Mahasiswa The University of Osaka Jepang Ikuti Summer Course "Sijunjung as a Living Archive" di Sumatera Barat

Gambar 1. Mahasiswa The Osaka University Jepang menampilkan Tari Tradisional Minangkabau pada malam perpisahan di Sijunjung

Program Studi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, menggelar summer course bertema "Sijunjung as a Living Archive: Integrating Manuscripts, Memory, and Cultural Ecology" pada 17–26 September 2026. Kegiatan ini berlangsung di Kota Padang dan Kabupaten Sijunjung, yang diikuti oleh 20 mahasiswa dari The University of Osaka, Jepang.

Selama sepuluh hari, peserta mendapatkan pengalaman langsung mempelajari budaya Minangkabau, perempuan Minangkabau, seni pertunjukan, hingga makanan khas, dengan menghadirkan masyarakat Sijunjung dan mitra kegiatan sebagai narasumber dalam berbagai sesi interaksi dan diskusi.

Tiga hari pertama program difokuskan pada pemahaman mengenai kehidupan perempuan dan agama di tengah masyarakat Minangkabau. Para mahasiswa mengaku kagum dengan penggunaan hijab dan suntiang serta mulai memahami filosofi di balik gerakan kepala penari tradisional yang cenderung minim gerak.

Peserta juga mengaku mengalami beberapa tantangan, terutama dalam penyesuaian diri, seperti menggunakan hijab di tengah cuaca panas serta beradaptasi dengan tingkat kepedasan makanan Padang yang cukup tinggi bagi mereka.

Peserta juga menyoroti sejumlah perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia. Salah satunya terkait perlakuan terhadap hewan peliharaan. Jika di Jepang anjing dan kucing lazim dipelihara di dalam rumah, di Sijunjung anjing lebih banyak dipelihara untuk keperluan berburu.

Dalam aspek kuliner, mahasiswa menemukan bahwa masakan Minangkabau kaya akan penggunaan santan serta beras ketan yang digunakan dalam berbagai acara tertentu, seperti pembuatan lemang yang turut mereka praktikkan secara langsung. Mereka juga mempelajari etika makan masyarakat setempat, di antaranya larangan mengambil makanan yang letaknya terlalu jauh, anjuran untuk tidak makan terlalu cepat, serta ketentuan hanya boleh menambah makanan satu kali dengan durasi makan sekitar 20 menit.

Ikan dan rendang disebut sebagai makanan yang paling sering dikonsumsi masyarakat setempat, dengan cita rasa yang didominasi manis, asam, dan pedas. Hal tersebut  berbeda dengan makanan Jepang yang menurut peserta cenderung menggunakan lebih sedikit garam dan rendah protein.

Pada dua hari terakhir, mahasiswa berkesempatan mencoba tarian tradisional Minangkabau secara langsung. Mereka dapat merasakan tradisi budaya melalui tari tradisional yang disebut sebagai pengalaman berharga. Mereka juga mengenal konsep Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) serta memahami eratnya hubungan antara tradisi Minangkabau dan nilai-nilai keagamaan.

Dalam presentasi hasil kegiatan, para mahasiswa menyampaikan kesan mendalam atas sambutan hangat masyarakat setempat serta pengalaman lintas budaya yang mereka dapatkan. Sijunjung bahkan disebut sebagai kota yang sangat indah dan menjadi "kota impian" bagi sebagian peserta.

"Melihat pemandangan dan pengalaman yang tidak bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, berinteraksi dengan senyuman, serta menemukan cara berpikir yang berbeda dengan Jepang," demikian salah satu kesan yang disampaikan peserta.

Program summer course ini menjadi salah satu bentuk pertukaran budaya antara Indonesia dan Jepang sekaligus memperkenalkan naskah, memori kolektif, dan ekologi budaya Minangkabau kepada masyarakat internasional.

Gambar 2. Perpisahan mahasiswa The Osaka University Jepang dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas