Seminar Nasional Arkeologi FIB Unand Bahas Masa Depan dan Peluang Arkeologi di Indonesia

Gambar 1. Narasumber offline dan Moderator Seminar Nasional Arkeologi

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas melalui Program Studi Arkeologi menggelar Seminar Nasional bertajuk “Masa Depan Arkeologi dan Tantangan Kurikulum” pada Selasa, 8 September 2026. Kegiatan yang sekaligus menjadi seminar nasional perdana Program Studi Arkeologi FIB Unand ini membahas perkembangan arkeologi, tantangan kurikulum, serta peluang pengembangan bidang arkeologi di Indonesia.

Seminar nasional tersebut dibuka secara resmi oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. Kegiatan turut menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Lutfi Yondri, M.Hum., Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang hadir melalui zoom; serta narasumber yang hadir secara langsung, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., Ketua Program Studi S1 Arkeologi Universitas Andalas; dan Drs. Nurmatias, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat.

Selain sivitas akademika FIB Unand, seminar juga dihadiri oleh penggiat arkeologi dan kebudayaan di Sumatera Barat, tokoh-tokoh yang memiliki perhatian terhadap bidang arkeologi dan kebudayaan, serta mahasiswa Program Studi Arkeologi dari berbagai angkatan. Antusiasme peserta terlihat dari jumlah audiens yang mencapai lebih dari seratus orang dan mendekati dua ratus peserta, baik yang hadir secara langsung maupun mengikuti kegiatan secara daring.

Mengangkat tema “Masa Depan Arkeologi dan Tantangan Kurikulum”, seminar tidak hanya membicarakan perkembangan disiplin arkeologi dari sisi akademik, tetapi juga mengarahkan perhatian pada masa depan profesi, ruang kerja, serta peluang arkeologi untuk berkontribusi dalam pengembangan kebudayaan di Indonesia.

Pembahasan mengenai kurikulum menjadi bagian penting karena perkembangan ilmu dan kebutuhan masyarakat menuntut pendidikan arkeologi untuk terus beradaptasi. Arkeologi tidak lagi dipandang semata-mata sebagai bidang yang berkaitan dengan penggalian dan penelitian tinggalan masa lalu, tetapi juga memiliki ruang yang luas dalam pelestarian warisan budaya, pengelolaan museum, pariwisata berbasis budaya, edukasi publik, pengembangan industri kreatif, hingga pemanfaatan teknologi dalam dokumentasi dan kajian warisan budaya.

Sebagai program studi yang relatif baru dan dapat disebut sebagai salah satu “anak bungsu” dalam perkembangan pendidikan arkeologi di Indonesia, Prodi Arkeologi FIB Unand memandang seminar nasional ini sebagai momentum penting untuk memperkenalkan sekaligus memperkuat posisi bidang arkeologi di lingkungan akademik dan masyarakat.

Dalam sambutannya, Dekan FIB Unand menekankan pentingnya membuka wawasan mahasiswa terhadap perkembangan arkeologi sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi berbagai kemungkinan dan kebutuhan di masa mendatang. “Arkeologi tidak hanya berbicara tentang masa lalu tetapi juga berbicara tentang bagaimana kita memahami warisan budaya, merawatnya, dan menghadirkannya sebagai bagian dari kehidupan masa kini dan masa depan. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki wawasan yang luas dan mampu melihat berbagai peluang yang dapat dikembangkan melalui ilmu arkeologi.”

Menurutnya, keberadaan Program Studi Arkeologi di FIB Unand merupakan bagian dari komitmen fakultas dalam mengembangkan ilmu-ilmu humaniora yang memiliki keterkaitan erat dengan kebudayaan dan kehidupan masyarakat. “Sebagai program studi yang masih relatif muda, Arkeologi FIB Unand memiliki ruang yang besar untuk tumbuh. Seminar nasional ini menjadi salah satu langkah untuk memperluas jejaring, mempertemukan akademisi dan praktisi, sekaligus membuka wawasan mahasiswa mengenai masa depan arkeologi.” Ungkap Prof. Dr. Ike Revita.

