Alumni Sejarah FIB Unand Serahkan Buku “Mitigasi Kultural” kepada Fakultas Ilmu Budaya

Gambar 1. Yose Hendra, alumni FIB Unand menyerahkan buku berjudul Mitigasi Kultural: Pengetahuan Lokal Kebencanaan Masyarakat Sumatra Barat

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand) menerima penyerahan buku karya alumni Departemen Ilmu Sejarah, Yose Hendra, dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di Ruang Sidang FIB Unand pada Senin, 18 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus diskusi mengenai kontribusi alumni terhadap pengembangan akademik dan dunia kerja lulusan FIB Unand.

Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, didampingi Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II Alex Darmawan, S.S., M.A., Manajer Bidang I Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., dan Manajer Bidang II Adrianis, S.S., M.A. Turut hadir pula sejumlah dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan FIB Unand.

Dalam kesempatan tersebut, Yose Hendra menyerahkan buku karyanya yang berjudul “Mitigasi Kultural: Pengetahuan Lokal Kebencanaan Masyarakat Sumatra Barat”. Buku tersebut membahas bagaimana masyarakat lokal di Sumatra Barat memiliki pengetahuan budaya dan kearifan lokal dalam menghadapi bencana alam, mulai dari cara membaca tanda-tanda alam hingga bentuk mitigasi berbasis tradisi dan pengalaman masyarakat.

Sebagai alumni S1 dan S2 Departemen Ilmu Sejarah FIB Unand, Yose Hendra dikenal aktif di bidang jurnalistik dan kepenulisan. Ia juga bekerja sebagai wartawan di Media Indonesia serta aktif menulis isu sosial, budaya, dan sejarah lokal.

Dalam pemaparannya, Yose Hendra menyampaikan bahwa pengetahuan lokal masyarakat sering kali menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana, tetapi belum banyak didokumentasikan secara serius. “Masyarakat sebenarnya memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi bencana. Pengetahuan itu hidup dalam budaya dan tradisi sehari-hari,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari perhatian terhadap kondisi Sumatra Barat sebagai daerah yang memiliki potensi bencana cukup tinggi, sehingga pendekatan kebudayaan dinilai penting untuk dibahas dalam upaya mitigasi.

Selain menyerahkan buku, Yose Hendra juga berdiskusi bersama pimpinan FIB Unand mengenai peran alumni dalam pengembangan fakultas. Ia mendorong alumni FIB Unand untuk terus aktif membangun jejaring, meningkatkan kapasitas diri, dan berani mengambil peran di berbagai bidang profesi. “Alumni FIB punya kemampuan yang kuat di bidang komunikasi, analisis, dan budaya. Kemampuan itu harus terus diasah dan dibawa ke dunia kerja,” katanya.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Yose Hendra melalui karya tulis dan keterlibatannya dalam dunia profesional. “Kehadiran alumni yang terus berkarya menjadi motivasi bagi mahasiswa dan civitas academica FIB Unand,” ujar Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. Ia juga berharap budaya menulis, riset, dan dokumentasi sejarah serta budaya lokal terus berkembang di lingkungan FIB Unand.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh diskusi mengenai pengembangan literasi, peluang kerja lulusan humaniora, hingga pentingnya kontribusi alumni dalam mendukung kemajuan fakultas.

Melalui kegiatan ini, FIB Unand menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat hubungan dengan alumni sekaligus mendukung lahirnya karya-karya akademik yang relevan dengan isu sosial, budaya, dan kemasyarakatan.

FIB Unand dan Fakultas Adab UIN Imam Bonjol Padang Teken PKS dan IA untuk Penguatan Program Magang

Gambar 1. Dekan Fib Unand dan dekan UIN Imam Bonjol Padang menandatangani Perjanjian Kerja Sama

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand) melaksanakan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan Implementation Agreement (IA) bersama Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang pada Senin, 18 Mei 2026, di Aula Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang.

