Mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand Raih Juara I dan III Lomba Presentasi Bahasa Jepang 2026, siap melangkah ke nasional

Gambar 1. Perwakilan Mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand mengikuti Lomba Presentasi Bahasa Jepang ke-5 tingkat Daerah Sumatera Barat dan Riau tahun 2026 bersama dosen pendamping, Rahtu Nila Sepni, S.Hum., M.Hum.

Kebahagiaan tidak selalu hadir melalui pencapaian besar, tetapi juga dapat ditemukan ketika seseorang mampu menjadi diri sendiri, menikmati hal-hal yang disukai, dan memberi manfaat bagi orang lain. Gagasan tersebut menjadi bagian dari presentasi mahasiswa Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas (FIB Unand), dalam Lomba Presentasi Bahasa Jepang ke-5 Tingkat Daerah Sumatera Barat dan Riau Tahun 2026. Pada kompetisi yang berlangsung Sabtu, 10 Oktober 2026, di Balairung Caraka, Universitas Bung Hatta, Padang, mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand berhasil meraih juara I dan juara III.

Frisnadhea Gusvita berhasil meraih juara I, sedangkan Felicia Rizaldy memperoleh juara III. Keduanya mengikuti kompetisi dengan pendampingan dosen Program Studi Sastra Jepang, Rahtu Nila Sepni, S.Hum., M.Hum. dan Ketua Program Studi Sastra Jepang, Dr. Rima Devi, S.S., M.Si. Prestasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menggunakan bahasa Jepang untuk menyampaikan gagasan secara terstruktur sekaligus mengembangkan perspektif personal terhadap tema yang diberikan.

Kompetisi yang diselenggarakan oleh The Japan Foundation, Jakarta, tersebut mengangkat tema “幸せというのは” yang berarti “Apa Itu Kebahagiaan?”. Melalui tema ini, peserta diajak menguraikan pemahaman mereka mengenai kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Presentasi tidak hanya menuntut penguasaan bahasa Jepang, tetapi juga kemampuan menyusun gagasan, menyampaikan pandangan secara runtut, dan menghubungkan tema dengan pengalaman maupun nilai yang diyakini.

Bagi Frisnadhea, keberhasilan meraih juara I menjadi pencapaian membanggakan sekaligus pengalaman berharga dalam perjalanan akademiknya. Kompetisi ini memberinya kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Jepang dan menyampaikan pemikiran di hadapan audiens. “Bagi saya, kompetisi ini menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Jepang sekaligus menyampaikan gagasan tentang kebahagiaan. Saya bersyukur atas hasil yang diraih dan berharap pengalaman ini menjadi motivasi untuk terus belajar dan berkembang,” ungkap Frisnadhea.

Sementara itu, Felicia Rizaldy meraih juara III melalui presentasi berjudul “幸せの瞬間” yang berarti “Momen Kebahagiaan”. Dalam presentasinya, Felicia memandang kebahagiaan sebagai pengalaman yang dapat dirasakan ketika seseorang mampu menjadi dirinya sendiri, tetap melakukan hal-hal yang disukai untuk menikmati hidup, dan menjadi pribadi yang berguna bagi orang lain. Menurutnya, kebahagiaan tidak semata-mata berkaitan dengan pencapaian pribadi, tetapi juga dengan penerimaan diri dan kontribusi kepada sesama. “Utamakan hal-hal yang membuat dirimu bahagia di atas hal lain. Prioritaskan kesehatan diri sendiri terlebih dahulu,” pesan Felicia.

Keberhasilan kedua mahasiswa tersebut menjadi hasil yang membanggakan bagi Prodi Sastra Jepang FIB Unand. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., turut memberikan apresiasi atas pencapaian ini. “Prestasi mahasiswa merupakan hasil dari kemauan untuk terus belajar, keberanian mencoba, dan kesungguhan mengembangkan potensi diri. Kami berharap capaian ini dapat memotivasi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya dan berani menunjukkan kemampuan di berbagai ajang kompetisi,” ungkap Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Selain Frisnadhea dan Felicia, seorang mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand lainnya, Haikal, juga turut berpartisipasi dalam kompetisi tersebut. Keikutsertaan Haikal dalam ajang ini menjadi kesempatan untuk mengasah keterampilan berbahasa Jepang, meningkatkan kepercayaan diri, dan memperluas pengalaman berkompetisi. 