Sementara itu, kehadiran narasumber dari BRIN dan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat memberikan perspektif yang lebih luas mengenai hubungan antara pendidikan arkeologi, penelitian, pelestarian, dan kebutuhan di lapangan. Diskusi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa lulusan arkeologi memiliki peluang untuk berkiprah pada berbagai sektor yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, kebudayaan, pelestarian warisan, dan pengelolaan sumber daya budaya.

Ketua Program Studi S1 Arkeologi FIB Unand, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., turut menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya memperkuat pembahasan mengenai arah pengembangan pendidikan arkeologi di tingkat program studi, khususnya dalam menghadapi perubahan kebutuhan keilmuan dan dunia kerja.

Kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa dengan para akademisi, peneliti, praktisi, dan pemerhati kebudayaan. Interaksi tersebut diharapkan dapat memperluas perspektif mahasiswa sekaligus membangun jejaring yang mendukung perkembangan Program Studi Arkeologi FIB Unand.

Seminar nasional perdana ini menjadi langkah awal bagi Prodi Arkeologi FIB Unand untuk terus membangun tradisi akademik, memperluas kolaborasi, dan menghadirkan pembahasan arkeologi yang relevan dengan perkembangan zaman.

Lebih dari sekadar membicarakan masa lalu, seminar ini menegaskan bahwa arkeologi memiliki masa depan yang terbuka luas, terutama ketika ilmu pengetahuan, pelestarian budaya, pendidikan, dan kebutuhan masyarakat dapat dipertemukan dalam ruang kolaborasi yang lebih luas.

Gambar 2. Foto bersama Dekan FIB Unand, narasumber, dan seluruh peserta seminar

 

FIB Unand Rancang Cultural and Creative Hub sebagai Pengembangan Unit Bisnis Seni dan Budaya

Gambar 1. Wakil Rekotr II Unand, Dr. Hefrizal Handra, M.Soc.Sc. bersama Dekan FIB Unand, Direktur Unit Bisnis Unand dan Ketua Unit Bisnis FIB Unand memimpin jalannya diskusi

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pemetaan Potensi dan Perumusan Arah Pengembangan Unit Usaha Seni dan Budaya pada Sabtu, 5 September 2026 di Ruang Sidang Dekanat FIB Unand. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam merumuskan pengembangan FIB Cultural and Creative Hub sebagai konsep unit bisnis yang berbasis pada potensi seni, budaya, dan keilmuan di lingkungan FIB Unand.

FGD dibuka oleh Wakil Rektor II Universitas Andalas, Dr. Hefrizal Handra, M.Soc.Sc., dan dihadiri oleh Dekan FIB Unand Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II Alex Darmawan, S.S., M.A., Manajer Bidang I Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., Manajer Bidang II Adrianis, S.S., M.A., serta jajaran ketua departemen, ketua program studi, dan unsur terkait di lingkungan FIB Unand. Dari Universitas Andalas turut hadir unsur Direktorat Pengembangan Unit Usaha dan Bisnis (DPUB).

Berdasarkan undangan resmi, FGD dilaksanakan untuk memetakan potensi unggulan, produk dan layanan potensial, target pengguna, ekosistem pendukung, serta arah dan identitas unit usaha yang akan dikembangkan FIB Unand.

Dalam kegiatan tersebut, tim unit bisnis FIB memaparkan konsep awal FIB Cultural and Creative Hub, meliputi gambaran konsep, fasilitas, program, serta potensi bisnis yang dapat dikembangkan. Selanjutnya, peserta mengikuti diskusi terarah untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan FIB sekaligus merumuskan kebutuhan strategis pendirian unit tersebut.

Pembahasan kemudian diarahkan pada pengembangan fasilitas dan program prioritas. Dalam rundown FGD, sejumlah gagasan yang dipetakan antara lain Medan Nan Balinduang, auditorium, mini cinema, KATA, program bahasa dan pariwisata, penerbitan, museum, galeri, serta database.

Gagasan tersebut menjadi ruang diskusi bagi pimpinan, tim unit bisnis, ketua departemen, dan ketua program studi untuk melihat potensi FIB tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dari kekayaan seni, budaya, kreativitas, serta fasilitas yang dapat dikembangkan menjadi layanan yang bernilai bagi masyarakat.

