Bergerak Lewat Sastra, Mengabdi Bersama Sastra Indonesia

Gambar 1. Foto bersama pimpinan FIB Unand, Ketua Program Studi sastra Indonesia bersama seluruh peserta PSPM 2026 Hima Karsa Sastra Indonesia

Padang Pariaman, Humas FIB Unand — Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas, menutup rangkaian kegiatan Pelatihan Sastra dan Pengabdian Masyarakat (PSPM) 2026 melalui pelantikan mahasiswa baru Sastra Indonesia angkatan 2025 di kawasan Ekowisata dan Edukasi Green Talao Park, Nagari Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, pada Minggu, 25 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membentuk mahasiswa yang kritis, kreatif, dan peduli terhadap masyarakat melalui pengembangan kemampuan bersastra dan pengalaman pengabdian secara langsung.

PSPM merupakan kegiatan pengenalan dan pembekalan bagi mahasiswa baru untuk menjadi bagian dari Himpunan Mahasiswa Karsa Sastra Indonesia. Selama kegiatan yang berlangsung pada 23–25 Oktober 2026 tersebut, peserta mengikuti berbagai materi kepenulisan dan seni pertunjukan, sekaligus membangun hubungan dengan alumni dan dosen Sastra Indonesia.

Rangkaian kegiatan diisi dengan pembekalan seni teater, meliputi olah tubuh, olah vokal, olah rasa dan emosi, imajinasi, gesture, blocking, moving, grouping, akting, serta improvisasi. Pembekalan tersebut menjadi bekal bagi peserta untuk mempersiapkan pertunjukan fragmen sastra yang ditampilkan di hadapan peserta dan tamu undangan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoretis, tetapi juga berlatih mengembangkan kreativitas, kerja sama, dan kepekaan terhadap lingkungan sosial.

Pada malam puncak kegiatan, acara diisi dengan sambutan dari dosen Sastra Indonesia, Dr. M. Yunis, S.S., M.Hum., serta penyampaian sepatah kata dari Ketua Pelaksana PSPM 2026, Ferdi. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat memperkuat kebersamaan dan solidaritas di lingkungan Sastra Indonesia. Ia berharap semangat kekeluargaan di antara mahasiswa dapat terus tumbuh melalui berbagai kegiatan bersama.

“Harapannya, semoga ke depannya lebih Karsa Sastra Indonesia,” ujar Ferdi.

Kegiatan malam puncak tersebut juga dihadiri oleh Wakil Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Bapak Ahmad Hamidi, S.Pd., M.Hum., sebagai bentuk kehadiran unsur program studi dalam rangkaian kegiatan mahasiswa. Selain menjadi ruang pembelajaran, PSPM turut menjadi wadah untuk mempererat silaturahmi antara mahasiswa baru dan mahasiswa dari angkatan sebelumnya.

Ketua Hima Karsa Sastra Indonesia 2026 turut menyampaikan harapannya agar kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan ini dapat terus terjaga. Ia juga mendorong mahasiswa untuk mempertahankan semangat dalam mengikuti kegiatan pelantikan dan pengembangan organisasi pada periode berikutnya.

“Semoga kegiatan ini dapat mempererat tali silaturahmi. Harapannya, mahasiswa tetap semangat untuk mengikuti kegiatan pelantikan berikutnya,” ungkapnya.

Puncak rangkaian PSPM 2026 dilanjutkan dengan pelantikan mahasiswa baru sebagai bagian dari Himpunan Mahasiswa Karsa Sastra Indonesia. Pada akhir kegiatan, panitia juga mengumumkan sejumlah nominasi berdasarkan penampilan dan partisipasi peserta. Kelompok 9 memperoleh nominasi yel-yel terheboh, sedangkan Kelompok 8 dinobatkan sebagai kelompok terbaik. Apis dari Kelompok 4 terpilih sebagai aktor terbaik, sementara Suci dari Kelompok 8 memperoleh nominasi aktris terbaik.

Pengumuman nominasi tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas, kekompakan, dan kemampuan peserta selama mengikuti rangkaian kegiatan. Setelah penutupan, peserta dan panitia melaksanakan operasi semut sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga kebersihan lokasi kegiatan sebelum mempersiapkan kepulangan.

Melalui PSPM 2026, Hima Karsa Sastra Indonesia berharap mahasiswa baru tidak hanya tumbuh sebagai bagian dari organisasi, tetapi juga mampu mengembangkan potensi sastra untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Semangat “bergerak lewat sastra, mengabdi bersama Sastra Indonesia” menjadi pengingat bahwa sastra bukan sekadar ruang untuk berkarya, melainkan juga sarana membangun kepekaan, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.

Penulis: Fatin Fashahah