Perluas Pengalaman Akademik, 14 Mahasiswa FIB Unand Ikuti Credit Earning di Empat Kampus Indonesia

Gambar 1. Dekan FIB Unand melepas mahasiswa yang akan mengikuti Credit Earning ke Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Brawijaya

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand) kembali memperluas ruang belajar mahasiswa melalui program Credit Earning (CE) Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Sebanyak 14 mahasiswa FIB Unand akan mengikuti kegiatan akademik di empat perguruan tinggi tujuan, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Brawijaya (Unibraw), dan Universitas Udayana (Unud).

Program Credit Earning memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar di lingkungan perguruan tinggi lain. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mengikuti proses akademik di kampus tujuan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal lingkungan akademik, budaya belajar, serta perspektif keilmuan yang berbeda.

Pelepasan mahasiswa peserta Credit Earning dilakukan oleh pimpinan FIB Unand dan dihadiri Dekan FIB Unand Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II Alex Darmawan, S.S., M.A., Manajer Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., serta Manajer Bidang Umum dan Keuangan Adrianis, S.S., M.A.

Dalam kesempatan tersebut, pimpinan fakultas memberikan dukungan kepada mahasiswa agar dapat memanfaatkan program CE sebagai bagian dari pengembangan akademik dan pengalaman personal selama berada di perguruan tinggi tujuan. “Credit Earning merupakan kesempatan untuk belajar di kampus lain. Ini adalah ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, bertemu dengan lingkungan akademik yang berbeda, dan belajar melihat keilmuan dari perspektif yang lebih luas. Manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.” ujar Prof. Dr. Ike Revita.

Pada Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027, mahasiswa FIB Unand mengikuti Credit Earning pada empat perguruan tinggi.

Di Universitas Gadjah Mada (UGM), program ini diikuti oleh Muhammad Zakwan Rizaldi (Zakwan) dari Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2024.

Sementara itu, Universitas Padjadjaran (Unpad) menjadi perguruan tinggi tujuan bagi tujuh mahasiswa FIB Unand, yaitu Siti Nurasyifa (Syifa) dari Sastra Inggris angkatan 2024, Najwa Imsyaky (Uwa) dari Sastra Indonesia angkatan 2024, Wahyu Firmansyah (Wahyu) dari Ilmu Sejarah angkatan 2024, Gilang Nindra (Gilang) dari Sastra Indonesia angkatan 2023, Siti Khadijah (Dijah) dari Ilmu Sejarah angkatan 2024, Ifranda Andry Aksha (Randa) dari Ilmu Sejarah angkatan 2024, dan Shabrina Aqila Khairani Siregar (Rani) dari Sastra Inggris angkatan 2024.

Sebanyak empat mahasiswa akan menjalani Credit Earning di Universitas Brawijaya (Unibraw). Mereka adalah Zilan Zalila (Zilan), Reihan Julfan (Rei), Keyko Lovelynissa (Keyko), dan Meisy Putri Fajri (Meisy) yang seluruhnya berasal dari Program Studi Sastra Inggris angkatan 2024.

Adapun di Universitas Udayana (Unud), program CE diikuti oleh Deporas (Deo) dan Zahwa Azuri Putri (Zahwa), keduanya berasal dari Program Studi Sastra Inggris angkatan 2025.

Gambar 2. Dekan Fib Unand melepas mahasiswa yang akan mengikuti Credit Earning ke Universitas Udayana

Keikutsertaan mahasiswa FIB Unand dalam program Credit Earning menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman akademik mahasiswa melalui mobilitas pembelajaran. Perpindahan lingkungan belajar memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan civitas academica dari perguruan tinggi lain dan memperoleh pengalaman yang tidak sepenuhnya ditemukan di ruang kelas kampus asal.

Bagi mahasiswa bidang humaniora, pengalaman tersebut juga dapat memperkaya cara pandang terhadap bahasa, sastra, sejarah, dan berbagai persoalan kebudayaan. Pertemuan dengan mahasiswa dan akademisi dari lingkungan yang berbeda dapat membuka ruang pertukaran gagasan sekaligus memperluas jejaring akademik.

Selain aspek akademik, Credit Earning juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar beradaptasi. Tinggal dan belajar di lingkungan baru menuntut kemandirian, kemampuan berkomunikasi, serta kesiapan untuk berinteraksi dengan berbagai latar belakang. “Pergilah untuk belajar, bukan hanya untuk membawa pulang nilai, melainkan membawa pulang pengalaman, cara pandang baru, dan jejaring yang nantinya dapat menjadi bagian dari perjalanan akademik dan kehidupan kalian.” pesan Prof. Dr. Ike Revita kepada mahasiswa peserta CE.

