Surau Baralek Gadang FIB Unand: Ruang Merawat Budaya di Tengah Perubahan Zaman

Gambar 1. Pemotongan pita sebagai simbolis pembukaan rangkaian acara Festival Surau Baralek Gadang oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas sukses menyelenggarakan Festival Surau Baralek Gadang pada 20–23 Mei 2026 di lingkungan FIB Unand. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi budaya, literasi, kreativitas, dan refleksi budaya yang menghadirkan berbagai rangkaian acara seperti bazar, pameran budaya, talkshow, workshop aksara kuno, hingga lomba tingkat nasional yang diikuti peserta dari berbagai daerah.

Festival dibuka secara resmi pada Rabu, 20 Mei 2026 oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, melalui prosesi pembukaan dan pemotongan pita di area koridor depan gua pameran FIB Unand. Kegiatan pembukaan turut dihadiri oleh Direktur Utama Surau Kreatif, pimpinan fakultas, Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II, Alex darmawan, S.S., M.A., para manajer, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta tamu undangan dari berbagai instansi kebudayaan dan komunitas budaya di Sumatera Barat.

Suasana pembukaan berlangsung meriah dengan antusiasme mahasiswa dan pengunjung yang mulai memadati area bazar dan pameran sejak pagi hari. Festival ini tidak hanya menjadi agenda hiburan budaya, tetapi juga menjadi ruang akademik dan refleksi sosial yang mengangkat kembali pentingnya menjaga budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP menyampaikan bahwa budaya perlu terus dihadirkan melalui ruang-ruang kreatif yang dekat dengan generasi muda. Menurutnya, kampus memiliki peran penting sebagai tempat bertemunya gagasan, tradisi, dan kreativitas budaya. “Budaya tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus terus dipelajari, dibicarakan, dan dihadirkan kembali melalui ruang-ruang kreatif agar tetap hidup di tengah generasi muda dan perkembangan zaman,” ujar Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP.

Selama empat hari pelaksanaan, area bazar dan pameran dibuka untuk umum mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Puluhan tenant bazar turut meramaikan kegiatan dengan menghadirkan berbagai produk kuliner, kriya, karya kreatif mahasiswa, produk UMKM, hingga berbagai hasil karya berbasis budaya lokal Minangkabau.

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian pengunjung adalah pameran berbentuk gua budaya yang dibangun di koridor FIB Unand. Konsep gua tersebut dimaknai sebagai ruang perenungan dan refleksi diri terhadap kondisi budaya saat ini. Pengunjung diajak memasuki ruang yang menggambarkan bagaimana masyarakat sering kali lebih mengenal budaya luar dibandingkan budaya sendiri.

Melalui instalasi tersebut, panitia ingin menyampaikan pesan bahwa budaya lokal perlu kembali dipahami, dipelajari, dan dirawat bersama. Tidak sedikit pengunjung yang berhenti untuk membaca kutipan-kutipan reflektif yang dipasang di area pameran. “Kadang kita terlalu sibuk mengagumi budaya luar sampai lupa memahami budaya sendiri.”

Rangkaian kegiatan festival juga diisi dengan berbagai talkshow dan workshop budaya yang menghadirkan akademisi serta pegiat budaya Minangkabau. Pada Kamis, 21 Mei 2026, festival menghadirkan talkshow bersama Prof. Dr. Drs. Herwandi, M.Hum. dan S. Wani Maler, M.A. yang membahas dinamika budaya Minangkabau, perubahan sosial masyarakat, hingga pentingnya pelestarian identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Pada hari yang sama, peserta juga mengikuti Workshop Aksara Kuno di Minangkabau “Aksara Kawi” yang dipandu oleh A’ang Pambudi Nugroho, M.A. Workshop ini mengenalkan kembali sejarah aksara kuno yang pernah berkembang di Nusantara serta kaitannya dengan perkembangan budaya tulis masyarakat Minangkabau.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan talkshow budaya oleh Daratullaila Nasri, S.S., M.A. yang membahas pentingnya bahasa dan aksara sebagai bagian dari identitas kebudayaan.

Sementara itu, pada Jumat, 22 Mei 2026, festival kembali menghadirkan talkshow bersama Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP dan Muh Faisal Chair, M.Hum. Diskusi membahas posisi bahasa daerah, budaya lokal, serta tantangan generasi muda dalam mempertahankan identitas budaya di era digital.

Hari kedua workshop diisi dengan Workshop Aksara Kuno di Minangkabau “Aksara Jawi” yang dipandu oleh Daratullaila Nasri, S.S., M.A. Peserta tampak antusias mempelajari sejarah dan praktik penulisan aksara Jawi yang pernah berkembang luas dalam tradisi intelektual masyarakat Minangkabau.

Selain pameran, bazar, talkshow, dan workshop, Festival Surau Baralek Gadang juga menghadirkan empat cabang lomba tingkat nasional, yaitu Bacarito Bahasa Minang, Olimpiade Bahasa dan Budaya Minangkabau, Menulis Cerpen Berbahasa Minang, serta Video Konten Budaya Minangkabau dengan tema “Harmoni Minangkabau: Warisan Lokal, Inspirasi Nasional.”

Cabang lomba tersebut diikuti oleh pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah. Kegiatan ini menjadi bentuk upaya FIB Unand dalam menghadirkan ruang kreativitas budaya bagi generasi muda melalui media bahasa, sastra, dan konten digital.

Puncak kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 23 Mei 2026 melalui pengumuman para pemenang lomba sekaligus penutupan resmi festival oleh Wakil Dekan I FIB Unand, Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D.

Dalam sambutannya, Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D. menyampaikan bahwa festival budaya seperti ini penting untuk terus dilaksanakan karena menjadi ruang pertemuan antara tradisi, kreativitas, dan pemikiran generasi muda. “Budaya akan tetap hidup ketika terus dipelajari, dibicarakan, dan diwariskan melalui ruang-ruang kreatif seperti ini,” ujar Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D.

Selama pelaksanaan kegiatan, antusiasme pengunjung terlihat tinggi. Mahasiswa, dosen, pelajar, komunitas budaya, hingga masyarakat umum turut hadir mengikuti berbagai rangkaian acara yang berlangsung interaktif dan terbuka untuk umum.

Melalui Festival Surau Baralek Gadang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas menegaskan komitmennya dalam menghadirkan ruang budaya yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi media edukasi, refleksi, dan penguatan identitas budaya lokal di tengah perubahan zaman. “Bak kato urang awak, sakali aia gadang, sakali tapian barubah; namun budaya jangan sampai hilang.”

Gambar 2. Pimpinan Fakultas Ilmu Budaya Unand bersama panitia Surau Baralek Gadang