Kegiatan ini menjadi langkah awal penguatan kolaborasi akademik antara kedua institusi, khususnya dalam bidang pendidikan, magang mahasiswa, pengembangan perpustakaan, penelitian, dan kegiatan akademik lainnya.

Dari pihak FIB Unand, kegiatan dihadiri langsung oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, didampingi Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., serta tenaga kependidikan Ade Novalia, S.Pd., M.Pd. Sementara itu, dari pihak UIN Imam Bonjol Padang hadir Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Prof. Dr. Taufiqurrahman, M.Hum., M.Ag., beserta jajaran pimpinan fakultas.

Penandatanganan PKS dan IA tersebut difokuskan pada pelaksanaan program magang mahasiswa bidang kearsipan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang di lingkungan FIB Unand, khususnya di perpustakaan fakultas.

Melalui kerja sama ini, mahasiswa diharapkan dapat menerapkan ilmu yang telah dipelajari selama perkuliahan secara langsung di lapangan, terutama dalam pengelolaan arsip dan penataan perpustakaan yang lebih representatif dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan layanan akademik saat ini. “Mahasiswa perlu memiliki ruang praktik agar ilmu yang dipelajari tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga diterapkan secara langsung,” ujar Prof. Dr. Taufiqurrahman, M.Hum., M.Ag.

Dalam pelaksanaannya, FIB Unand akan berperan sebagai fasilitator bagi mahasiswa magang untuk mengembangkan keterampilan profesional mereka di bidang pengarsipan dan pengelolaan perpustakaan.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, menyampaikan bahwa kerja sama ini diharapkan tidak hanya berhenti pada program magang, tetapi dapat berkembang menjadi berbagai bentuk kolaborasi akademik lainnya. “Kami berharap kerja sama ini dapat terus berkembang, baik dalam bentuk seminar, kuliah umum, penelitian bersama, maupun kegiatan akademik lainnya yang bermanfaat bagi kedua institusi,” ujar Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Ia juga menambahkan bahwa penguatan kerja sama antarlembaga pendidikan menjadi penting untuk mendukung peningkatan kualitas layanan akademik dan pengembangan sumber daya manusia.

Suasana penandatanganan berlangsung hangat dan penuh diskusi terkait peluang kolaborasi lanjutan antara FIB Unand dan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang, terutama dalam bidang humaniora, literasi, pengelolaan arsip, dan pengembangan budaya akademik.

Melalui penandatanganan PKS dan IA ini, kedua institusi berharap dapat membangun hubungan kerja sama yang berkelanjutan serta memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, dosen, dan pengembangan institusi di masa mendatang.

LSP Universitas Andalas Sosialisasikan Sertifikasi Kompetensi Mahasiswa di FIB Unand

Gambar 1. Ketua LSP Universitas Andalas, Dr. Hasanuddin, M.Si. menyampaikan materi sertifikasi kompetensi mahasiswa di FIB Unand

Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pihak Pertama (P1) Universitas Andalas mengadakan kegiatan sosialisasi terkait sertifikasi kompetensi mahasiswa dan pengembangan skema sertifikasi profesi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand), Kamis, 7 Mei 2026, di Ruang Sidang FIB Unand.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari penguatan pemahaman program studi terhadap sistem sertifikasi profesi di lingkungan perguruan tinggi. Kegiatan dibuka langsung oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, dan dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, yaitu Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II Alex Darmawan, S.S., M.A., Manajer Bidang I Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., serta Manajer Bidang II Adrianis, S.S., M.A. Selain itu, sosialisasi juga diikuti oleh dosen dari berbagai program studi di lingkungan FIB Unand.

Hadir sebagai pemateri utama sekaligus Ketua LSP Universitas Andalas, Dr. Hasanuddin, M.Si., bersama tim dari LSP Universitas Andalas. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa LSP merupakan lembaga resmi di bawah Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang memiliki kewenangan melaksanakan sertifikasi kompetensi sesuai standar nasional.

