FIB Unand Perkuat Implementasi Program EQUITY dan Jejaring Kemitraan melalui Employer Meeting di Pekanbaru

Gambar 1. Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, Ph.D. bersama Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. serta pimpinan fakultas di Universias Andalas

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas turut berpartisipasi dalam kegiatan Konsinyering EQUITY dan Employer Meeting Universitas Andalas yang diselenggarakan di Hotel Pangeran Pekanbaru pada 23–25 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi forum strategis Universitas Andalas dalam mengevaluasi pelaksanaan Program EQUITY sekaligus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dunia industri, institusi pendidikan, sektor kesehatan, asosiasi profesi, alumni, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya guna mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi serta reputasi internasional universitas.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas diwakili oleh Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan bersama para dekan fakultas dan pimpinan universitas. Forum ini menjadi wadah koordinasi internal sekaligus ruang diskusi bersama mitra eksternal dalam menyusun langkah strategis pengembangan Universitas Andalas ke depan.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, Ph.D. menegaskan bahwa Program EQUITY merupakan salah satu instrumen penting dalam memperkuat transformasi perguruan tinggi melalui peningkatan kualitas tata kelola, pengembangan kerja sama internasional, penguatan reputasi akademik, serta perluasan jejaring kemitraan dengan berbagai sektor.

Selama sesi konsinyering, peserta melakukan evaluasi terhadap capaian Program EQUITY, mengidentifikasi berbagai tantangan dalam implementasi program, serta merumuskan strategi penguatan untuk periode selanjutnya. Setiap fakultas diberikan kesempatan memaparkan perkembangan program unggulan, kebutuhan dukungan, serta kontribusinya terhadap target Universitas Andalas dalam meningkatkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional.

Sebagai bagian dari proses penyusunan rencana kerja, forum juga membahas penetapan program prioritas, indikator kinerja, target luaran, penanggung jawab kegiatan (person in charge), hingga penyusunan timeline implementasi. Pembahasan tersebut diharapkan mampu menghasilkan langkah yang lebih terarah dalam mendukung peningkatan reputasi global Universitas Andalas melalui penguatan tridarma perguruan tinggi, mobilitas akademik, publikasi ilmiah bereputasi, serta pengembangan kemitraan strategis.

Pada sesi Employer Meeting, Universitas Andalas mempertemukan unsur pimpinan universitas dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dunia industri, rumah sakit, sekolah, asosiasi profesi, dan alumni dalam sebuah forum diskusi yang membahas kebutuhan dunia kerja terhadap lulusan perguruan tinggi. Berbagai masukan disampaikan terkait kompetensi lulusan, penguatan kurikulum berbasis kebutuhan industri, peluang kolaborasi penelitian, pengembangan program magang, serta peningkatan kerja sama yang mampu memberikan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan.

Diskusi juga menekankan pentingnya membangun ekosistem kolaborasi yang berkelanjutan antara perguruan tinggi dan mitra eksternal. Melalui sinergi tersebut, diharapkan Universitas Andalas mampu menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan dunia kerja, meningkatkan inovasi berbasis riset, serta memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan daerah dan nasional.

Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., menyambut baik penyelenggaraan forum tersebut. Menurutnya, Program EQUITY tidak hanya berorientasi pada peningkatan indikator kinerja universitas, tetapi juga mendorong setiap fakultas untuk menghadirkan inovasi, memperluas jejaring kerja sama, serta menghasilkan program-program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. "Forum ini menjadi ruang yang sangat strategis bagi setiap fakultas untuk menyelaraskan program kerja dengan arah pengembangan Universitas Andalas. Melalui EQUITY, kami didorong untuk terus memperkuat kolaborasi, meningkatkan kualitas layanan akademik, memperluas jejaring internasional, dan menghadirkan berbagai inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Prof. Ike Revita.

Ia menambahkan bahwa FIB Universitas Andalas terus berkomitmen mendukung implementasi Program EQUITY melalui penguatan internasionalisasi, peningkatan kualitas publikasi ilmiah, pengembangan kerja sama dengan berbagai mitra, serta penguatan peran humaniora dalam menjawab tantangan global.

Kegiatan ditutup dengan penyusunan tindak lanjut program yang akan menjadi dasar implementasi berbagai agenda strategis Universitas Andalas pada tahun-tahun mendatang. Melalui partisipasi aktif dalam Konsinyering EQUITY dan Employer Meeting, FIB Universitas Andalas menegaskan komitmennya untuk terus mendukung transformasi Universitas Andalas sebagai perguruan tinggi bereputasi internasional yang unggul, kolaboratif, dan berdampak. 