Program Credit Earning diharapkan dapat memberikan pengalaman akademik yang bermakna bagi ke-14 mahasiswa FIB Unand. Setelah menyelesaikan kegiatan di perguruan tinggi tujuan, mahasiswa diharapkan dapat membawa kembali pengetahuan, pengalaman, dan perspektif baru untuk dibagikan kepada lingkungan akademik di FIB Unand.

Melalui program ini, FIB Unand terus mendorong mahasiswa untuk belajar melampaui batas kampus, memperluas perspektif, dan membangun jejaring akademik sebagai bagian dari pengembangan kapasitas mahasiswa di tingkat nasional.

FIB Unand Sambut Dua Mahasiswa Universitas Jambi dan USU untuk Program Credit Earning

Gambar 1.  Dekan, Wakil Dekan II, dan Manajer I FIB Unand sambut mahasiswa dari Unja dan USU yang akan melakukan credit earning ke FIB Unand.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand) menyambut kedatangan dua mahasiswa dari perguruan tinggi mitra yang akan mengikuti program credit earning selama satu semester di FIB Unand. Kegiatan penyambutan berlangsung di ruang Dekan FIB Unand dan dihadiri langsung oleh pimpinan fakultas.

Kedua mahasiswa tersebut adalah Fadli Ananda Rizal dari Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Jambi, dan Chary Land Telaumbanua dari Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara (USU).

Kedatangan kedua mahasiswa disambut oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, bersama Wakil Dekan II, Alex Darmawan, S.S., M.A., dan Manajer Bidang I, Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum.

Dalam penyambutan tersebut, pimpinan FIB Unand menyampaikan apresiasi atas kepercayaan kedua perguruan tinggi dalam memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk mengikuti proses pembelajaran di FIB Unand. Program credit earning menjadi salah satu bentuk mobilitas akademik yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar di lingkungan akademik yang berbeda.

Selama mengikuti program tersebut, Fadli dan Chary akan menjalani perkuliahan di FIB Unand selama satu semester. Kehadiran keduanya diharapkan tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengikuti pembelajaran dan memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga membuka ruang interaksi dengan mahasiswa dan sivitas akademika FIB Unand. “Kehadiran mahasiswa dari perguruan tinggi lain merupakan bagian dari upaya membangun ruang akademik yang terbuka dan dinamis. Kami berharap selama berada di FIB Unand, mereka tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar, tetapi juga membawa pulang pengalaman dan persahabatan yang baik,” ujar Prof. Dr. Ike Revita.

Program credit earning juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal suasana akademik, budaya belajar, serta lingkungan sosial yang berbeda. Bagi FIB Unand, kehadiran mahasiswa dari luar universitas menjadi bagian dari penguatan jejaring dan kolaborasi antarperguruan tinggi.

Lebih dari sekadar perpindahan ruang belajar selama satu semester, program ini diharapkan menjadi pengalaman akademik yang mempertemukan mahasiswa dari latar belakang perguruan tinggi yang berbeda. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan, perspektif, dan pengalaman dalam bidang ilmu budaya, khususnya kajian sastra dan humaniora.

Dengan diterimanya mahasiswa dari Universitas Jambi dan USU, FIB Unand terus membuka ruang bagi terbangunnya mobilitas akademik dan kolaborasi antarperguruan tinggi. Kehadiran mahasiswa credit earning diharapkan turut memperkaya dinamika pembelajaran serta kehidupan akademik di lingkungan FIB Unand.

Program Studi Sastra Inggris Fib Unand Selenggarakan Kuliah Umum Bertema Discourse Analysis

Gambar 1. Flyer Kuliah Umum

Prodi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas pada Rabu, 26 Agustus 2026 mengadakakan Kuliah Umum dengan tema Discourse Analysis bertopik from Linguistic Competence to Corpus Insights secara online dengan menggunakan media zoom. Terdapat dua orang pembicara inti dalam kuliah umum ini yaitu Prof. Dr. Djatmika, M.A., dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret dan Handoko, S.S., M.Hum., Ph.D., dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.