Raihan juara I dan juara III ini tidak hanya menjadi pencapaian dalam kompetisi, tetapi juga memperlihatkan bahwa pembelajaran bahasa dapat menjadi ruang untuk mengembangkan pemikiran dan menyampaikan nilai-nilai kehidupan. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa diharapkan terus meningkatkan kemampuan berbahasa Jepang, memperluas wawasan lintas budaya, dan berani mengambil kesempatan untuk berprestasi di tingkat regional maupun lebih luas.

WD I Spill the Story: FIB Membuka Ruang Bagi Mahasiswa

Gambar 1. Podcast bersama Humas FIB Unand hadirkan Nada Aprila Kurnia sebagai Host dan Bapak Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D. sebagai Narasumber

Padang, HUMAS FIB UNAND — Berbagai wadah, ruang dan peluang pengembangan diri jika menjadi mahasiswa FIB. Mulai dari Creadit Earning (CE), Magang Berdampak, Organisasi Kemahasiswaan, prestasi, hingga beasiswa. Dari wadah tersebut mahasiswa didorong untuk mengembangkan potensinya.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Ngobras (Ngobrol Santai) episode 6 yang dipandu oleh Nada Aprila Kurnia dengan  Wakil Dekan I FIB UNAND, Zulprianto, S.S., M.A., Ph. D., dengan tema “WD I Spill the Story: Satu Tahun Mengawal Mahasiswa FIB”.

Dalam episode tersebut, beliau berbagi pengalaman selama kurang lebih satu tahun mengemban amanah sebagai WD I, terutama di bidang akademik dan kemahasiswaan.

“Pengalaman terbaru saya sebagai WD I adalah harus antisipasi setiap kegiatan mahasiswa, karena banyaknya kegiatan mahasiswa yang dilaksanakan hari weekend, ucapnya”.

Topik pertama yang diperbincangkan adalah terkait pelaksanaan CE dan Magang Berdampak. Kedua program tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa FIB untuk memperoleh pengalaman dan melatih kemampuan di luar lingkungan akademik.

Beliau juga menyebutkan bahwa antusiasme mahasiswa akan pengajuan program CE dan Magang Berdampak cukup tinggi. Dalam hal ini, ruang lingkup konsorsium FIB se-Indonesia semakin mempermudah mahasiswa untuk memperolah pengalaman di Perguruan Tinggi lainnya.

“Program CE dan Magang Berdampak menjadi program populer bagi mahasiswa dengan tingkat antusiasme yang tinggi, lanjutnya.”

Bentuk kerja sama dan jejaring antar FIB juga memudahkan mahasiswa  memperoleh pengalaman akademik di lingkungan yang berbeda. Sementara itu, Magang Berdampak memberikan kesempatan mahasiswa untuk mengenal dunia kerja melalui pengalaman awal di tempat magang.

Antuasisme mahasiswa terhadap kedua program tersebut juga didukung penuh oleh pihak Fakultas Ilmu Budaya dan Universitas Andalas terkait pembiayaan. Dukungan tersebut turut mendorong mahasiswa untuk mengambil kesempatan emas belajar dan memperolah pengalaman yang luar biasa di lingkungan perkuliahan.

Selain dari program akademik, UKM, UKMF, dan HIMA juga berperan penting dalam prose perkembangan kemampuan mahasiswa. Di sela obrolan itu, Nada juga menegaskan bahwa banyak UKM, UKMF dan HIMA yang ada di FIB,  mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga perlu bersosialisasi dengan lintas prodi atau fakultas untuk memperoleh pengalaman”.

Selanjutnya, peran beasiswa menjadi persoalan utama mahasiswa. Beasiswa dinilai memberikan dukungan bagi mahasiswa dalam menjalani pendidikan sekaligus kesempatan untuk mengembangkan diri. Di sisi itu, terdapat juga kendala akan tahap administrasi karena mahasiswa yang memproses berkas kerap dilakukan pada waktu yang sempit. Namun, pihak fakultas tetap membantu mahasiswa dalam proses pengajuan beasiswa tersebut.

“Beasiswa tentunya sangat membantu mahasiswa. Mahasiswa yang mendapatkan beasiswa akan memiliki tanggung moral untuk memantaskan dirinya sebagai penerima beasiswa tersebut, ucapnya”.