Dr. Hasanuddin, M.Si. menjelaskan bahwa LSP P1 Universitas Andalas berfokus pada sertifikasi kompetensi mahasiswa tingkat sarjana. Mahasiswa yang dinyatakan kompeten nantinya akan memperoleh sertifikat kompetensi resmi dari BNSP sebagai pendamping ijazah. “Saat ini lulusan perguruan tinggi tidak hanya dituntut memiliki ijazah, tetapi juga bukti kompetensi yang diakui secara nasional,” jelasnya.

Dalam sosialisasi tersebut, tim LSP Universitas Andalas memaparkan berbagai materi terkait sistem sertifikasi kompetensi, mulai dari dasar regulasi, mekanisme penyusunan skema sertifikasi, proses asesmen, hingga peluang pengembangan skema di masing-masing program studi.

Materi juga menjelaskan keterkaitan antara kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), capaian pembelajaran lulusan, kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDIKA), serta pentingnya link and match antara perguruan tinggi dengan kebutuhan profesional di lapangan.

Selain itu, dipaparkan pula sejumlah skema sertifikasi yang telah diverifikasi oleh BNSP di lingkungan Universitas Andalas, seperti bidang K3, teknologi informasi, dan wisata. Untuk FIB Unand sendiri, sejumlah skema yang dinilai potensial untuk dikembangkan antara lain skema editor, penerjemah, tour guide, tour leader, hingga kompetensi kebahasaan dan budaya lainnya yang sesuai dengan profil lulusan humaniora.

Tim LSP juga menjelaskan proses pembentukan skema sertifikasi yang dimulai dari evaluasi kesesuaian kurikulum program studi dengan kebutuhan dunia kerja, penyusunan perangkat asesmen dan Materi Uji Kompetensi (MUK), hingga proses verifikasi langsung oleh BNSP.

Selain sertifikasi mahasiswa, sosialisasi juga membahas sertifikasi bagi dosen untuk menjadi Asesor Kompetensi (ASKOM). Dosen yang telah tersertifikasi nantinya dapat melakukan asesmen terhadap mahasiswa dalam proses uji kompetensi. “Asesor kompetensi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan sertifikasi karena mereka yang akan memastikan kompetensi peserta sesuai standar yang ditetapkan,” ujar Dr. Hasanuddin, M.Si.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, dalam sambutannya menyampaikan bahwa FIB Unand menyambut baik kegiatan sosialisasi tersebut sebagai langkah awal pengembangan sertifikasi kompetensi di lingkungan fakultas. “Mahasiswa FIB memiliki banyak kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan skema sertifikasi menjadi peluang penting untuk meningkatkan daya saing lulusan,” ujarnya.

Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan berbagai pertanyaan dari dosen terkait peluang pembentukan Tempat Uji Kompetensi (TUK), kesiapan program studi, serta strategi pengembangan sertifikasi berbasis bidang humaniora di FIB Unand.

Melalui kegiatan ini, LSP Universitas Andalas dan FIB Unand diharapkan dapat membangun sinergi dalam pengembangan sertifikasi kompetensi sehingga lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki pengakuan kompetensi profesional yang diakui secara nasional oleh BNSP.

Perkuat Aktivitas Keagamaan di Kampus, FIB Unand Susun Kepengurusan Masjid Al Munir

Gambar 1. Rapat pembentukan kepengurusan baru Masjid Al Munir FIB Unand periode 2026-2030

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand) melaksanakan rapat pembentukan pengurus baru Masjid Al Munir FIB Unand periode 2026–2030 pada Jumat, 8 Mei 2026, bertempat di Masjid Al Munir Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Rapat ini dilaksanakan sebagai langkah penguatan pengelolaan masjid sekaligus pengembangan berbagai program keagamaan di lingkungan fakultas.

