Oktavia Ramadhani dan Zaki Latif Raih Juara I dan II Jurnalis Pers Mahasiswa Unand

Gambar 1. Oktavia Ramadhani dan Zaki Latif Raih Juara I dan II Jurnalis Pers Mahasiswa Unand
Dua mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas kembali menorehkan prestasi melalui dunia pers mahasiswa. Oktavia Ramadhani dari Program Studi Sastra Minangkabau dan Zaki Latif Bagia Rahman dari Program Studi Sejarah berhasil meraih Juara I dan Juara II Kategori Jurnalis Pers Mahasiswa di Lingkungan Universitas Andalas.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam Malam Anugerah Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas yang berlangsung pada Senin, 14 September 2026 di Pangeran Beach Hotel, Padang.
Keduanya mengikuti kategori lomba yang sama melalui tulisan dengan isu yang berbeda. Oktavia meraih Juara I melalui artikel berjudul “Reorientasi Riset 70 Tahun Universitas Andalas, Menjaga Akar di Tanah Sendiri”, sedangkan Zaki meraih Juara II melalui artikel “5 Tahun Unand sebagai PTN-BH: Otonomi Besar, Mahasiswa Masih Disuruh Maklum.”
Menggugat Arah Riset di Usia 70 Tahun

Gambar 2. Oktavia Ramadhani menerima piagam penghargaan dari Sekretaris Universitas Andalas
Tulisan Oktavia berangkat dari momentum 70 tahun Universitas Andalas. Ia tidak hanya melihat perjalanan Unand dari sisi pencapaian yang telah diraih, tetapi mengarahkan perhatian pada bagaimana riset Unand seharusnya dikembangkan ke depan.
Dalam tulisannya, Oktavia menyoroti pentingnya riset yang tetap memiliki keterkaitan dengan persoalan masyarakat dan lingkungan di sekitar Universitas Andalas. Menurutnya, perkembangan perguruan tinggi tidak cukup hanya ditandai oleh pencapaian akademik, tetapi juga oleh sejauh mana pengetahuan yang dihasilkan melalui penelitian dapat memberi manfaat dan menjawab kebutuhan nyata di lingkungan tempat perguruan tinggi tersebut berada.
Perspektif tersebut menjadi alasan Oktavia memilih isu riset sebagai pokok tulisannya. “Perjalanan 70 tahun Unand tidak hanya penting dilihat dari pencapaiannya, tetapi juga dari bagaimana arah riset Unand ke depannya dan sejauh mana riset tersebut bisa tetap dekat dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya,” ungkap Oktavia.
Ketertarikannya terhadap isu-isu di lingkungan kampus juga tidak terlepas dari pengalaman Oktavia sebagai bagian dari UKM Genta Andalas. Selama bergabung dalam pers mahasiswa, ia terlibat dalam penulisan, peliputan, penyuntingan, diskusi redaksi, hingga pengelolaan majalah Genta Andalas.
Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya dalam melihat isu. Baginya, pers mahasiswa bukan semata-mata aktivitas menulis, melainkan juga proses untuk memahami persoalan secara lebih kritis dan menyampaikan informasi yang relevan bagi mahasiswa.