Dari pembahas Ngobras episode 6 ini menunjukkan bahwa perjalanan mahasiswa FIB UNAND tidak hanya berlangsung di ruang kelas dan akademik semata. Akan tetapi, juga banyak wadah dan ruang seperti organiasasi, kompetisi, magang, CE, serta beasiswa untuk memperoleh pengalaman dan skill.

Melalui tema WD I Spill the Story: Satu Tahun Mengawal Mahasiswa FIB” menghadirkan ruang percakapan antara pimpinan fakultas dan mahasiswa untuk melihat kembali dunia akademik dan kemahasiswaan selama satu tahun terakhir. Lebih lanjut, hal tersebut memperlihatkan dukungan nyata FIB terhadap berbagai program untuk meningkatkan potensi mahasiswanya.

Dengan demikian, FIB UNAND berharap agar mahasiswa terus berani mengambil peluang untuk mengembangakan potensi, skill dan pengalaman  dengan memanfaatkan program-program dari FIB maupun Universitas Andalas.

Penulis Berita: Maryatul Kuptiah (Tim HUMAS FIB)

Josephine Gerardo Simbolon, Mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand Raih Perunggu pada Porprov Sumbar

Gambar 1. Josephine Gerardo Simbolon raih  medali perunggu cabang olahraga bola tangan (handball) pada Porprov Sumatera Barat

Menjalani perkuliahan pada siang hari dan latihan olahraga setiap malam bukan perkara mudah. Namun, kesungguhan dalam membagi waktu dan menjaga komitmen mengantarkan Josephine Gerardo Simbolon, mahasiswa Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, meraih medali perunggu atau juara III cabang olahraga bola tangan (handball) pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat. Bersama rekan satu timnya, Josephine berhasil membawa pulang medali setelah melalui persiapan dan latihan yang cukup melelahkan.

Kompetisi yang diselenggarakan oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Barat tersebut berlangsung pada 2–14 Oktober 2026 di Rafhely Bypass. Keikutsertaan Josephine menjadi bagian dari perjalanan mahasiswa dalam mengembangkan potensi di luar kegiatan akademik. Di tengah tanggung jawabnya sebagai mahasiswa, ia tetap berupaya menjaga konsistensi latihan demi memberikan penampilan terbaik bersama tim.

Bagi Josephine, persiapan menuju pertandingan membutuhkan kedisiplinan dan pengorbanan waktu. Setelah menyelesaikan perkuliahan, ia harus kembali bersiap untuk menjalani latihan pada malam hari. Rutinitas tersebut tidak selalu mudah, terutama ketika harus menyeimbangkan kebutuhan akademik dengan tuntutan latihan. Meski demikian, ia berusaha menjalani setiap proses dengan sungguh-sungguh agar dapat tampil maksimal saat pertandingan berlangsung. “Kalau ditanya perjuangan, persiapannya sudah cukup matang dan melelahkan. Setiap pulang kuliah, saya harus latihan setiap malam. Mengatur waktu juga tidak mudah,” ungkap Josephine.

Kerja keras tersebut mengantarkannya bersama tim meraih medali perunggu. Meski demikian, pencapaian itu belum sepenuhnya memenuhi target pribadi Josephine. Ia mengaku memiliki keinginan besar untuk meraih medali emas. Baginya, hasil yang diperoleh menjadi bahan evaluasi sekaligus dorongan untuk meningkatkan kemampuan dan mempersiapkan diri dengan lebih baik pada kompetisi berikutnya. “Jujur, saya masih belum puas karena ingin meraih medali emas. Namun, saya tetap bersyukur karena bisa membawa pulang satu medali. Saya menghargai semua kerja keras yang sudah saya jalani selama ini,” tuturnya.

Di balik pencapaian tersebut, Josephine menyampaikan pesan bahwa usaha dan ketekunan tetap memiliki arti, sekalipun hasilnya belum sesuai dengan harapan. Ia mengajak siapa pun yang sedang memperjuangkan cita-cita untuk tidak mudah menyerah dan tetap memelihara keyakinan dalam menjalani proses.