Sebagai Ketua Panitia Kuliah Umum ini, Dra. Lucy Suraiya, M.A. menyatakan bahwa Kuliah Umum ini relevan dan diwajibkan untuk mahasiswa Semester 5 yang sedang mengambil Mata Kuliah Introduction to Discourse Analysis. Menurutnya analisis wacana dapat membantu kita memaknai fenomena kebahasaan jauh dari sekedar kata-kata dan struktur gramatikal kalimat, tetapi juga memotivasi kita untuk memahami penggunaan bahasa dalam situasi nyata; yaitu bagaimana makna dikonstruksi, bagaimana bahasa merefleksikan hubungan sesama manusia, identitas, insitusi, dan masyarakat. Pada saat yang sama, budaya ikut mempengaruhi bagaimana wacana dikonstruksi dan diinterpretaikan dalam konteks sosial tertentu.

Gambar 2. Ketua Panitia Kuliah Umum: Dra. Lucy Suraiya, M.A.

Sementara itu Prof. Dr. Ike Revita, M.Hum., selaku Dekan FIB Unand, menyampaikan salam hangatnya kepada kedua pembicara inti karena keduanya akan membagikan kepakaran ilmunya untuk memperkaya pengetahuan pada forum ini. Senada dengan pernyataan ketua panitia sebelumnya, Beliau menyatakan kuliah umum ini sangat relevan untuk mahasiswa FIB Unand bidang linguistik dan sastra. Menurutnya bahasa beroperasi di dalam konteks yang dapat menciptakan makna, mengkomunikasikan ide, mengkonstruksi identitas, dan juga merefleksikan realitas sosial.

Gambar 3: Prof. Dr. Ike Revita, M.Hum., Dekan FIB Unand

Sebagai pembicara inti pertama, Prof. Dr. Djatmika, M.A., dengan latar belakang akademik seorang profesor bidang analisis wacana, telah belajar linguistik di Universitas Macquarie Sydney Australia dan Universitas Sebelas Maret. Beliau telah menulis beberapa buku dalam bidang Discourse Analysis, Appraisal Theory, Systemic Functional Linguistics, Language Acquisition, dan Pragmatics.

Gambar 4: Prof. Dr. Djatmika, M.A

Dalam pemaparan presentasinya Prof. Djatmika menyampaikan pandangan tentang apa itu analisis wacana dan seberapa menariknya bidang ini. Dalam pemaparannya untuk memudahkan memahami bidang analisis wacana ini Beliau mengawalinya dengan memberikan contoh-contoh teks kebahasaan yang menarik perhatian. Wacana katanya adalah penggunaan bahasa dalam konteksnya, dalam hal ini adalah konteks situasi dan konteks budaya. Di dalam wacana itu terdapat konteks yang mempertanyakan tentang siapa, kepada siapa, bagaimana, mengapa, kapan, dan dimana.

Lebih lanjut, Prof, Djatmika menerangkan untuk memahami dan menciptakan wacana, seseorang harus memiliki kompetensi mikro dan makro linguistik. Kompetensi mikro linguistik itu terdiri dari pemahaman akan fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sedangkan kompetensi makro linguistik adalah tentang pengetahuan tentang budaya dan bahasa yang terdiri dari norma, nilai-nilai, tradisi, aturan, kepercayaan dan ideologi. Tanpa adanya kompetensi tersebut seseorang tidak dapat menghasilkan teks dengan baik dan memahami serta menilai atau menganalisis teks tersebut dengan baik juga.

Gambar 5: Handoko, S.S., M.Hum., Ph.D.

Selanjutnya sebagai pembicara kedua adalah Handoko, M.Hum., Ph.D. Beliau dosen dari Prodi Sastra Inggis FIB Unand yang memiliki ketertarikan pada pengintegrasian teknologi pada bidang Pendidikan, Ekolinguistik, , melalui kajian korpus. Berlandaskan penelitian disertasinya, beliau memberi contoh data kebahasaan Minangkabau menggunakan data kaba. Menurutnya analisis wacana yang dilakukan dengan corpus tool akan sangat memudahkan kita dalam menarik kesimpulan pada fokus yang diteliti. Beberapa studi menggunakan korpus dapat dilakukan seperti analisis kolokasi, distribusi leksikal, variasi struktur grammatical, dan lainnya.

Penulis: Ayendi, S.S., M.Pd., M.Hum.

 

Angkat Semangat Digitalisasi dan Pariwisata, Dhea Anantha Sari FIB Unand Juara I QRIS Jelajah Indonesia 2026

Gambar 1. Dhea Anantha Sari, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Raih Juara I Lomba QRIS Jelajah Indonesia 2026

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas. Dhea Anantha Sari, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, berhasil meraih Juara I Lomba QRIS Jelajah Indonesia 2026 yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI).