Gambar 2. Peserta Konsinyering EQUITY dan Employer Meeting Universitas Andalas

Seminar Nasional FIB Unand Luruskan Narasi Sejarah 100 Tahun Jam Gadang Berbasis Riset

Gambar 1. Peserta seminar 100 tahun jam gadang di ruang sidang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas melalui Departemen Ilmu Sejarah menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk Mengulik Narasi Sejarah 100 Tahun Jam Gadang pada Kamis, 23 Juli 2026 di Ruang Sidang Dekanat FIB Universitas Andalas. Seminar yang merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis Universitas Andalas ke-70 ini menghadirkan akademisi, peneliti, jurnalis, mahasiswa, pemerintah daerah, serta masyarakat umum untuk mengkaji kembali sejarah Jam Gadang berdasarkan sumber-sumber primer dan metode ilmiah.

Kegiatan ini menghadirkan rombongan Pemerintah Kota Bukittinggi yang dipimpin oleh Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, S.TP. Selain itu, kegiatan tersebut juga dihadiri oleh para pegiat kebudayaan dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I FIB Universitas Andalas, Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., yang mewakili Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa seminar tersebut tidak hanya membahas Jam Gadang sebagai sebuah bangunan ikonik, tetapi juga sebagai objek kajian sejarah, humaniora, arsitektur, dan pariwisata yang saling berkaitan. Menurutnya, forum akademik seperti ini menjadi ruang penting untuk menghadirkan pemahaman sejarah yang lebih komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Seminar menghadirkan empat narasumber, yakni Khairul Jasmi (jurnalis senior dan penulis), Dr. Suryadi (Leiden University, Belanda), Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan (Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Andalas), serta Dr. Zulqaiyim, M.Hum. (Ketua Departemen Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas). Diskusi dipandu oleh Dr. Israr Iskandar, S.S., M.Si. dan berlangsung interaktif dengan partisipasi peserta secara luring maupun daring.

Ketua pelaksana dalam sambutannya menyampaikan bahwa seminar ini diselenggarakan untuk mengkaji berbagai pandangan yang selama ini dianggap sebagai kebenaran mutlak mengenai Jam Gadang. Hasil-hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi masukan ilmiah bagi Pemerintah Kota Bukittinggi dalam menyusun narasi sejarah yang lebih akurat mengenai ikon kota tersebut.

Sejarah Harus Dibangun di Atas Bukti

Materi pertama disampaikan oleh Khairul Jasmi melalui makalah berjudul Meluruskan Empat Mitos Jam Gadang. Ia menguraikan bahwa selama puluhan tahun terdapat sejumlah narasi populer mengenai Jam Gadang yang terus direproduksi tanpa melalui proses verifikasi ilmiah. Empat narasi yang paling sering beredar ialah anggapan bahwa mesin Jam Gadang hanya ada dua di dunia bersama Big Ben, Jam Gadang merupakan hadiah Ratu Wilhelmina, angka Romawi IIII merupakan kesalahan penulisan, serta bangunan tersebut didirikan tanpa semen dan besi, melainkan menggunakan putih telur. Seluruh klaim tersebut diuji menggunakan arsip kolonial, dokumen resmi, laporan teknik sipil, serta bukti material bangunan.

Ia menunjukkan bahwa mesin Jam Gadang diproduksi oleh perusahaan B. Vortmann di Jerman, sedangkan Big Ben menggunakan mesin dari E. Dent & Co. di Inggris. Demikian pula, dokumen resmi pemerintah kolonial menunjukkan bahwa pembangunan Jam Gadang dibiayai melalui Pasarfonds serta dukungan masyarakat Fort de Kock, bukan sebagai hadiah dari Ratu Belanda. Sementara itu, hasil penelitian struktur bangunan membuktikan bahwa Jam Gadang merupakan konstruksi beton bertulang yang menggunakan semen dan baja sebagaimana lazimnya teknologi bangunan pada awal abad ke-20.

"Narasi sejarah harus dibangun di atas sumber yang dapat diverifikasi. Setelah seratus tahun, sudah saatnya kita memisahkan antara fakta sejarah dan cerita yang selama ini hanya diwariskan dari mulut ke mulut," ujar Khairul Jasmi.