“Segala usaha dan jerih payah yang kita lakukan pasti ada hasilnya, meskipun belum sesuai dengan yang kita inginkan. Jangan menyerah sebelum apa yang kita impikan tercapai. Tetap berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar langkah kita ke depan dimudahkan,” pesannya.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., menyampaikan apresiasi atas pencapaian Josephine. Prestasi ini diharapkan menjadi penyemangat bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan potensi, berani berkompetisi, dan memberikan yang terbaik di bidang yang mereka tekuni. “Setiap prestasi lahir dari proses, kerja keras, dan ketekunan. Teruslah berusaha, jadikan setiap pengalaman sebagai pembelajaran, dan jangan berhenti melangkah untuk meraih cita-cita yang lebih tinggi,” ungkap Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Prestasi Josephine menjadi gambaran bahwa kehidupan mahasiswa tidak hanya diisi dengan kegiatan perkuliahan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan minat, bakat, dan kemampuan di bidang lain. Pengalaman membagi waktu antara kuliah dan latihan memperlihatkan pentingnya kedisiplinan serta komitmen dalam mengejar tujuan. Medali perunggu pada Porprov Sumatera Barat menjadi pencapaian yang patut disyukuri sekaligus pijakan bagi Josephine untuk terus berkembang dan mengejar prestasi yang lebih tinggi pada masa mendatang.

Bedah Kurikulum, Prodi Arkeologi FIB Unand Perkuat Fondasi Akademik dan Arah Pengembangan

Gambar 1. Bedah Kurikulum Program Studi Arkeologi FIB Unand

Membangun program studi arkeologi tidak sekadar menyusun daftar mata kuliah, tetapi juga merumuskan visi, memperkuat fondasi akademik, dan menentukan arah pendidikan di masa depan. Pemikiran tersebut menjadi landasan kegiatan Bedah Kurikulum Menuju Keunggulan Prodi Arkeologi yang diselenggarakan Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, pada Rabu, 7 Oktober 2026, di Ruang Smart Classroom FIB Unand.

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana, M.Si.; Dr. Yadi Mulyadi, S.S., M.A.; dan Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. Ketiganya dihadirkan untuk memberikan perspektif akademik dalam pembahasan pengembangan kurikulum Prodi Arkeologi. Forum ini menjadi ruang untuk meninjau kembali arah pembelajaran, memperkuat landasan keilmuan, dan merumuskan langkah pengembangan program studi menuju keunggulan akademik.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.; Ketua Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III Sumatera Barat, Drs. Nurmatias; Kepala Departemen Ilmu Sejarah, Dr. Zulqaiyyim, M.Hum.; perwakilan Museum Adityawarman, serta dosen Prodi Arkeologi. Kehadiran unsur pimpinan fakultas, akademisi, dan perwakilan lembaga kebudayaan memberikan ruang bagi pertukaran pandangan mengenai pengembangan pendidikan arkeologi dan kaitannya dengan pelestarian warisan budaya.

Kurikulum memiliki posisi strategis dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi karena menjadi pedoman dalam menentukan materi pembelajaran, kompetensi yang dikembangkan, dan capaian yang diharapkan dari lulusan. Dalam bidang arkeologi, pengembangan kurikulum juga perlu mempertimbangkan dinamika keilmuan, perkembangan metode penelitian, serta kebutuhan pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya. Oleh karena itu, pembahasan kurikulum menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa proses pembelajaran memiliki arah yang jelas dan mampu menjawab tantangan perkembangan ilmu pengetahuan.