Gambar 3. Zaki Latif menerima piagam penghargaan dari Sekretaris Universitas Andalas
Sementara itu, Zaki Latif Bagia Rahman mengangkat isu yang lebih kritis mengenai perjalanan Universitas Andalas setelah lima tahun berstatus sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH).
Melalui artikel “5 Tahun Unand sebagai PTN-BH: Otonomi Besar, Mahasiswa Masih Disuruh Maklum”, Zaki mempertanyakan bagaimana perubahan status tersebut seharusnya berhubungan dengan pengalaman mahasiswa dan penyelenggaraan kehidupan kampus.
Tulisan tersebut berangkat dari kegelisahan Zaki terhadap sejumlah persoalan yang menurut pandangannya masih ditemui di lingkungan kampus. Ia melihat bahwa perubahan status kelembagaan semestinya juga diikuti dengan perhatian terhadap persoalan-persoalan mendasar yang dirasakan oleh mahasiswa.
Bagi Zaki, kritik tersebut bukan dimaksudkan semata-mata untuk menyampaikan ketidakpuasan, melainkan bagian dari fungsi pers mahasiswa untuk mengangkat persoalan, membuka ruang diskusi, dan mendorong evaluasi.
“Menulis bukan sekadar menyampaikan apa yang kita pikirkan, melainkan juga mencatat apa yang perlu diperhatikan. Saya berharap tulisan ini tidak berhenti sebagai sebuah kritik, tetapi dapat menjadi bagian dari percakapan yang mendorong perbaikan,” ungkap Zaki.
Melalui tulisan tersebut, Zaki juga menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan terhadap institusinya melalui karya jurnalistik yang argumentatif.
Prestasi kedua mahasiswa tersebut tidak terlepas dari aktivitas mereka di Genta Andalas. Bagi Oktavia, keterlibatan dalam pers mahasiswa memberikan pengalaman langsung untuk memahami proses jurnalistik sekaligus melatih kepekaan terhadap berbagai isu.
Ia berharap pers mahasiswa di Universitas Andalas dapat terus berkembang sebagai ruang bagi mahasiswa untuk belajar, menyampaikan gagasan, dan mengawal persoalan yang ada di lingkungan kampus.
“Pers mahasiswa tidak hanya tentang menulis, tetapi juga bagaimana kita bisa melihat suatu isu dengan lebih kritis, melakukan proses jurnalistik dengan baik, dan menyampaikan informasi yang dibutuhkan mahasiswa,” tambah Oktavia.
Hal serupa menjadi perhatian Zaki. Ia berharap Genta Andalas dapat terus berkembang dan melahirkan lebih banyak mahasiswa yang memiliki minat serta keberanian untuk terlibat dalam dunia jurnalistik. “Saya berharap Genta Andalas semakin maju dan bisa melahirkan lebih banyak jurnalis muda. Semoga semakin banyak mahasiswa yang berani menulis dan menyampaikan gagasan dengan baik,” tambah Zaki.
Dari dua karya tersebut terlihat dua perhatian yang berbeda terhadap kehidupan Universitas Andalas. Oktavia melihat momentum 70 tahun Unand melalui persoalan arah riset dan keterhubungannya dengan masyarakat, sementara Zaki melihat perjalanan Unand sebagai PTN-BH melalui ruang kritik terhadap persoalan kampus.
Keduanya memperlihatkan bahwa pers mahasiswa dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membaca lingkungan akademiknya, mengajukan pertanyaan, dan menghadirkan gagasan melalui tulisan.
Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, mengapresiasi capaian tersebut. Prestasi Oktavia dan Zaki dinilai menjadi bagian dari proses pengembangan mahasiswa yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman berkarya dan berorganisasi. “Kami tentu bangga atas capaian ini. Yang penting bukan hanya penghargaan yang diperoleh, melainkan proses yang mereka jalani. Menulis mengajarkan mahasiswa untuk peka, berpikir kritis, mengolah informasi, dan bertanggung jawab terhadap gagasan yang disampaikan,” ungkap Prof. Dr. Ike Revita.
Ia berharap capaian tersebut dapat mendorong lebih banyak mahasiswa FIB Unand untuk berani berkarya dan memanfaatkan bidang keilmuan yang mereka pelajari untuk membaca berbagai persoalan di sekitarnya. “Apa yang mereka tulis menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki cara masing-masing dalam melihat persoalan. Kampus perlu menjadi ruang yang memberi kesempatan bagi gagasan-gagasan tersebut untuk tumbuh,” tambah Prof. Dr. Ike Revita.
Bagi Oktavia, ia berharap Universitas Andalas dapat terus berkembang sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga dekat dengan persoalan masyarakat. Ia berharap riset-riset yang dihasilkan semakin berdampak dan tetap memiliki keterkaitan dengan lingkungan serta daerah di sekitarnya.
Sementara itu, Zaki berharap tulisan yang telah dihasilkan dapat menjadi bahan evaluasi dan bagian dari percakapan yang konstruktif mengenai kehidupan kampus.
Dua mahasiswa FIB Unand, dua tulisan, dan dua sudut pandang. Dari pers mahasiswa, keduanya menunjukkan bahwa menulis dapat menjadi cara untuk membaca kampus secara lebih dekat sekaligus menghadirkan gagasan bagi perubahan.