Dhea Anantha Sari dengan NIM 2210733023 berhasil menjadi pemenang dalam program yang merupakan bagian dari rangkaian Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI). QRIS Jelajah Indonesia 2026 diselenggarakan secara serentak melalui 46 Kantor Perwakilan Dalam Negeri Bank Indonesia (KPwDN) di Indonesia.

Program tersebut menjadi salah satu upaya Bank Indonesia untuk mengakselerasi digitalisasi sistem pembayaran secara inklusif dan berkelanjutan. Pada penyelenggaraan tahun 2026, QRIS Jelajah Indonesia mengusung tema kuliner Indonesia yang sekaligus mendorong penguatan digitalisasi dan sektor pariwisata.

Memadukan Digitalisasi dan Kekayaan Kuliner Indonesia

QRIS Jelajah Indonesia menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal sekaligus memperkenalkan berbagai potensi Indonesia melalui pendekatan digital. Pengusungan tema kuliner pada tahun ini mempertemukan isu digitalisasi sistem pembayaran dengan kekayaan kuliner yang menjadi bagian penting dari identitas dan daya tarik pariwisata Indonesia.

Bagi mahasiswa FIB Unand, keterlibatan dalam kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman yang mempertemukan kemampuan akademik dengan persoalan dan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Latar belakang Dhea sebagai mahasiswa Sastra Inggris memberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan berinteraksi dalam kegiatan yang melibatkan berbagai peserta dan pengalaman lintas daerah.

Capaian sebagai Juara I menjadi bukti bahwa mahasiswa FIB Unand mampu mengambil bagian dalam kegiatan yang berada di luar ruang lingkup akademik konvensional sekaligus menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi, berkolaborasi, dan berkompetisi.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., menyampaikan kebanggaannya atas capaian yang diraih Dhea. “Kami bangga atas capaian Dhea. Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa FIB Unand memiliki kemampuan untuk berkembang di berbagai ruang, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam kegiatan yang berkaitan dengan inovasi, digitalisasi, pariwisata, dan pengembangan potensi Indonesia.”

Menurutnya, pengalaman mahasiswa dalam berbagai kompetisi juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan pengembangan kompetensi yang penting untuk menghadapi dunia profesional. “Setiap kompetisi memberikan pengalaman yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana mahasiswa mampu belajar dari proses, membangun jejaring, dan membawa pengalaman tersebut menjadi bekal untuk langkah berikutnya.”

Bagi Dhea, pencapaian sebagai juara bukanlah satu-satunya hal yang bermakna dari keikutsertaannya dalam QRIS Jelajah Indonesia 2026. Proses yang dilalui selama kegiatan justru memberikan pengalaman, pertemuan, dan kenangan baru yang tidak kalah penting.

Dhea mengungkapkan bahwa pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang akan dibawanya menuju tahap kompetisi berikutnya. “The best part isn’t the winning, but everything you gain along the way. From new experiences, new people, and unforgettable memories.”

Baginya, kemenangan menjadi salah satu bagian dari perjalanan, sementara pengalaman dan relasi yang diperoleh selama mengikuti kegiatan menjadi pembelajaran yang dapat terus dibawa ke tahap berikutnya.

Capaian tersebut sekaligus membuka langkah baru bagi Dhea bersama tim Sumatera Barat untuk melanjutkan perjalanan kompetisi pada tingkat Sumatra. “Mohon doanya untuk perjalanan berikutnya bersama tim Sumbar di tingkat Sumatra!” ujar Dhea.

Keberhasilan Dhea Anantha Sari menambah deretan prestasi mahasiswa FIB Unand dalam berbagai bidang. Capaian tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kompetensi mahasiswa humaniora dapat berkembang dan berkontribusi dalam berbagai ruang yang terus berubah, termasuk digitalisasi, ekonomi kreatif, pariwisata, dan pengembangan potensi budaya Indonesia.

FIB Unand terus mendorong mahasiswa untuk berani mengambil kesempatan, mengembangkan potensi, serta menjadikan setiap pengalaman sebagai bagian dari proses menuju capaian yang lebih luas.

Dari pengalaman menjadi pembelajaran, dari prestasi menuju langkah berikutnya. Selamat, Dhea! Semoga perjalanan bersama tim Sumbar di tingkat Sumatra kembali membawa hasil terbaik.