Rapat dihadiri oleh pimpinan fakultas, dosen, serta tenaga kependidikan di lingkungan FIB Unand, di antaranya Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., Dr. Drs. Zulqaiyyim, M.Hum., Dr. Zaiyardam, M.Hum., Alex Darmawan, S.S., M.A., Dr. Ronidin, S.S., M.A., Donny Sofyan, S.S., MHRM., M.A., Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., Adrianis, S.S., M.Hum., serta unsur tenaga kependidikan lainnya.

Agenda utama rapat membahas pembentukan struktur kepengurusan baru Masjid Al Munir, perbaikan sarana dan prasarana masjid, penggalangan dana, pengembangan media sosial masjid, hingga rencana pelaksanaan berbagai program ibadah dan kegiatan sosial bagi dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa FIB Unand.

Dalam proses musyawarah, peserta rapat menyepakati pembentukan kepengurusan baru Masjid Al Munir periode 2026–2030 secara mufakat. Berdasarkan hasil rapat, Dekan FIB Unand ditetapkan sebagai pembina masjid, sementara posisi ketua dipercayakan kepada Dr. Ronidin, S.S., M.A.

Selain itu, rapat juga menetapkan susunan pengurus lainnya, yaitu Sehla Rizqa Ramadhona, S.S., M.A. sebagai Wakil Ketua, Rahmat Kurniawan, S.Kom. sebagai Sekretaris, dan Indra Putra, S.Kom. sebagai Bendahara. Pengurus juga dilengkapi dengan sejumlah seksi bidang, seperti dakwah, pendidikan, dana dan sosial, sarana dan prasarana, keamanan dan kebersihan, serta humas.

Dalam arahannya, Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., menyampaikan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang pembinaan karakter dan penguatan kebersamaan di lingkungan kampus. “Masjid kampus harus menjadi ruang yang hidup, TIDAK hanya digunakan untuk ibadah rutin, tetapi juga menjadi pusat kegiatan positif bagi civitas academica,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa keberadaan pengurus baru diharapkan mampu menghadirkan program-program yang aktif dan berkelanjutan. “Pengelolaan masjid perlu dilakukan secara bersama dan terorganisasi agar aktivitas keagamaan di lingkungan fakultas dapat berjalan lebih baik,” tambahnya.

Gambar 2. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. bersama manajer dan dosen dalam rangkaian rapat di Masjid Al Munir FIB Unand

Ketua pengurus terpilih, Dr. Ronidin, S.S., M.A., menyampaikan bahwa kepengurusan baru akan berupaya mengaktifkan berbagai kegiatan yang melibatkan seluruh unsur di lingkungan FIB Unand. “Kami berharap Masjid Al Munir dapat menjadi ruang bersama yang nyaman untuk kegiatan ibadah, pendidikan, dan kegiatan sosial di lingkungan fakultas,” ungkapnya.

Beberapa program yang mulai direncanakan antara lain kegiatan Jumat Berkah, pengajian rutin, penguatan kegiatan ibadah civitas academica, hingga pengembangan media sosial masjid sebagai sarana informasi dan dakwah kampus.

Melalui pembentukan kepengurusan baru ini, FIB Unand berharap Masjid Al Munir dapat semakin aktif dalam mendukung kegiatan keagamaan, memperkuat kebersamaan antarwarga fakultas, serta menjadi bagian penting dalam pembangunan lingkungan kampus yang religius dan harmonis.

Ruang Baca Sejarah FIB Unand Gelar Bedah Buku “Kinantan Melintas Zaman”

Gambar 1. Narasumber utama, Irwan Setiawan, S.Pd. dan Akhmad Febriansyah sebagai pemantik diskusi dalam acara bedah buku “Kinantan Melintas Zaman”

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas melalui Ruang Baca Departemen Ilmu Sejarah menggelar seminar dan bedah buku bertajuk “Kupas Tuntas Kinantan Melintas Zaman: Membaca Budaya dan Konflik dalam Lanskap Digital” pada Selasa, 12 Mei 2026, di Ruang Seminar FIB Unand. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi akademik yang membahas hubungan budaya, sejarah, ruang kota, serta dinamika konflik sosial dalam perspektif kekinian.

