Semiloka Kajian Budaya FIB Unand Angkat Peran Perempuan dalam Lanskap Intelektual Sumatera Barat

Gambar 1. Moderator dan narasumber kegiatan Semiloka S-2 Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Program Studi Magister (S-2) Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas menyelenggarakan Semiloka Kajian Budaya bertajuk "Lanskap Intelektual dan Peran Perempuan Sumatera Barat dalam Dunia Penerbitan" pada Rabu 8 Juli 2026 di Ruang Sidang Dekanat FIB Universitas Andalas. Kegiatan ini menghadirkan akademisi dari dalam dan luar negeri untuk mendiskusikan perkembangan lanskap intelektual Sumatera Barat, sejarah gerakan perempuan Minangkabau, serta kontribusi perempuan dalam dunia penerbitan dan pembangunan bangsa.

Semiloka ini merupakan inisiatif Program Studi S-2 Kajian Budaya FIB Unand sebagai ruang dialektika akademik yang mempertemukan mahasiswa, dosen, peneliti, dan pemerhati kajian budaya dalam membahas dinamika media, sejarah intelektual, serta peran perempuan melalui perspektif budaya yang lebih inklusif. Kegiatan tersebut juga diharapkan mampu melahirkan gagasan baru sekaligus memperkuat metodologi penelitian di bidang kajian budaya.

Ketua Program Studi S-2 Kajian Budaya FIB Universitas Andalas, Sudarmoko, Ph.D., menyampaikan bahwa tema semiloka dipilih karena dunia penerbitan di Sumatera Barat memiliki posisi penting dalam perkembangan pemikiran, pendidikan, hingga pembentukan ruang publik intelektual sejak awal abad ke-20. "Sumatera Barat memiliki tradisi intelektual yang kuat. Melalui semiloka ini kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang tidak hanya membaca sejarah melalui teks, tetapi juga memahami bagaimana perempuan berkontribusi dalam membangun tradisi intelektual, pendidikan, dan ruang publik di Minangkabau," ujarnya.

Semiloka menghadirkan tiga narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi. Prof. Pramono, Ph.D. dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas membuka diskusi melalui paparan bertajuk "Lanskap Intelektual Sumatera Barat: Penerbitan, Institusi Pendidikan, dan Penyebaran Pengetahuan." Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa perubahan besar di Minangkabau pada awal abad ke-20 tidak hanya ditandai oleh pembaruan pendidikan Islam, tetapi juga oleh berkembangnya budaya penerbitan yang melahirkan ruang publik baru bagi penyebaran ilmu pengetahuan dan gagasan.

Menurut Prof. Pramono, sosok Inyiak Rasul menjadi figur penting dalam transformasi tersebut. Ia tidak hanya membangun sistem pendidikan modern, tetapi juga memperluas penyebaran ilmu melalui penerbitan buku, risalah, surat kabar, dan majalah sehingga gagasan keagamaan dan intelektual dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Pergeseran dari tradisi surau menuju madrasah serta dari otoritas guru menuju otoritas teks menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah intelektual Sumatera Barat. "Transformasi intelektual bukan sekadar perubahan lembaga pendidikan, melainkan perubahan cara masyarakat memproduksi, menyebarkan, dan memperdebatkan pengetahuan. Budaya penerbitan telah melahirkan ruang publik yang memperkaya perkembangan pemikiran di Sumatera Barat," jelas Prof. Pramono.

Perspektif internasional disampaikan oleh Annechien Selimi-ten Brinke dari SOAS University of London melalui presentasinya mengenai agensi politik perempuan Minangkabau, perubahan sosial, dan pembangunan bangsa pada masa kolonial akhir hingga Revolusi Nasional. Penelitiannya menunjukkan bahwa pengalaman perempuan Minangkabau memberikan perspektif baru dalam memahami sejarah perjuangan anti-kolonial, perkembangan feminisme, serta lahirnya jaringan perempuan yang berperan dalam perubahan sosial di Indonesia.

Annechien menjelaskan bahwa organisasi perempuan, media cetak, dan jaringan intelektual yang dibangun perempuan Minangkabau telah menjadi bagian penting dalam proses pembentukan identitas kebangsaan Indonesia. Kajian tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap sejarah, melainkan aktor utama yang turut membentuk arah perubahan masyarakat.

Sementara itu, narasumber ketiga, Devy Kurnia Alamsyah dari Universitas Negeri Padang dan ISI Padangpanjang mengangkat tema "Sjarifah Nawawi dan Gerakan Perempuan: Dari Historiografi ke Historiophoty." Melalui kajian tersebut, Devy mengajak peserta melihat kembali kontribusi tokoh perempuan Minangkabau yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam historiografi Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa Sjarifah Nawawi merupakan salah satu tokoh penting gerakan perempuan Sumatera Barat yang berperan dalam modernisasi organisasi perempuan, penguatan advokasi pendidikan, penyusunan gagasan organisasi perempuan, serta membangun jaringan gerakan perempuan antara Sumatera dan Jawa. Kajian ini juga memperkenalkan pendekatan historiophoty, yaitu penyajian sejarah melalui media visual seperti gambar dan film, sebagai pelengkap historiografi yang selama ini lebih banyak mengandalkan sumber tertulis. "Sejarah perempuan tidak boleh berhenti pada narasi yang ditulis. Melalui historiophoty, kita dapat menghadirkan kembali tokoh-tokoh perempuan seperti Sjarifah Nawawi agar lebih dekat dengan masyarakat dan generasi muda," ungkap Devy.

Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari mahasiswa, dosen, dan peserta yang hadir. Berbagai pertanyaan mengemuka, mulai dari dinamika penerbitan perempuan pada awal abad ke-20, hubungan antara adat dan modernitas, hingga peluang pemanfaatan media visual sebagai metode baru dalam penelitian sejarah dan kajian budaya.

Melalui penyelenggaraan Semiloka Kajian Budaya ini, Program Studi S-2 Kajian Budaya FIB Universitas Andalas kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang akademik yang kritis, inklusif, dan responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat jejaring akademik, mendorong lahirnya penelitian-penelitian baru, serta memperkaya khazanah kajian budaya, sejarah intelektual, dan studi perempuan, khususnya di Sumatera Barat.