Menyusun Ulang Kronologi Jam Gadang

Narasumber kedua, Dr. Suryadi, memaparkan hasil penelusuran arsip surat kabar Hindia Belanda yang berhasil merekonstruksi kronologi pembangunan Jam Gadang sejak pembentukan panitia, penggalangan dana, peletakan batu pertama pada 27 Mei 1926, hingga peresmian resmi pada 25 Juli 1927. Ia juga mengungkap adanya kontribusi masyarakat, kegiatan pakan malam, hingga sumbangan lonceng dari seorang warga bernama J. Child yang selama ini jarang diketahui publik.

Menurutnya, Jam Gadang bukan semata-mata proyek pemerintah kolonial, melainkan hasil kolaborasi berbagai unsur masyarakat Fort de Kock yang ingin mempercantik kota sekaligus memperkuat identitas perkotaan pada masa itu. "Jam Gadang bukan hanya penanda waktu, melainkan juga penanda perubahan sosial masyarakat. Melalui arsip-arsip sezaman kita dapat memahami bagaimana sebuah ikon kota lahir dari dinamika masyarakatnya sendiri," ujar Dr. Suryadi.

Reinterpretasi Sejarah Berbasis Kritik Sumber

Sementara itu, Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan menyoroti pentingnya reinterpretasi historiografi Jam Gadang. Menurutnya, popularitas Jam Gadang justru diiringi dengan berkembangnya berbagai narasi populer yang belum melalui kritik sumber sebagaimana kaidah ilmu sejarah.

Ia menjelaskan bahwa penelitian-penelitian baru yang muncul sejak pascagempa 2009 hingga momentum peringatan 100 tahun Jam Gadang menunjukkan semakin kuatnya kesadaran akademik untuk menulis ulang sejarah berdasarkan arsip, surat kabar sezaman, dan dokumen resmi. Dengan demikian, sejarah Jam Gadang tidak lagi hanya bertumpu pada cerita lisan, tetapi pada hasil penelitian yang dapat diuji secara ilmiah. "Jam Gadang adalah artefak sejarah yang mencerminkan perubahan politik, sosial, budaya, dan identitas masyarakat Sumatera Barat. Karena itu, narasi sejarahnya harus dibangun melalui riset, bukan sekadar mengulang cerita yang telah lama dipercaya," kata Prof. Gusti Asnan.

Ia juga mengajak generasi muda, akademisi, peneliti, hingga kreator konten untuk menghadirkan sejarah publik yang tetap berpijak pada kaidah penelitian sehingga informasi yang diterima masyarakat memiliki landasan akademik yang kuat.

Forum Akademik yang Menghubungkan Sejarah, Arsitektur, dan Pariwisata

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan mengenai bentuk arsitektur Jam Gadang, perubahan mahkota bangunan pada masa pendudukan Jepang, makna angka Romawi IIII, sumber pembiayaan pembangunan, hubungan Jam Gadang dengan perkembangan pariwisata Bukittinggi, hingga strategi meluruskan narasi sejarah yang telah telanjur populer di masyarakat. Peserta juga menyoroti pentingnya menghubungkan kajian sejarah dengan arsitektur, konservasi, dan pengembangan destinasi wisata berbasis warisan budaya.

Salah satu rekomendasi yang mengemuka dalam forum ialah perlunya menyusun buku ilmiah mengenai sejarah Jam Gadang sebagai rujukan resmi bagi pemerintah, akademisi, media, dan masyarakat. Selain itu, hasil seminar diharapkan menjadi pijakan dalam membangun narasi sejarah publik yang lebih akurat sehingga pelestarian Jam Gadang tidak hanya berfokus pada bangunan fisiknya, tetapi juga pada keutuhan sejarah yang menyertainya.

Menutup seminar, para narasumber sepakat bahwa usia satu abad Jam Gadang merupakan momentum penting untuk meneguhkan kembali nilai sebuah penelitian sejarah. Sebuah ikon budaya tidak hanya dirawat melalui konservasi fisik, tetapi juga melalui narasi yang dibangun berdasarkan bukti, kritik sumber, dan tanggung jawab akademik. Dengan demikian, Jam Gadang akan terus hadir bukan sekadar sebagai landmark Kota Bukittinggi, melainkan juga sebagai sumber pengetahuan sejarah yang diwariskan secara benar kepada generasi mendatang.