“Membangun program studi Arkeologi bukan sekadar menyusun kurikulum. Ini tentang merumuskan visi, memperkuat fondasi akademik, dan menentukan arah masa depan pendidikan arkeologi. Sebuah langkah bermakna bagi Arkeologi Universitas Andalas,” ujar Prof. Dr. Ike Revita.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengembangan kurikulum merupakan bagian dari upaya membangun identitas dan arah akademik program studi. Kurikulum tidak hanya berkaitan dengan struktur mata kuliah, tetapi juga dengan visi keilmuan yang ingin diwujudkan melalui proses pendidikan. Dengan arah yang terencana, program studi memiliki landasan untuk mengembangkan pembelajaran yang relevan, memperkuat kompetensi mahasiswa, dan mempersiapkan lulusan agar mampu berkontribusi dalam bidang arkeologi maupun pelestarian kebudayaan.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan pemikiran bahwa kurikulum perlu dipahami lebih luas daripada sekadar susunan mata kuliah. “Kurikulum bukan sekadar daftar mata kuliah. Ia mencerminkan apa yang kita anggap penting, apa yang kita ajarkan, dan sosok arkeolog seperti apa yang ingin kita bentuk.” Dengan demikian, penyusunan dan evaluasi kurikulum berkaitan erat dengan pembentukan karakter akademik, penguasaan pengetahuan, dan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan keilmuannya di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan bedah kurikulum ini, Prodi Arkeologi FIB Unand diharapkan dapat memperkuat arah pengembangan akademik dengan mempertimbangkan berbagai perspektif dari kalangan akademisi dan pemangku kepentingan kebudayaan. Pertukaran gagasan dalam forum tersebut menjadi bagian dari proses evaluasi dan penyempurnaan kurikulum agar semakin terarah dalam mendukung kualitas pembelajaran serta pengembangan keilmuan arkeologi.

Langkah ini sekaligus menegaskan pentingnya menempatkan kurikulum sebagai fondasi bagi masa depan program studi. Kurikulum yang dirancang dengan visi yang jelas diharapkan dapat mendukung lahirnya lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan arkeologi, tetapi juga kepekaan terhadap nilai sejarah, kebudayaan, dan tanggung jawab pelestarian warisan budaya.

Gambar 2. Foto bersama peserta dengan narasumber dalam acara bedah kurikulum

FBBN II LPK Unand Resmi Dibuka, Bahasa Jadi Ruang Kolaborasi dan Respons terhadap Krisis Ekologi

Gambar 1. Pembukaan FBBN II LPK Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Padang, 2 Oktober 2026

Labor Penulisan Kreatif (LPK) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas kembali menyelenggarakan Festival Bulan Bahasa Nasional II (FBBN II) Universitas Andalas. Rangkaian kegiatan resmi dibuka pada Jumat (2/10) di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dengan mengangkat tema “Bahasa dalam Ingatan: Membaca Isyarat Alam, Merespons Krisis Ekologi.”

Pembukaan FBBN II dihadiri Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Alex Darmawan, S.S., M.A., yang mewakili Dekan FIB Unand Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., Pembina LPK Roma Kyo Kae Saniro, S.S., M.Hum., Ketua Umum LPK Nada Aprila Kurnia, para narasumber kuliah umum, panitia, peserta, dan tamu undangan.

FBBN II berlangsung sejak 2 Oktober hingga 13 November 2026 sebagai bagian dari peringatan Bulan Bahasa. Tahun ini, rangkaian kegiatan dikembangkan melalui lomba daring tingkat nasional bagi mahasiswa, lomba luring bagi siswa SMA/sederajat se-Sumatera Barat, serta pengabdian kepada masyarakat.

Lomba daring yang berlangsung pada 2–31 Oktober mencakup tiga cabang, yaitu Cipta Puisi, Cipta Cerpen, dan Cipta Esai. Sementara itu, lomba luring Baca Puisi bagi siswa dan siswi SMA/sederajat se-Sumatera Barat akan dilaksanakan pada 13 November sebagai puncak rangkaian FBBN II.

Selain perlombaan, FBBN II juga menghadirkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa sosialisasi mengenai bahasa dan ekologi kepada siswa SMA. Kegiatan tersebut menjadi upaya untuk membawa tema FBBN II ke ruang pendidikan dan masyarakat sekaligus menumbuhkan kepekaan generasi muda terhadap persoalan ekologis.

Pembukaan FBBN II dirangkaikan dengan kuliah umum yang diselenggarakan melalui kerja sama dengan Program Studi Sastra Indonesia Universitas Andalas. Kuliah umum menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr. Ronidin, S.S., M.A., Leni Syafyahya, S.S., M.Hum., dan Dr. Aslinda, M.Hum.

Gambar 2. Kuliah Umum Bersama Program Studi sastra Indonesia dalam rangka FBBN II LPK Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Kolaborasi dengan Program Studi Sastra Indonesia dipilih karena tema FBBN II memiliki keterkaitan erat dengan kajian bahasa dan lingkungan, serta didukung oleh kepakaran yang berkembang di Fakultas Ilmu Budaya, khususnya di Program Studi Sastra Indonesia. Meski demikian, pelaksanaan FBBN II tidak terbatas pada satu program studi maupun satu fakultas.

