Tim Nihongo Gakkou FIB Unand Raih Silver Medal dan Best Idea pada Ajang Catalyst Future Competition Nasional 2026 

Gambar 1. Tim Nihongo Gakkou berhasil meraih Silver Medal (Juara II) sekaligus penghargaan Best Idea dalam ajang Catalyst Future Competition: National Essay & Business Plan x Asia Chapter Padang 2026

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas di tingkat nasional. Tim Nihongo Gakkou yang diketuai oleh Arya Alghifari berhasil meraih Silver Medal (Juara II) sekaligus penghargaan Best Idea pada subtema Seni dan Budaya dalam ajang Catalyst Future Competition: National Essay & Business Plan x Asia Chapter Padang 2026 yang diselenggarakan pada 23 Mei 2026.

Kompetisi tingkat nasional tersebut diikuti oleh peserta dari sekitar 48 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Pada kesempatan itu, Arya Alghifari selaku ketua tim juga menjadi perwakilan utama yang mempresentasikan gagasan tim di hadapan dewan juri.

Tim Nihongo Gakkou terdiri atas Arya Alghifari sebagai ketua tim, bersama Ikka Aprillia, Leica Zahra Asanda, Nadjwa Putri Rinalita, dan Tyo Muhammad Rizki. Dalam kompetisi tersebut, mereka dibimbing oleh Imelda Indah Lestari, M.Hum.

Tim ini mengusung esai berjudul “Dari Tradisi ke Transformasi Digital: Model Inovasi Kolaboratif Mahasiswa, Influencer, dan Pengrajin dalam Membangun Ekosistem Ekonomi Berkelanjutan Songket Pandai Sikek dan Silungkang Menuju Pasar Global.”

Gagasan Inovatif untuk Pelestarian Songket Dalam esai tersebut, tim mengangkat persoalan menurunnya minat generasi muda terhadap songket Pandai Sikek dan Silungkang di tengah perkembangan teknologi dan arus budaya global. Tim menawarkan sebuah model kolaboratif yang mempertemukan mahasiswa, influencer digital, dan pengrajin songket dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Mahasiswa diposisikan sebagai agen inovasi yang mengembangkan desain fashion modern berbasis motif songket. Di sisi lain, influencer berperan memperluas promosi melalui media digital, sedangkan pengrajin menjaga autentisitas nilai budaya dan kualitas produk songket. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperluas pasar songket hingga tingkat internasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan pengrajin lokal.

Selain itu, tim juga merancang peta implementasi program yang mencakup proses rekrutmen mahasiswa, pengembangan desain, produksi kolaboratif, hingga promosi digital berbasis media sosial dan platform e-commerce. Gagasan tersebut dinilai memiliki nilai inovasi yang kuat karena mengintegrasikan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi kreatif berbasis teknologi.

Keberhasilan meraih dua penghargaan sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa FIB Unand tidak hanya mampu menghasilkan gagasan akademik yang berkualitas, tetapi juga menawarkan solusi nyata terhadap persoalan budaya dan ekonomi kreatif di Indonesia.

Ketua tim, Arya Alghifari, mengungkapkan rasa syukur atas capaian yang diraih bersama timnya. “Kami ingin menunjukkan bahwa budaya tidak harus bertahan sebagai kenangan masa lalu. Dengan inovasi dan kolaborasi yang tepat, warisan budaya seperti songket dapat menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang relevan bagi generasi muda dan mampu bersaing di tingkat global,” ujar Arya.

Arya menambahkan bahwa penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi dirinya dan tim untuk terus mengembangkan gagasan yang berdampak bagi masyarakat. “Prestasi ini bukan hanya tentang memenangkan lomba, melainkan tentang bagaimana ide yang kami susun dapat menjadi inspirasi dalam menjaga budaya lokal melalui pendekatan yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” tambahnya.

