Ruang Baca Sejarah FIB Unand Gelar Bedah Buku “Kinantan Melintas Zaman”

Gambar 1. Narasumber utama, Irwan Setiawan, S.Pd. dan Akhmad Febriansyah sebagai pemantik diskusi dalam acara bedah buku “Kinantan Melintas Zaman”

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas melalui Ruang Baca Departemen Ilmu Sejarah menggelar seminar dan bedah buku bertajuk “Kupas Tuntas Kinantan Melintas Zaman: Membaca Budaya dan Konflik dalam Lanskap Digital” pada Selasa, 12 Mei 2026, di Ruang Seminar FIB Unand. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi akademik yang membahas hubungan budaya, sejarah, ruang kota, serta dinamika konflik sosial dalam perspektif kekinian.

Kegiatan dibuka langsung oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, dan turut dihadiri oleh Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., dosen Departemen Ilmu Sejarah, mahasiswa, serta civitas academica di lingkungan FIB Unand.

Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan doa, sebelum memasuki sesi inti diskusi buku. Dalam kegiatan tersebut, hadir Irwan Setiawan, S.Pd. sebagai narasumber utama dan Akhmad Febriansyah sebagai pemantik diskusi.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta terkait isi buku Kinantan Melintas Zaman. Pembahasan tidak hanya berfokus pada isi teks, tetapi juga mengaitkan sejarah Bukittinggi dengan perkembangan sosial budaya masyarakat saat ini.

Dalam pemaparannya, Irwan Setiawan, S.Pd. menjelaskan bahwa buku tersebut memuat berbagai kajian mengenai sejarah Kota Bukittinggi, mulai dari sejarah kebun binatang Kinantan, perkembangan tata kota, toponimi atau penamaan wilayah, hingga perubahan sosial budaya yang terjadi dari masa ke masa. “Buku ini tidak hanya membahas sejarah sebagai peristiwa masa lalu, tetapi juga bagaimana ruang budaya itu berubah dan dipahami masyarakat hari ini,” ujar Irwan Setiawan, S.Pd.

Selain membahas sejarah kota, buku tersebut juga menyoroti kritik terhadap pengelolaan aset budaya dan sejarah di Bukittinggi yang dinilai mulai kurang terjaga. Dalam diskusi, narasumber menyinggung pentingnya perhatian pemerintah terhadap pelestarian bangunan, ruang sejarah, dan identitas budaya kota. “Banyak aset budaya yang perlahan hilang atau rusak. Padahal, itu bagian penting dari identitas sejarah masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, pemantik diskusi, Akhmad Febriansyah, membantu mengarahkan jalannya pembahasan agar tetap terfokus pada gagasan utama buku sekaligus menghubungkannya dengan perkembangan ruang digital yang memengaruhi cara masyarakat membaca sejarah dan budaya.

Peserta diskusi tampak aktif menyampaikan pandangan terkait pentingnya literasi budaya, dokumentasi sejarah lokal, serta tantangan pelestarian budaya di era digital. Suasana diskusi berlangsung hangat karena banyak peserta mengaitkan isi buku dengan kond isi sosial budaya Minangkabau saat ini.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan bedah buku seperti ini penting untuk memperkuat tradisi akademik dan budaya literasi di lingkungan kampus. “Ruang baca tidak hanya menjadi tempat membaca buku, tetapi juga ruang bertemunya gagasan, diskusi, dan pengembangan budaya akademik,” ujar Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Gambar 2. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. bersama jajarann pimpinan, narasumber utama, dan para dosen dalam Bedah Buku “Kinantan Melintas Zaman”

Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan agar mahasiswa terbiasa berpikir kritis dalam membaca berbagai persoalan budaya dan sejarah. Kegiatan kemudian ditutup dengan penegasan kembali poin-poin penting diskusi dan sesi dokumentasi bersama narasumber, pemantik, dosen, serta peserta yang hadir.

Melalui kegiatan ini, Departemen Ilmu Sejarah FIB Unand menegaskan komitmennya dalam menghadirkan forum ilmiah yang relevan dengan isu budaya, sejarah lokal, dan perkembangan zaman, sekaligus memperkuat tradisi literasi di lingkungan akademik.