Sebanyak 61 mahasiswa dari berbagai jurusan dan fakultas di Universitas Andalas terlibat sebagai panitia. Perluasan keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ruang kolaborasi lintas disiplin, dengan bahasa ditempatkan bukan sebagai pembatas, melainkan sebagai pemersatu.

Kuliah umum juga diarahkan sebagai ruang untuk memperluas pemahaman peserta mengenai tema FBBN II sekaligus menjadi sumber referensi dan pemantik gagasan dalam menghasilkan karya. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya mampu berkarya, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap isu ekologis yang tengah dihadapi Indonesia.

FBBN tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua setelah sebelumnya digagas oleh Rosidatul Arifah, S.Hum. Jika pada penyelenggaraan pertama kepanitiaan masih berasal dari internal LPK dan perlombaan hanya dilaksanakan secara daring bagi mahasiswa, FBBN II memperluas ruang keterlibatan dengan membuka kepanitiaan bagi mahasiswa Universitas Andalas secara umum serta menghadirkan kompetisi luring bagi pelajar.

Ketua Umum LPK, Nada Aprila Kurnia, menyebut perkembangan tersebut sebagai bagian dari upaya menjadikan FBBN sebagai ruang belajar dan kolaborasi bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang. “Bagi kami, hal ini menjadi salah satu bentuk perkembangan FBBN sebagai ruang kolaborasi, sekaligus kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk belajar dan bekerja bersama,” ujarnya.

Perluasan bentuk kegiatan dan keterlibatan peserta diharapkan dapat menghasilkan karya yang tidak hanya bernilai kreatif, tetapi juga merefleksikan kepedulian terhadap persoalan lingkungan. FBBN II menargetkan lahirnya pengkarya yang mampu membaca isu di sekitarnya dan menerjemahkannya ke dalam karya bahasa dan sastra.

Ketua Pelaksana FBBN II, Nikicha Myomi Chairanti, berharap rangkaian kegiatan yang telah disiapkan dapat meninggalkan lebih dari sekadar pelaksanaan sebuah acara. “FBBN II tidak hanya menjadi sebuah rangkaian kegiatan, tetapi juga menjadi ruang yang meninggalkan gagasan, karya, dan kesadaran bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya,” ungkapnya.

Setelah pembukaan, rangkaian FBBN II akan dilanjutkan dengan lomba daring tingkat nasional, pengabdian kepada masyarakat, dan ditutup melalui lomba Baca Puisi tingkat SMA/sederajat se-Sumatera Barat pada 13 November 2026. Melalui rangkaian tersebut, FBBN II berupaya mempertemukan bahasa, kreativitas, kolaborasi, dan kepedulian terhadap persoalan ekologis dalam satu ruang perayaan Bulan Bahasa.

Penulis: LPK FIB Unand

lagi, Arya Alghifari Mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand Raih Best Idea Essay pada National Agricultural Competition 2026

Gambar 1. Arya Alghifari dan team mendapat penghargaan best idea essay  pada National Agricultural Competition 2026

Gagasan mengolah serai dapur dan daun jeruk purut menjadi produk bernilai guna mengantarkan mahasiswa Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand), Arya Alghifari, meraih penghargaan Best Idea Essay dalam National Agricultural Competition 2026. Arya menjadi ketua tim yang beranggotakan tiga mahasiswa Universitas Andalas dari lintas fakultas.

National Agricultural Competition 2026 diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Jambi dengan mengusung tema “Sinergi Generasi Muda dalam Mengembangkan Kreativitas dan Inovasi Berbasis Teknologi untuk Transformasi Pertanian yang Berkelanjutan”. Kompetisi tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan kreatif dan inovatif dalam menjawab berbagai tantangan di bidang pertanian.

Pada kategori yang diikuti, Arya bersama dua anggota timnya dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Alif Althaf Rabbani dan Vineshya Haniefah, mengangkat esai berjudul “Wein Fresh Box: Inovasi Hilirisasi Serai Dapur dan Daun Jeruk Purut Menjadi Deodorizer Alami untuk Kulkas Rumah Tangga”.