Sementara itu, dosen pembimbing, Imelda Indah Lestari, M.Hum., menyampaikan apresiasi atas kerja keras dan kesungguhan tim selama proses penyusunan karya. “Keberhasilan ini menunjukkan bahwa mahasiswa FIB Unand memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan solutif. Mereka tidak hanya memahami budaya sebagai warisan, tetapi juga mampu merancang strategi agar budaya tersebut tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman,” tuturnya.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, turut mengapresiasi capaian tersebut. “Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa FIB Unand mampu menghadirkan gagasan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pelestarian budaya melalui inovasi dan transformasi digital merupakan langkah penting dalam menjaga identitas bangsa sekaligus membuka peluang ekonomi di masa depan,” ungkap Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.  

Prestasi yang diraih Tim Nihongo Gakkou diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan membawa nilai-nilai budaya Indonesia ke panggung yang lebih luas melalui penelitian, kreativitas, dan kolaborasi lintas bidang. 

Mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand Raih Juara III Lomba Esai Nasional Bertema Etika AI

Gambar 1. Arya Alghifari, Mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand Raih Juara III Lomba Esai Nasional

Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas di tingkat nasional. Arya Alghifari, mahasiswa Program Studi Sastra Jepang angkatan 2024, berhasil meraih Juara III dalam Kompetisi Esai Nasional Public In Frame 2026 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas.

Kompetisi tingkat nasional tersebut mengangkat tema “Generasi Cerdas di Era Kecerdasan Buatan untuk Mewujudkan Indonesia Maju” dengan berbagai subtema yang relevan dengan perkembangan teknologi dan tantangan generasi muda saat ini. Arya berhasil meraih penghargaan pada subtema “Batasan Moral dalam Penggunaan Teknologi AI” di bawah bimbingan dosen FIB Unand, Imelda Indah Lestari, M.Hum.

Dalam kompetisi tersebut, Arya mengangkat esai berjudul “Inovasi Sistem Pembatasan Peran AI sebagai Alat Teknis, Bukan Sumber Gagasan, dalam Penulisan Karya Sastra Mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.” Esai tersebut menawarkan sebuah model penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang tetap mendukung proses pembelajaran tanpa menghilangkan kreativitas dan keaslian gagasan mahasiswa.

Melalui gagasannya, Arya menyoroti fenomena meningkatnya penggunaan AI dalam dunia akademik, khususnya dalam penulisan karya sastra mahasiswa. Menurutnya, teknologi AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu teknis untuk memperbaiki tata bahasa, struktur kalimat, maupun pilihan diksi, tetapi tidak boleh mengambil alih proses berpikir dan penciptaan ide yang menjadi inti dari karya sastra.

Dalam esainya, Arya menawarkan sistem pembatasan yang menempatkan AI sebagai pendukung proses penulisan, bukan sebagai sumber utama gagasan. Sistem tersebut mencakup penyusunan ide secara mandiri, penulisan draf tanpa bantuan AI, penggunaan AI hanya untuk penyuntingan teknis, dokumentasi penggunaan AI, refleksi kritis mahasiswa, hingga evaluasi berbasis proses oleh dosen. Pendekatan tersebut bertujuan menjaga integritas akademik sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi secara bijak.

Arya Alghifari mengaku tertarik mengangkat isu tersebut karena melihat perkembangan teknologi AI yang semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. “AI adalah teknologi yang tidak bisa kita hindari. Namun, saya percaya bahwa teknologi seharusnya membantu manusia berpikir lebih baik, bukan menggantikan proses berpikir itu sendiri. Melalui esai ini saya ingin menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan integritas akademik dapat berjalan beriringan,” ujar Arya.

Ia juga berharap gagasan yang ditawarkannya dapat menjadi bahan diskusi dalam pengembangan kebijakan akademik di masa depan. “Karya sastra lahir dari pengalaman, perasaan, dan refleksi manusia. AI dapat membantu merapikan kata-kata, tetapi makna dan jiwa sebuah karya tetap harus lahir dari manusianya,” tambahnya.

