FIB Unand Hadirkan Dosen dari China dan Malaysia, Kuliah Umum Bahas Peluang Beasiswa dan Karier Internasional

Gambar 1. Dosen dari China memaparkan peluang beasiswa, studi lanjut, dan karier di luar negeri

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas kembali memperkuat atmosfer internasionalisasi kampus melalui penyelenggaraan Kuliah Umum bersama dosen luar negeri yang menghadirkan akademisi dari China dan Malaysia pada Jumat, 31 Juli 2026 di Ruang Sidang Dekanat FIB Universitas Andalas. Kegiatan ini memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai peluang beasiswa, studi lanjut, karier internasional, serta profesi pengajar bahasa bagi penutur asing di berbagai negara.

Kuliah umum dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II Alex Darmawan, S.S., M.A., Manajer Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Ria Febrina, S.S., M.Hum., Manajer Bidang Umum dan Keuangan Adrianis, S.S., M.A., jajaran pimpinan fakultas, dosen, organisasi kemahasiswaan, serta mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FIB Universitas Andalas.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. menegaskan bahwa internasionalisasi tidak hanya diwujudkan melalui kerja sama antarlembaga, tetapi juga melalui ruang-ruang akademik yang mempertemukan mahasiswa dengan pengalaman dan perspektif global. "Kuliah umum ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh informasi langsung dari para akademisi internasional mengenai peluang studi, beasiswa, dan pengembangan karier di tingkat global. Kami berharap kegiatan seperti ini semakin membuka wawasan serta mendorong mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi dunia yang semakin kompetitif," ujar Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Kuliah umum menghadirkan empat narasumber dari berbagai perguruan tinggi luar negeri, yaitu Zaiton binti Zakarya dari Guangdong University of Foreign Studies, Guangzhou, China; Khairul Izzat bin Amiruddin dari Universiti Sains Malaysia (USM); Dr. Nurul Afifah Adila binti Mohd Salleh dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia; serta Ranofla Dianti binti Irwan dari Hainan College of Foreign Studies, China.

Masing-masing narasumber memaparkan berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, mulai dari informasi mengenai program beasiswa di China dan Malaysia, pengalaman studi internasional, hingga prospek berkarier sebagai pengajar bahasa bagi penutur asing. Para narasumber juga menjelaskan kompetensi yang perlu dipersiapkan mahasiswa agar mampu bersaing dalam memperoleh beasiswa maupun memasuki dunia kerja internasional, seperti penguasaan bahasa asing, kemampuan komunikasi lintas budaya, serta pengalaman organisasi dan akademik.

Selain membahas studi lanjut, para narasumber turut memperkenalkan peluang karier sebagai pengajar bahasa Indonesia maupun bahasa Melayu bagi penutur asing yang memiliki prospek semakin luas di berbagai institusi pendidikan internasional. Melalui pemaparan tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai kebutuhan tenaga pengajar bahasa di luar negeri sekaligus peluang membangun karier di bidang pendidikan internasional.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta. Mahasiswa dan dosen memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog secara langsung mengenai persyaratan memperoleh beasiswa, pengalaman hidup dan belajar di luar negeri, tantangan adaptasi budaya, hingga peluang kerja setelah menyelesaikan studi.

Salah seorang narasumber, Zaiton binti Zakarya, menekankan pentingnya keberanian mahasiswa untuk memanfaatkan kesempatan belajar di tingkat internasional. "Kesempatan belajar di luar negeri terbuka bagi siapa saja yang mempersiapkan diri dengan baik. Penguasaan bahasa, prestasi akademik, dan kemauan untuk terus belajar menjadi modal utama untuk meraih peluang tersebut," ungkapnya.

Sementara itu, Dr. Nurul Afifah Adila binti Mohd Salleh menyampaikan bahwa pengalaman internasional tidak hanya memperkaya kompetensi akademik, tetapi juga membentuk kemampuan beradaptasi dan berkolaborasi di lingkungan multikultural. "Belajar di lingkungan internasional bukan sekadar memperoleh ilmu, tetapi juga membangun jejaring global, memahami keberagaman budaya, serta mengembangkan cara berpikir yang lebih terbuka," jelasnya.

Melalui penyelenggaraan kuliah umum ini, FIB Universitas Andalas terus memperkuat komitmennya dalam mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi sekaligus membuka akses informasi bagi mahasiswa mengenai berbagai peluang akademik dan profesional di tingkat global.

Gambar 2. Foto bersama mahasiswa FIB Unand dengan pimpinan serta dosen dari China dan Malaysia