Seminar Nasional FIB Unand Luruskan Narasi Sejarah 100 Tahun Jam Gadang Berbasis Riset

Gambar 1. Peserta seminar 100 tahun jam gadang di ruang sidang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas melalui Departemen Ilmu Sejarah menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk Mengulik Narasi Sejarah 100 Tahun Jam Gadang pada Kamis, 23 Juli 2026 di Ruang Sidang Dekanat FIB Universitas Andalas. Seminar yang merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis Universitas Andalas ke-70 ini menghadirkan akademisi, peneliti, jurnalis, mahasiswa, pemerintah daerah, serta masyarakat umum untuk mengkaji kembali sejarah Jam Gadang berdasarkan sumber-sumber primer dan metode ilmiah.
Kegiatan ini menghadirkan rombongan Pemerintah Kota Bukittinggi yang dipimpin oleh Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, S.TP. Selain itu, kegiatan tersebut juga dihadiri oleh para pegiat kebudayaan dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I FIB Universitas Andalas, Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., yang mewakili Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa seminar tersebut tidak hanya membahas Jam Gadang sebagai sebuah bangunan ikonik, tetapi juga sebagai objek kajian sejarah, humaniora, arsitektur, dan pariwisata yang saling berkaitan. Menurutnya, forum akademik seperti ini menjadi ruang penting untuk menghadirkan pemahaman sejarah yang lebih komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Seminar menghadirkan empat narasumber, yakni Khairul Jasmi (jurnalis senior dan penulis), Dr. Suryadi (Leiden University, Belanda), Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan (Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Andalas), serta Dr. Zulqaiyim, M.Hum. (Ketua Departemen Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas). Diskusi dipandu oleh Dr. Israr Iskandar, S.S., M.Si. dan berlangsung interaktif dengan partisipasi peserta secara luring maupun daring.
Ketua pelaksana dalam sambutannya menyampaikan bahwa seminar ini diselenggarakan untuk mengkaji berbagai pandangan yang selama ini dianggap sebagai kebenaran mutlak mengenai Jam Gadang. Hasil-hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi masukan ilmiah bagi Pemerintah Kota Bukittinggi dalam menyusun narasi sejarah yang lebih akurat mengenai ikon kota tersebut.
Sejarah Harus Dibangun di Atas Bukti
Materi pertama disampaikan oleh Khairul Jasmi melalui makalah berjudul Meluruskan Empat Mitos Jam Gadang. Ia menguraikan bahwa selama puluhan tahun terdapat sejumlah narasi populer mengenai Jam Gadang yang terus direproduksi tanpa melalui proses verifikasi ilmiah. Empat narasi yang paling sering beredar ialah anggapan bahwa mesin Jam Gadang hanya ada dua di dunia bersama Big Ben, Jam Gadang merupakan hadiah Ratu Wilhelmina, angka Romawi IIII merupakan kesalahan penulisan, serta bangunan tersebut didirikan tanpa semen dan besi, melainkan menggunakan putih telur. Seluruh klaim tersebut diuji menggunakan arsip kolonial, dokumen resmi, laporan teknik sipil, serta bukti material bangunan.
Ia menunjukkan bahwa mesin Jam Gadang diproduksi oleh perusahaan B. Vortmann di Jerman, sedangkan Big Ben menggunakan mesin dari E. Dent & Co. di Inggris. Demikian pula, dokumen resmi pemerintah kolonial menunjukkan bahwa pembangunan Jam Gadang dibiayai melalui Pasarfonds serta dukungan masyarakat Fort de Kock, bukan sebagai hadiah dari Ratu Belanda. Sementara itu, hasil penelitian struktur bangunan membuktikan bahwa Jam Gadang merupakan konstruksi beton bertulang yang menggunakan semen dan baja sebagaimana lazimnya teknologi bangunan pada awal abad ke-20.
"Narasi sejarah harus dibangun di atas sumber yang dapat diverifikasi. Setelah seratus tahun, sudah saatnya kita memisahkan antara fakta sejarah dan cerita yang selama ini hanya diwariskan dari mulut ke mulut," ujar Khairul Jasmi.