 

Amanda Salsabila Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unand Raih Juara I Baca Puisi PEKSIMIDA Sumatera Barat

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas. Amanda Salsabila, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, berhasil meraih Juara I tangkai lomba Baca Puisi pada Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) Sumatera Barat Tahun 2026.

Amanda Salsabila dengan nomor BP 2210723011 berhasil meraih posisi pertama dalam ajang yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI). PEKSIMIDA menjadi wadah pengembangan minat, bakat, prestasi, sekaligus penguatan karakter mahasiswa melalui bidang seni.

Capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi FIB Unand, khususnya Program Studi Sastra Indonesia. Prestasi Amanda menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa tidak hanya berkembang melalui ruang pembelajaran akademik, tetapi juga melalui ekspresi seni yang membutuhkan kepekaan, penghayatan, keberanian, dan kemampuan menyampaikan gagasan kepada khalayak.

Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, kemampuan mengapresiasi dan menyampaikan karya sastra menjadi bagian penting dalam proses pengembangan diri. Melalui tangkai lomba Baca Puisi PEKSIMIDA, Amanda menunjukkan kemampuannya dalam menghadirkan puisi tidak sekadar sebagai teks, tetapi sebagai karya yang memiliki suara, emosi, dan makna.

Baca puisi membutuhkan perpaduan antara pemahaman terhadap teks, penghayatan, artikulasi, intonasi, ekspresi, serta kemampuan membangun komunikasi dengan pendengar. Proses tersebut menjadikan seni membaca puisi sebagai ruang yang mempertemukan kemampuan sastra dengan keterampilan pertunjukan.

Bagi FIB Unand, capaian Amanda juga memperlihatkan bagaimana pembelajaran di bidang humaniora dapat berkembang melalui berbagai bentuk ekspresi kreatif. Sastra tidak hanya dipelajari sebagai objek kajian, tetapi juga dapat dihidupkan melalui pembacaan, pertunjukan, dan pengalaman artistik.

“Prestasi Amanda menjadi bukti bahwa sastra memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan melalui kreativitas dan keberanian tampil. Kami mengapresiasi capaian ini dan berharap prestasi tersebut menjadi motivasi bagi mahasiswa FIB Unand untuk terus mengembangkan potensi akademik maupun seni,” ucap Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP.

Capaian Amanda tidak berhenti pada tingkat daerah. Atas prestasinya sebagai Juara I tangkai lomba Baca Puisi PEKSIMIDA Sumatera Barat, Amanda terpilih untuk mewakili Provinsi Sumatera Barat pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) XVIII Tahun 2026.

Ajang tingkat nasional tersebut dijadwalkan berlangsung pada 8–12 September 2026 di Universitas Jember dan diselenggarakan oleh BPSMI Jawa Timur.

Kesempatan tersebut menjadi tahap berikutnya bagi Amanda untuk membawa nama Sumatera Barat sekaligus FIB Universitas Andalas ke tingkat nasional. Keikutsertaannya juga menjadi pengalaman penting dalam mengembangkan kemampuan seni, memperluas jejaring, serta bertemu dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

“Menjadi bagian dari PEKSIMINAS merupakan kesempatan untuk terus belajar dan memberikan yang terbaik. Semoga pengalaman ini dapat menjadi ruang untuk berkembang sekaligus membawa nama FIB Unand dan Sumatera Barat dengan sebaik-baiknya,” jelas Amanda Salsabila.

Keberhasilan Amanda Salsabila menambah deretan capaian mahasiswa FIB Unand dalam bidang seni dan sastra. Prestasi tersebut sekaligus memperkuat komitmen FIB Unand dalam memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan minat, bakat, kreativitas, dan karakter melalui berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik.

Melalui capaian tersebut, Amanda diharapkan mampu melanjutkan prestasinya pada tingkat nasional dan menjadikan pengalaman PEKSIMIDA sebagai bagian dari perjalanan berkarya di bidang sastra.

Dari panggung daerah menuju panggung nasional, Amanda membawa puisi, prestasi, dan nama FIB Unand.

Amanda Putri Ayunda Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unand Raih Juara I Penulisan Lakon PEKSIMIDA Sumbar

Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas. Amanda Putri Ayunda, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, berhasil meraih Juara I cabang Penulisan Lakon dalam Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) Provinsi Sumatera Barat Tahun 2026.

Amanda Putri Ayunda dengan NIM 2410722044 berhasil menjadi yang terbaik melalui karya lakon berjudul “Pembunuh Jiwa”. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Provinsi Sumatera Barat sebagai ajang seleksi resmi untuk menentukan delegasi Sumatera Barat yang akan berlaga pada PEKSIMINAS XVII Tahun 2026.