Kegiatan dibuka langsung oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, dan turut dihadiri oleh Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., dosen Departemen Ilmu Sejarah, mahasiswa, serta civitas academica di lingkungan FIB Unand.

Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan doa, sebelum memasuki sesi inti diskusi buku. Dalam kegiatan tersebut, hadir Irwan Setiawan, S.Pd. sebagai narasumber utama dan Akhmad Febriansyah sebagai pemantik diskusi.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta terkait isi buku Kinantan Melintas Zaman. Pembahasan tidak hanya berfokus pada isi teks, tetapi juga mengaitkan sejarah Bukittinggi dengan perkembangan sosial budaya masyarakat saat ini.

Dalam pemaparannya, Irwan Setiawan, S.Pd. menjelaskan bahwa buku tersebut memuat berbagai kajian mengenai sejarah Kota Bukittinggi, mulai dari sejarah kebun binatang Kinantan, perkembangan tata kota, toponimi atau penamaan wilayah, hingga perubahan sosial budaya yang terjadi dari masa ke masa. “Buku ini tidak hanya membahas sejarah sebagai peristiwa masa lalu, tetapi juga bagaimana ruang budaya itu berubah dan dipahami masyarakat hari ini,” ujar Irwan Setiawan, S.Pd.

Selain membahas sejarah kota, buku tersebut juga menyoroti kritik terhadap pengelolaan aset budaya dan sejarah di Bukittinggi yang dinilai mulai kurang terjaga. Dalam diskusi, narasumber menyinggung pentingnya perhatian pemerintah terhadap pelestarian bangunan, ruang sejarah, dan identitas budaya kota. “Banyak aset budaya yang perlahan hilang atau rusak. Padahal, itu bagian penting dari identitas sejarah masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, pemantik diskusi, Akhmad Febriansyah, membantu mengarahkan jalannya pembahasan agar tetap terfokus pada gagasan utama buku sekaligus menghubungkannya dengan perkembangan ruang digital yang memengaruhi cara masyarakat membaca sejarah dan budaya.

Peserta diskusi tampak aktif menyampaikan pandangan terkait pentingnya literasi budaya, dokumentasi sejarah lokal, serta tantangan pelestarian budaya di era digital. Suasana diskusi berlangsung hangat karena banyak peserta mengaitkan isi buku dengan kond isi sosial budaya Minangkabau saat ini.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan bedah buku seperti ini penting untuk memperkuat tradisi akademik dan budaya literasi di lingkungan kampus. “Ruang baca tidak hanya menjadi tempat membaca buku, tetapi juga ruang bertemunya gagasan, diskusi, dan pengembangan budaya akademik,” ujar Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Gambar 2. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. bersama jajarann pimpinan, narasumber utama, dan para dosen dalam Bedah Buku “Kinantan Melintas Zaman”

Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan agar mahasiswa terbiasa berpikir kritis dalam membaca berbagai persoalan budaya dan sejarah. Kegiatan kemudian ditutup dengan penegasan kembali poin-poin penting diskusi dan sesi dokumentasi bersama narasumber, pemantik, dosen, serta peserta yang hadir.

Melalui kegiatan ini, Departemen Ilmu Sejarah FIB Unand menegaskan komitmennya dalam menghadirkan forum ilmiah yang relevan dengan isu budaya, sejarah lokal, dan perkembangan zaman, sekaligus memperkuat tradisi literasi di lingkungan akademik.

Mahasiswa Sejarah FIB Unand Hadirkan H. Arisal Aziz dalam Kuliah Umum Kewirausahaan

Gambar 1. Penyambutan H. Arisal Aziz, Anggota DPR RI Komisi XIII di FIB Unand

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand) melalui mahasiswa Sejarah angkatan 2023 menggelar kegiatan Kuliah Umum Kewirausahaan pada Rabu, 6 Mei 2026, di Ruang Seminar FIB Unand. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Bazar Kewirausahaan Mahasiswa Sejarah yang sebelumnya telah berlangsung sejak 4 Mei 2026.