Dosen pembimbing, Imelda Indah Lestari, M.Hum., mengapresiasi keberhasilan Arya yang mampu mengangkat isu yang sangat relevan dengan dunia pendidikan saat ini. “Topik yang diangkat Arya menunjukkan kepekaan terhadap perkembangan zaman sekaligus kepedulian terhadap integritas akademik. Ini menjadi bukti bahwa mahasiswa FIB Unand mampu menghadirkan gagasan kritis yang tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mempertimbangkan aspek etika dan kemanusiaan,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., turut menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. “Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa FIB Unand tidak hanya mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi juga mampu memberikan perspektif kritis terhadap penggunaannya. Di era kecerdasan buatan, kemampuan berpikir, beretika, dan menjaga orisinalitas gagasan menjadi nilai yang semakin penting,” ungkap Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Keberhasilan Arya Alghifari menambah daftar prestasi mahasiswa FIB Unand di tingkat nasional sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa humaniora memiliki kontribusi penting dalam membahas berbagai isu strategis, termasuk perkembangan kecerdasan buatan dan dampaknya terhadap dunia pendidikan serta kebudayaan.

Melalui capaian ini, FIB Unand terus menegaskan komitmennya dalam mendorong mahasiswa untuk menghasilkan gagasan-gagasan inovatif, kritis, dan relevan dengan tantangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai akademik dan kemanusiaan yang menjadi fondasi utama pendidikan tinggi.

Angkat Potensi Lokal Sumbar, Arya Alghifari Sabet Juara I Poster Nasional dan Juara Favorit 

Gambar 1. Arya Alghifari, mahasiswa Program Studi Sastra Jepang angkatan 2024, berhasil meraih Juara I sekaligus Juara Favorit pada ajang Economy Creative Competition (ECOC) 2026 tingkat nasional

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas. Arya Alghifari, mahasiswa Program Studi Sastra Jepang angkatan 2024, berhasil meraih Juara I sekaligus Juara Favorit pada ajang Economy Creative Competition (ECOC) 2026 tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Padang periode 2025/2026.

Kompetisi yang berlangsung pada 7 Mei - 6 Juni 2026 tersebut mengangkat tema “Digitalisasi Cerdas Hari Ini, Masa Depan Gemilang Esok Hari”. Arya memilih subtema Optimalisasi Potensi Lokal sebagai Sumber Inovasi Ekonomi Kreatif dan berhasil memikat dewan juri melalui karya poster berjudul “Digitalisasi Rantai Pasok: Sinergi Cerdas Mina Padi dan UMKM Pecel Lele Menuju Sumbar Mandiri.”

Keberhasilan tersebut menambah daftar prestasi nasional yang diraih mahasiswa FIB Unand dalam bidang inovasi, kreativitas, dan pengembangan potensi lokal berbasis teknologi. Poster karya Arya mengangkat konsep sinergi antara sistem mina padi dan pelaku UMKM pecel lele sebagai model ekonomi kreatif berkelanjutan di Sumatera Barat. Mina padi merupakan sistem pertanian yang menggabungkan budidaya padi dan ikan air tawar dalam satu lahan sawah sehingga mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan nilai ekonomi tambahan bagi petani.

Melalui poster tersebut, Arya menggambarkan bagaimana digitalisasi dapat membantu membangun rantai pasok yang lebih terarah antara petani dan pelaku UMKM. Hasil panen ikan tidak lagi dipasarkan secara acak, melainkan disalurkan melalui sistem kerja sama yang terintegrasi dan didukung oleh media digital untuk komunikasi, promosi, serta distribusi produk.

Menurut Arya, gagasan tersebut lahir dari keinginannya untuk melihat potensi lokal Sumatera Barat berkembang melalui kolaborasi yang sederhana namun berdampak nyata bagi masyarakat. “Saya ingin menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Potensi yang sudah ada di sekitar kita dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola dengan kolaborasi yang baik dan didukung oleh teknologi digital,” ujar Arya.

