Belajar Fonologi Langsung di Lapangan, Mahasiswa FIB Unand Teliti Variasi Bunyi Bahasa di Riau

Gambar 1. Kuliah Lapangan Mata Kuliah Fonologi kelas B Program Studi Sastra Indonesia FIB Unand

Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas melaksanakan Kuliah Lapangan Mata Kuliah Fonologi Kelas B Tahun 2026 sebagai bagian dari pembelajaran berbasis praktik lapangan. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat, 24 April hingga Minggu, 26 April 2026, dengan lokasi penelitian di Desa Rambah, Kecamatan Rambah Hilir, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau.

Kuliah lapangan ini diikuti oleh mahasiswa Mata Kuliah Fonologi Kelas B Program Studi Sastra Indonesia FIB Unand di bawah bimbingan dosen pengampu Dr. Aslinda, M.Hum. Kegiatan turut didampingi oleh beberapa dosen pembimbing, yaitu Dra. Noviatri, M.Hum., Andina Meutia Hawa, M.Hum., Ahmad Hamidi, S.Pd., M.Hum., dan Dr. Ronidin, S.S., M.A. Selain itu, mahasiswa juga dibimbing oleh kakak pendamping, yakni Nada Aprila Kurnia, M. Subarkah, S.Hum., dan Tomi Pratama.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengaplikasikan teori fonologi yang telah dipelajari di kelas ke dalam konteks penggunaan bahasa di masyarakat. Mahasiswa melakukan pengamatan langsung terhadap variasi bunyi bahasa dalam tuturan masyarakat, sekaligus melatih keterampilan penelitian linguistik seperti wawancara, pencatatan data, serta perekaman tuturan.

Rombongan tiba di lokasi penelitian pada Sabtu pagi dan disambut di Kantor Desa Rambah oleh Sekretaris Desa, Wahyu Budiman, S.T., serta Ibunda Rita, yang turut membantu proses koordinasi lapangan. Setelah pembukaan dan penyambutan, mahasiswa langsung melaksanakan pengumpulan data dengan cara membentuk kelompok penelitian yang berjumlah sembilan kelompok.

Setiap kelompok mewawancarai dua informan, sehingga total terdapat 18 informan yang menjadi sumber data penelitian. Wawancara dilakukan di berbagai lokasi, termasuk rumah informan dan area sekitar Masjid Agung Islamic Centre. Salah satu kelompok, yang didampingi Nada Aprila Kurnia, melakukan wawancara dengan pasangan penduduk asli setempat, Bapak Suwardi dan Ibu Daswati.

Kegiatan penelitian berlangsung hingga sore hari. Setelah kembali ke penginapan, mahasiswa melanjutkan proses analisis awal dengan mencocokkan hasil rekaman wawancara dengan simbol alfabet fonetik guna memastikan akurasi data.

Dosen pengampu mata kuliah, Dr. Aslinda, M.Hum., menjelaskan bahwa kuliah lapangan merupakan bagian penting dalam pembelajaran linguistik. “Fonologi tidak cukup dipahami secara teoritis. Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana bunyi bahasa digunakan dalam komunikasi sehari-hari agar mereka memahami variasi bahasa secara nyata,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang kakak pendamping Nada Aprila Kurnia menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi mahasiswa. “Kesempatan ini sangat berharga karena mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar berinteraksi dengan masyarakat dan mengumpulkan data secara langsung. Di awal mereka masih malu bertanya, tetapi pada akhirnya justru menjadi kelompok yang paling antusias,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial, komunikasi, dan kerja tim dalam proses penelitian lapangan. Kuliah lapangan menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap kajian linguistik.