Kunjungan IIUM ke FIB Unand Bahas Keterkaitan Arsitektur, Budaya, dan Warisan Dunia

Gambar 1. Seminar kunjungan IIUM ke FIB Unand dalam rangka mengkaji arsitektur dan budaya di Minangkabau
Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas menerima kunjungan akademik dari delegasi Program Studi Arsitektur International Islamic University Malaysia (IIUM) pada Senin 13 Juli 2026 di Ruang Seminar FIB Universitas Andalas. Kegiatan ini Mengusung tema "Menjembatani Peradaban melalui Arsitektur dan Budaya", kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara akademisi Indonesia dan Malaysia mengenai keterkaitan arsitektur, sejarah, budaya, arkeologi, serta kearifan lokal dalam membentuk identitas suatu peradaban.
Kegiatan dibuka oleh Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., yang menyampaikan bahwa kolaborasi lintas negara menjadi bagian penting dalam memperluas wawasan akademik sekaligus memperkuat jejaring internasional antarinstitusi. Menurutnya, budaya merupakan titik temu berbagai disiplin ilmu yang mampu melahirkan perspektif baru dalam pengembangan keilmuan. "Kami menyambut baik kunjungan akademik ini sebagai ruang untuk saling belajar dan berbagi pengetahuan. Budaya merupakan jembatan yang mampu mempertemukan berbagai disiplin ilmu, termasuk arsitektur. Melalui forum seperti ini, kita tidak hanya memperkuat kerja sama antarinstitusi, tetapi juga memperkaya perspektif dalam memahami peradaban melalui pendekatan humaniora," ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.
Perwakilan delegasi IIUM turut menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan FIB Universitas Andalas. Menurutnya, kunjungan ini menjadi kesempatan berharga untuk memperluas pemahaman mengenai kekayaan warisan budaya Indonesia sekaligus membuka peluang kolaborasi akademik yang berkelanjutan antara kedua perguruan tinggi.
Memasuki sesi akademik, para peserta diajak melihat bahwa arsitektur tidak hanya dipahami sebagai ilmu yang mempelajari bangunan dan ruang, tetapi juga sebagai representasi sejarah, budaya, identitas, dan pengetahuan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Perspektif inilah yang menjadi titik temu antara disiplin arsitektur dan humaniora, karena keduanya sama-sama memandang ruang sebagai hasil interaksi manusia dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam.
Presentasi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. melalui materi bertajuk Rumah Gadang Minangkabau: Dari Aspek Arsitektur Tahan Gempa sampai Revitalisasi Ukiran untuk Motif Batik. Ia menjelaskan bahwa Rumah Gadang merupakan wujud kecerdasan lokal masyarakat Minangkabau yang lahir dari proses adaptasi terhadap kondisi geografis Sumatra Barat yang rawan gempa. Selain memiliki konstruksi yang kokoh, Rumah Gadang juga merepresentasikan sistem sosial masyarakat melalui tata ruang, bentuk bangunan, hingga ragam ukiran yang mengandung nilai-nilai filosofis.
Menurut Prof. Herwandi, arsitektur tradisional tidak hanya layak dipandang sebagai warisan fisik, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan budaya yang terus hidup dan relevan dengan perkembangan zaman. "Arsitektur tradisional tidak sekadar warisan fisik, tetapi juga menyimpan pengetahuan, filosofi, dan identitas budaya yang harus terus dipelajari serta dikembangkan sesuai konteks zaman," jelas Prof. Herwandi.
Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Eka Meigalia melalui paparan bertajuk Tradisi Lisan, Pengetahuan Seputar Tumbuhan, dan Kuliner Minangkabau. Ia menjelaskan bahwa tradisi lisan tidak hanya berfungsi sebagai media pewarisan cerita, tetapi juga menjadi sarana transmisi pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan tumbuhan, pengolahan pangan, hingga nilai-nilai kehidupan yang membentuk identitas budaya Minangkabau. Dengan demikian, lanskap budaya tidak dapat dipisahkan dari lingkungan alam yang menjadi sumber pengetahuan masyarakat.
Sementara itu, Wahyu Septio Affima mengangkat tema Melawan Sakit: Pengetahuan Lokal Minangkabau tentang Tubuh, Tumbuhan, dan Penyembuhan. Materi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Minangkabau membangun sistem pengetahuan mengenai kesehatan melalui pengalaman empiris, pemanfaatan tumbuhan obat, serta praktik penyembuhan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan lokal tersebut menjadi bagian penting dari khazanah budaya yang masih relevan untuk dikaji dalam perspektif humaniora.
Tidak hanya dari pihak FIB Universitas Andalas, delegasi mahasiswa Program Studi Arsitektur IIUM juga mempresentasikan kajian mengenai Lenggong Valley, salah satu UNESCO World Heritage Site di Malaysia. Kawasan tersebut dikenal sebagai situs arkeologi penting yang merekam jejak kehidupan manusia purba di Asia Tenggara. Melalui presentasi tersebut, peserta diajak memahami bahwa perencanaan kawasan, pelestarian lanskap, hingga pengembangan pariwisata budaya perlu mempertimbangkan nilai sejarah, arkeologi, dan identitas masyarakat yang melekat pada suatu kawasan.
Diskusi berlangsung dinamis dengan antusiasme peserta dari kedua institusi yang saling bertukar pandangan mengenai pelestarian warisan budaya, adaptasi arsitektur tradisional terhadap perkembangan zaman, serta pentingnya pendekatan multidisiplin dalam memahami hubungan antara manusia, ruang, dan budaya. Forum ini memperlihatkan bahwa kajian arsitektur tidak dapat dipisahkan dari sejarah, arkeologi, antropologi, linguistik, dan berbagai cabang ilmu humaniora lainnya.
Kegiatan diakhiri dengan serah terima Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan International Islamic University Malaysia (IIUM) sebagai wujud komitmen kedua institusi dalam memperkuat kolaborasi akademik, pengembangan tridarma perguruan tinggi, serta pertukaran pengetahuan di bidang arsitektur, budaya, dan humaniora.

Gambar 2. Serah terima Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dengan International Islamic University Malaysia (IIUM)
Melalui kunjungan akademik ini, FIB Universitas Andalas dan International Islamic University Malaysia tidak hanya memperkuat hubungan kelembagaan, tetapi juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara dalam merawat serta mengembangkan warisan budaya sebagai fondasi peradaban. Pertemuan ini diharapkan menjadi awal bagi lahirnya berbagai bentuk kerja sama akademik yang memberikan kontribusi