Mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand Raih Juara I dan III Lomba Presentasi Bahasa Jepang 2026, siap melangkah ke nasional
Mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand Raih Juara I dan III Lomba Presentasi Bahasa Jepang 2026, siap melangkah ke nasional

Gambar 1. Perwakilan Mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand mengikuti Lomba Presentasi Bahasa Jepang ke-5 tingkat Daerah Sumatera Barat dan Riau tahun 2026 bersama dosen pendamping, Rahtu Nila Sepni, S.Hum., M.Hum.
Kebahagiaan tidak selalu hadir melalui pencapaian besar, tetapi juga dapat ditemukan ketika seseorang mampu menjadi diri sendiri, menikmati hal-hal yang disukai, dan memberi manfaat bagi orang lain. Gagasan tersebut menjadi bagian dari presentasi mahasiswa Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas (FIB Unand), dalam Lomba Presentasi Bahasa Jepang ke-5 Tingkat Daerah Sumatera Barat dan Riau Tahun 2026. Pada kompetisi yang berlangsung Sabtu, 10 Oktober 2026, di Balairung Caraka, Universitas Bung Hatta, Padang, mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand berhasil meraih juara I dan juara III.
Frisnadhea Gusvita berhasil meraih juara I, sedangkan Felicia Rizaldy memperoleh juara III. Keduanya mengikuti kompetisi dengan pendampingan dosen Program Studi Sastra Jepang, Rahtu Nila Sepni, S.Hum., M.Hum. dan Ketua Program Studi Sastra Jepang, Dr. Rima Devi, S.S., M.Si. Prestasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menggunakan bahasa Jepang untuk menyampaikan gagasan secara terstruktur sekaligus mengembangkan perspektif personal terhadap tema yang diberikan.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh The Japan Foundation, Jakarta, tersebut mengangkat tema “幸せというのは” yang berarti “Apa Itu Kebahagiaan?”. Melalui tema ini, peserta diajak menguraikan pemahaman mereka mengenai kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Presentasi tidak hanya menuntut penguasaan bahasa Jepang, tetapi juga kemampuan menyusun gagasan, menyampaikan pandangan secara runtut, dan menghubungkan tema dengan pengalaman maupun nilai yang diyakini.
Bagi Frisnadhea, keberhasilan meraih juara I menjadi pencapaian membanggakan sekaligus pengalaman berharga dalam perjalanan akademiknya. Kompetisi ini memberinya kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Jepang dan menyampaikan pemikiran di hadapan audiens. “Bagi saya, kompetisi ini menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Jepang sekaligus menyampaikan gagasan tentang kebahagiaan. Saya bersyukur atas hasil yang diraih dan berharap pengalaman ini menjadi motivasi untuk terus belajar dan berkembang,” ungkap Frisnadhea.
Sementara itu, Felicia Rizaldy meraih juara III melalui presentasi berjudul “幸せの瞬間” yang berarti “Momen Kebahagiaan”. Dalam presentasinya, Felicia memandang kebahagiaan sebagai pengalaman yang dapat dirasakan ketika seseorang mampu menjadi dirinya sendiri, tetap melakukan hal-hal yang disukai untuk menikmati hidup, dan menjadi pribadi yang berguna bagi orang lain. Menurutnya, kebahagiaan tidak semata-mata berkaitan dengan pencapaian pribadi, tetapi juga dengan penerimaan diri dan kontribusi kepada sesama. “Utamakan hal-hal yang membuat dirimu bahagia di atas hal lain. Prioritaskan kesehatan diri sendiri terlebih dahulu,” pesan Felicia.
Keberhasilan kedua mahasiswa tersebut menjadi hasil yang membanggakan bagi Prodi Sastra Jepang FIB Unand. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., turut memberikan apresiasi atas pencapaian ini. “Prestasi mahasiswa merupakan hasil dari kemauan untuk terus belajar, keberanian mencoba, dan kesungguhan mengembangkan potensi diri. Kami berharap capaian ini dapat memotivasi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya dan berani menunjukkan kemampuan di berbagai ajang kompetisi,” ungkap Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.
Selain Frisnadhea dan Felicia, seorang mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand lainnya, Haikal, juga turut berpartisipasi dalam kompetisi tersebut. Keikutsertaan Haikal dalam ajang ini menjadi kesempatan untuk mengasah keterampilan berbahasa Jepang, meningkatkan kepercayaan diri, dan memperluas pengalaman berkompetisi.
Raihan juara I dan juara III ini tidak hanya menjadi pencapaian dalam kompetisi, tetapi juga memperlihatkan bahwa pembelajaran bahasa dapat menjadi ruang untuk mengembangkan pemikiran dan menyampaikan nilai-nilai kehidupan. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa diharapkan terus meningkatkan kemampuan berbahasa Jepang, memperluas wawasan lintas budaya, dan berani mengambil kesempatan untuk berprestasi di tingkat regional maupun lebih luas.