Ia menjelaskan bahwa konsep yang ditawarkannya tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Mina padi memberikan keuntungan bagi petani, sementara UMKM mendapatkan pasokan bahan baku yang lebih stabil dan terjangkau. Jika didukung sistem digital yang tepat, hubungan ini dapat berkembang menjadi ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan,” tambahnya.

Berdasarkan deskripsi poster yang disusun Arya, sistem tersebut diharapkan mampu menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara petani dan UMKM. Petani memperoleh tambahan pendapatan dari hasil panen ikan, sementara UMKM mendapatkan pasokan ikan segar dengan harga yang lebih stabil sehingga dapat meningkatkan efisiensi usaha.

Dosen FIB Unand, Imelda Indah Lestari, M.Hum., menyampaikan apresiasi atas capaian Arya yang berhasil mengangkat isu ekonomi kreatif dengan pendekatan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. “Karya Arya menunjukkan bahwa mahasiswa humaniora juga mampu menghadirkan gagasan inovatif yang menyentuh persoalan ekonomi dan pembangunan daerah. Yang menarik, ia mampu menghubungkan potensi lokal dengan pemanfaatan teknologi digital secara sederhana namun aplikatif,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., turut mengapresiasi prestasi tersebut. “Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa FIB Unand memiliki kemampuan untuk membaca potensi lokal dan mengembangkannya menjadi gagasan yang inovatif. Kreativitas yang berpijak pada kebutuhan masyarakat merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan daerah,” ungkap Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan Arya menjadi bukti bahwa mahasiswa FIB tidak hanya unggul dalam bidang bahasa, sastra, dan budaya, tetapi juga mampu berkontribusi dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Keberhasilan meraih dua penghargaan sekaligus pada ajang nasional tersebut menjadi pencapaian yang membanggakan bagi Arya, Program Studi Sastra Jepang, dan FIB Unand. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, serta menghadirkan solusi kreatif yang bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

Perkuat Sinergi Akademik dan Industri Media, FIB Unand Teken PKS dengan Classy Media

Gambar 1. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. bersama Pimpinan Classy Media, Andika Destika Khagen menandatanngani perjanjian kerja  sama

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas terus memperluas jejaring kemitraan dengan dunia industri sebagai upaya meningkatkan kualitas pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara FIB Universitas Andalas dan PT Klikpositif Media Siber (Classy Media) pada Selasa, 23 Juni 2026 di Kantor PT Klikpositif Media Siber (Classy Media), Gedung Serba Guna (GSG) Lantai 2, Kompleks PT Semen Padang, Indarung, Kota Padang.

Perjanjian kerja sama ditandatangani langsung oleh Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP dan Pimpinan PT Klikpositif Media Siber (Classy Media), Andika Destika Khagen. Turut mendampingi Dekan FIB Unand dalam kegiatan tersebut Manajer I Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. serta Pengadministrasi Akademik Ade Novalia, S.Pd., M.Pd. Sementara itu, dari pihak Classy Media hadir jajaran manajemen dan tim redaksi yang menyambut langsung rombongan FIB Unand.

Penandatanganan PKS diawali dengan diskusi mengenai peluang kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri media dalam menjawab kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis. Kedua belah pihak sepakat bahwa sinergi antara institusi pendidikan dan media memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas ruang belajar mahasiswa, serta memperkuat implementasi Tridharma Perguruan Tinggi.

Berdasarkan Pasal 2 Perjanjian Kerja Sama, ruang lingkup kolaborasi meliputi pelaksanaan Magang Berdampak, Praktisi Mengajar, Kuliah Umum, Pengabdian kepada Masyarakat, serta berbagai program lain yang disepakati oleh kedua belah pihak sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kerja sama tersebut juga mencakup seluruh program studi di lingkungan FIB Unand, yaitu Program Studi Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sastra Minangkabau, Sastra Jepang, Ilmu Sejarah, Arkeologi, Program Magister Linguistik, Magister Susastra, Magister Kajian Sejarah, Magister Kajian Budaya, hingga Program Doktor Linguistik.