Ketua tim unit bisnis FIB, Donny Eros, S.S., M.A., turut memberikan gagasan mengenai pengembangan potensi seni dan budaya yang menjadi kekuatan FIB. Pembahasan diarahkan antara lain pada pengembangan ruang pertunjukan, museum, serta fasilitas kebudayaan yang dapat menjadi ruang interaksi antara civitas academica, pelaku seni, komunitas, dan masyarakat. “FIB memiliki kekuatan pada seni, budaya, dan pengetahuan yang kita miliki. Karena itu, pengembangan unit bisnis tidak harus selalu berbentuk produk, tetapi dapat diwujudkan melalui ruang dan layanan kebudayaan yang hidup, produktif, dan memberi manfaat bagi masyarakat.”

Sementara itu, Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. menekankan pentingnya mengembangkan unit usaha yang tetap berpijak pada identitas dan kekuatan akademik FIB. “Kita ingin membangun unit usaha yang tumbuh dari kekuatan FIB sendiri. Seni, budaya, bahasa, sejarah, sastra, dan kreativitas tidak hanya bidang keilmuan, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat.”

FGD kemudian berlanjut pada pembahasan mengenai bentuk kelembagaan, tata kelola, dan skema kerja sama, termasuk hubungan antara FIB, DPUB, dan Universitas Andalas serta kemungkinan kerja sama dengan investor, pemerintah, sponsor, dan mitra.

Pada sesi berikutnya, peserta membahas income generating program dan pilot project 2026 untuk menentukan program bisnis yang paling memungkinkan dikembangkan pada tahap awal, termasuk paket layanan, sumber pendapatan, indikator keberhasilan, dan prioritas pelaksanaan.

Rangkaian diskusi ditutup dengan penyepakatan hasil FGD yang mencakup rumusan keputusan, prioritas tindak lanjut, dan penanggung jawab. Salah satu keluaran yang ditargetkan adalah persetujuan prinsip pendirian FIB Cultural and Creative Hub sebagai konsep Unit Bisnis FIB, disertai pemetaan SWOT, daftar fasilitas dan program prioritas, rekomendasi bentuk kelembagaan, skema kerja sama dan pembiayaan, hingga rancangan pilot proyek tahun 2026.

Gambar 2. Foto bersama dengan seluruh peserta diskusi

Melalui FGD ini, FIB Unand menegaskan upaya untuk mengembangkan potensi seni dan budaya secara lebih terarah. Pengembangan unit bisnis diharapkan tidak hanya memperkuat kemandirian institusi, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi karya, kreativitas, pengetahuan, dan kebudayaan untuk hadir di tengah masyarakat.

LPK FIB Unand dan PBHI Sumbar Gelar Diskusi Publik: Membaca Kerusakan Alam Melalui Perspektif Ekokritik Sastra

Gambar 1. Dekan FIb Unand dengan para narasumber Diskusi Publik

PADANG, HUMAS FIB UNAND — Kamis, 3 September 2026

Labor Penulisan Kreatif (LPK) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas bekerja sama dengan Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) wilayah Sumatera Barat dalam menyelenggarakan kegiatan Diskusi Publik bertajuk "Membaca Kerusakan Alam Melalui Sastra: Perspektif Ekokritik dalam Merespons Krisis Lingkungan". Acara yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB bertempat di Ruang Seminar FIB Universitas Andalas dan dihadiri oleh mahasiswa, akademisi, jurnalis, serta aktivis lingkungan.

Diskusi publik ini digagas sebagai wujud keprihatinan bersama terhadap ancaman krisis ekologis yang kian masif, khususnya di wilayah Sumatera Barat. Pembukaan acara diawali secara formal oleh MC Putri Effendi dan Adeka Gusnanda, Dalam sambutannya  Ketua PBHI Sumatera Barat menyampaikan “jika saat ini hukum dan HAM tidak mampu menjawab pertanyaan tentang kerusakan alam, maka sastra yang akan berbicara, “ucapnya. Acara ini secara resmi dibuka oleh Dekan FIB Universitas Andalas Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. CRP.

