Seminar Nasional Arkeologi FIB Unand Bahas Masa Depan dan Peluang Arkeologi di Indonesia

Gambar 1. Narasumber offline dan Moderator Seminar Nasional Arkeologi
Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas melalui Program Studi Arkeologi menggelar Seminar Nasional bertajuk “Masa Depan Arkeologi dan Tantangan Kurikulum” pada Selasa, 8 September 2026. Kegiatan yang sekaligus menjadi seminar nasional perdana Program Studi Arkeologi FIB Unand ini membahas perkembangan arkeologi, tantangan kurikulum, serta peluang pengembangan bidang arkeologi di Indonesia.
Seminar nasional tersebut dibuka secara resmi oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. Kegiatan turut menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Lutfi Yondri, M.Hum., Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang hadir melalui zoom; serta narasumber yang hadir secara langsung, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., Ketua Program Studi S1 Arkeologi Universitas Andalas; dan Drs. Nurmatias, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat.
Selain sivitas akademika FIB Unand, seminar juga dihadiri oleh penggiat arkeologi dan kebudayaan di Sumatera Barat, tokoh-tokoh yang memiliki perhatian terhadap bidang arkeologi dan kebudayaan, serta mahasiswa Program Studi Arkeologi dari berbagai angkatan. Antusiasme peserta terlihat dari jumlah audiens yang mencapai lebih dari seratus orang dan mendekati dua ratus peserta, baik yang hadir secara langsung maupun mengikuti kegiatan secara daring.
Mengangkat tema “Masa Depan Arkeologi dan Tantangan Kurikulum”, seminar tidak hanya membicarakan perkembangan disiplin arkeologi dari sisi akademik, tetapi juga mengarahkan perhatian pada masa depan profesi, ruang kerja, serta peluang arkeologi untuk berkontribusi dalam pengembangan kebudayaan di Indonesia.
Pembahasan mengenai kurikulum menjadi bagian penting karena perkembangan ilmu dan kebutuhan masyarakat menuntut pendidikan arkeologi untuk terus beradaptasi. Arkeologi tidak lagi dipandang semata-mata sebagai bidang yang berkaitan dengan penggalian dan penelitian tinggalan masa lalu, tetapi juga memiliki ruang yang luas dalam pelestarian warisan budaya, pengelolaan museum, pariwisata berbasis budaya, edukasi publik, pengembangan industri kreatif, hingga pemanfaatan teknologi dalam dokumentasi dan kajian warisan budaya.
Sebagai program studi yang relatif baru dan dapat disebut sebagai salah satu “anak bungsu” dalam perkembangan pendidikan arkeologi di Indonesia, Prodi Arkeologi FIB Unand memandang seminar nasional ini sebagai momentum penting untuk memperkenalkan sekaligus memperkuat posisi bidang arkeologi di lingkungan akademik dan masyarakat.
Dalam sambutannya, Dekan FIB Unand menekankan pentingnya membuka wawasan mahasiswa terhadap perkembangan arkeologi sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi berbagai kemungkinan dan kebutuhan di masa mendatang. “Arkeologi tidak hanya berbicara tentang masa lalu tetapi juga berbicara tentang bagaimana kita memahami warisan budaya, merawatnya, dan menghadirkannya sebagai bagian dari kehidupan masa kini dan masa depan. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki wawasan yang luas dan mampu melihat berbagai peluang yang dapat dikembangkan melalui ilmu arkeologi.”
Menurutnya, keberadaan Program Studi Arkeologi di FIB Unand merupakan bagian dari komitmen fakultas dalam mengembangkan ilmu-ilmu humaniora yang memiliki keterkaitan erat dengan kebudayaan dan kehidupan masyarakat. “Sebagai program studi yang masih relatif muda, Arkeologi FIB Unand memiliki ruang yang besar untuk tumbuh. Seminar nasional ini menjadi salah satu langkah untuk memperluas jejaring, mempertemukan akademisi dan praktisi, sekaligus membuka wawasan mahasiswa mengenai masa depan arkeologi.” Ungkap Prof. Dr. Ike Revita.
Sementara itu, kehadiran narasumber dari BRIN dan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat memberikan perspektif yang lebih luas mengenai hubungan antara pendidikan arkeologi, penelitian, pelestarian, dan kebutuhan di lapangan. Diskusi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa lulusan arkeologi memiliki peluang untuk berkiprah pada berbagai sektor yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, kebudayaan, pelestarian warisan, dan pengelolaan sumber daya budaya.
Ketua Program Studi S1 Arkeologi FIB Unand, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., turut menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya memperkuat pembahasan mengenai arah pengembangan pendidikan arkeologi di tingkat program studi, khususnya dalam menghadapi perubahan kebutuhan keilmuan dan dunia kerja.
Kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa dengan para akademisi, peneliti, praktisi, dan pemerhati kebudayaan. Interaksi tersebut diharapkan dapat memperluas perspektif mahasiswa sekaligus membangun jejaring yang mendukung perkembangan Program Studi Arkeologi FIB Unand.
Seminar nasional perdana ini menjadi langkah awal bagi Prodi Arkeologi FIB Unand untuk terus membangun tradisi akademik, memperluas kolaborasi, dan menghadirkan pembahasan arkeologi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Lebih dari sekadar membicarakan masa lalu, seminar ini menegaskan bahwa arkeologi memiliki masa depan yang terbuka luas, terutama ketika ilmu pengetahuan, pelestarian budaya, pendidikan, dan kebutuhan masyarakat dapat dipertemukan dalam ruang kolaborasi yang lebih luas.

Gambar 2. Foto bersama Dekan FIB Unand, narasumber, dan seluruh peserta seminar