Gambar 2. Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, S.TP. bersama pimpinan dan narasumber di FIB Unand 

Implementasi PKS, FIB Unand Terima Mahasiswa Magang UIN Imam Bonjol Padang di Perpustakaan Fakultas

Gambar 1. Penerimaan magang mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas memperkuat kolaborasi akademik melalui implementasi Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan Implementation Agreement (IA) yang telah terjalin dengan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang. Sebagai tindak lanjut dari kerja sama tersebut, FIB Universitas Andalas menerima dua mahasiswa Program Studi D-3 Ilmu Perpustakaan untuk melaksanakan program magang di Perpustakaan FIB Universitas Andalas.

Kegiatan penerimaan mahasiswa magang berlangsung di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan dipimpin langsung oleh Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., didampingi Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II Alex Darmawan, S.S., M.A., Manajer Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Ria Febrina, S.S., M.Hum., Manajer Bidang Umum dan Keuangan Adrianis, S.S., M.A., beserta jajaran tenaga kependidikan terkait. Dari pihak UIN Imam Bonjol Padang turut hadir perwakilan dosen Fakultas Adab dan Humaniora yang mengantarkan mahasiswa magang sekaligus melakukan koordinasi pelaksanaan program.

Adapun mahasiswa yang mengikuti program magang tersebut adalah Nur Aisyah Azahra (NIM 2401030011) dan Sri Mutia Nandika (NIM 2401030015), keduanya merupakan mahasiswa Program Studi D-3 Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang.

Dalam sambutannya, Prof. Ike Revita menyampaikan bahwa pelaksanaan program magang merupakan wujud nyata implementasi kerja sama yang telah disepakati kedua institusi beberapa waktu lalu. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya bertanggung jawab menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi profesional melalui pengalaman langsung di lapangan. "Kerja sama antarlembaga akan memberikan manfaat apabila diikuti dengan program nyata. Kehadiran mahasiswa magang ini merupakan implementasi dari komitmen bersama untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aplikatif sekaligus memperkuat sinergi akademik antara FIB Universitas Andalas dan UIN Imam Bonjol Padang," ujar Prof. Ike Revita.

Selama menjalani program magang, kedua mahasiswa akan ditempatkan di Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Mereka akan terlibat secara langsung dalam berbagai aktivitas pengelolaan perpustakaan, mulai dari inventarisasi koleksi, penataan dan klasifikasi bahan pustaka, penyusunan rekapitulasi data koleksi, pengelolaan administrasi perpustakaan, hingga membantu optimalisasi layanan informasi kepada sivitas akademika. Selain itu, mahasiswa juga akan memperoleh pengalaman mengenai tata kelola perpustakaan perguruan tinggi, pengarsipan dokumen, serta penerapan sistem layanan perpustakaan yang mendukung kebutuhan akademik.

Program ini diharapkan menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus mengembangkan keterampilan profesional di bidang pengelolaan perpustakaan dan informasi. Di sisi lain, kehadiran mahasiswa magang juga diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas layanan Perpustakaan FIB Universitas Andalas melalui berbagai kegiatan penataan koleksi dan administrasi perpustakaan.

Perwakilan dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang menyampaikan apresiasi atas kesediaan FIB Universitas Andalas menerima mahasiswa magang. Menurutnya, pengalaman belajar di lingkungan kerja yang sesungguhnya akan menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi dunia profesional setelah menyelesaikan studi. "Kami berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar secara langsung dari praktik pengelolaan perpustakaan di perguruan tinggi. Pengalaman tersebut tentu akan melengkapi kompetensi yang telah mereka peroleh selama mengikuti perkuliahan," ujarnya.

Program magang ini merupakan implementasi dari PKS dan IA antara FIB Universitas Andalas dan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang yang ditandatangani pada Mei 2026. Kerja sama tersebut difokuskan pada pengembangan bidang pendidikan, program magang mahasiswa, pengelolaan perpustakaan, penelitian, serta berbagai kegiatan akademik lainnya sebagai upaya memperkuat sinergi kedua institusi.

Melalui implementasi kerja sama ini, FIB Universitas Andalas berharap hubungan kelembagaan yang telah terjalin tidak hanya memberikan manfaat bagi mahasiswa, tetapi juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan budaya akademik yang berkelanjutan. 