Melalui ruang lingkup tersebut, mahasiswa FIB Unand diharapkan memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk mengikuti program magang di industri media, belajar langsung dari praktisi profesional, serta terlibat dalam berbagai kegiatan akademik yang mendukung peningkatan kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja. Di sisi lain, Classy Media juga dapat berkontribusi sebagai mitra strategis dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah nyata FIB Unand dalam membangun ekosistem pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman. "Perguruan tinggi tidak dapat berjalan sendiri dalam menyiapkan lulusan yang unggul. Kolaborasi dengan dunia industri, termasuk media, menjadi jembatan penting agar mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang kontekstual, memperluas wawasan profesional, sekaligus meningkatkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja," ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Ia menambahkan bahwa kerja sama ini diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi diwujudkan melalui berbagai program yang memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, dosen, maupun kedua institusi. "Kami berharap kemitraan ini melahirkan banyak program kolaboratif, mulai dari magang, kuliah umum, praktisi mengajar, hingga pengembangan riset dan pengabdian kepada masyarakat. Semoga kerja sama ini menjadi awal dari sinergi yang berkelanjutan dan saling menguatkan," tambahnya.

Sementara itu, Andika Destika Khagen menyambut baik terjalinnya kemitraan dengan FIB Universitas Andalas. Menurutnya, dunia media membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga berpikir kritis, adaptif, dan memiliki kepekaan terhadap isu-isu sosial dan budaya. "Kami melihat FIB Universitas Andalas memiliki potensi besar dalam melahirkan lulusan yang kaya akan perspektif humaniora. Melalui kerja sama ini, kami berharap dapat berbagi pengalaman praktis kepada mahasiswa sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara dunia akademik dan industri media," ungkap Bapak Andika.

Gambar 2. Foto bersama pimpinan Classy Media dengan Dekan FIB Unand besertra jajaran

Usai penandatanganan PKS, kedua belah pihak melanjutkan kegiatan dengan diskusi mengenai implementasi program kerja sama yang akan segera direalisasikan. Berbagai gagasan mengenai penyelenggaraan kuliah umum, program magang mahasiswa, praktisi mengajar, hingga kolaborasi dalam kegiatan publikasi dan pengabdian kepada masyarakat menjadi topik utama dalam pertemuan tersebut. Kegiatan kemudian diakhiri dengan penyerahan cendera mata dan sesi foto bersama sebagai simbol dimulainya kemitraan antara FIB Universitas Andalas dan PT Klikpositif Media Siber (Classy Media).

Kerja sama ini menjadi salah satu langkah strategis FIB Universitas Andalas dalam memperkuat jejaring kemitraan dengan dunia industri sekaligus mendukung peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat melalui implementasi Tridharma Perguruan Tinggi yang semakin relevan dengan perkembangan zaman.

 

Perkuat Tridarma dan Literasi Arsip, FIB Unand jalin Kerja Sama dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat

Gambar 1. Penandatanganan PKS dan IA FIB Unand dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat

PADANG, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas kembali memperluas jejaring kemitraan strategis melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan Implementation Arrangement (IA) dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat dalam kegiatan Jejak Kolaborasi (Jeko), Senin (25/5/2026), di Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas tersebut menjadi wadah untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam bidang kearsipan, literasi, penelitian, pelestarian memori kolektif, serta pengembangan sumber daya manusia yang kompeten di bidang pengelolaan arsip dan informasi.