Menyusun Ulang Kronologi Jam Gadang
Narasumber kedua, Dr. Suryadi, memaparkan hasil penelusuran arsip surat kabar Hindia Belanda yang berhasil merekonstruksi kronologi pembangunan Jam Gadang sejak pembentukan panitia, penggalangan dana, peletakan batu pertama pada 27 Mei 1926, hingga peresmian resmi pada 25 Juli 1927. Ia juga mengungkap adanya kontribusi masyarakat, kegiatan pakan malam, hingga sumbangan lonceng dari seorang warga bernama J. Child yang selama ini jarang diketahui publik.
Menurutnya, Jam Gadang bukan semata-mata proyek pemerintah kolonial, melainkan hasil kolaborasi berbagai unsur masyarakat Fort de Kock yang ingin mempercantik kota sekaligus memperkuat identitas perkotaan pada masa itu. "Jam Gadang bukan hanya penanda waktu, melainkan juga penanda perubahan sosial masyarakat. Melalui arsip-arsip sezaman kita dapat memahami bagaimana sebuah ikon kota lahir dari dinamika masyarakatnya sendiri," ujar Dr. Suryadi.
Reinterpretasi Sejarah Berbasis Kritik Sumber
Sementara itu, Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan menyoroti pentingnya reinterpretasi historiografi Jam Gadang. Menurutnya, popularitas Jam Gadang justru diiringi dengan berkembangnya berbagai narasi populer yang belum melalui kritik sumber sebagaimana kaidah ilmu sejarah.
Ia menjelaskan bahwa penelitian-penelitian baru yang muncul sejak pascagempa 2009 hingga momentum peringatan 100 tahun Jam Gadang menunjukkan semakin kuatnya kesadaran akademik untuk menulis ulang sejarah berdasarkan arsip, surat kabar sezaman, dan dokumen resmi. Dengan demikian, sejarah Jam Gadang tidak lagi hanya bertumpu pada cerita lisan, tetapi pada hasil penelitian yang dapat diuji secara ilmiah. "Jam Gadang adalah artefak sejarah yang mencerminkan perubahan politik, sosial, budaya, dan identitas masyarakat Sumatera Barat. Karena itu, narasi sejarahnya harus dibangun melalui riset, bukan sekadar mengulang cerita yang telah lama dipercaya," kata Prof. Gusti Asnan.
Ia juga mengajak generasi muda, akademisi, peneliti, hingga kreator konten untuk menghadirkan sejarah publik yang tetap berpijak pada kaidah penelitian sehingga informasi yang diterima masyarakat memiliki landasan akademik yang kuat.
Forum Akademik yang Menghubungkan Sejarah, Arsitektur, dan Pariwisata
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan mengenai bentuk arsitektur Jam Gadang, perubahan mahkota bangunan pada masa pendudukan Jepang, makna angka Romawi IIII, sumber pembiayaan pembangunan, hubungan Jam Gadang dengan perkembangan pariwisata Bukittinggi, hingga strategi meluruskan narasi sejarah yang telah telanjur populer di masyarakat. Peserta juga menyoroti pentingnya menghubungkan kajian sejarah dengan arsitektur, konservasi, dan pengembangan destinasi wisata berbasis warisan budaya.
Salah satu rekomendasi yang mengemuka dalam forum ialah perlunya menyusun buku ilmiah mengenai sejarah Jam Gadang sebagai rujukan resmi bagi pemerintah, akademisi, media, dan masyarakat. Selain itu, hasil seminar diharapkan menjadi pijakan dalam membangun narasi sejarah publik yang lebih akurat sehingga pelestarian Jam Gadang tidak hanya berfokus pada bangunan fisiknya, tetapi juga pada keutuhan sejarah yang menyertainya.
Menutup seminar, para narasumber sepakat bahwa usia satu abad Jam Gadang merupakan momentum penting untuk meneguhkan kembali nilai sebuah penelitian sejarah. Sebuah ikon budaya tidak hanya dirawat melalui konservasi fisik, tetapi juga melalui narasi yang dibangun berdasarkan bukti, kritik sumber, dan tanggung jawab akademik. Dengan demikian, Jam Gadang akan terus hadir bukan sekadar sebagai landmark Kota Bukittinggi, melainkan juga sebagai sumber pengetahuan sejarah yang diwariskan secara benar kepada generasi mendatang.

Gambar 2. Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, S.TP. bersama pimpinan dan narasumber di FIB UnandÂ