Gambar 2. Foto bersama mahasiswa magang dari UIN IB Padang dengan Pimpinan Fakultas Ilmu Budaya Unand

Kunjungan IIUM ke FIB Unand Bahas Keterkaitan Arsitektur, Budaya, dan Warisan Dunia

Gambar 1. Seminar kunjungan IIUM ke FIB Unand dalam rangka mengkaji arsitektur dan budaya di Minangkabau

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas menerima kunjungan akademik dari delegasi Program Studi Arsitektur International Islamic University Malaysia (IIUM) pada Senin 13 Juli 2026 di Ruang Seminar FIB Universitas Andalas. Kegiatan ini Mengusung tema "Menjembatani Peradaban melalui Arsitektur dan Budaya", kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara akademisi Indonesia dan Malaysia mengenai keterkaitan arsitektur, sejarah, budaya, arkeologi, serta kearifan lokal dalam membentuk identitas suatu peradaban.

Kegiatan dibuka oleh Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., yang menyampaikan bahwa kolaborasi lintas negara menjadi bagian penting dalam memperluas wawasan akademik sekaligus memperkuat jejaring internasional antarinstitusi. Menurutnya, budaya merupakan titik temu berbagai disiplin ilmu yang mampu melahirkan perspektif baru dalam pengembangan keilmuan. "Kami menyambut baik kunjungan akademik ini sebagai ruang untuk saling belajar dan berbagi pengetahuan. Budaya merupakan jembatan yang mampu mempertemukan berbagai disiplin ilmu, termasuk arsitektur. Melalui forum seperti ini, kita tidak hanya memperkuat kerja sama antarinstitusi, tetapi juga memperkaya perspektif dalam memahami peradaban melalui pendekatan humaniora," ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Perwakilan delegasi IIUM turut menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan FIB Universitas Andalas. Menurutnya, kunjungan ini menjadi kesempatan berharga untuk memperluas pemahaman mengenai kekayaan warisan budaya Indonesia sekaligus membuka peluang kolaborasi akademik yang berkelanjutan antara kedua perguruan tinggi.

Memasuki sesi akademik, para peserta diajak melihat bahwa arsitektur tidak hanya dipahami sebagai ilmu yang mempelajari bangunan dan ruang, tetapi juga sebagai representasi sejarah, budaya, identitas, dan pengetahuan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Perspektif inilah yang menjadi titik temu antara disiplin arsitektur dan humaniora, karena keduanya sama-sama memandang ruang sebagai hasil interaksi manusia dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam.

Presentasi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. melalui materi bertajuk Rumah Gadang Minangkabau: Dari Aspek Arsitektur Tahan Gempa sampai Revitalisasi Ukiran untuk Motif Batik. Ia menjelaskan bahwa Rumah Gadang merupakan wujud kecerdasan lokal masyarakat Minangkabau yang lahir dari proses adaptasi terhadap kondisi geografis Sumatra Barat yang rawan gempa. Selain memiliki konstruksi yang kokoh, Rumah Gadang juga merepresentasikan sistem sosial masyarakat melalui tata ruang, bentuk bangunan, hingga ragam ukiran yang mengandung nilai-nilai filosofis.

Menurut Prof. Herwandi, arsitektur tradisional tidak hanya layak dipandang sebagai warisan fisik, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan budaya yang terus hidup dan relevan dengan perkembangan zaman. "Arsitektur tradisional tidak sekadar warisan fisik, tetapi juga menyimpan pengetahuan, filosofi, dan identitas budaya yang harus terus dipelajari serta dikembangkan sesuai konteks zaman," jelas Prof. Herwandi.

Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Eka Meigalia melalui paparan bertajuk Tradisi Lisan, Pengetahuan Seputar Tumbuhan, dan Kuliner Minangkabau. Ia menjelaskan bahwa tradisi lisan tidak hanya berfungsi sebagai media pewarisan cerita, tetapi juga menjadi sarana transmisi pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan tumbuhan, pengolahan pangan, hingga nilai-nilai kehidupan yang membentuk identitas budaya Minangkabau. Dengan demikian, lanskap budaya tidak dapat dipisahkan dari lingkungan alam yang menjadi sumber pengetahuan masyarakat.