Penandatanganan PKS dilakukan oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, Jumaidi, S.Pd., M.Pd., bersama Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas yang diwakili oleh Wakil Dekan II, Alex Dermawan, S.S., M.A. Sementara itu, penandatanganan IA dilakukan oleh Sekretaris Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, Oni Fajar Syahdi, S.St.Pi., M.MA., bersama Ketua Departemen Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas, Dr. Zulqaiyyim, M.Hum.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Bidang Kearsipan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, Indra Sukma, S.Kom., Kepala Bidang Pembinaan dan Pengawasan Kearsipan, Kiswati, S.S., MPA., dosen Departemen Ilmu Sejarah, mahasiswa peserta Jeko, serta sejumlah arsiparis dan pejabat struktural di lingkungan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat.

Kerja sama yang disepakati mencakup berbagai bidang dalam pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi. Ruang lingkup kerja sama meliputi pendidikan dan pelatihan di bidang kearsipan dan perpustakaan, penelitian dan publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, magang dan praktik kerja lapangan mahasiswa, pelestarian dan digitalisasi arsip serta naskah budaya, pengembangan literasi informasi dan budaya baca, pertukaran data dan informasi, hingga penyelenggaraan seminar, workshop, lokakarya, dan berbagai kegiatan ilmiah lainnya.

Selain itu, kerja sama tersebut juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan kompetensi mahasiswa, peningkatan kapasitas dosen, serta penguatan jejaring kelembagaan antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Melalui implementasi kerja sama ini, mahasiswa FIB Unand diharapkan memperoleh akses yang lebih luas terhadap sumber-sumber arsip dan dokumentasi yang selama ini menjadi bagian penting dalam kajian sejarah, budaya, dan humaniora.

Dalam sambutannya, Wakil Dekan II FIB Universitas Andalas, Alex Dermawan, S.S., M.A., menyampaikan bahwa arsip memiliki posisi yang sangat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, terutama di lingkungan humaniora. “Kerja sama ini bukan sekadar penandatanganan dokumen, tetapi langkah konkret untuk menghadirkan ruang belajar yang lebih luas bagi mahasiswa. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan sumber-sumber arsip, memahami praktik pengelolaan kearsipan, sekaligus memperkuat kompetensi akademik dan profesional mereka,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Departemen Ilmu Sejarah FIB Unand, Dr. Zulqaiyyim, M.Hum., menilai kerja sama ini memiliki nilai strategis dalam mendukung pembelajaran sejarah berbasis sumber primer. “Bagi mahasiswa sejarah, arsip adalah sumber utama dalam merekonstruksi peristiwa masa lalu. Kerja sama ini membuka kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan arsip, memahami tata kelola kearsipan modern, serta meningkatkan kemampuan riset berbasis sumber primer,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, Jumaidi, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa keberadaan arsip tidak hanya berkaitan dengan administrasi, tetapi juga menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat yang harus dijaga dan dimanfaatkan. “Arsip bukan hanya dokumen yang disimpan, melainkan sumber pengetahuan yang merekam perjalanan suatu bangsa. Kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi sangat penting agar arsip dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pendidikan, penelitian, dan pelestarian sejarah,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari rangkaian Jejak Kolaborasi, peserta juga mengikuti sesi pengayaan materi yang disampaikan oleh Arsiparis Ahli Madya Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, Romi Zulfi Yandra, S.Kom., M.M., dengan tema “Penyajian Arsip sebagai Informasi.”

Dalam pemaparannya, Romi menjelaskan bahwa arsip memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar dokumen administrasi. Arsip merupakan sumber informasi yang autentik, alat pertanggungjawaban publik, memori kolektif masyarakat, serta sumber sejarah yang bernilai bagi generasi masa kini dan masa depan.

Ia menekankan bahwa tantangan pengelolaan arsip saat ini tidak hanya terletak pada penyimpanan, tetapi juga bagaimana arsip dapat disajikan secara menarik, mudah diakses, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan teknologi digital, menurutnya, menjadi salah satu kunci agar arsip dapat terus hidup dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Materi tersebut mendapat respons positif dari mahasiswa. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai digitalisasi arsip, peluang profesi di bidang kearsipan, pengelolaan arsip elektronik, hingga pemanfaatan arsip sebagai sumber penelitian sejarah dan kebudayaan.