Gagasan tersebut mengambil subtema hilirisasi produk pertanian yang menekankan upaya meningkatkan nilai tambah komoditas melalui pengolahan, inovasi produk, pengemasan, pemasaran, hingga pengembangan model bisnis. Melalui Wein Fresh Box, tim mengembangkan konsep pemanfaatan serai dapur dan daun jeruk purut sebagai deodorizer alami untuk kulkas rumah tangga.

Pilihan terhadap dua komoditas tersebut memperlihatkan bagaimana bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat dikembangkan menjadi sebuah gagasan inovatif. Tim tidak hanya melihat komoditas pertanian dari sisi bahan mentah, tetapi juga mencoba mengarahkannya pada pemanfaatan yang memiliki nilai tambah dan peluang pengembangan produk.

Kolaborasi lintas bidang menjadi bagian penting dalam proses pengembangan gagasan tersebut. Arya dari Program Studi Sastra Jepang FIB Unand berperan sebagai ketua tim, sementara Alif Althaf Rabbani dan Vineshya Haniefah A. berasal dari Program Studi Manajemen FEB Unand. Perbedaan latar belakang keilmuan tersebut memberikan perspektif yang beragam dalam merumuskan gagasan, melihat peluang produk, dan mengembangkan konsep hilirisasi yang diangkat dalam esai.

Tahap final National Agricultural Competition 2026 dilaksanakan secara luring pada 3–5 Oktober 2026. Setelah melalui proses seleksi dan penilaian, tim Arya berhasil memperoleh penghargaan Best Idea Essay. Capaian tersebut sekaligus menambah deretan prestasi mahasiswa FIB Unand dalam kompetisi tingkat nasional.

 “Bagi kami, penghargaan Best Idea menjadi apresiasi terhadap proses dan kerja sama yang telah kami bangun selama mengikuti kompetisi. Kami berusaha melihat potensi bahan yang sederhana dari sudut pandang yang berbeda, kemudian mengembangkannya menjadi sebuah gagasan yang memiliki nilai tambah dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Arya.

Menurut Arya, pengalaman berkompetisi bersama tim lintas fakultas juga memberikan pembelajaran tersendiri. Perbedaan latar belakang keilmuan membuat proses penyusunan gagasan berlangsung melalui pertukaran perspektif dan pembagian peran sesuai dengan kemampuan masing-masing anggota tim.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. mengapresiasi capaian Arya yang berhasil membawa nama FIB Unand dalam kompetisi nasional. “Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa FIB Unand memiliki kemampuan untuk berkolaborasi dan mengembangkan gagasan di berbagai bidang. Latar belakang keilmuan tidak menjadi batas untuk berinovasi. Justru melalui kolaborasi, mahasiswa dapat mempertemukan berbagai perspektif dan menghasilkan gagasan yang lebih kreatif serta relevan,” Ungkap Prof. Dr. Ike Revita.

Capaian Arya dan tim juga menunjukkan pentingnya ruang kolaborasi lintas disiplin bagi mahasiswa. Gagasan yang lahir dari pertemuan berbagai perspektif dapat membuka kemungkinan baru dalam melihat persoalan dan mengembangkan solusi yang lebih kontekstual.

Bagi FIB Unand, prestasi tersebut menjadi bagian dari capaian mahasiswa yang tidak hanya menunjukkan kemampuan akademik, tetapi juga kreativitas, keberanian berkompetisi, dan kemampuan bekerja sama. Keberhasilan Arya bersama dua mahasiswa FEB Unand sekaligus memperlihatkan bahwa mahasiswa dari bidang humaniora dapat mengambil bagian dalam pengembangan gagasan inovatif yang bersinggungan dengan berbagai sektor kehidupan.

Melalui prestasi tersebut, Arya Alghifari dan timnya membuktikan bahwa sebuah gagasan dapat berangkat dari hal-hal sederhana di sekitar, kemudian dikembangkan melalui kreativitas, kolaborasi, dan keberanian untuk melihat peluang dari sudut pandang yang berbeda. Wein Fresh Box menjadi salah satu contoh bagaimana potensi komoditas pertanian dapat diterjemahkan menjadi gagasan inovasi yang memiliki nilai tambah.

Gambar 2. Arya Alghifari, Alif Althaf Rabbani, dan Vineshya Haniefah mendapatkan penghargaan best idea essay  pada National Agricultural Competition 2026