Dari Kuliah Umum hingga Podcast, FIB Unand Hadirkan Prof. Dustin Cowell dari USA

Gambar 1. Prof. Dustin Cowell bersama Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, dalam sesi kuliah umum
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand) menyelenggarakan Kuliah Umum bertema Living Phenomena of Arabic Language and the Al-Qur’an bersama Prof. Dustin Cowell, Profesor Bahasa dan Sastra Arab dari University of Wisconsin, Madison, Amerika Serikat, pada Kamis, 22 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Sidang Dekanat Lantai 2 FIB Unand. Kuliah umum dihadiri oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, diikuti oleh Wakil Dekan I, Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II, Alex Darmawan, S.S., M.A., serta dosen, mahasiswa, dan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP. Dalam sambutannya, Dekan menegaskan bahwa kuliah umum ini merupakan bagian dari komitmen FIB Unand dalam menghadirkan ruang akademik yang terbuka bagi dialog lintas budaya dan lintas tradisi keilmuan. Kajian bahasa Arab dan Al-Qur’an, menurutnya, tidak hanya relevan dalam konteks religius, tetapi juga penting sebagai objek kajian linguistik, sastra, dan budaya yang hidup serta terus berkembang seiring dinamika masyarakat.
Dalam pemaparannya, Prof. Dustin Cowell menjelaskan bahasa Arab sebagai bahasa yang bersifat dinamis dan memiliki keterkaitan erat dengan teks Al-Qur’an, baik dari aspek linguistik, semantik, maupun sosial-budaya. Ia menekankan bahwa bahasa Arab tidak dapat dipahami secara statis, melainkan harus dilihat sebagai bahasa yang hidup dan senantiasa dipengaruhi oleh konteks sejarah, praktik kebahasaan, serta kondisi sosial penuturnya. Pendekatan ini, menurutnya, membuka ruang analisis yang lebih luas dalam memahami Al-Qur’an sebagai teks yang hadir dan berinteraksi dengan realitas sosial.
Selain kuliah umum, rangkaian kegiatan akademik ini juga dilengkapi dengan produksi konten Podcast FIB Unand dalam episode Ngobras (Ngobrol Santai Seputar Dunia Kampus) bersama Prof. Dustin Cowell. Melalui podcast tersebut, Prof. Dustin Cowell berbagi pengalaman akademiknya, riwayat kunjungan ke Indonesia dan Sumatera Barat, bidang riset yang digelutinya, serta ketertarikannya terhadap bahasa Arab, sastra Arab, dan bahasa Indonesia. Diskusi juga membahas kesan Prof. Dustin Cowell terhadap Indonesia, khususnya Sumatera Barat, sebagai ruang budaya yang kaya dan relevan bagi pengembangan kajian bahasa dan sastra.
Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, menyampaikan bahwa kehadiran Prof. Dustin Cowell, baik dalam forum kuliah umum maupun melalui media podcast kampus, merupakan wujud nyata internasionalisasi atmosfer akademik di lingkungan FIB Unand. “Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana kajian bahasa dan sastra mampu melampaui batas geografis, budaya, dan latar belakang personal. FIB Unand memandang kajian bahasa Arab, sastra, dan Al-Qur’an sebagai ruang akademik yang dapat dikaji secara ilmiah, kritis, dan terbuka,” ujar Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP.
Ia juga menambahkan bahwa integrasi kuliah umum dengan podcast kampus merupakan strategi FIB Unand dalam memperluas diseminasi ilmu pengetahuan. “Melalui kuliah umum dan podcast Ngobras, diskursus akademik tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat diakses publik secara lebih luas, terutama generasi muda yang akrab dengan media digital,” tambah Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP.

Gambar 2. Prof. Dustin Cowell menjadi narasumber dalam podcast FIB Unand
Dalam kuliah umum dan sesi podcast, Prof. Dustin Cowell turut menjelaskan latar belakang akademiknya sebagai seorang peneliti bahasa Arab. Ia menyampaikan bahwa ketertarikannya terhadap sastra Arab dan Al-Qur’an tumbuh melalui kajian lintas budaya. Prof. Dustin Cowell, yang berlatar belakang Kristen Lebanon, mengungkapkan bahwa minat akademiknya terhadap bahasa Arab dan tradisi Islam berkembang melalui pembacaan karya-karya intelektual Muslim, termasuk tulisan-tulisan Buya Hamka. “Ketertarikan saya pada sastra Arab dan Al-Qur’an bersifat akademik. Karya-karya Hamka membuka pemahaman tentang bagaimana bahasa, sastra, dan nilai-nilai keislaman berinteraksi dengan konteks sosial dan kemanusiaan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa Al-Qur’an, dalam perspektif linguistik dan sastra, merupakan teks yang kaya secara makna dan terus hidup dalam praktik bahasa masyarakat. “Sebagai peneliti bahasa, saya melihat Al-Qur’an sebagai fenomena linguistik dan kultural yang kompleks. Pendalaman terhadap maknanya menuntut kehati-hatian metodologis, penghormatan terhadap tradisi, dan keterbukaan intelektual,” jelas Prof. Dustin Cowell.
Prof. Dustin Cowell juga menyampaikan kesan positifnya terhadap Indonesia, khususnya Sumatera Barat, sebagai wilayah yang memiliki tradisi intelektual kuat dan terbuka terhadap dialog keilmuan serta masyarakatnya yang ramah dan selalu tersenyum. Menurutnya, diskusi akademik yang berlangsung di FIB Unand menunjukkan bahwa kajian bahasa dan sastra dapat berkembang secara kritis sekaligus kontekstual.
Pelaksanaan kuliah umum dan podcast ini menegaskan peran FIB Unand sebagai ruang akademik yang aktif memfasilitasi dialog lintas disiplin dan lintas negara. Melalui kegiatan semacam ini, FIB Unand diharapkan terus berkontribusi dalam pengembangan kajian humaniora yang inklusif, kritis, dan relevan dengan dinamika global.
Humas FIB Unand: Siti Awal Syaravina, S.Hum., M.Li.