Memasuki sesi diskusi yang dipandu oleh moderator Maryatul Kuptiah, diskusi mempertemukan empat pemateri dengan latar belakang beragam untuk membedah bagaimana krisis lingkungan tidak hanya menjadi persoalan sains dan kebijakan semata, melainkan juga dapat dibaca, direkam, dan dikritik melalui medium karya sastra.

Sesi pemaparan diawali oleh narasumber dari LPK FIB Unand, Mayang Puti Ifanny (Mahasiswi Sastra Indonesia FIB Unand). Mayang menyoroti bagaimana karya sastra bertindak sebagai arsip ekologis dan ingatan kolektif masyarakat. Ia mencermati puisi-puisi Indonesia kontemporer, seperti karya Taufiq Ismail dan Zawawi Imron, yang merekam keindahan alam sekaligus meratapi kepunahannya. Menurutnya, “ketika ekologi terancam, sastrawan memiliki tanggung jawab moril untuk menyuarakan kerusakan alam melalui bahasa estetis yang menyentuh kesadaran pembaca,”tuturnya tegas.

Selanjutnya, Dr. Syafril, M.Si., dosen Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas, memperdalam kajian ekokritik dari kacamata akademis. Beliau menjelaskan bagaimana kerusakan ekologis yang terjadi merupakan hal yang normal dan wajar. Dalam proses terjadinya kerusakan tersebut ada turut campur tangan manusia didalamnya, yang mengubah cara pandang manusia terhadap alam. Dalam hal ini, kerusakan ekologi dihadapkan dengan relasi dan praktik hegemoni.

Aidil Ichlas, S.S., memberikan perspektif lapangan mengenai bagaimana realitas kerusakan lingkungan. Kondisi saat ini terlihat jelas bahwa sikap pemerintah yang masif terhadap kerusakan lingkungan, berbanding terbalik dengan sikap sastrawan yang mulai melek dengan kerusakan ekologi yang terjadi melalui penciptaan karya sastranya, selaras sudut pandang saudara Iffany dan Aidil. Disambung dengan sudut pandang hukum dan hak asasi manusia, Ridho Alsyukri, S.Hum., “ketika data statistik menyebutkan 'ribuan hektar hutan rusak', ekokritiik lah yang mempertanyakan berapa banyak korban kerusakan alam tersebut, ucapnya. Di sinilah sastra dan jurnalistik naratif masuk untuk memberi 'roh' pada data menampilkan penderitaan manusia, hilangnya tempat tinggal, serta kehancuran ekosistem secara personal dan menyentuh jiwa.

Suasana diskusi berlangsung sangat dinamis saat memasuki sesi tanya jawab. Para peserta dari berbagai latar belakang mengajukan pertanyaan kritis mengenai batas-batas daya ubah sastra terhadap kebijakan publik. Diskusi menghangatkan kesadaran bahwa sastra tidak boleh berhenti pada romantisisme keindahan alam semata, melainkan harus berani menjadi instrumen gugatan sosial yang membongkar praktik-praktik eksploitasi lingkungan.

Kegiatan diskusi publik ini ditutup secara resmi pada pukul 11.50 WIB oleh moderator dan MC. Melalui terselenggaranya acara ini, LPK FIB Unand dan PBHI Sumbar berharap dapat terus memantik daya kritis mahasiswa dan masyarakat luas dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup, serta menumbuhkan karya-karya sastra bernuansa ekologis yang berani bersuara di tengah krisis iklim global.

Gambar 2. Foto bersama pimpinan FIB Unand, narasumber dengan peserta Diskusi Publik

Prodi Sastra Indonesia FIB Unand Pertahankan Sertifikasi ISO 21001:2018

Gambar 1. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.  bersama auditor ISO 21001: 2018, M.Hatta Adam dan Ketua LPM Unand, Dr. Elly Delfia, S.S, M.Hum.

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas kembali memperkuat komitmennya terhadap penjaminan mutu pendidikan melalui pelaksanaan audit perpanjangan Sertifikasi SNI ISO 21001:2018 pada Program Studi Sastra Indonesia. Kegiatan audit berlangsung pada 2–3 September 2026 di lingkungan FIB Unand dengan melibatkan auditor dari Evodia Global Sertifikasi (EGS), M. Hatta Adam, Auditor ISO 21001:2018.

