dalam proses hukum, dan bahasa sebagai produk hukum. Adalah hal yang perlu diakui bahwa linguistik forensik masih memerlukan pengembangan objek formalnya. Kehadiran teori BREAK menurut Sawirman pula adalah salah satu teori alternatif yang bisa digunakan untuk membedah linguistik dan wacana forensik ke ranah yang lebih strategis berbasis linguistik.

“Adalah saatnya para ilmuwan Indonesia menuju era keterbukaan untuk penciptaan teori berbasis ke-Indonesiaan dan ketimuran. Saatnya pula linguis harus keluar dari jebakan positivisme, fondasionalisme, dan nomotetisme serta konsep linearitas sempit jebakan Rene Descartes,” ungkap Sawirman sebelum menutup kuliah tamunya.

Sebelum memberi kuliah tamu, Dr. Sawirman yang juga dipercaya oleh Universitas Udayana Denpasar sebagai salah seorang Kopromotor disertasi Dr. Nidya Fitri berjudul “Teks Peradilan Jessica-Mirna: Pendekatan Linguistik Forensik” juga memenuhi undangan sebagai penguji tamu dalam acara Promosi Doktor anak asuhnya tersebut.