Capaian tersebut menjadi pencapaian penting bagi Amanda sekaligus menunjukkan kontribusi mahasiswa FIB Unand dalam bidang seni dan sastra. Melalui penulisan lakon, Amanda tidak hanya menghadirkan karya artistik, tetapi juga mengangkat persoalan kemanusiaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Lakon “Pembunuh Jiwa” mengangkat kisah tentang manusia yang perlahan kehilangan rasa kemanusiaan dan hati nuraninya ketika semakin jauh dari norma kehidupan. Cerita berpusat pada tokoh Fajar, seorang tokoh yang merasa dirinya sedang melakukan upaya untuk “membersihkan” wilayah dari orang-orang yang dianggapnya buruk.

Dalam perjalanan cerita, Fajar justru semakin terperangkap dalam kekerasan yang ia anggap sebagai sesuatu yang benar. Tindakan yang pada awalnya dibangun atas keyakinan untuk memberantas keburukan perlahan membawa tokoh tersebut berhadapan dengan persoalan moral dan konsekuensi dari perbuatannya sendiri.

Melalui karakter Fajar, lakon ini mempertanyakan batas antara kebaikan dan kekerasan, pembenaran dan kesalahan, serta keyakinan dan hilangnya hati nurani. Persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi refleksi mengenai dosa, ingatan, kematian, serta akibat yang muncul dari setiap tindakan manusia.

Pada akhirnya, “Pembunuh Jiwa” menjadi gambaran kegelisahan terhadap kehidupan manusia yang semakin terbiasa dengan kejahatan. Ketika kekerasan terus-menerus dianggap biasa dan dibenarkan atas nama tujuan tertentu, manusia berisiko kehilangan kepekaan terhadap sesama sekaligus menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

“Melalui ‘Pembunuh Jiwa’, saya ingin menghadirkan kegelisahan tentang manusia yang perlahan kehilangan hati nuraninya. Ketika seseorang terlalu jauh membenarkan tindakannya, batas antara membela kebaikan dan melakukan kejahatan dapat menjadi semakin kabur.”
Amanda Putri Ayunda

Karya Amanda memperlihatkan bahwa penulisan lakon dapat menjadi ruang untuk menyampaikan persoalan sosial dan kemanusiaan secara lebih reflektif. Konflik yang dibangun melalui tokoh dan peristiwa dalam “Pembunuh Jiwa” tidak berhenti pada persoalan kekerasan, tetapi mengajak pembaca untuk mempertanyakan kembali posisi manusia ketika berhadapan dengan pilihan moral.

Persoalan mengenai dosa, ingatan, kematian, dan konsekuensi perbuatan menjadi bagian penting dalam perkembangan cerita. Tokoh Fajar menjadi medium untuk melihat bagaimana seseorang dapat meyakini bahwa dirinya berada di pihak yang benar, sementara tindakan yang dilakukannya justru semakin menjauhkan dirinya dari nilai kemanusiaan.

Karya tersebut sekaligus memperlihatkan kekuatan sastra dalam menghadirkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana. Melalui lakon, persoalan kehidupan manusia dapat dihadirkan dalam bentuk cerita yang memungkinkan pembaca maupun penonton melakukan refleksi terhadap realitas di sekitarnya.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., mengapresiasi capaian Amanda sebagai bagian dari kontribusi mahasiswa FIB Unand dalam pengembangan seni dan sastra. “Prestasi Amanda menunjukkan bahwa mahasiswa FIB Unand mampu mengembangkan kemampuan akademik sekaligus mengolah kepekaan terhadap persoalan kemanusiaan melalui karya. Sastra bukan hanya tentang menciptakan cerita, melainkan tentang menghadirkan gagasan dan mengajak kita melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas.”

Keberhasilan Amanda meraih Juara I Penulisan Lakon pada PEKSIMIDA Sumatera Barat 2026 sekaligus membuka peluang baginya untuk mewakili Sumatera Barat pada PEKSIMINAS XVII Tahun 2026. Capaian ini diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa FIB Unand lainnya untuk terus mengembangkan kreativitas, keberanian berkarya, dan kepekaan terhadap berbagai persoalan kehidupan melalui bidang seni dan sastra.

Melalui “Pembunuh Jiwa”, Amanda tidak sekadar menulis tentang kekerasan, tetapi mengajak pembaca kembali bertanya: ketika manusia kehilangan hati nuraninya, apa yang masih membuatnya manusia?