Prof. Dr. Nadra, M.S. Terima Penghargaan Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Daerah dari Balai Bahasa Sumatera Barat

Gambar 1. Prof. Dr. Nadra, M.S. menerima penghargaan atas kontribusi dan dedikasinya dalam pelestarian serta pengembangan bahasa Indonesia dan bahasa daerah dari Balai Bahasa Sumatera Barat

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas kembali menorehkan capaian membanggakan melalui salah seorang dosen terbaiknya. Prof. Dr. Nadra, M.S., dosen Program Studi Sastra Indonesia, menerima penghargaan atas kontribusi dan dedikasinya dalam pelestarian serta pengembangan bahasa Indonesia dan bahasa daerah dari Balai Bahasa Sumatera Barat. Penganugerahan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 11 Desember 2025, bertempat di Aula Hamka, dan dihadiri oleh perwakilan Balai Bahasa Sumatera Barat, akademisi, peneliti kebahasaan, serta undangan dari berbagai institusi pendidikan dan kebudayaan.

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi Prof. Dr. Nadra, M.S. dalam penelitian kebahasaan, khususnya pemetaan bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Sejak tahun 2006, Prof. Dr. Nadra, M.S. secara aktif terlibat dalam penelitian pemetaan bahasa daerah di Indonesia, sebuah program strategis nasional yang bertujuan mendokumentasikan, mengklasifikasikan, dan memetakan keragaman bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan linguistik Nusantara. Hasil penelitian tersebut telah terdokumentasi dalam berbagai publikasi ilmiah, termasuk buku bahasa dan peta bahasa di Indonesia yang menjadi rujukan penting dalam kajian linguistik dan kebijakan kebahasaan.

Dalam pelaksanaan pemetaan bahasa daerah, Prof. Dr. Nadra, M.S. tergabung dalam tim pakar nasional yang berjumlah empat orang, yakni Prof. Dr. Multamia, Prof. Danawati, Prof. Kisyani, dan Prof. Dr. Nadra, M.S. Tim ini tidak hanya melakukan penelitian lapangan, tetapi juga berperan sebagai narasumber dan pelatih bagi pegawai Balai Bahasa dan Badan Bahasa di seluruh Indonesia, guna memastikan metodologi pemetaan bahasa dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

Prof. Dr. Nadra, M.S. dipilih sebagai penerima penghargaan karena dinilai konsisten dan berkelanjutan dalam menjalankan penelitian pemetaan bahasa daerah selama puluhan tahun. Kekhususan kajian beliau terletak pada variasi-variasi bahasa Minangkabau, termasuk perubahan, pergeseran, serta dinamika penggunaan bahasa di berbagai wilayah Sumatera Barat.

Gambar 2. Prof. Dr. Nadra, M.S. bersama penerima penghargaan lainnya

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Nadra, M.S. menyoroti fenomena penurunan penggunaan bahasa Minangkabau, terutama di kawasan perkotaan. Ia menilai bahwa generasi muda saat ini cenderung lebih sering menggunakan bahasa Melayu Jakarta atau ragam bahasa populer lainnya dalam komunikasi sehari-hari. “Bahasa Minangkabau, khususnya di kota-kota, mengalami penurunan penggunaan. Banyak anak muda yang tidak lagi menggunakan bahasa daerahnya secara aktif. Ini menjadi tantangan serius dalam upaya pelestarian bahasa,” ujar Prof. Dr. Nadra, M.S.

Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, salah satu kajian yang paling berkesan bagi Prof. Dr. Nadra, M.S. adalah penelitian mengenai asal-usul bahasa dan wilayah awal permukiman masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat, yang secara linguistik menunjukkan bahwa daerah Lima Puluh Kota, khususnya Mahath, Mungka, dan sekitarnya, merupakan kawasan awal persebaran bahasa Minangkabau. Penelitian ini didasarkan pada bukti sebaran bahasa dan analisis Linguistik historis, serta telah memperoleh penghargaan tersendiri di tingkat nasional.

Selain itu, Prof. Dr. Nadra, M.S. juga pernah mengkaji arah migrasi masyarakat Minangkabau, yang menunjukkan keterkaitan erat antara pergerakan penduduk, perkembangan bahasa, dan pembentukan identitas budaya. Kajian-kajian tersebut memperkuat posisi linguistik sebagai disiplin ilmu yang berkontribusi langsung pada pemahaman sejarah dan kebudayaan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Nadra, M.S. juga menyampaikan pesan reflektif mengenai pentingnya kesadaran berbahasa, terutama bagi generasi muda. “Kita harus menghargai bahasa kita sendiri. Jika kita tidak menghargainya, jangan berharap orang lain akan menghargai bahasa kita. Penggunaan bahasa harus disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan ranahnya masing-masing,” tegasnya.

Lebih lanjut, Prof. Dr. Nadra, M.S. berharap agar program pemetaan bahasa daerah dapat terus berlanjut sebagai upaya strategis dalam menjaga keberagaman linguistik Indonesia, sekaligus sebagai dasar perumusan kebijakan pelindungan bahasa daerah di masa depan. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas dedikasi Prof. Dr. Nadra, M.S. tidak hanya sebagai akademisi, tetapi juga sebagai penjaga warisan linguistik dan budaya bangsa.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas menilai capaian ini sejalan dengan komitmen fakultas dalam mendukung riset kebahasaan, pelestarian budaya, serta penguatan peran akademisi dalam pembangunan kebudayaan nasional.

Humas FIB Unand Siti Awal Syaravina