ISO 21001:2018 merupakan standar sistem manajemen organisasi pendidikan yang berorientasi pada penyelenggaraan layanan pendidikan secara sistematis, terukur, konsisten, dan berkelanjutan. Dalam penerapannya di FIB Unand, standar tersebut tidak hanya berkaitan dengan dokumen administratif, tetapi juga memastikan bahwa sistem manajemen, prosedur pelayanan, fasilitas, pengelolaan arsip, hingga layanan kepada mahasiswa berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Pelaksanaan audit ini menyasar Program Studi Sastra Indonesia sebagai unit yang berada di bawah naungan FIB Unand. Oleh karena itu, proses audit turut melihat implementasi sistem manajemen pada tingkat fakultas sebagai bagian dari lingkungan organisasi pendidikan yang menaungi program studi.

Audit dilakukan untuk memastikan keberlanjutan penerapan sistem manajemen mutu sekaligus melihat kesesuaian antara prosedur yang telah ditetapkan dengan pelaksanaannya di lapangan. Berbagai aspek menjadi perhatian, antara lain pengelolaan layanan mahasiswa, prosedur akademik, dokumentasi dan kearsipan, pengelolaan fasilitas, pembaruan data, penerapan SOP, serta pengelolaan risiko.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., menegaskan bahwa sertifikasi ISO merupakan bagian dari upaya fakultas membangun budaya mutu yang tidak berhenti pada pemenuhan dokumen, tetapi diwujudkan dalam praktik pelayanan pendidikan sehari-hari. “ISO tidak hanya sekadar sertifikat, tetapi komitmen untuk memastikan bahwa sistem yang kita bangun benar-benar berjalan. Mulai dari pelayanan kepada mahasiswa, pengelolaan administrasi, fasilitas, hingga prosedur akademik harus dilaksanakan secara konsisten dan terus diperbaiki.”

Ia menambahkan bahwa keberlanjutan sertifikasi menjadi pengingat bagi seluruh civitas academica FIB Unand untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap sistem yang telah berjalan. “Yang paling penting dari proses ini adalah budaya perbaikan berkelanjutan. Kita tidak hanya ingin memenuhi standar pada saat diaudit, tetapi memastikan standar tersebut menjadi bagian dari tata kelola FIB Unand sehari-hari.”

Sementara itu, M. Hatta Adam, selaku Auditor ISO 21001:2018 dari Evodia Global Sertifikasi, menekankan pentingnya konsistensi lembaga dalam menerapkan sistem manajemen pendidikan yang telah dibangun. “Audit ini pada dasarnya melihat konsistensi antara sistem yang telah ditetapkan dengan implementasinya. Ketika sebuah organisasi pendidikan mampu menjaga sistem tersebut berjalan dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan, maka mutu tidak hanya menjadi dokumen, tetapi menjadi bagian dari budaya organisasi.”

Berdasarkan hasil audit, sertifikasi ISO 21001:2018 Program Studi Sastra Indonesia FIB Unand dapat dipertahankan, dengan sejumlah catatan perbaikan yang perlu ditindaklanjuti. Catatan tersebut antara lain berkaitan dengan aspek manajemen risiko dan beberapa bidang dalam pengelolaan sistem manajemen mutu.

Catatan perbaikan tersebut menjadi bagian penting dari mekanisme peningkatan mutu berkelanjutan. FIB Unand akan menindaklanjutinya melalui evaluasi dan penyempurnaan sistem, termasuk pembaruan data, penyesuaian SOP, serta penguatan implementasi prosedur pada berbagai bidang layanan.

Sertifikasi ISO 21001:2018 sendiri bukan hal baru bagi Program Studi Sastra Indonesia FIB Unand. Program Studi Sastra Indonesia sebelumnya telah memperoleh sertifikasi SNI ISO 21001:2018 pada periode sebelumnya.  