Sementara itu, Wahyu Septio Affima mengangkat tema Melawan Sakit: Pengetahuan Lokal Minangkabau tentang Tubuh, Tumbuhan, dan Penyembuhan. Materi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Minangkabau membangun sistem pengetahuan mengenai kesehatan melalui pengalaman empiris, pemanfaatan tumbuhan obat, serta praktik penyembuhan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan lokal tersebut menjadi bagian penting dari khazanah budaya yang masih relevan untuk dikaji dalam perspektif humaniora.

Tidak hanya dari pihak FIB Universitas Andalas, delegasi mahasiswa Program Studi Arsitektur IIUM juga mempresentasikan kajian mengenai Lenggong Valley, salah satu UNESCO World Heritage Site di Malaysia. Kawasan tersebut dikenal sebagai situs arkeologi penting yang merekam jejak kehidupan manusia purba di Asia Tenggara. Melalui presentasi tersebut, peserta diajak memahami bahwa perencanaan kawasan, pelestarian lanskap, hingga pengembangan pariwisata budaya perlu mempertimbangkan nilai sejarah, arkeologi, dan identitas masyarakat yang melekat pada suatu kawasan.

Diskusi berlangsung dinamis dengan antusiasme peserta dari kedua institusi yang saling bertukar pandangan mengenai pelestarian warisan budaya, adaptasi arsitektur tradisional terhadap perkembangan zaman, serta pentingnya pendekatan multidisiplin dalam memahami hubungan antara manusia, ruang, dan budaya. Forum ini memperlihatkan bahwa kajian arsitektur tidak dapat dipisahkan dari sejarah, arkeologi, antropologi, linguistik, dan berbagai cabang ilmu humaniora lainnya.

Kegiatan diakhiri dengan serah terima Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan International Islamic University Malaysia (IIUM) sebagai wujud komitmen kedua institusi dalam memperkuat kolaborasi akademik, pengembangan tridarma perguruan tinggi, serta pertukaran pengetahuan di bidang arsitektur, budaya, dan humaniora. 

Gambar 2. Serah terima Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dengan International Islamic University Malaysia (IIUM)

Melalui kunjungan akademik ini, FIB Universitas Andalas dan International Islamic University Malaysia tidak hanya memperkuat hubungan kelembagaan, tetapi juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara dalam merawat serta mengembangkan warisan budaya sebagai fondasi peradaban. Pertemuan ini diharapkan menjadi awal bagi lahirnya berbagai bentuk kerja sama akademik yang memberikan kontribusi 

FIB Unand Bekali Civitas Academica Strategi Menembus Jurnal Bereputasi Scopus

Gambar 1. Dr. Arina Isti'anah dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta sebagai narasumber utama dalam kegiatan Pelatihan Scopus di FIB Unand

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas terus berkomitmen meningkatkan kualitas publikasi ilmiah melalui penyelenggaraan Pelatihan Penulisan Artikel Bereputasi Internasional (Scopus) yang digelar pada Selasa, 14 Juli 29026 di Ruang Sidang Dekanat Lantai 2 FIB Universitas Andalas. Mengusung tema "Menulis Berkualitas, Publikasi Mendunia", kegiatan ini menghadirkan Dr. Arina Isti'anah dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta sebagai narasumber utama.

Pelatihan diikuti oleh sekitar 30 peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa Program Magister (S-2), dan mahasiswa Program Doktor (S-3) di lingkungan FIB Universitas Andalas. Sebelum mengikuti pelatihan, seluruh peserta diwajibkan membawa sekaligus mengunggah draf artikel ilmiah sebagai bahan pendampingan selama kegiatan berlangsung.

Dalam sambutannya, Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, menyampaikan bahwa publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi internasional merupakan salah satu indikator penting dalam meningkatkan mutu akademik sekaligus memperluas kontribusi hasil penelitian ke tingkat global. "Publikasi bereputasi internasional tidak hanya menjadi ukuran capaian akademik, tetapi juga menjadi sarana untuk menyebarluaskan hasil penelitian sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, FIB Universitas Andalas terus menghadirkan berbagai program yang mendukung peningkatan kompetensi civitas academica dalam publikasi ilmiah," ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Pada sesi utama, Dr. Arina Isti'anah membagikan pengalaman akademiknya selama menempuh studi doktor hingga berhasil menerbitkan belasan artikel pada jurnal bereputasi internasional yang terindeks Scopus. Berbekal pengalaman tersebut, ia mengajak peserta memahami bahwa publikasi internasional merupakan proses yang dapat dipelajari melalui strategi yang tepat dan latihan yang berkelanjutan.

