Tim Nihongo Gakkou FIB Unand Raih Silver Medal dan Best Idea pada Ajang Catalyst Future Competition Nasional 2026 

Gambar 1. Tim Nihongo Gakkou berhasil meraih Silver Medal (Juara II) sekaligus penghargaan Best Idea dalam ajang Catalyst Future Competition: National Essay & Business Plan x Asia Chapter Padang 2026

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas di tingkat nasional. Tim Nihongo Gakkou yang diketuai oleh Arya Alghifari berhasil meraih Silver Medal (Juara II) sekaligus penghargaan Best Idea pada subtema Seni dan Budaya dalam ajang Catalyst Future Competition: National Essay & Business Plan x Asia Chapter Padang 2026 yang diselenggarakan pada 23 Mei 2026.

Kompetisi tingkat nasional tersebut diikuti oleh peserta dari sekitar 48 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Pada kesempatan itu, Arya Alghifari selaku ketua tim juga menjadi perwakilan utama yang mempresentasikan gagasan tim di hadapan dewan juri.

Tim Nihongo Gakkou terdiri atas Arya Alghifari sebagai ketua tim, bersama Ikka Aprillia, Leica Zahra Asanda, Nadjwa Putri Rinalita, dan Tyo Muhammad Rizki. Dalam kompetisi tersebut, mereka dibimbing oleh Imelda Indah Lestari, M.Hum.

Tim ini mengusung esai berjudul “Dari Tradisi ke Transformasi Digital: Model Inovasi Kolaboratif Mahasiswa, Influencer, dan Pengrajin dalam Membangun Ekosistem Ekonomi Berkelanjutan Songket Pandai Sikek dan Silungkang Menuju Pasar Global.”

Gagasan Inovatif untuk Pelestarian Songket Dalam esai tersebut, tim mengangkat persoalan menurunnya minat generasi muda terhadap songket Pandai Sikek dan Silungkang di tengah perkembangan teknologi dan arus budaya global. Tim menawarkan sebuah model kolaboratif yang mempertemukan mahasiswa, influencer digital, dan pengrajin songket dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Mahasiswa diposisikan sebagai agen inovasi yang mengembangkan desain fashion modern berbasis motif songket. Di sisi lain, influencer berperan memperluas promosi melalui media digital, sedangkan pengrajin menjaga autentisitas nilai budaya dan kualitas produk songket. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperluas pasar songket hingga tingkat internasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan pengrajin lokal.

Selain itu, tim juga merancang peta implementasi program yang mencakup proses rekrutmen mahasiswa, pengembangan desain, produksi kolaboratif, hingga promosi digital berbasis media sosial dan platform e-commerce. Gagasan tersebut dinilai memiliki nilai inovasi yang kuat karena mengintegrasikan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi kreatif berbasis teknologi.

Keberhasilan meraih dua penghargaan sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa FIB Unand tidak hanya mampu menghasilkan gagasan akademik yang berkualitas, tetapi juga menawarkan solusi nyata terhadap persoalan budaya dan ekonomi kreatif di Indonesia.

Ketua tim, Arya Alghifari, mengungkapkan rasa syukur atas capaian yang diraih bersama timnya. “Kami ingin menunjukkan bahwa budaya tidak harus bertahan sebagai kenangan masa lalu. Dengan inovasi dan kolaborasi yang tepat, warisan budaya seperti songket dapat menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang relevan bagi generasi muda dan mampu bersaing di tingkat global,” ujar Arya.

Arya menambahkan bahwa penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi dirinya dan tim untuk terus mengembangkan gagasan yang berdampak bagi masyarakat. “Prestasi ini bukan hanya tentang memenangkan lomba, melainkan tentang bagaimana ide yang kami susun dapat menjadi inspirasi dalam menjaga budaya lokal melalui pendekatan yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” tambahnya.

Sementara itu, dosen pembimbing, Imelda Indah Lestari, M.Hum., menyampaikan apresiasi atas kerja keras dan kesungguhan tim selama proses penyusunan karya. “Keberhasilan ini menunjukkan bahwa mahasiswa FIB Unand memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan solutif. Mereka tidak hanya memahami budaya sebagai warisan, tetapi juga mampu merancang strategi agar budaya tersebut tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman,” tuturnya.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, turut mengapresiasi capaian tersebut. “Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa FIB Unand mampu menghadirkan gagasan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pelestarian budaya melalui inovasi dan transformasi digital merupakan langkah penting dalam menjaga identitas bangsa sekaligus membuka peluang ekonomi di masa depan,” ungkap Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.  

Prestasi yang diraih Tim Nihongo Gakkou diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan membawa nilai-nilai budaya Indonesia ke panggung yang lebih luas melalui penelitian, kreativitas, dan kolaborasi lintas bidang.