Melalui kegiatan Jejak Kolaborasi ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman lapangan secara langsung, tetapi juga memahami bagaimana arsip berperan dalam menjaga identitas, memori, dan perjalanan sejarah suatu bangsa. Kunjungan tersebut menjadi sarana pembelajaran yang mempertemukan teori yang dipelajari di ruang kuliah dengan praktik profesional di lapangan.

Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., dalam keterangannya menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kerja sama tersebut dan berharap kolaborasi dapat terus berkembang melalui berbagai program yang lebih konkret. “Kerja sama ini diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen semata. FIB Unand dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat dapat bersama-sama mengembangkan penelitian, seminar, pelatihan, digitalisasi arsip budaya, hingga program magang yang memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa dan masyarakat,” ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Melalui penandatanganan PKS dan IA ini, FIB Unand kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat jejaring kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat literasi arsip, pelestarian sejarah, serta pengembangan sumber daya manusia yang adaptif terhadap tantangan zaman.

Gambar 2. Foto bersama FIB Unand dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat

Surau Baralek Gadang FIB Unand: Ruang Merawat Budaya di Tengah Perubahan Zaman

Gambar 1. Pemotongan pita sebagai simbolis pembukaan rangkaian acara Festival Surau Baralek Gadang oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas sukses menyelenggarakan Festival Surau Baralek Gadang pada 20–23 Mei 2026 di lingkungan FIB Unand. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi budaya, literasi, kreativitas, dan refleksi budaya yang menghadirkan berbagai rangkaian acara seperti bazar, pameran budaya, talkshow, workshop aksara kuno, hingga lomba tingkat nasional yang diikuti peserta dari berbagai daerah.

Festival dibuka secara resmi pada Rabu, 20 Mei 2026 oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, melalui prosesi pembukaan dan pemotongan pita di area koridor depan gua pameran FIB Unand. Kegiatan pembukaan turut dihadiri oleh Direktur Utama Surau Kreatif, pimpinan fakultas, Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II, Alex darmawan, S.S., M.A., para manajer, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta tamu undangan dari berbagai instansi kebudayaan dan komunitas budaya di Sumatera Barat.

Suasana pembukaan berlangsung meriah dengan antusiasme mahasiswa dan pengunjung yang mulai memadati area bazar dan pameran sejak pagi hari. Festival ini tidak hanya menjadi agenda hiburan budaya, tetapi juga menjadi ruang akademik dan refleksi sosial yang mengangkat kembali pentingnya menjaga budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP menyampaikan bahwa budaya perlu terus dihadirkan melalui ruang-ruang kreatif yang dekat dengan generasi muda. Menurutnya, kampus memiliki peran penting sebagai tempat bertemunya gagasan, tradisi, dan kreativitas budaya. “Budaya tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus terus dipelajari, dibicarakan, dan dihadirkan kembali melalui ruang-ruang kreatif agar tetap hidup di tengah generasi muda dan perkembangan zaman,” ujar Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP.

Selama empat hari pelaksanaan, area bazar dan pameran dibuka untuk umum mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Puluhan tenant bazar turut meramaikan kegiatan dengan menghadirkan berbagai produk kuliner, kriya, karya kreatif mahasiswa, produk UMKM, hingga berbagai hasil karya berbasis budaya lokal Minangkabau.

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian pengunjung adalah pameran berbentuk gua budaya yang dibangun di koridor FIB Unand. Konsep gua tersebut dimaknai sebagai ruang perenungan dan refleksi diri terhadap kondisi budaya saat ini. Pengunjung diajak memasuki ruang yang menggambarkan bagaimana masyarakat sering kali lebih mengenal budaya luar dibandingkan budaya sendiri.