Dr. Arina juga meluruskan anggapan bahwa seluruh jurnal Scopus selalu mengenakan biaya publikasi. Menurutnya, banyak jurnal bereputasi yang dapat diakses tanpa article processing charge (APC), di samping jurnal yang memang menerapkan biaya sesuai dengan kebijakan penerbit. "Publikasi Scopus tidak selalu identik dengan biaya yang mahal. Banyak jurnal bereputasi yang dapat diakses secara gratis. Yang paling menentukan adalah kualitas artikel, kebaruan penelitian, ketepatan memilih jurnal, dan kemampuan penulis memahami proses publikasi ilmiah," jelas Dr. Arina.

Selama pelatihan, peserta memperoleh pembahasan secara komprehensif mengenai publikasi ilmiah internasional. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan indeksasi Scopus dan karakteristik jurnal bereputasi, strategi menentukan jurnal yang sesuai dengan topik penelitian, teknik menyusun artikel berdasarkan standar internasional, penyusunan judul, abstrak, dan kata kunci yang efektif, serta kiat meningkatkan peluang artikel diterima oleh editor jurnal.

Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman mengenai etika publikasi ilmiah, pengelolaan sitasi menggunakan aplikasi manajemen referensi, strategi menghindari predatory journal, hingga cara merespons komentar editor dan reviewer secara profesional.

Kegiatan tidak hanya berlangsung dalam bentuk penyampaian materi, tetapi juga diisi dengan sesi konsultasi dan telaah terhadap draf artikel yang telah disiapkan peserta. Pada sesi ini, peserta memperoleh masukan secara langsung mengenai substansi penelitian, struktur penulisan, penggunaan bahasa akademik, serta kesesuaian artikel dengan jurnal yang dituju.

Suasana pelatihan berlangsung dinamis dan interaktif. Berbagai pertanyaan muncul dari peserta terkait pengalaman publikasi, teknik meningkatkan kualitas artikel, hingga strategi menghadapi proses peer review yang sering menjadi tantangan bagi penulis.

Melalui kegiatan ini, FIB Universitas Andalas berharap semakin banyak dosen dan mahasiswa yang mampu menghasilkan publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi internasional. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan rekam jejak akademik civitas academica, melainkan juga memperkuat kontribusi FIB Universitas Andalas dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat nasional maupun internasional. 

Gambar 2. Dr. Arina Isti'anah bersama Dekan FIB Unand serta seluruh peserta Pelatihan Scopus yang diadakan di ruang sidang FIB Unand

Semiloka Kajian Budaya FIB Unand Angkat Peran Perempuan dalam Lanskap Intelektual Sumatera Barat

Gambar 1. Moderator dan narasumber kegiatan Semiloka S-2 Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Program Studi Magister (S-2) Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas menyelenggarakan Semiloka Kajian Budaya bertajuk "Lanskap Intelektual dan Peran Perempuan Sumatera Barat dalam Dunia Penerbitan" pada Rabu 8 Juli 2026 di Ruang Sidang Dekanat FIB Universitas Andalas. Kegiatan ini menghadirkan akademisi dari dalam dan luar negeri untuk mendiskusikan perkembangan lanskap intelektual Sumatera Barat, sejarah gerakan perempuan Minangkabau, serta kontribusi perempuan dalam dunia penerbitan dan pembangunan bangsa.

Semiloka ini merupakan inisiatif Program Studi S-2 Kajian Budaya FIB Unand sebagai ruang dialektika akademik yang mempertemukan mahasiswa, dosen, peneliti, dan pemerhati kajian budaya dalam membahas dinamika media, sejarah intelektual, serta peran perempuan melalui perspektif budaya yang lebih inklusif. Kegiatan tersebut juga diharapkan mampu melahirkan gagasan baru sekaligus memperkuat metodologi penelitian di bidang kajian budaya.

Ketua Program Studi S-2 Kajian Budaya FIB Universitas Andalas, Sudarmoko, Ph.D., menyampaikan bahwa tema semiloka dipilih karena dunia penerbitan di Sumatera Barat memiliki posisi penting dalam perkembangan pemikiran, pendidikan, hingga pembentukan ruang publik intelektual sejak awal abad ke-20. "Sumatera Barat memiliki tradisi intelektual yang kuat. Melalui semiloka ini kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang tidak hanya membaca sejarah melalui teks, tetapi juga memahami bagaimana perempuan berkontribusi dalam membangun tradisi intelektual, pendidikan, dan ruang publik di Minangkabau," ujarnya.