Dengan dipertahankannya sertifikasi melalui proses audit ini, FIB Unand menegaskan komitmennya untuk menjadikan mutu, konsistensi, transparansi, dan perbaikan berkelanjutan sebagai bagian integral dari tata kelola pendidikan. Hal tersebut sekaligus memperkuat upaya FIB Unand dalam menghadirkan layanan pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan mahasiswa dan seluruh pemangku kepentingan.

Penerapan ISO 21001:2018 juga melengkapi berbagai instrumen penjaminan mutu yang diterapkan FIB Unand. Bagi Program Studi Sastra Indonesia, keberlanjutan sertifikasi ini menjadi salah satu bentuk pengakuan atas upaya menjaga sistem tata kelola pendidikan sekaligus momentum untuk terus meningkatkan kualitas layanan akademik dan nonakademik.

Gambar 2. Foto bersama pimpinan FIB Unand dengan auditor ISO 21001:2018

FIB Unand Meriahkan Dies Natalis ke-70 melalui Car Free Day dan Pengabdian kepada Masyarakat

Gambar 1. Stan FIB Unand dikunjungi jajaran pimpinan Rektor Universitas Andalas

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand) turut memeriahkan rangkaian Dies Natalis Universitas Andalas ke-70 melalui kegiatan Car Free Day yang digelar pada Minggu, 30 Agustus 2026. Tidak hanya menjadi bagian dari perayaan hari jadi Universitas Andalas, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi FIB Unand untuk menghadirkan seni, budaya, dan pengetahuan kepada masyarakat sebagai bagian dari semangat pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan berlangsung sejak pagi dan diawali dengan senam bersama yang diikuti oleh civitas academica Universitas Andalas. Selanjutnya, berbagai fakultas di lingkungan Universitas Andalas membuka stan dan menghadirkan beragam aktivitas bagi civitas academica serta masyarakat yang hadir. FIB Unand menjadi salah satu fakultas yang turut berpartisipasi dengan menghadirkan stan yang menampilkan kekayaan seni, budaya, dan tradisi.

Melalui stan tersebut, FIB Unand menghadirkan berbagai aktivitas yang merepresentasikan keberagaman budaya yang menjadi bagian dari kehidupan akademik di Fakultas Ilmu Budaya. Pengunjung dapat menyaksikan pertunjukkan tari piring tujuh susun, demonstrasi pemasangan baju yukata, pembuatan kanji, atraksi talempong, serta tambua-tansa.

Berbagai penampilan tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berinteraksi secara langsung dengan seni dan budaya. Tidak hanya melalui pertunjukan, beberapa aktivitas juga dikemas dalam bentuk demonstrasi sehingga pengunjung dapat melihat secara lebih dekat proses dan praktik kebudayaan yang diperkenalkan.

Keterlibatan FIB Unand dalam kegiatan Car Free Day menjadi salah satu bentuk bagaimana ilmu dan pengetahuan yang berkembang di lingkungan perguruan tinggi dapat dihadirkan di tengah masyarakat. Seni dan budaya tidak hanya dipelajari di dalam ruang kelas, tetapi juga dapat diperkenalkan melalui ruang-ruang publik yang lebih terbuka dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat, yang menjadi salah satu bagian dari pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. Melalui kegiatan ini, FIB Unand berupaya menjadikan kekayaan budaya sebagai medium edukasi sekaligus ruang interaksi antara perguruan tinggi dan masyarakat.

“Perayaan Dies Natalis tidak hanya tentang bertambahnya usia Universitas Andalas, tetapi juga tentang bagaimana perguruan tinggi terus hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui kegiatan ini, FIB Unand ingin membawa seni dan budaya lebih dekat kepada masyarakat sekaligus membuka ruang untuk saling mengenal dan belajar” ujar Prof. Dr. Ike Revita.