Kuliah umum menghadirkan H. Arisal Aziz, Anggota DPR RI Komisi XIII Fraksi PAN sekaligus Founder Indah Group, sebagai narasumber utama. Mengusung tema “Membangkitkan Jiwa Wirausaha Generasi Muda Minangkabau: Pengalaman Arisal Aziz; dari Terminal ke Senayan”, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa mengenai dunia usaha, perjalanan karier, dan semangat membangun bisnis dari bawah.

Sebelum acara dimulai, narasumber beserta tamu undangan disambut secara adat di depan Gedung Fakultas Ilmu Budaya melalui penampilan Tari Pasambahan dan Galombang oleh tim UKS Universitas Andalas. Penyambutan tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengenalan budaya Minangkabau kepada tamu yang hadir.

Acara dibuka secara resmi oleh Sekretaris Universitas Andalas, Dr. Aidinil Zetra, M.A. dan turut dihadiri oleh pimpinan FIB Unand, yaitu Wakil Dekan II Alex Darmawan, S.S., M.A. yang mewakili Dekan FIB Unand, Manajer Bidang I Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., Manajer Bidang II Adrianis, S.S., M.A., dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa FIB Unand.

Kegiatan dipandu oleh moderator Harry Efendy, S.S., M.A., dan berlangsung secara interaktif. Mahasiswa tampak aktif mengajukan pertanyaan terkait pengalaman bisnis, tantangan usaha, hingga perjalanan politik H. Arisal Aziz.

Dalam pemaparannya, H. Arisal Aziz membagikan kisah perjalanan hidupnya sebagai putra daerah asal Padang Pariaman yang memulai usaha dari bawah hingga berhasil membangun jaringan bisnis nasional dan internasional melalui Indah Group, yang meliputi berbagai unit usaha seperti Indah Cargo, Indah Logistik, dan Indah Travel.

Ia menjelaskan bahwa perjalanan bisnis yang dijalani tidak selalu mudah. Berbagai tantangan dan kegagalan pernah dihadapi sebelum usahanya berkembang seperti saat ini. “Memulai usaha tidak harus langsung besar, yang penting adalah keberanian untuk memulai, disiplin, dan konsisten menjaga kepercayaan,” ujarnya di hadapan peserta seminar.

Ia juga menekankan pentingnya kerja keras dan kemampuan membaca peluang di tengah perubahan zaman. “Anak muda Minangkabau memiliki potensi besar dalam dunia usaha. Jangan takut mencoba dan jangan cepat puas karena kita sudah ditanamkan budaya merantau sejak kecil,” tambahnya.

Wakil Dekan II FIB Unand, Alex Darmawan, S.S., M.A., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual yang mempertemukan mahasiswa dengan pengalaman nyata di dunia profesional dan bisnis. “Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman langsung dari praktisi agar memahami bahwa kewirausahaan tidak hanya teori, tetapi juga tentang keberanian, proses, dan ketekunan,” ujarnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Mata Kuliah Kewirausahaan yang diampu oleh Dr. Zulqaiyyim, M.Hum., Ana Fitri Ramadani, S.S., M.A., dan Dr. Zaiyardam, M.Hum. Ketua pelaksana kegiatan, Julianan Putri, menyampaikan bahwa seminar ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa untuk mulai membangun pola pikir kewirausahaan sejak di bangku kuliah.

Selain membahas perjalanan bisnis, diskusi juga menyinggung pentingnya jejaring, pengelolaan usaha, serta kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perkembangan ekonomi dan teknologi.

Melalui kegiatan ini, FIB Unand terus mendorong pembelajaran yang aplikatif dengan menghadirkan praktisi dan tokoh profesional ke lingkungan kampus. Kuliah umum tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa sekaligus menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda.  

Gambar 2. Kuliah umum kewirausahaan bersama H. Arisal Aziz, Anggota DPR RI Komisi XIII di FIB Unand