Melalui instalasi tersebut, panitia ingin menyampaikan pesan bahwa budaya lokal perlu kembali dipahami, dipelajari, dan dirawat bersama. Tidak sedikit pengunjung yang berhenti untuk membaca kutipan-kutipan reflektif yang dipasang di area pameran. “Kadang kita terlalu sibuk mengagumi budaya luar sampai lupa memahami budaya sendiri.”

Rangkaian kegiatan festival juga diisi dengan berbagai talkshow dan workshop budaya yang menghadirkan akademisi serta pegiat budaya Minangkabau. Pada Kamis, 21 Mei 2026, festival menghadirkan talkshow bersama Prof. Dr. Drs. Herwandi, M.Hum. dan S. Wani Maler, M.A. yang membahas dinamika budaya Minangkabau, perubahan sosial masyarakat, hingga pentingnya pelestarian identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Pada hari yang sama, peserta juga mengikuti Workshop Aksara Kuno di Minangkabau “Aksara Kawi” yang dipandu oleh A’ang Pambudi Nugroho, M.A. Workshop ini mengenalkan kembali sejarah aksara kuno yang pernah berkembang di Nusantara serta kaitannya dengan perkembangan budaya tulis masyarakat Minangkabau.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan talkshow budaya oleh Daratullaila Nasri, S.S., M.A. yang membahas pentingnya bahasa dan aksara sebagai bagian dari identitas kebudayaan.

Sementara itu, pada Jumat, 22 Mei 2026, festival kembali menghadirkan talkshow bersama Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP dan Muh Faisal Chair, M.Hum. Diskusi membahas posisi bahasa daerah, budaya lokal, serta tantangan generasi muda dalam mempertahankan identitas budaya di era digital.

Hari kedua workshop diisi dengan Workshop Aksara Kuno di Minangkabau “Aksara Jawi” yang dipandu oleh Daratullaila Nasri, S.S., M.A. Peserta tampak antusias mempelajari sejarah dan praktik penulisan aksara Jawi yang pernah berkembang luas dalam tradisi intelektual masyarakat Minangkabau.

Selain pameran, bazar, talkshow, dan workshop, Festival Surau Baralek Gadang juga menghadirkan empat cabang lomba tingkat nasional, yaitu Bacarito Bahasa Minang, Olimpiade Bahasa dan Budaya Minangkabau, Menulis Cerpen Berbahasa Minang, serta Video Konten Budaya Minangkabau dengan tema “Harmoni Minangkabau: Warisan Lokal, Inspirasi Nasional.”

Cabang lomba tersebut diikuti oleh pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah. Kegiatan ini menjadi bentuk upaya FIB Unand dalam menghadirkan ruang kreativitas budaya bagi generasi muda melalui media bahasa, sastra, dan konten digital.

Puncak kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 23 Mei 2026 melalui pengumuman para pemenang lomba sekaligus penutupan resmi festival oleh Wakil Dekan I FIB Unand, Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D.

Dalam sambutannya, Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D. menyampaikan bahwa festival budaya seperti ini penting untuk terus dilaksanakan karena menjadi ruang pertemuan antara tradisi, kreativitas, dan pemikiran generasi muda. “Budaya akan tetap hidup ketika terus dipelajari, dibicarakan, dan diwariskan melalui ruang-ruang kreatif seperti ini,” ujar Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D.

Selama pelaksanaan kegiatan, antusiasme pengunjung terlihat tinggi. Mahasiswa, dosen, pelajar, komunitas budaya, hingga masyarakat umum turut hadir mengikuti berbagai rangkaian acara yang berlangsung interaktif dan terbuka untuk umum.

Melalui Festival Surau Baralek Gadang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas menegaskan komitmennya dalam menghadirkan ruang budaya yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi media edukasi, refleksi, dan penguatan identitas budaya lokal di tengah perubahan zaman. “Bak kato urang awak, sakali aia gadang, sakali tapian barubah; namun budaya jangan sampai hilang.”

Gambar 2. Pimpinan Fakultas Ilmu Budaya Unand bersama panitia Surau Baralek Gadang