Selain pertunjukan budaya, mahasiswa FIB Unand turut mengambil bagian dalam pelaksanaan kegiatan. Keterlibatan mahasiswa berasal dari berbagai organisasi kemahasiswaan (Ormawa) dan unsur mahasiswa lainnya. Mereka bersama dosen, tenaga kependidikan, serta pimpinan fakultas terlibat dalam menyiapkan dan menjalankan berbagai aktivitas di stan FIB Unand.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Dekan FIB Unand Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II Alex Darmawan, S.S., M.A., Manajer Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., dan Manajer Bidang Umum dan Keuangan Adrianis, S.S., M.A. Selain itu, hadir pula kepala kantor, para ketua departemen, ketua program studi, tenaga kependidikan, serta mahasiswa di lingkungan FIB Unand.

Keberagaman sajian di stan FIB Unand memperlihatkan keluasan ruang kajian budaya yang berkembang di fakultas. Unsur budaya Minangkabau ditampilkan melalui tari piring, talempong, dan tambua-tansa, sementara budaya Jepang diperkenalkan melalui demonstrasi pemasangan yukata dan pembuatan kanji.

Pertunjukan tersebut mendapat perhatian dari pengunjung yang hadir dalam kegiatan Car Free Day. Kehadiran musik dan seni tradisional menjadi salah satu daya tarik stan FIB Unand, sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat mengenai kekayaan budaya yang dipelajari dan dikembangkan di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya. “Budaya akan terus hidup apabila dikenalkan, dipelajari, dan diberi ruang untuk hadir di tengah masyarakat. Karena itu, kegiatan seperti ini penting bagi mahasiswa maupun masyarakat. Mahasiswa belajar berbagai pengetahuan, sementara masyarakat mendapatkan kesempatan untuk mengenal budaya dari perspektif yang lebih dekat,” ungkap salah seorang pengunjung stan FIB Unand.

Gambar 2. Penampilan tari piring oleh mahasiswa FIB Unand

Kegiatan berlangsung dalam suasana meriah dan penuh kebersamaan. Sejak pagi, masyarakat dan civitas academica Universitas Andalas dan masyarakat Kota Padang silih berganti mengunjungi stan FIB Unand untuk menyaksikan berbagai penampilan serta aktivitas budaya yang disajikan.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini juga menjadi pengalaman untuk belajar berkomunikasi dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Sementara bagi FIB Unand, keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara lingkungan akademik dengan masyarakat melalui pendekatan seni dan budaya.

Rangkaian Car Free Day dalam rangka Dies Natalis Universitas Andalas ke-70 menjadi momentum yang mempertemukan perayaan institusi, kebersamaan civitas academica, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu kegiatan.

Melalui partisipasinya, FIB Unand tidak hanya hadir untuk memeriahkan ulang tahun Universitas Andalas, tetapi juga membawa identitas dan keilmuan fakultas ke ruang publik. Seni dan budaya menjadi jembatan yang mempertemukan kampus dengan masyarakat dalam suasana yang lebih terbuka, santai, dan interaktif.

Dengan semangat Dies Natalis Universitas Andalas ke-70, FIB Unand terus berupaya menjadikan budaya sebagai bagian dari kehidupan yang dekat dengan masyarakat.

Gambar 3. Civitas Academica FIB Unand

Perluas Pengalaman Akademik, 14 Mahasiswa FIB Unand Ikuti Credit Earning di Empat Kampus Indonesia

Gambar 1. Dekan FIB Unand melepas mahasiswa yang akan mengikuti Credit Earning ke Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Brawijaya

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand) kembali memperluas ruang belajar mahasiswa melalui program Credit Earning (CE) Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Sebanyak 14 mahasiswa FIB Unand akan mengikuti kegiatan akademik di empat perguruan tinggi tujuan, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Brawijaya (Unibraw), dan Universitas Udayana (Unud).

Program Credit Earning memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar di lingkungan perguruan tinggi lain. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mengikuti proses akademik di kampus tujuan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal lingkungan akademik, budaya belajar, serta perspektif keilmuan yang berbeda.

Pelepasan mahasiswa peserta Credit Earning dilakukan oleh pimpinan FIB Unand dan dihadiri Dekan FIB Unand Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II Alex Darmawan, S.S., M.A., Manajer Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., serta Manajer Bidang Umum dan Keuangan Adrianis, S.S., M.A.

