Amanda Putri Ayunda Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unand Raih Juara I Penulisan Lakon PEKSIMIDA Sumbar

Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas. Amanda Putri Ayunda, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, berhasil meraih Juara I cabang Penulisan Lakon dalam Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) Provinsi Sumatera Barat Tahun 2026.
Amanda Putri Ayunda dengan NIM 2410722044 berhasil menjadi yang terbaik melalui karya lakon berjudul “Pembunuh Jiwa”. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Provinsi Sumatera Barat sebagai ajang seleksi resmi untuk menentukan delegasi Sumatera Barat yang akan berlaga pada PEKSIMINAS XVII Tahun 2026.
Capaian tersebut menjadi pencapaian penting bagi Amanda sekaligus menunjukkan kontribusi mahasiswa FIB Unand dalam bidang seni dan sastra. Melalui penulisan lakon, Amanda tidak hanya menghadirkan karya artistik, tetapi juga mengangkat persoalan kemanusiaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Lakon “Pembunuh Jiwa” mengangkat kisah tentang manusia yang perlahan kehilangan rasa kemanusiaan dan hati nuraninya ketika semakin jauh dari norma kehidupan. Cerita berpusat pada tokoh Fajar, seorang tokoh yang merasa dirinya sedang melakukan upaya untuk “membersihkan” wilayah dari orang-orang yang dianggapnya buruk.
Dalam perjalanan cerita, Fajar justru semakin terperangkap dalam kekerasan yang ia anggap sebagai sesuatu yang benar. Tindakan yang pada awalnya dibangun atas keyakinan untuk memberantas keburukan perlahan membawa tokoh tersebut berhadapan dengan persoalan moral dan konsekuensi dari perbuatannya sendiri.
Melalui karakter Fajar, lakon ini mempertanyakan batas antara kebaikan dan kekerasan, pembenaran dan kesalahan, serta keyakinan dan hilangnya hati nurani. Persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi refleksi mengenai dosa, ingatan, kematian, serta akibat yang muncul dari setiap tindakan manusia.
Pada akhirnya, “Pembunuh Jiwa” menjadi gambaran kegelisahan terhadap kehidupan manusia yang semakin terbiasa dengan kejahatan. Ketika kekerasan terus-menerus dianggap biasa dan dibenarkan atas nama tujuan tertentu, manusia berisiko kehilangan kepekaan terhadap sesama sekaligus menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan.
“Melalui ‘Pembunuh Jiwa’, saya ingin menghadirkan kegelisahan tentang manusia yang perlahan kehilangan hati nuraninya. Ketika seseorang terlalu jauh membenarkan tindakannya, batas antara membela kebaikan dan melakukan kejahatan dapat menjadi semakin kabur.”
— Amanda Putri Ayunda
Karya Amanda memperlihatkan bahwa penulisan lakon dapat menjadi ruang untuk menyampaikan persoalan sosial dan kemanusiaan secara lebih reflektif. Konflik yang dibangun melalui tokoh dan peristiwa dalam “Pembunuh Jiwa” tidak berhenti pada persoalan kekerasan, tetapi mengajak pembaca untuk mempertanyakan kembali posisi manusia ketika berhadapan dengan pilihan moral.
Persoalan mengenai dosa, ingatan, kematian, dan konsekuensi perbuatan menjadi bagian penting dalam perkembangan cerita. Tokoh Fajar menjadi medium untuk melihat bagaimana seseorang dapat meyakini bahwa dirinya berada di pihak yang benar, sementara tindakan yang dilakukannya justru semakin menjauhkan dirinya dari nilai kemanusiaan.
Karya tersebut sekaligus memperlihatkan kekuatan sastra dalam menghadirkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana. Melalui lakon, persoalan kehidupan manusia dapat dihadirkan dalam bentuk cerita yang memungkinkan pembaca maupun penonton melakukan refleksi terhadap realitas di sekitarnya.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., mengapresiasi capaian Amanda sebagai bagian dari kontribusi mahasiswa FIB Unand dalam pengembangan seni dan sastra. “Prestasi Amanda menunjukkan bahwa mahasiswa FIB Unand mampu mengembangkan kemampuan akademik sekaligus mengolah kepekaan terhadap persoalan kemanusiaan melalui karya. Sastra bukan hanya tentang menciptakan cerita, melainkan tentang menghadirkan gagasan dan mengajak kita melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas.”
Keberhasilan Amanda meraih Juara I Penulisan Lakon pada PEKSIMIDA Sumatera Barat 2026 sekaligus membuka peluang baginya untuk mewakili Sumatera Barat pada PEKSIMINAS XVII Tahun 2026. Capaian ini diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa FIB Unand lainnya untuk terus mengembangkan kreativitas, keberanian berkarya, dan kepekaan terhadap berbagai persoalan kehidupan melalui bidang seni dan sastra.
Melalui “Pembunuh Jiwa”, Amanda tidak sekadar menulis tentang kekerasan, tetapi mengajak pembaca kembali bertanya: ketika manusia kehilangan hati nuraninya, apa yang masih membuatnya manusia?