Semiloka menghadirkan tiga narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi. Prof. Pramono, Ph.D. dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas membuka diskusi melalui paparan bertajuk "Lanskap Intelektual Sumatera Barat: Penerbitan, Institusi Pendidikan, dan Penyebaran Pengetahuan." Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa perubahan besar di Minangkabau pada awal abad ke-20 tidak hanya ditandai oleh pembaruan pendidikan Islam, tetapi juga oleh berkembangnya budaya penerbitan yang melahirkan ruang publik baru bagi penyebaran ilmu pengetahuan dan gagasan.

Menurut Prof. Pramono, sosok Inyiak Rasul menjadi figur penting dalam transformasi tersebut. Ia tidak hanya membangun sistem pendidikan modern, tetapi juga memperluas penyebaran ilmu melalui penerbitan buku, risalah, surat kabar, dan majalah sehingga gagasan keagamaan dan intelektual dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Pergeseran dari tradisi surau menuju madrasah serta dari otoritas guru menuju otoritas teks menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah intelektual Sumatera Barat. "Transformasi intelektual bukan sekadar perubahan lembaga pendidikan, melainkan perubahan cara masyarakat memproduksi, menyebarkan, dan memperdebatkan pengetahuan. Budaya penerbitan telah melahirkan ruang publik yang memperkaya perkembangan pemikiran di Sumatera Barat," jelas Prof. Pramono.

Perspektif internasional disampaikan oleh Annechien Selimi-ten Brinke dari SOAS University of London melalui presentasinya mengenai agensi politik perempuan Minangkabau, perubahan sosial, dan pembangunan bangsa pada masa kolonial akhir hingga Revolusi Nasional. Penelitiannya menunjukkan bahwa pengalaman perempuan Minangkabau memberikan perspektif baru dalam memahami sejarah perjuangan anti-kolonial, perkembangan feminisme, serta lahirnya jaringan perempuan yang berperan dalam perubahan sosial di Indonesia.

Annechien menjelaskan bahwa organisasi perempuan, media cetak, dan jaringan intelektual yang dibangun perempuan Minangkabau telah menjadi bagian penting dalam proses pembentukan identitas kebangsaan Indonesia. Kajian tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap sejarah, melainkan aktor utama yang turut membentuk arah perubahan masyarakat.

Sementara itu, narasumber ketiga, Devy Kurnia Alamsyah dari Universitas Negeri Padang dan ISI Padangpanjang mengangkat tema "Sjarifah Nawawi dan Gerakan Perempuan: Dari Historiografi ke Historiophoty." Melalui kajian tersebut, Devy mengajak peserta melihat kembali kontribusi tokoh perempuan Minangkabau yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam historiografi Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa Sjarifah Nawawi merupakan salah satu tokoh penting gerakan perempuan Sumatera Barat yang berperan dalam modernisasi organisasi perempuan, penguatan advokasi pendidikan, penyusunan gagasan organisasi perempuan, serta membangun jaringan gerakan perempuan antara Sumatera dan Jawa. Kajian ini juga memperkenalkan pendekatan historiophoty, yaitu penyajian sejarah melalui media visual seperti gambar dan film, sebagai pelengkap historiografi yang selama ini lebih banyak mengandalkan sumber tertulis. "Sejarah perempuan tidak boleh berhenti pada narasi yang ditulis. Melalui historiophoty, kita dapat menghadirkan kembali tokoh-tokoh perempuan seperti Sjarifah Nawawi agar lebih dekat dengan masyarakat dan generasi muda," ungkap Devy.

Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari mahasiswa, dosen, dan peserta yang hadir. Berbagai pertanyaan mengemuka, mulai dari dinamika penerbitan perempuan pada awal abad ke-20, hubungan antara adat dan modernitas, hingga peluang pemanfaatan media visual sebagai metode baru dalam penelitian sejarah dan kajian budaya.

Melalui penyelenggaraan Semiloka Kajian Budaya ini, Program Studi S-2 Kajian Budaya FIB Universitas Andalas kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang akademik yang kritis, inklusif, dan responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat jejaring akademik, mendorong lahirnya penelitian-penelitian baru, serta memperkaya khazanah kajian budaya, sejarah intelektual, dan studi perempuan, khususnya di Sumatera Barat.