Dalam kesempatan tersebut, pimpinan fakultas memberikan dukungan kepada mahasiswa agar dapat memanfaatkan program CE sebagai bagian dari pengembangan akademik dan pengalaman personal selama berada di perguruan tinggi tujuan. “Credit Earning merupakan kesempatan untuk belajar di kampus lain. Ini adalah ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, bertemu dengan lingkungan akademik yang berbeda, dan belajar melihat keilmuan dari perspektif yang lebih luas. Manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.” ujar Prof. Dr. Ike Revita.

Pada Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027, mahasiswa FIB Unand mengikuti Credit Earning pada empat perguruan tinggi.

Di Universitas Gadjah Mada (UGM), program ini diikuti oleh Muhammad Zakwan Rizaldi (Zakwan) dari Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2024.

Sementara itu, Universitas Padjadjaran (Unpad) menjadi perguruan tinggi tujuan bagi tujuh mahasiswa FIB Unand, yaitu Siti Nurasyifa (Syifa) dari Sastra Inggris angkatan 2024, Najwa Imsyaky (Uwa) dari Sastra Indonesia angkatan 2024, Wahyu Firmansyah (Wahyu) dari Ilmu Sejarah angkatan 2024, Gilang Nindra (Gilang) dari Sastra Indonesia angkatan 2023, Siti Khadijah (Dijah) dari Ilmu Sejarah angkatan 2024, Ifranda Andry Aksha (Randa) dari Ilmu Sejarah angkatan 2024, dan Shabrina Aqila Khairani Siregar (Rani) dari Sastra Inggris angkatan 2024.

Sebanyak empat mahasiswa akan menjalani Credit Earning di Universitas Brawijaya (Unibraw). Mereka adalah Zilan Zalila (Zilan), Reihan Julfan (Rei), Keyko Lovelynissa (Keyko), dan Meisy Putri Fajri (Meisy) yang seluruhnya berasal dari Program Studi Sastra Inggris angkatan 2024.

Adapun di Universitas Udayana (Unud), program CE diikuti oleh Deporas (Deo) dan Zahwa Azuri Putri (Zahwa), keduanya berasal dari Program Studi Sastra Inggris angkatan 2025.

Gambar 2. Dekan Fib Unand melepas mahasiswa yang akan mengikuti Credit Earning ke Universitas Udayana

Keikutsertaan mahasiswa FIB Unand dalam program Credit Earning menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman akademik mahasiswa melalui mobilitas pembelajaran. Perpindahan lingkungan belajar memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan civitas academica dari perguruan tinggi lain dan memperoleh pengalaman yang tidak sepenuhnya ditemukan di ruang kelas kampus asal.

Bagi mahasiswa bidang humaniora, pengalaman tersebut juga dapat memperkaya cara pandang terhadap bahasa, sastra, sejarah, dan berbagai persoalan kebudayaan. Pertemuan dengan mahasiswa dan akademisi dari lingkungan yang berbeda dapat membuka ruang pertukaran gagasan sekaligus memperluas jejaring akademik.

Selain aspek akademik, Credit Earning juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar beradaptasi. Tinggal dan belajar di lingkungan baru menuntut kemandirian, kemampuan berkomunikasi, serta kesiapan untuk berinteraksi dengan berbagai latar belakang. “Pergilah untuk belajar, bukan hanya untuk membawa pulang nilai, melainkan membawa pulang pengalaman, cara pandang baru, dan jejaring yang nantinya dapat menjadi bagian dari perjalanan akademik dan kehidupan kalian.” pesan Prof. Dr. Ike Revita kepada mahasiswa peserta CE.

Program Credit Earning diharapkan dapat memberikan pengalaman akademik yang bermakna bagi ke-14 mahasiswa FIB Unand. Setelah menyelesaikan kegiatan di perguruan tinggi tujuan, mahasiswa diharapkan dapat membawa kembali pengetahuan, pengalaman, dan perspektif baru untuk dibagikan kepada lingkungan akademik di FIB Unand.

Melalui program ini, FIB Unand terus mendorong mahasiswa untuk belajar melampaui batas kampus, memperluas perspektif, dan membangun jejaring akademik sebagai bagian dari pengembangan kapasitas mahasiswa di tingkat nasional.